Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 169 - Jatuh Lagi


__ADS_3

Charlotte, Wyatt, dan Kak Hadi yang berangkat lebih dahulu. Untung saja mereka sudah selesai makan. Vikal yang tidak mengerti dengan kehebohan di sekitarnya hanya menoleh ke kanan dan ke kiri. Mama segera menelepon Tante Lindsey untuk bertanya apa yang terjadi. Setelah mengetahui bahwa kondisi Clarissa tidak perlu sampai dibawa ke rumah sakit, kami semua tenang.


Hanya keluargaku yang menyusul ke rumah Clarissa agar bisa pulang bersama Kakak. Yang lainnya pulang ke rumah mereka masing-masing. Kecuali Uncle Will dan Tante Gista. Mereka berdua kembali ke kamar mereka untuk melanjutkan bulan madu. Aku bahagia melihat hubungan mereka sudah mesra lagi. Colin dan Lily juga terlihat senang dengan perkembangan tersebut.


“Berapa kali harus aku katakan? Aku tidak sengaja. Aku sedang melewati tangga, lalu tiba-tiba saja kursi rodaku oleng. Aku sama sekali tidak berniat untuk jatuh di tangga lagi,” protes Clarissa dengan suara sedih. Kami baru saja memasuki ruangan ketika mendengar dia menangis.


“Sudah, Hadi. Jangan dimarahi lagi,” lerai Tante Lindsey. “Dia tidak apa-apa. Dokter sudah datang memeriksa keadaannya. Dia berhasil mencegah dirinya jatuh sampai ke lantai dasar dengan berpegangan pada selusur tangga.”


Aneh. Bagaimana Clarissa bisa jatuh dari kursi rodanya? Apa karena dia berada terlalu dekat dengan ujung tangga? Aku menoleh ke arah Papa. Dia sudah sibuk dengan pikirannya sendiri. Apa yang aku pikirkan pasti juga sedang bermain di kepalanya.


“Jika Clarissa sudah baik-baik saja, sebaiknya kami pamit pulang,” kata Papa saat kami baru saja duduk. “Clarissa perlu beristirahat agar pemulihannya tidak terganggu.” Aku tersenyum melihat pacar Kakak cemberut. Dia pasti masih mau lebih lama bersama Kak Hadi.


“Hendra benar,” ucap Om Edu setuju. “Mereka juga baru menghadiri acara peragaan busana, pasti semuanya sedang kelelahan.”


“Aku akan antar Clarissa ke kamarnya sebentar,” kata Kakak. Papa mengangguk. Kami melihat wajah Clarissa berubah bahagia saat Kak Hadi membopong tubuhnya dan membawanya keluar ruangan. Aku dan Charlotte saling bertukar pandang penuh arti.


“Maafkan aku.” kata Om Edu pelan. “Aku tidak pernah melihat Clarissa semanja ini. Hadi sampai repot-repot datang kemarin.”


“Jangan segan, Edu. Clarissa sedang sakit, wajar saja dia jadi manja begitu. Bukankah istri kita juga bersikap sama setiap kali mereka kurang sehat?” kata Papa. Mama dan Tante Lindsey serentak berdehem. “Ah, seperti kataku tadi, kami pamit pulang.” Aku tertawa kecil melihat tingkah Papa.


Tuan rumah mengantar kami berjalan sampai teras. Om Edu dan Tante Lindsey bergantian mengucapkan selamat kepadaku. Ternyata mereka juga sudah membaca berita di media daring mengenai penampilanku tadi. Mama dan Tante Lindsey terlibat pembicaraan yang seru, tetapi aku lebih tertarik mendekati Papa yang menarik Om Edu ke sudut.


“Edu, cek pelayanmu satu per satu,” bisik Papa kepada sahabatnya itu. “Aku curiga yang terjadi pada Clarissa tadi bukanlah kecelakaan.”

__ADS_1


“Apa maksudmu, Hendra?” Om Edu melihat ke arah rumah dengan takut. Aku ikut melakukan hal yang sama. “Apa kamu menduga bahwa ada pelayan yang sengaja mencelakai cucuku?”


Papa mengangguk pelan. “Jaga Clarissa baik-baik. Aku akan bantu memeriksa latar belakang mereka jika kamu mau memberikan identitas mereka kepadaku. Kamu harus menemukan pelakunya secepat mungkin. Clarissa masih lemah dan belum bisa melindungi dirinya sendiri.”


“Aku juga menduga hal yang sama Om. Clarissa punya semangat hidup yang tinggi. Dia tidak akan membiarkan dirinya berada dalam bahaya seperti itu,” kataku menambahkan.


“Baik. Aku akan coba mencari tahu sendiri. Setahuku ada CCTV di dekat pintu kamar Clarissa. Bila aku menemukan kendala, aku akan segera menghubungi kamu,” ucap Om Edu kepada Papa.


Begitu Kakak bergabung bersama kami, maka kami mendekati mobil. Keluarga Charlotte mengantar kepergian kami dengan lambaian tangan mereka. Aku mendesah lega, karena sebentar lagi akan bertemu dengan tempat tidurku. Masih ada satu audisi yang perlu aku ikuti pada hari Minggu, jadi aku tidak boleh kurang istirahat.


“Aku tidak percaya Rissa bisa jatuh sendiri. Apa CCTV yang ada di dekat tangga itu berfungsi, Pa?” tanya Kakak setelah cukup lama suasana mobil hening.


“Aku sudah membicarakannya dengan Edu. Dia akan memeriksa CCTV itu dan latar belakang seluruh pelayan mereka,” kata Papa dengan nada serius.


“Clarissa tidak merasakan ada yang mendorong dia atau kursi rodanya. Itu hanya kecurigaanku saja, Ma.” Kakak melihat ke arah belakang mobil seolah-olah masih bisa melihat rumah Om Edu.


“Kalau begitu, kejadian tadi hanya kecelakaan. Kalian tidak perlu sampai paranoid begini. Setiap kali ada kejadian buruk bukan berarti ada niat jahat orang lain di baliknya,” kata Mama tidak setuju.


“Ini Rissa, Ma. Kita sedang membicarakan gadis yang selalu berhati-hati.” Kakak tidak mau kalah.


“Kakak benar, Ma. Apalagi hubungannya dengan Kakak sudah membaik. Aku tidak percaya Clarissa akan membiarkan dirinya terluka lagi,” kataku menyampaikan pendapatku.


“Finley sudah berada di penjara. Luca sudah kembali ke Amerika. Aku tidak yakin dia akan nekat merusak reputasinya dengan mengganggu Clarissa lagi.” Mama menoleh ke arah Papa. “Siapa yang berniat menyakiti gadis malang itu?”

__ADS_1


“Aku mencurigai salah satu pelayan yang melakukannya. Hanya mereka yang bisa mondar-mandir di rumah itu dengan bebas, selain Edu dan keluarganya.” Papa bertukar pandang dengan Kak Hadi. “Aku sangat berharap bahwa dugaanku ini salah. Kasihan anak-anak kalau harus berhadapan dengan orang jahat yang kita belum tahu apa motifnya.”


Jika bukan Finley dan Luca, lalu siapa lagi yang menginginkan Clarissa celaka? Ah, tidak. Finley tidak berniat mencelakai Clarissa. Dia justru mau menikahinya. Kepalaku mendadak pusing memikirkan kegilaannya itu. Luca juga tidak membenci Clarissa, jadi dia tidak mungkin menyakitinya. Sigit juga tidak mungkin. Dia sudah berada di dalam penjara dan hanya berbuat jahat atas perintah Finley.


“Selagi kita bicara tentang orang jahat,” kata Kakak dengan nada khawatir. Kami semua menoleh ke arahnya, termasuk Adi yang tadi masih asyik menatap layar ponselnya. “Ada seseorang yang tidak aku kenal menelepon dan mengatakan bahwa ada seorang gadis yang menghabiskan malamnya bersamaku di kamar hotel. A-apakah itu benar?”


“Maksud kamu, pada hari Selasa lalu? Hari di mana kamu batal membawa Clarissa makan malam di rumah kita?” tanya Mama mengonfirmasi. Kakak menganggukkan kepalanya. “Oh, Tuhan. Kamu tidak ingat apa pun yang terjadi pada malam itu.”


“Karena itu aku panik. Tetapi aku belum berani mengatakan hal ini kepada Clarissa. Dengan kondisi kesehatannya, aku khawatir dia akan tambah sakit mendengar pengakuanku.” Kakak mendesah keras. “Apa yang harus aku lakukan, Pa?”


“Jangan lakukan apa pun. Juga jangan tanggapi penelepon itu.” Papa mengeluarkan ponselnya. “Berapa nomor orang yang menelepon kamu itu?” Kakak membuka ponselnya dan menyebutkan barisan nomor yang ada di layar tersebut. “Kemungkinan besar nomor ini hanya untuk satu kali pakai. Tetapi jika nomor ini terdaftar, maka kita akan segera tahu siapa yang menelepon kamu.”


“Nak, apa kamu benar-benar tidak bisa mengingat apa yang terjadi pada siang itu?” tanya Mama. Kakak menggelengkan kepalanya. “Apa kamu merasakan ada yang berbeda pada tubuhmu?”


“Selain sakit kepala, bingung, dan mengantuk, tidak, Ma,” jawab Kakak frustrasi. “Aku bahkan tidak tahu apa rasanya setelah tidur dengan seseorang.”


Aku melihat Mama hanya bisa diam, begitu juga dengan Papa. Aku tidak bisa membantu, karena aku bukan seorang laki-laki. Bertanya kepada Colin juga tidak akan ada gunanya. Dia menunggu sampai kami menikah untuk melakukan malam pertamanya denganku. Tetapi melihat Papa hanya diam, maka aku mengurung niatku untuk membujuknya menjawab pertanyaan Kakak.


“Ng,” kata Pak Kafin yang sedari tadi hanya diam saja mengendarai mobil. “Apa Tuan Hadi merasa tubuh lebih ringan dan pikiran lebih tenang? Biasanya itu salah satu tanda yang laki-laki alami.”


Dari Pak Kafin, kami semua kembali melihat ke arah Kakak. Dia hanya bisa mengerutkan keningnya. Ketika dia menggelengkan kepalanya, kami kembali lagi ke nol. Tidak ada petunjuk apa yang terjadi di kamar hotel tersebut dari siang hingga malam hari.


“Aku tidak mengerti. Bila perempuan itu begitu ingin punya hubungan khusus dengan Kakak, untuk apa dia main belakang? Mengapa dia pergi dari kamar dan tidak tinggal sampai Kakak terbangun?” tanya Adi tidak mengerti.

__ADS_1


Oh. Tuhan. Aku tahu! “Apa mungkin mereka sedang menunggu hasil dari kejadian antara Kakak dan gadis itu?” tanyaku curiga. “Apa dia menunggu sampai dia tahu bahwa dia positif hamil?”


__ADS_2