Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 18 - Surat Palsu


__ADS_3

*Dira*


“Bagi yang masih mengalami kesulitan memutuskan jurusan yang akan diambil pada saat kuliah nanti, silakan ke ruang Bimbingan dan Konseling. Ibu Agnes akan menunggu kalian sampai pukul tiga sore.” Bel tanda jam belajar telah berakhir berbunyi.


“Jangan lupa untuk memberikan surat pemberitahuan tadi kepada orang tua atau wali kalian. Mulai bulan depan akan ada pelajaran tambahan untuk persiapan mengikuti ujian akhir dan nasional.” Pak guru masih terus bicara padahal kami semua sudah tidak mendengarkan dia lagi.


Teman-teman sekelas sibuk merapikan meja dan memasukkan buku serta peralatan menulis ke tas masing-masing. Aku melakukannya dengan santai karena aku harus menunggu Kak Hadi menjemput Adi sebelum datang ke sekolahku. Jarak sekolah kami sebenarnya bisa ditempuh dengan jalan kaki. Tetapi dengan profesiku sebagai model, berada di depan umum tanpa pengawalan tidaklah aman.


Wendy mendatangi aku dengan kotak besar di tangannya. Aku menatapnya tidak percaya. Dia hanya mengangkat bahunya, tidak mau disalahkan dengan masalah yang sudah mengganggu aku selama beberapa hari terakhir. Kak Hadi tidak akan senang melihat ini.


“Siapa yang punya ide ini? Aku tidak punya waktu untuk lelucon murahan begini,” keluhku pelan. Aku tidak membaca satu pun dari surat-surat tersebut. Sesampainya di rumah, aku akan meminta Pak Aliando untuk menghancurkan semua surat itu dan menjual kertasnya untuk didaur ulang.


Bukannya aku sombong atau tidak menghargai isi setiap surat yang mereka tulis untukku. Tetapi ini semua adalah surat karangan yang berisi omong kosong hanya dicetak, dan tidak ditulis tangan. Hanya ada nama tujuan tanpa nama pengirim.


Ada yang sedang mengejek aku atau pengirim surat cinta pertama untukku. Lelucon ini dimulai setelah aku menolak surat dari mereka. Memangnya apa yang mereka harapkan dariku setelah membaca surat cinta dari mereka? Aku memberi balasan lewat surat juga?


Bukankah dengan memberi jawaban langsung, aku menghargai perasaan mereka? Aku menerima bahwa mereka punya perasaan khusus padaku dan aku menjawab sejujurnya. Aku tidak mencintai mereka. Sekalipun aku menerima surat itu dan membacanya, aku tidak akan automatis jatuh cinta pada pengirimnya. Bukan begitu cara kerja cinta pada lawan jenis. Lalu mengapa ada yang marah?


“Aku tidak tahu, Dira. Pada saat istirahat tadi, kotak ini tidak ada di mana pun. Lalu tiba-tiba saja saat aku berjalan menuju pintu keluar, siswa dari kelas lain memberikan ini kepadaku.” Dia meletakkan kardus itu di atas mejaku.


“Mentang-mentang cantik dan banyak yang suka, kamu anggap surat cinta mereka sebagai lelucon?” kata seorang teman sekelasku.


“Jika kamu menganggap rasa suka mereka ini serius dan tulus, kamu perlu belajar lagi. Karena saat kamu tulus mencintai seseorang, kamu tidak akan membuat mereka susah dan menjadi bahan ledekan di sekolah.” Aku menyilangkan tas sandangku di bahuku.


“Mengapa kamu tidak pilih salah satu saja supaya mereka semua berhenti berharap? Gampang toh?” kata teman sekelasku yang lain.

__ADS_1


“Tentu saja dia tidak akan melakukan hal itu. Lihat saja dia. Pura-pura tidak suka menerima surat cinta, tetapi dia membawa semua surat itu pulang. Mungkin dia memasukkan semuanya ke dalam album khusus atau dipindai untuk dipamerkan kelak di media sosialnya.” Mereka tertawa mengejek.


“Ada apa? Kalian cemburu karena tidak menerima satu surat cinta pun?” Mereka bertiga terlihat marah. Aku tersenyum penuh arti. “Kalian boleh ambil suratnya berapa saja yang kalian butuhkan. Silakan. Aku tidak keberatan jika kalian membuka dan membacanya.”


Mereka menggerutu tidak jelas, lalu menjauhi aku dan berjalan menuju pintu. Wendy mendekat dengan senyum di wajahnya. Aku mendesah pelan membayangkan harus berjalan sambil membawa kotak itu menuju gerbang. Sudah berhari-hari aku menjadi pusat perhatian sekolah karenanya.


“Kamu tidak pernah punya masalah dengan mereka bertiga sebelumnya. Mengapa mereka bersikap tidak suka kepadamu sekarang?” tanya Wendy bingung.


“Mereka hanya iri. Mungkin mereka melihat salah satu pemuda yang mereka taksir memasukkan surat cinta ke kotak ini,” kataku asal menebak. Seandainya saja mereka tahu bahwa semua surat ini tidak berisi pernyataan cinta tetapi salin tempel dari berita yang ada di media daring.


“Masuk akal.” Wendy melirik jam tangannya, lalu menoleh ke arah. “Ayo, kita harus pergi sekarang. Aku masih punya banyak pekerjaan di rumah.” Aku menurutinya.


Seperti yang sudah aku duga. Orang-orang melihat ke arahku dan berbisik dengan orang di sisinya melihat apa yang aku bawa. Kotak ini bukan kotak biasa yang dilabeli dengan merek produk aslinya. Seseorang membungkusnya dengan kertas kado bergambar hati dan memasang pita warna-warni yang mencolok. Karena itu aku tahu mereka hanya mempermainkan aku.


Kak Hadi dengan tinggi badannya yang menjulang dan atletis selalu terlihat keren mengenakan pakaian apa pun. Wajah tampannya tidak berkurang sekalipun dia sedang menatap dingin. Gadis-gadis malah meleleh kalau dia berekspresi begitu daripada saat dia tersenyum ramah.


Adi adalah versi laki-laki Mama. Dibandingkan Kak Hadi, dia jauh lebih tampan. Apalagi dia seorang yang ramah sehingga dia mudah untuk disukai. Kata-katanya manis, sikapnya sopan, dan dia sangat jarang marah. Meskipun orang mengejek atau menyakiti dia, hanya dianggapnya angin lalu.


Sebelum mendekati aku, Kakak menegur salah satu petugas keamanan dan mengatakan sesuatu. Dia lalu berjalan dengan wajah serius ke arahku. Kotak yang aku pegang diambilnya, lalu dia berjalan menuju tempah sampah tidak jauh dari gerbang sekolah. Dia memasukkan kotak tersebut ke tong dan menggunakan pemantik untuk menyalakan api. Jadi, itu yang diminta Kak Hadi dari petugas sekuriti tadi.


“Jika besok masih ada yang berani membuat guyonan ini lagi, aku akan menemui semua orang yang mengirim surat dan bicara langsung dengan orang tua kalian!” kata Kak Hadi dengan suara lantang agar mereka yang berpapasan dengannya mendengarkan. “Beri tahukan hal itu pada teman-teman kalian yang lain. Sudah cukup kalian mempermalukan adikku.”


Tidak ada yang berani mengeluarkan suara saat melewati kakakku. Para siswa itu mempercepat langkah mereka menuju gerbang. Aku tidak suka dengan sikap over protektif Kak Hadi, tetapi aku berterima kasih padanya yang mau membela aku di depan para siswa ini. Semoga saja besok tidak ada lagi yang berani melakukan candaan serupa.


“Akhirnya batas kesabaran Kakak habis juga,” goda Wendy saat kami sudah berada di dalam mobil. “Mereka tidak peduli ketika Dira yang mengatakan hentikan, coba kita lihat apa besok mereka masih berulah atau tidak.”

__ADS_1


“Jika mereka masih melakukan hal bodoh itu, segera beri tahu aku. Urusanku besok hanya belajar di kantor Papa. Aku bisa datang kapan saja memberi mereka pelajaran,” kata Kakak dengan serius. Aku memutar bola mataku mendengarnya. Kakak melihat aku dari kaca spion depan. “Mengapa reaksi kamu begitu, Dira?”


“Kakak bukan orang tua atau waliku. Petugas keamanan tidak akan membukakan pintu untuk Kakak. Tenang saja. Tidak akan ada yang berani mengirim surat palsu itu lagi.” Aku melirik ponselku yang bergetar. “Hm. Aku hampir lupa. Malam ini temani aku ke pesta ulang tahun temanku, ya, Kak. Aku tidak bisa mengajak Colin bodoh itu lagi.”


“Ajak Wendy. Aku mau temani Papa di kantor. Malam ini ada janji makan malam dengan salah satu rekan bisnisnya,” tolak Kak Hadi dengan cepat.


“Aku tidak bisa, Kak. Aku akan kerja sambilan sampai malam.” Wendy menatap aku dan Kakak secara bergantian. “Sebentar lagi aku tidak akan bisa bekerja karena persiapan ujian akhir. Jadi, sebisa mungkin aku akan fokus dengan pekerjaanku.”


Aku menatap Kakak lewat kaca spion. Dia tidak mau membalas tatapanku. Aku memasang wajah sedih memohon kepadanya. Dia mendesah pelan. “Baiklah. Tapi jangan pulang lama-lama.”


“Beres!” sorakku senang.


Datang bersama kakakku ke sebuah acara jauh lebih membanggakan daripada bersama Colin. Rekan-rekan kerjaku pasti iri melihat aku datang dengan pemuda setampan dia. Apalagi dengan tinggi tubuhnya yang akan mengalahkan kami semua. Aku hanya perlu bersiap-siap andai mereka mencoba memonopoli kakakku.


Mama memilihkan pakaian untukku dan mengatur model rambutku. Ibu Yuyun juga membantu. Setiap kali menghadiri acara di mana para model cantik datang, Mama tidak mau aku kalah modis dengan mereka semua. Padahal tanpa semua riasan dan tataan rambut, aku tetap yang tercantik di antara mereka semua.


Setelah Mama puas melihat penampilanku dan Kak Hadi, kami diizinkan untuk berangkat. Kak Hadi menatapku dengan dingin, kesal karena dia juga harus bergaya layaknya model papan atas. Dia memakai kaus dengan kerah berbentuk huruf V yang dipadu dengan setelan warna biru tua. Dengan penampilannya itu, aku yakin pemilik agensi yang menghadiri acara pasti melamarnya jadi model.


Acara ulang tahun ketujuh belas itu dirayakan di kebun sebuah hotel bintang lima. Aku mengenakan sepatu berhak rendah sehingga tidak menemukan kesulitan saat berjalan di atas rumput. Wartawan tidak hanya berkumpul di depan pintu masuk hotel, beberapa dari mereka juga mengikuti acara dan memotret setiap hal yang menarik perhatian mereka.


“Jangan coba-coba pergi jauh dariku. Aku benci dengan semua mata yang memandang ke arahku.” Kak Hadi berdiri tidak nyaman di sisiku. Seperti dugaanku, membawa Kakak ke acara ini membuat aku menjadi pusat perhatian.


“Iya, kakakku sayang. Ayo, kita ambil makanan. Setelah itu kita akan pamit pulang. Aku juga tidak mau berlama-lama ada di tempat ini.” Melihat wartawan bisa bergerak bebas di antara para tamu, aku tidak menyukainya. Aku lebih suka pesta yang sifatnya pribadi daripada terbuka begini.


“Wah, wah, wah. Lihat siapa yang datang dengan pacar barunya.” Aku mendengar suara milik seorang gadis yang paling aku hindari di dunia ini datang dari arah belakangku. “Ke mana pacar lamamu, Dira? Kamu campakkan setelah kamu bosan dengannya?”

__ADS_1


__ADS_2