
“Ouch!!” seruku kesakitan saat Dira dengan sengaja menekan lengan kananku pada bagian yang sudah membiru. Aku tahu dia akan melakukan hal itu ketika dia menawarkan diri untuk mengoles salep di lenganku.
“Berhenti berdrama. Aku tidak melakukan apa pun padamu.” Dia memukul lenganku itu dengan keras. Aku kembali berteriak kesakitan.
“Dira,” tegur Hadi dengan wajah serius. Gadis itu memasang wajah cemberut. “Kamu juga berhenti menatap dia seperti itu, Cole. Kamu sudah punya pacar, hapus air liurmu. Jangan menginginkan adikku lagi.” Aku mendengus keras.
“Cepat pakai bajumu. Kamu hanya merepotkan aku saja. Seharusnya kamu panggil Mila untuk melakukan ini.” Dira mengeluarkan peralatan riasnya saat aku mengenakan kausku kembali. “Kak, wajahnya kurang lebam. Lain kali Kakak pukul dia lima kali, jangan hanya satu kali. Tanggung.”
“Mengapa lima kali?” tanya Hadi bingung.
“Untuk mewakili kita semua. Papa, Mama, Kakak, juga Adi. Jangan pukul dia hanya untuk mewakili perasaanku.” Dira mengoleskan cairan kental yang terasa sejuk di wajahku. “Pacar. Kalau benar Mila adalah pacarmu, malam ini kamu bertemu dengannya bukan teman main game-mu.”
Sial. Aku tidak mempertimbangkan hal itu. Apa yang dia katakan benar juga. Malam ini adalah malam minggu, aku malah bertemu dengan teman-teman untuk berperang bersama. Seharusnya aku kencan dengan Mila.
“Ada apa? Lidahmu tiba-tiba dimakan hantu?” ejek Dira. Dia menepuk-nepuk pipiku dengan spons saat menutupi lebamku dengan bedak wajah. “Kamu bisa bicara baik-baik denganku. Tidak perlu membawa gadis lain untuk menunjukkan bahwa aku tidak layak untukmu. Apa kamu tahu bahwa Papa akan mematahkan tanganmu saat dia melihat kamu nanti?”
“Kamu lebih dari layak untukku, Dira.” Kalimat itu keluar begitu saja dari mulutku tanpa aku sadari.
“Tidak perlu katakan apa pun untuk menghibur aku.” Matanya berkaca-kaca, tetapi dia menutupi rasa sedihnya dengan senyuman. “Oke. Semuanya sudah siap. Tidak akan ada yang tahu bahwa kamu baru bertanding tinju dengan sahabatmu sendiri.”
Ketika dia menjauh dariku, aroma parfumnya yang lembut dan menenangkan juga hilang dari penciumanku. Hadi benar. Aku sudah membuat adiknya menangis. Dira hanya bersikap tegar agar aku tidak tahu apa yang sebenarnya dia rasakan.
“Kalau kalian pergi dengan sepeda motor, jangan izinkan Colin yang mengendarainya. Tangan kanannya masih bergetar, kalian bisa mengalami kecelakaan.” Dira kembali duduk di sisi kakaknya setelah merapikan peralatan riasnya di dalam tasnya.
Hadi hanya menjawabnya dengan gumaman. Kami menghabiskan minuman hangat yang disediakan oleh Bu Yuyun dan kue panggang yang sangat lezat dalam hening. Hadi sibuk sendiri dengan ponsel di tangannya, sedangkan Dira menonton televisi di hadapannya.
__ADS_1
Terdengar bunyi kendaraan memasuki halaman depan, jantungku berdebar dengan cepat. Itu pasti orang tua mereka. Matilah aku. Kalau Uncle Hendra sampai melihat aku ada di sini, dan aku yakin aku tidak bisa bersembunyi karena dia pasti sudah melihat sepeda motorku, dia pasti akan marah.
“Colin!!” Jauh dari dugaanku. Bukan Uncle yang marah, tetapi Aunt Za. Dia masuk ke ruang keluarga setelah Pak Abdi membukakan pintu. “Apa yang kamu ajarkan pada Adi!? Mengapa ada pernikahan, bulan madu, dan membuat anak di dalam game??”
Hadi yang sedang meneguk minumannya tersedak, lalu terbatuk-batuk. Dira segera menolong dengan menepuk-nepuk punggung kakaknya. Aku bingung, tidak mengerti maksud dari pertanyaan itu. Uncle Hendra masuk dan mengajak istrinya untuk duduk, sedangkan Adi yang kelihatan lelah berjalan terseret, lalu duduk di sampingku.
Setelah penjelasan panjang lebar dan perdebatan sengit dengan Aunt Za, aku dan Hadi akhirnya bisa pergi dari rumah mereka. Sahabatku itu tertawa terbahak-bahak sepanjang perjalanan. Aku hanya menyabarkan diri sendiri agar bisa mengendarai sepeda motor dengan baik. Dia memaksa aku untuk bertukar posisi saat kami sudah keluar dari gerbang rumahnya. Ternyata dia sudah menahan tawanya dari tadi saat masih di rumah.
Aku lebih baik mendengarkan amarah Uncle Hendra daripada pertanyaan Aunt Za yang tidak ada habisnya. Bagaimana bisa Adi tidak tahu cara menjelaskan sistem game kepada mamanya sendiri sampai aku ikut terlibat juga? Aku tidak pernah membujuk atau menyarankan dia bermain game itu. Adi sendiri yang mau memainkannya dan atas izin Uncle Hendra.
“Cepat atau lambat, aku tahu kamu akan mendapat masalah karena game itu.” Hadi memberikan helmnya kepadaku. “Melamar, menikah, punya anak, yang benar saja. Mengapa tidak bermain game lain yang mirip tetapi tidak menggunakan sistem itu?”
“Aku bermain game yang lain. Kebetulan saja game itu yang dimainkan adikmu.” Aku mendengus pelan. “Adi seharusnya bisa menjelaskan sendiri mengenai sistem itu.”
Kami memasuki kafe di mana teman-temanku sudah menunggu. Aku hanya punya waktu beberapa menit untuk masuk ke game menggunakan akun utamaku. Lalu aku menggunakan tablet untuk membuka dua akun lain dengan karakter yang aku kembangkan untuk dijual.
Karena kami berada pada tim yang berbeda, aku tidak bisa melihat gerakannya ketika dia tiba-tiba saja menghilang. Karakternya adalah ninja kelas atas yang punya persenjataan biasa tetapi teknik yang mumpuni. Sebagai penyihir, aku kewalahan saat bertanding satu lawan satu dengannya di arena khusus duel.
Sorakan teman-teman memenuhi kafe itu saat kami berhasil menduduki posisi pertama perang malam ini. Tinggal beberapa minggu lagi, maka kami bisa pindah kastil dan merebut hadiah lain yang tersedia di sana. Ada sebuah pesan baru di kotak masuk dalam game. Aku membukanya dan seorang pemain menyapaku menggunakan bahasa Inggris. Dia ingin membeli karakterku.
Inilah alasan aku bermain game dan menggunakan semua waktu luangku pada setiap karakter yang aku bangun dari nol. Aku tidak menonton televisi, bermain dengan teman-teman, pacaran, atau belajar sepanjang hari. Menyadari bahwa aku masih di bawah umur untuk bekerja mencari duit, maka aku mencari alternatif lain. Dan game adalah jawabannya, terutama jenis MMORPG.
Dad membantu aku membuka akun khusus agar bisa menerima transfer uang dan transaksi lainnya ketika karakter pertamaku menarik perhatian seorang pemain yang ingin memilikinya. Aku juga menjual persenjataan secara daring dengan sistem yang aku pelajari dari pemain senior di game.
Aku hidup dalam dunia baru ini sejak berumur lima belas tahun. Lima tahun berkecimpung di bidang ini, aku sudah menguasai setiap sistem dan memahami keinginan pasar. Uang dalam tabunganku terus bertambah. Dad senang saja karena aku tidak meminta uangnya lagi untuk sekadar membeli kebutuhan di luar kepentingan sekolah.
__ADS_1
Dira adalah alasan aku melakukan semua ini. Aku ingin saat kami menikah nanti, kami sudah mandiri dan tidak bergantung lagi pada orang tua kami. Aku punya cukup uang untuk membiayai pernikahan kami, membeli apartemen atau rumah sederhana untuk tempat tinggal kami. Uncle Hendra pasti tenang menyerahkan putrinya yang sangat berharga dalam naunganku.
Lagi pula dalam tradisi keluargaku, seharusnya aku sudah hidup mandiri dan tidak tinggal bersama Dad dan Mama lagi. Tetapi mereka tidak mengizinkan aku tinggal sendiri. Jadi, aku masih bersama mereka sampai Dira cukup untuk menikah dan kami tinggal berdua saja.
Setelah mengantar Hadi pulang ke rumahnya, aku tidak mampir dan langsung mengendarai motorku keluar dari pekarangan mereka. Tetapi aku sempat melihat seseorang memerhatikan kami dari balik tirai di lantai atas. Bila dilihat dari letak ruangannya, maka itu adalah ruang duduk yang jarang mereka gunakan. Ruangan yang justru menjadi tempat favorit Dira.
Tiba di apartemen, aku sudah sangat lelah. Nyeri di pipi kiri dan lengan kananku kembali terasa. Aku harus mengolesi salep lagi agar bisa tidur malam ini. Saat melewati ruang duduk, seseorang sedang duduk di sana hanya diterangi cahaya yang masuk dari jendela.
“Mengapa Papa belum tidur?” tanyaku sambil mengambil sebotol air minum dari kulkas dan duduk di sisinya. Sudah ada gelas berisi minuman di atas meja di depannya.
“Kita perlu bicara serius mengenai Dira,” Dad menoleh ke arahku, “dan Mila.”
*****
Sementara itu di sebuah rumah~
Dira berdiri ketika mendengar bunyi halus mesin sepeda motor berhenti di depan rumah. Keadaan ruangan itu gelap, tetapi dia tidak membutuhkan lampu untuk melakukan niatnya. Dia membuka tirai dan melihat Hadi turun dari boncengan sepeda motor tersebut. Dia mendesah pelan.
Setelah menutup tirai kembali, dia berjalan keluar dari ruangan tersebut. Menunggu beberapa saat, dia melihat Hadi berjalan ke arahnya. Pemuda itu mengangkat kedua alisnya, seolah bertanya, apa yang kamu lakukan di sini?
“Mengapa Kakak membiarkan dia yang mengendarai motor?” tanya Dira.
“Kami tiba dengan selamat, bukankah itu yang paling penting?” Hadi balik bertanya. “Kalau kamu ingin tahu apa dia sampai di rumahnya dengan selamat, mengapa tidak tanya dia saja?”
“Terima kasih sudah memberi dia pelajaran. Aku yakin dia akan membawa gadis itu dan aku akan bereaksi menyedihkan lagi. Tetapi jangan pukul dia lagi demi aku. Aku punya caraku sendiri untuk membuat dia menyesal sudah melakukan ini padaku.”
__ADS_1
“Kamu terlalu baik untuk menyakiti orang lain, Dira. Apalagi kamu sangat mencintai dia,” kata Hadi dengan tatapan tidak percaya.
Dira mengangkat dagunya. “Kakak lihat saja apa yang akan aku lakukan nanti.”