Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 147 - Drama Baru


__ADS_3

*Hadi*


Aku tidak menolak ketika Papa memberi izin datang terlambat ke kantor. Dia meminta aku untuk mengantar Dira ke kampus. Kami satu jurusan, jadi aku mengenal ruang mana yang akan menjadi ruang pertama dia mengikuti perkuliahan.


Bila bisa beberapa menit saja menghindar dari gadis yang menjengkelkan itu, maka aku pasti akan menjawab iya. Karena itu aku menyetir dengan santai menuju kampus kami. Dira memerhatikan sekitarnya saat dia keluar dari mobil. Ada banyak wajah baru di sekitar kami. Para mahasiswa baru seangkatan adikku. Aku tidak melihat mobil Charlotte. Padahal mereka juga kuliah di kampus ini.


“Ayo, ikut aku ke ruang kuliahku.” Aku melirik jam tanganku. “Aku tidak mau terlambat mengikuti rapat awal minggu ini.”


“Banyak juga orang yang mengenal aku.” Dia berkata benar. Ada beberapa mahasiswa yang melihat ke arahnya dan memerhatikan wajah serta pakaian yang dia kenakan.


“Nanti juga mereka terbiasa, lalu menganggap kamu sama seperti mahasiswa lain,” kataku santai.


“Tetapi aku kalah tenar dengan Kakak. Banyak sekali perempuan yang suka kepada Kakak,” katanya setengah menggodaku. Aku mendelik tajam. “Aku tidak sabar menunggu apa yang akan mereka tawarkan kepadaku agar bisa kencan satu kali saja denganmu.”


“Jangan mulai, Dira. Itu tidak lucu,” protesku sambil terus berjalan menuju gedung kuliah kami.


“Tentu saja itu lucu. Kalau selevel siswa SMU saja mereka rela membayar aku berapa pun, berapa lagi yang akan mereka tawarkan sebagai seorang mahasiswa?” Dia melihat sekitarnya dengan mata berbinar-binar. Inilah alasan aku membenci Colin karena tidak mau mengantar pacarnya ke kampus. Tetapi aku tidak memaksanya, karena dia harus mengantar Lily ke sekolah.


Saat kami tiba di kelasnya, seseorang mengucapkan sesuatu dengan bahasa Indonesia yang masih terbawa dialek asing. Pemilik wajah arogan itu bisa aku kenali dari jauh, karena dia masuk daftar orang yang harus aku hindari. Dengan begitu, aku bisa menjaga jarak kapan saja aku melihatnya.


Aku menoleh ke arah Dira yang terkejut melihat gadis itu ada di kelasnya. “Kamu tidak memeriksa siapa saja yang menjadi teman sekelasmu?” tanyaku tidak percaya.


“Bagaimana aku tahu dia akan ada dalam daftar itu? Pantas saja dia belajar bahasa Indonesia.” ucapnya kesal. “Hancurlah sudah harapanku untuk menjalani kehidupan kampus yang keren.”


Aku tertawa geli. “Tidak ada yang namanya kehidupan kampus yang keren. Itu hanya ada di film untuk mengecoh kalian semua.” Aku menepuk bahunya. “Selamat menikmati kehidupan kampus ‘yang keren’, adikku sayang.”


“Hadi, kamu mau ke mana? Tidak menemani adikmu sampai kuliah usai? Kamu tidak khawatir dia akan menangis karena ada yang akan mengganggunya?” Reese berdiri di depanku, menghalangi aku untuk berjalan. “Kamu rapi sekali. Apa kamu selalu berpenampilan begini saat kuliah?”

__ADS_1


Aku segera mundur saat dia berusaha untuk meletakkan tangannya di dadaku. “Sudahlah, Reese. Kak Hadi tidak akan pernah tertarik kepadamu. Silakan tanya kepada semua perempuan di kampus ini. Semua orang sudah mencoba segalanya. Tidak ada yang berhasil. Tidak juga dengan kamu.” Dira menyilangkan kedua tangannnya di depan dadanya saat berdiri di antara kami.


“Itu adalah kabar baik untukku. Mereka tidak berhasil, karena mereka tidak tahu apa yang diinginkan oleh laki-laki seperti Hadi,” kata Reese dengan penuh percaya diri.


“Jadi, kamu berpikir bahwa kamu yang tidak pernah bicara dua mata dengannya lebih tahu apa yang Hadi inginkan?” Terdengar suara seorang gadis dari arah belakang Reese. Kami semua menoleh dan melihat Clarissa berdiri di sana bersama Charlotte dan Wyatt. “Hai, Reese. Aku tidak percaya kamu akan kuliah di universitas negeri. Bukankah kamu lebih suka menimba ilmu di sekolah internasional?”


Reese menatap ke sekelilingnya dengan gugup. Clarissa melanjutkan, “Kamu bilang orang Indonesia itu manusia rendah dan jorok, tidak selevel denganmu. Kamu lebih suka bergaul dengan orang yang berasal dari negara yang sama denganmu. Lalu apa yang membuat kamu ada di sini?”


“I-itu tidak benar. Aku tidak pernah mengatakan itu,” kata Reese membela diri.


“Kalau itu tidak benar, kamu tidak akan gugup begini.” Clarissa menoleh ke arahku. “Mengenai Hadi, dia adalah milikku. Jangan coba-coba mendekati dia atau kamu akan merasakan akibatnya.”


“Woohoo! Itu baru Clarissa yang aku suka!” sorak Wyatt yang segera bersiul panjang. “Go, Go, Clarissa! Tunjukkan kepada semua orang siapa kamu yang sebenarnya.”


Aku menatap Wyatt dengan tajam. Charlotte malah semakin memanasi suasana dengan bertepuk tangan dan menyerukan dukungan yang serupa dengan kekasihnya itu. Mahasiswa yang ada di sekitar kami mulai saling berbisik terhadap satu sama lain. Keadaan ini tidak bisa dibiarkan.


“Yang kamu lakukan di sana tadi tidak bisa ditoleransi lagi, Clarissa. Aku bukan milikmu. Bagaimana bisa kamu malah mengatakannya dengan lantang di depan semua orang?” kataku putus asa. Gadis ini benar-benar butuh pertolongan medis. Dia sudah gila.


“Kalau aku salah, mengapa kamu tidak mengoreksi ku tadi? Akui saja, Hadi. Kamu masih mencintai aku, maka semua ini tidak perlu terjadi. Kita bisa menjalani hubungan dengan baik seperti halnya Charlotte dan Dira,” ucapnya tidak mau kalah. Dia berusaha berjalan dengan cepat mengikuti aku.


Melihat dia kesulitan berjalan, aku mengurangi kecepatan kakiku. “Aku bukan benda mati yang hari ini kamu inginkan dan kamu buang pada keesokan harinya. Hentikan kegilaanmu ini dan cari laki-laki lain untuk memenuhi rasa haus kasih sayangmu.”


“Aku tidak mau yang lain, aku hanya mau kamu! Mengapa kamu tidak mengerti juga?” katanya dengan tegas. “Aku bisa dan mau belajar menjadi calon istri yang kamu dambakan, Hadi. Mengapa kamu tidak mau memberi aku satu kesempatan lagi?”


“Kita akan pergi ke kantor, aku tidak mau kamu bertingkah seperti anak-anak begini.” Aku menekan tombol pada pintu untuk membuka kunci, lalu membukakan pintu untuknya. “Masuklah.”


“Mengapa Reese bisa ada di jurusan kamu? Bagaimana dia bisa tahu bahwa kamu kuliah di sini? Lalu apa maksudnya berkata bahwa dia tahu apa yang kamu inginkan? Apa kalian berdua sedang dekat?” tanyanya bertubi-tubi. Ah, aku mengerti sekarang. Dia sedang cemburu.

__ADS_1


Begitu dia duduk dengan nyaman, aku menutup pintu mobil dan memutar ke sisi pengemudi. Hari ini sudah dimulai dengan tidak baik, aku yakin akan ada hal buruk lain yang akan menyusul. Sebelumnya, aku sangat menyukai hari Senin. Tetapi tidak lagi.


“Kamu belum menjawab pertanyaanku,” tuntutnya begitu aku duduk di belakang setir. Aku menatap dia tidak percaya. “Aku berhak untuk tahu apakah kamu sedang dekat dengan Reese.”


“Tidak. Kamu tidak punya hak apa pun untuk tahu urusan pribadiku. Kita hanya rekan kerja,” kataku dengan tegas. “Setelah selama ini kamu mengenal aku, seharusnya kamu tidak perlu bertanya.”


“Aku mengenal Reese, jadi aku tahu. Ketika dia menginginkan sesuatu, dia akan mendapatkannya,” katanya dengan kesal.


“Aku sudah bilang, aku bukan benda mati,” kataku dengan tegas. Dia saja tidak bisa menaklukkan aku, apalagi perempuan yang pernah menyakiti adikku.


“Setelah apa yang dia lakukan kepadaku, aku tidak percaya dia juga akan mengambil kamu dariku.” DIa menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. “Aku tidak akan kalah darinya.”


*******


Sementara itu di sebuah ruang kuliah~


“Itu bukannya model yang selalu membuat kamu susah?” bisik Charlotte kepada Dira yang duduk di sisinya. Dira mengangguk pelan. “Lalu apa yang dia lakukan di sini?”


“Aku belum memberi tahu kamu, karena aku pikir apa yang dia lakukan sifatnya hanya sementara.” Dira mendesah pelan. “Dia menyukai Kak Hadi. Entah karena apa. Saat kita pulang liburan, dia sudah menunggu dengan buket bunga untuk Kakak. Tentu saja Kakak menolak dan mengusir dia pergi. Dia tidak datang lagi setelah itu. Aku pikir dia sudah menyerah. Ternyata dia malah kuliah di sini.”


“Saingan Clarissa banyak juga.” Charlotte tertawa geli. “Dia bisa kalah kalau tidak ada laki-laki lain penerus Luca di kampus atau kantor tempatnya magang.”


“Kamu tidak keberatan kalau kakakmu sendiri diculik lagi?” tanya Dira tidak percaya.


“Bukan begitu maksudku.” Charlotte menggeleng pelan. “Kamu ingat, ‘kan, bagaimana sikap Hadi saat Luca pertama kalia bertemu dengan Clarissa di bandara. Nah, aku yakin, hal yang sama akan terjadi lagi kalau Hadi merasa ada saingan berat. Harga diri kakakmu itu lebih tinggi dari gunung.”


“Clarissa tidak perlu khawatirkan Reese atau gadis lain yang ada di kampus ini. Kakakku tidak pernah tertarik dengan mereka. Tetapi aku setuju denganmu. Kita perlu mencari laki-laki yang menyukai Clarissa dan memanas-manasi hubungan mereka,” kata Dira memberi usul.

__ADS_1


“Tidak,” kata Wyatt dengan tegas. Charlotte dan Dira menatapnya dengan mata memelas memohon dukungan. “Jawabanku tetap tidak. Kita tidak boleh bermain-main dengan perasaan seseorang. Bila Hadi memang untuk Clarissa, mereka akan menemukan jalan untuk kembali bersama. Percayalah kepada mereka. Hadi berhak untuk marah, jadi ini saatnya bagi Clarissa untuk menunjukkan kepada Hadi bahwa dia serius dengan perasaannya.”


__ADS_2