
*Dira*
Entah mimpi aku aku semalam. Dua orang yang sangat aku hindari malah berada di tempat yang sama. Pertama, si Colin bodoh yang tidak menepati janjinya untuk menjaga jarak dengan Kakak selama aku bersamanya. Melihat Kakak berada di sini, apa dia tidak bisa menebak siapa yang akan duduk bersamanya di kafe ini?
Yang kedua adalah Reese “Menjengkelkan” Foster yang mendadak selalu ada di mana pun aku berada. Ampun. Aku cuti demi menghindari drama ini. Mengapa ratu dramanya malah mendatangi aku terus? Tempat ini seharusnya tidak termasuk tempat yang menjadi tongkrongannya.
“Tidak. Duduk.” Kak Hadi menahan bahuku agar aku tidak berdiri. “Ini tempat umum dan aku tidak mau nama kamu jadi rusak karena ulah gadis itu. Biar karyawan kafe dan petugas keamanan yang menangani dia. Apa kamu tidak lihat para pengunjung sudah siap dengan kamera mereka? Pakai lagi topi dan kacamatamu.”
Aku menurut dan kembali duduk. Kakak benar. Rata-rata pengunjung mengarahkan kamera mereka pada Reese. Ulahnya hari ini akan viral dan Pak Sam sebagai atasannya akan mengeluarkan banyak sekali uang untuk menghapus semua postingan di media sosial nanti. Pria yang malang.
“Apa yang bisa saya bantu sehingga Anda mencari Wendy?” tanya wanita yang berdiri di belakang kasir dengan sopan.
“Suruh dia keluar. Kami punya urusan yang belum selesai,” perintah Reese dengan nada tidak sabar.
“Apakah Anda teman Wendy? Anda bisa tunggu sampai sifnya selesai untuk—” kata wanita itu lagi.
“Apa kamu tidak tahu aku siapa? Beraninya kamu menyuruh aku menunggu. Panggil dia sekarang! Aku tidak akan pergi sebelum dia menemui aku!” Reese memukul konter dengan kesal.
“Mohon maaf, Nona. Ini masih jam kerja, jadi dia tidak bisa meninggalkan posnya. Jika Anda ingin memesan, silakan sebutkan pesanan Anda. Jika tidak, saya mohon, beri jalan pada orang lain yang sudah mengantri.” Wanita itu menunjuk ke arah di belakang Reese. Aku tersenyum melihat sikap tenang dan tanpa gentarnya menghadapi gadis itu.
“Seingatku, tamu masih raja, ‘kan? Sikap apa yang kamu tunjukkan ini? Sangat tidak sopan. Panggil manajermu! Kamu harus dipecat karena sudah bersikap lancang!” tuding Reese.
__ADS_1
“Kamu yang lancang. Cepat minggir kalau tidak mau memesan. Kami sudah menunggu dari tadi. Enak saja main serobot,” kata salah satu tamu yang mengantri di belakangnya.
“Iya, nih. Tidak sopan banget. Bule kesasar dari mana ini?” gerutu yang lain. Aku tersenyum geli mendengarnya.
“Cepatan, dong. Sudah capai, nih, berdiri terus!” keluh tamu yang lainnya.
Sesaat saja, keadaan berbalik arah. Reese kini tidak bisa berkutik karena orang-orang mengusir dia untuk pergi. Lawannya sudah bukan satu orang lagi, maka rivalku itu cukup waras dengan tidak terus berdebat dengan orang banyak. Dia kalah jumlah.
Sialnya, saat dia membalikkan badan, dia melihat ke arah meja di mana aku dan Kak Hadi berada. Meskipun aku mengenakan kacamata hitam dan topi serta warna rambutku berubah, dia mudah saja mengenali aku. Karena ada Kak Hadi di sebelahku.
“Kamu adalah teman pelayan rendahan itu.” Reese meletakkan tas yang dibawanya dengan kasar ke atas meja. Mug berisi kopi tumpah sehingga aku dan Kakak bergegas berdiri agar tidak terkena kopi, sedangkan piring berisi kroisan tertimpa tas tersebut. “Bayar ganti rugi gaun dan tasku!”
Aku menatapnya tidak percaya. Ini masih tentang persoalan di hotel beberapa hari yang lalu? Ke mana atasannya? Bukankah katanya dia akan membantunya mengurus hal ini? Masa iya dia ingkar janji. Pantas saja pada malam itu Reese menuntut pria itu untuk berjanji terlebih dahulu. Ternyata dia bukan pria yang bisa dipercayai kata-katanya.
“Beri kartu nama tokonya. Dan segera pergi dari sini,” ucap Kak Hadi. Reese yang semula menatap aku dengan mata berapi-api menoleh ke arah kakakku.
Dia menatap Kakak sesaat. “Tidak. Aku yang akan mengembalikannya. Kamu cukup beri aku uang ganti ruginya,” kata Reese tidak setuju. Aku sampai membelalakkan mata mendengar kalimat tidak tahu malunya itu.
“Supaya mereka berpikir bahwa uang itu adalah milikmu? Setelah kamu menuduh orang sesukamu, kamu mau mendapat pujian juga atas sikap tanggung jawabmu? Memalukan. Berikan kartu nama butiknya atau gunakan uangmu sendiri untuk membayar ganti ruginya,” kata Kakak bergeming.
Reese merapatkan bibirnya. Dia menatap aku dengan tajam, lalu segera mengambil tas belanja itu kembali dan pergi menuju pintu keluar. Piring yang berada di bawah tas itu jatuh ke lantai beserta potongan kroisan yang tadi aku makan. Semua orang bersorak mengejeknya yang pergi begitu saja tanpa mengganti kerugian yang dia sebabkan.
__ADS_1
“Kakak serius akan membayar baju dan tasnya yang mahal itu?” tanyaku setelah kami berpindah tempat duduk atas permintaan salah satu karyawan kafe.
“Kamu lebih suka mendengar teriakannya sepanjang hari?” Kakak balik bertanya. “Dia punya begitu banyak uang. Masa urusan begini saja dia minta ganti rugi? Memalukan.”
“Dia memang terkenal pelit. Jadi, Kakak tidak usah heran. Aku yakin butik tempat dia menyewa kedua barang itu tidak mempermasalahkan noda kopi pada gaun dan tasnya. Dia hanya ingin marah pada Wendy karena dia sudah telanjur malu. Seperti yang dia lakukan setiap kali bertemu aku.” Aku menggeleng pelan. “Bagaimana dengan piring yang dia pecahkan itu?”
“Adi pasti sudah minta supaya ganti ruginya dimasukkan ke tagihan kita,” kata Kakak yang melihat Adi berjalan ke arah kami membawa baki di tangannya.
“Mereka tidak mau menerima ganti rugi dan uang untuk membayar pesanan Kakak lagi, tetapi aku memaksa.” Adi meletakkan tiga mug di depan kami masing-masing sesuai pesanan kami.
“Bagus. Karena aku tahu Wendy yang akan menanggung kerugian jika kita tidak membayarnya. Gadis yang malang. Dia berada di tempat dan waktu yang salah pada malam itu.” Kakak menyesap kopinya. “Ngomong-ngomong, di mana dia? Mengapa dia tidak kelihatan melayani tamu?”
“Rekan kerjanya sengaja menahan dia tetap ada di bagian belakang begitu mendengar gadis tadi menyebut namanya. Sebentar lagi dia akan keluar. Ada masalah apa sampai Kak Wendy berurusan dengan perempuan jahat itu?” tanya Adi bingung. Aku menceritakan dengan singkat apa yang terjadi di hotel pada beberapa hari yang lalu.
Kami kemudian bercerita kepada Kakak apa yang kami beli di mal tadi dan siapa yang berpapasan dengan kami. Dia hanya tersenyum tipis saat aku menyebut salah satunya adalah seorang ibu yang berbelanja bersama anak gadisnya. Suaminya adalah rekan kerja Papa, dan sudah lama mencoba untuk mendekatkan Kakak dengan anak perempuan mereka.
Kakak berbagi mengenai percakapannya dengan Papa saat di rumah. Aku yang semula tidak terlalu peduli dengan kecelakaan kerja yang aku alami, kini tertarik karena laki-laki yang sama yang selalu ada dalam pemotretan yang aku ikuti.
“Mengapa Papa malah menyalahkan dirinya? Tidak semua hal yang menimpa kita ada hubungannya dengan Papa atau Mama.” Aku mendesah pelan. “Aku juga punya banyak orang yang iri padaku yang mungkin sanggup berbuat jahat untuk menyingkirkan aku.”
“Wah, pikiran kamu akhirnya terbuka juga. Selama ini kamu selalu bersikap naif bahwa semua orang yang ada di dekatmu adalah orang baik,” kata Kakak mencibir.
__ADS_1
Aku banyak berpikir dan merenung setelah percakapan yang cukup menyakitkan dalam perjalanan pulang kami dari hotel. Bagiku, aku memang tidak punya musuh. Tetapi Kakak benar. Colin yang aku sayang dan percaya sejak kami masih kecil saja mengkhianati aku. Siapa lagi yang bisa aku percayai di dunia ini selain keluargaku? Tidak ada.
Wendy punya kemungkinan besar untuk mengkhianati aku karena kami tidak bertemu selama dua puluh empat jam. Aku tidak tahu siapa yang ditemuinya di luar sana yang mungkin saja punya niat jahat kepadaku. Begitu juga dengan Vikal. Siapa yang ingin mencelakai aku? Dan mengapa?