
“Kabar buruk apa?” tanyaku sambil lalu. Dira suka drama, jadi dia sering membesar-besarkan masalah yang sebenarnya sepele.
“Kakak lihat ini.” Dia memberikan tablet miliknya agar aku bisa melihat apa yang ada pada layarnya. “Foto ini ada di semua media berita daring, juga sudah tersebar luas di media sosial, Kak.”
Foto yang memenuhi layar tablet itu adalah Clarissa sedang bersama seorang pria. Pakaian yang dia kenakan cukup terbuka dengan belahan dadanya yang bisa terlihat dengan jelas. Dia dan pria itu duduk begitu dekat yang kelihatannya seperti berada di sebuah kafe atau restoran. Clarissa dan pria itu terlihat sangat mesra dengan salah satu tangan pria itu ada di bahunya dan tangan yang lain memegang tangannya yang ada di atas meja.
Aku menggeser layar dan foto berikutnya adalah Clarissa bersama pria yang sama sedang berjalan begitu dekat. Tangan pria itu melingkari bahunya dan mereka berjalan dengan wajah bahagia. Rok pakaian yang dikenakan Clarissa berada di pertengahan pahanya.
Aku mempercepat foto-foto berikutnya untuk tahu apa yang ingin ditunjukkan oleh penyebar foto tersebut. Tanganku berhenti menggeser layar saat berada pada sebuah artikel berita. “Cucu Eduardo Abraham yang dinyatakan hilang hidup nyaman sebagai ayam kampus”. Ada banyak artikel serupa yang menuduh Clarissa sebagai wanita penghibur karena itu dia sengaja disembunyikan oleh Om Edu.
Keadaan di media sosial justru lebih buruk. Orang-orang membagikan berita tersebut dan memaki Clarissa tanpa bukti yang jelas. Beberapa kata dan kalimat bahkan tidak pantas untuk dituliskan. Mengapa mereka mendadak marah besar kepada orang yang sama sekali tidak mereka kenal? Dan aku yakin, mereka juga tidak pernah bertemu Clarissa secara langsung.
“Apa Papa sudah tahu hal ini?” Aku memberikan tablet itu kembali kepada Dira.
“Aku tidak tahu. Aku sedang memeriksa media sosial saat salah satu kenalan membagikan postingan ini di berandanya,” jawabnya sambil membaca apa yang ada pada layar tabletnya.
“Kamu silakan turun terlebih dahulu, aku perlu bicara dengan Rissa.” Aku mengambil ponselku yang ada di atas nakas dan memilih nomor tunanganku.
Sampai bunyi nada sambung berakhir, Clarissa tidak menjawab panggilan masuk dariku. Aku mencoba untuk menghubungi dia lagi, hasilnya tetap sama. Senyenyak apa pun dia tidur, dia tidak pernah mengabaikan panggilan dariku. Dia pasti sudah membaca berita tersebut.
Jika Dira sampai tahu hal ini, maka besar kemungkinan Charlotte juga sudah mengetahuinya. Aku memilih nomornya dan aku pikir dia tidak akan menjawab telepon dariku juga. Ternyata setelah cukup lama menunggu, panggilan itu terhubung.
“Clarissa sedang ingin sendiri, Hadi. Maafkan aku. Dia, dia hancur.” Charlotte terisak. Aku tidak mengatakan apa pun saat dia berusaha untuk menenangkan dirinya. “Dia hanya diam saja saat tahu aku sedang membaca berita mengenai pekerjaan rahasianya. Kami tidak tahu keadaannya sekarang, tetapi dia mengurung diri di kamar dan tidak mengizinkan kami masuk.”
__ADS_1
“Kalian pasti punya kunci cadangan, mengapa tidak coba untuk membukanya dari luar?” Aku memberi saran. Clarissa tidak boleh dibiarkan sendiri pada saat ini.
“Tidak bisa jika kuncinya masih tergantung dari dalam.” Charlotte menghela napas membersihkan cairan dari hidungnya. “Mengapa mereka melakukan itu? Siapa yang tega menyebarkan foto itu dan menyerang kakakku seperti ini? Clarissa tidak pernah jahat kepada siapa pun. Kami memang baru bertemu tetapi dia tidak akan tega menyakiti siapa pun.”
“Jangan khawatirkan tentang foto dan semua berita itu. Begitu papaku turun tangan, mereka akan menghapus semua berita tanpa sisa. Yang perlu kita pikirkan adalah keadaan Clarissa. Undangan pertunangan kami pada hari ini pasti sudah didengar banyak orang. Berita ini muncul pada hari ini bukanlah kebetulan, Charlotte. Tolong, tenangkan dia.”
“Kami akan berusaha melakukan yang terbaik yang kami bisa. Kakek dan Grandpa sedang mengurus masalah berita ini dengan asisten mereka. Kasihan Kakak. Hari ini seharusnya adalah hari bahagianya. Tetapi mereka tega merusaknya.”
“Hari ini akan tetap menjadi hari bahagianya. Tidak ada seorang pun yang bisa merebut itu dari dia.”
Mama terlihat khawatir saat dia menatap aku yang memasuki ruang keluarga. Papa sedang bicara dengan seseorang yang aku yakin adalah Om Irwan. Dira dan Adi sedang duduk di sofa bersama Mama dengan tatapan penuh harap ke arah Papa. Inilah yang aku suka dari keluargaku. Saat satu orang mengalami masalah, maka semua menganggap ini adalah masalah mereka juga.
Papa mengajak kami semua untuk tetap joging dan menunggu kabar selanjutnya dari Om Irwan. Entah apa yang terjadi pada Black dan Gold, mereka mengikuti aku terus sepanjang kami berlari santai mengelilingi pekarangan rumah. Mungkin mereka bisa merasakan kegundahanku.
Ini seperti bukan cara Clarissa biasanya bersikap terhadap masalah. Ketika Finley datang pertama kali menemui dia dan mengaku bahwa dia adalah anaknya yang hilang, Clarissa datang kepadaku. Dia datang dan meminta saranku untuk mencari solusi atas masalahnya.
Apa yang berbeda dengan masalah kali ini? Mengapa dia tidak menghubungi aku, juga tidak mau menjawab panggilan dariku? Ada yang tidak beres. Clarissa yang aku kenal tidak mudah menangis apalagi untuk serangan serendah ini. Dia adalah gadis yang kuat dan tegar. Berhadapan dengan adik angkatnya yang meledak-ledak itu saja dia tidak terpancing emosi, apalagi hanya berita seperti ini.
“Charlotte bilang dia masih mengurung diri di kamarnya.” Dira mengangkat kedua bahunya saat aku bertanya mengenai kondisi Clarissa.
Itu sangat mencurigakan. “Apa Charlotte yakin bahwa dia berada di kamarnya?”
“Apa maksud Kakak?” tanya Dira bingung. Matanya kemudian membulat lebar. “Apa Kakak curiga dia keluar dari kamarnya dan pergi ke suatu tempat?”
__ADS_1
“Aku perlu bicara dengan Papa!” Aku bergegas keluar dari ruang keluarga menuju ruang kerja Papa. Ini adalah ruangan di mana biasanya dia berada untuk mengikuti perkembangan dari masalah yang sedang mengganggu pikirannya. Meskipun Clarissa belum resmi menjadi bagian dari keluarga kami, dia adalah keluarga karena neneknya dan mamaku berteman baik.
“Tunggu sebentar.” Papa bicara dengan seseorang di balik telepon sebelum menoleh ke arahku. “Ada apa, Nak?” Dia terlihat lelah. Pasti belum ada kabar mengenai pelaku penyebar semua foto itu.
“Pa, apakah Clarissa keluar dari rumahnya?” tanyaku. Hanya Papa, Om Edu, dan Uncle Mason yang punya akses ke aplikasi yang terhubung dengan sinyal dari kalung Clarissa. Selebihnya dipantau oleh pengawal pribadi Clarissa dan orang-orang yang disewa Papa dan kedua temannya itu. Aku sama sekali tidak punya akses ke sana.
“Edu dan Mason tidak mengatakan apa pun, seharusnya dia berada di rumah. Oh!” Papa melihat layar laptopnya dengan heran. “Irwan, Clarissa tidak berada di rumahnya. Salah satu anak buahmu memberi tahu aku bahwa dia sedang berada di sebuah taksi. Iya, tolong jaga dia untukku.”
“Apa yang terjadi, Pa? Clarissa pergi ke mana?” tanyaku ingin tahu.
“Jangan khawatir. Selalu ada orang yang mengawasi dia. Sinyal gelang dan kalungnya tetap berada di rumah, sepertinya dia sengaja melepas kedua perhiasan itu. Ke mana pun dia pergi, dia tidak mau ada yang tahu tujuannya ke mana.” Papa menghubungi seseorang lagi lewat ponselnya.
“Aku akan ikuti dia. Mungkin dia menemui seseorang yang ada hubungannya dengan foto-foto itu.” Aku membalikkan badan, berniat keluar dari ruangan.
“Tidak, Hadi.” Seruan Papa itu menghentikan langkahku. “Aku mengerti kamu mengkhawatirkan tunanganmu, tetapi aku tidak bisa membiarkan putraku masuk dalam bahaya. Ada orang-orang Irwan yang mengikuti dia, mereka akan menjaganya.”
“Tetapi, Pa,” protesku.
“Aku melihat keadaan mobilmu, Nak. Kamu beruntung hanya mengalami memar berat dan tidak ada luka pada organ bagian dalammu. Mereka harus membuat kamu koma, itu bukan hal yang ingin aku lihat terjadi lagi pada putraku. Itu adalah serangan mereka yang kedua, aku tidak mau kamu harus menghadapi penyerangan lagi untuk ketiga kalinya.” Aku membuka mulut ingin mengatakan sesuatu. “Ini tidak untuk didiskusikan.”
“Dia adalah tunanganku, Pa.”
“Aku tahu. Jika dia tidak sayang pada nyawanya, itu urusannya. Tetapi aku tidak akan membiarkan putraku mempertaruhkan nyawanya untuk gadis seperti itu. Aku belum siap untuk kehilangan kamu,” kata Papa dengan suara serak. Kini aku merasa bersalah telah membuatnya harus mengucapkan semua itu. Tetapi tetap diam di rumah bukanlah pilihan.
__ADS_1