Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 100 - Aku Sudah Siap


__ADS_3

Aku tidak bisa menjawab pertanyaan Adi, karena aku juga tidak tahu mengapa Reese ada di depanku dengan wajah ramah. Ekspresi yang tidak pernah dia tunjukkan di depanku sejak pertama kali dia mendeklarasikan bahwa kami adalah rival abadi. Bukan hanya itu. Dia juga membawa buket bunga dan sebuah tas belanja mini dengan label jam ternama.


“Hai, Dira. Maafkan aku baru sempat menjenguk.” Dia memberikan buket bunga itu kepadaku. “Aku turut sedih atas apa yang menimpa kamu.”


“Kamu tidak perlu sampai datang begini, Reese.” Aku tidak mengulurkan tanganku untuk menerima buket tersebut. Aku belum gila, jadi aku tidak terperangkap dengan aktingnya. Dia tidak mungkin mendadak berubah baik kepadaku tanpa alasan.


“Ma-maafkan saya, Nona, Tuan. Saya tidak bermaksud mengizinkan dia masuk,” ucap petugas yang mengejar Reese sejak dari gerbang depan.


“Tidak apa-apa, Pak. Dia akan segera pergi dari sini.” Kak Hadi berdiri di antara aku dan Reese.


“Apa maksudmu, Hadi?” Dia melihat ke arah aku dan Kakak. Kemudian dia tertawa kecil. “Sebentar. Kalian salah paham. Aku datang dengan niat baik. Ini, ada hadiah kecil untukmu. Sebagai permintaan maaf dariku dan awal dari persahabatan kita.”


“Sekuriti sudah menolak paket dari kamu, juga kedatanganmu bersama temanmu kemarin. Apa itu tidak cukup untuk memberi tahu kamu bahwa aku, juga Dira, tidak mau hadiah atau apa pun darimu? Pergilah. Jangan ganggu kami lagi,” kata Kakak dengan tegas.


“Aku serius tidak ada maksud jahat, Hadi,” kata Reese lagi. Kakak memberi sinyal pada kedua pria di belakangnya untuk mengusir gadis itu. “Hei, jangan sentuh aku! Lepaskan!! Hadi, Dira, aku tidak ada maksud jahat. Sungguh.”


Pak Abdi dan Adi berdiri di kedua sisiku dan mengajak aku untuk masuk ke rumah. Pak Sakti dan Pak Liando sudah berjalan lebih dahulu di depan kami membawa dua koper. Kak Hadi membawa koper terakhir dan tidak memedulikan teriakan Reese yang setengah diseret keluar dari pekarangan kami.


“Ada ribut-ribut apa ini?” tanya Mama yang berjalan menuruni tangga teras bersama Tante Rasmi.


“Mama!!” Aku bersorak senang dan segera memeluknya dengan erat.


Setelah menyapa mereka, kami menuju ruang keluarga dan memeluk semua keluarga kami yang sedang berkumpul. Walaupun hari ini adalah hari Minggu, melihat keluarga Papa dan Mama datang ke rumah kami pada hari yang sama adalah hal yang tidak biasa. Jadi, aku terkejut melihat mereka ada di rumah kami.


Untung saja aku membawa oleh-oleh untuk semua orang. Aku membeli kaus untuk para pria dan rok pantai untuk para wanita. Bu Yuyun dan Sita datang kemudian menyajikan pai susu yang aku beli dan minuman hangat untuk kami bertiga.


“Kalau kamu tidak ikut, aku yakin Hadi ataupun Adi tidak akan terpikir untuk membeli semua oleh-oleh ini,” ejek Tante Rasmi. Kedua saudaraku hanya tertawa.


“Jadi, ada ribut-ribut apa di luar tadi?” tanya Nenek Naava ingin tahu.


Aku menoleh ke arah Kakak yang berpura-pura sibuk mengunyah kue. Menjengkelkan sekali. Masa aku terus yang menjawab pertanyaan mereka? “Ada orang yang datang, Nek, tetapi kami meminta sekuriti untuk mengusirnya keluar.”


“Lo? Mengapa kalian mengusir tamu? Itu tidak baik,” kata Nenek Anya terkejut.


“Untuk orang yang satu ini, lebih baik kita menghindari dia daripada mendapat masalah, Nek.” Adi menengahi. “Aku sudah pernah menyaksikan sendiri seperti apa dia saat sedang marah.”


“Kalian sedang membicarakan siapa?” tanya Nenek Naava bingung.


“Salah satu rival Kak Dira di pekerjaannya, Nek.” Adi menoleh ke arahku dengan kening berkerut. “Tetapi apa yang membuat dia datang, Kak? Dan bagaimana dia bisa tahu di mana rumah kita?”

__ADS_1


Aku mengangkat kedua bahuku. “Mana aku tahu. Dia datang membawa bunga saja sudah membuat aku bingung. Ditambah lagi, dia memberi hadiah untuk Kak Hadi.”


“Jangan bilang kalian sedang membahas gadis bermarga Foster.” Papa memicingkan matanya. Kami bertiga serentak menganggukkan kepala kami. “Apa dia membuat masalah baru lagi?”


“Belum, Pa. Karena itu kami tidak mau punya urusan apa pun dengannya.” Kali ini, Kakak yang menjawab. “Aku tahu ini terkesan kasar, Nek. Tetapi mengusirnya adalah satu-satunya jalan.”


“Foster. Bukankah itu marga pasangan asing yang mengadopsi Clarissa?” tanya Kakek Adhy. “Atau hanya kebetulan saja mereka satu marga?”


“Benar, Pa. Gadis ini adalah mantan adik angkat Clarissa,” jawab Papa yang kemudian menoleh ke arah Kak Hadi. Kakak tak acuh saja dengan topik itu. “Sayang sekali, keluarga itu memperlakukan dia dengan buruk dengan lebih berpihak pada putri kandung mereka.”


“Hal yang sering aku temui dalam kegiatan sosialku,” ucap Nenek Naava menimpali. “Karena itu, setiap pasangan yang akan mengangkat anak harus melalui proses seleksi yang ketat.”


“Clarissa benar-benar gadis yang malang. Dia diculik pada saat masih sangat kecil, lalu dibesarkan oleh keluarga yang kemudian menyia-nyiakannya. Padahal dia adalah gadis yang baik. Hal yang sangat mengejutkan. Karena umumnya, mereka yang hidup dalam lingkungan yang keras punya sifat yang keras juga,” kata Nenek Anya pelan.


“Berbeda jauh dengan Zach, dong, Ma.” Mama melirik Om Zach dengan tatapan menggoda. “Papa dan Mama sangat baik, tetapi dia tumbuh menjadi adik yang menjengkelkan.”


“Kata seorang kakak yang tidak berhenti mengganggu adiknya saat belajar hukum sepenuh hatinya,” kata Om Zach tidak mau kalah.


Aku melihat Kakak mendesah lega saat pembicaraan mengenai Clarissa akhirnya teralihkan. Mama dan Om Zach tidak berhenti bertengkar membuka aib mereka sendiri. Papa maupun Tante Rasmi tidak terlihat berusaha untuk melerai pasangan mereka. Mereka justru tertawa senang setiap kali mendengar hal yang lucu tentang pasangan mereka.


Keluarga kami makan malam bersama kami, jadi suasana malam itu semakin ramai. Kesempatan ini tidak akan datang dua kali, maka aku memutuskan untuk mengajak mereka membicarakan hal yang serius. Tidak akan ada waktu yang tepat untuk membahasnya, sedangkan menundanya hanya akan membuat aku sulit untuk melanjutkan hidup.


“Pa,” panggilku saat kami sudah berkumpul kembali di ruang keluarga. Papa menoleh ke arahku. “Apa aku boleh mengatakan sesuatu yang sangat penting?”


Suasana ruangan itu mendadak hening. Semua orang diam dan mengarahkan pandangan mereka kepadaku. “Mengenai kejadian yang menimpa aku, Om Zach, aku siap untuk memberi pernyataan kepada polisi. Kapan saja mereka membutuhkannya.”


“Dira, apa kamu yakin mau melakukan ini?” tanya Papa dengan nada khawatir.


“Ini bukan keputusan yang bisa diambil dengan buru-buru, sayang. Kamu tidak akan bisa memberi kesaksian sekarang. Tunggu beberapa hari lagi, ya,” kata Mama menimpali.


“Apa kamu sudah siap untuk membicarakan masalah itu dengan orang lain, sayang? Kalau belum, kamu tidak perlu memaksakan dirimu,” ujar Nenek Anya.


Semua orang bicara pada waktu yang bersamaan sehingga aku bingung harus memberi tanggapan pada siapa terlebih dahulu. Sampai akhirnya mereka saling berdebat sendiri di mana satu pihak mendukung keputusanku, sedangkan pihak lain mau aku menunda memberi kesaksian.


“Sebentar, Ma. Tante, tunggu sebentar.” Om Zach mencoba untuk menenangkan semua orang.


“Semuanya, tolong, tenang sebentar!” kata Papa dengan suara yang lebih keras. Semua orang terdiam dan menoleh ke arah Papa. “Zach ingin mengatakan sesuatu.”


“Ketiga pelaku kejahatan itu sudah berada di penjara, bukti-bukti juga sudah cukup, hanya tinggal satu hal saja yang dibutuhkan agar kasus ini bisa diajukan ke pengadilan. Kesaksian Dira. Aku tahu mereka adalah orang jahat, tetapi mereka membutuhkan keadilan. Bila Dira sudah siap, maka kita semua harus mendukungnya. Semakin cepat kasus ini selesai, semakin baik juga untuk Dira,” kata Om Zach memberi penjelasan.

__ADS_1


“Dira, inikah yang ingin kamu lakukan? Kamu sudah yakin?” tanya Papa berhati-hati.


“Iya, Pa. Tentu saja aku takut. Aku tidak berjanji aku tidak akan menangis atau kehilangan kata-kata pada saat memberikan pernyataan.” Kakak yang duduk di sisiku, menyentuh tanganku. “Tetapi aku mau menunjukkan pada mereka bertiga bahwa mereka tidak berhasil menghancurkan kita.”


*******


Sementara itu di sebuah apartemen~


Colin menyeret kopernya menuju kamarnya, kemudian membersihkan diri dan berganti pakaian sebelum bergabung dengan keluarganya di ruang tengah. Mereka sedang menikmati keripik kentang ditemani secangkir teh atau kopi.


“Ada apa? Mengapa kalian melihat aku seperti itu?” tanya Colin ketika keluarganya menatap dia begitu dia duduk di samping Lily.


“Apa kamu dan Dira sudah kembali bersama?” tanya Gista ingin tahu. Colin menatap mereka satu per satu, lalu tersenyum. “Jawab, Colin. Jangan buat kami penasaran.”


“Kalian tidak membahasnya sama sekali saat kita di mobil. Aku pikir kalian tidak akan bertanya.” Colin tertawa kecil. “Tidak. Aku dan Dira belum kembali bersama. Aku juga tidak tahu mengapa dia melakukan hal itu tadi. Mungkin dia hanya ingin membebaskan aku dari rasa bersalah.”


“Kamu memang tidak bersalah, Nak,” kata Will menyetujui ucapan Dira.


“Jadi, bagaimana keadaanmu sekarang? Apa kamu merasa lebih baik?” tanya Gista pelan.


“Sedikit,” jawab Colin dengan jujur.


“Aku berharap ini akan membantu mengusir mimpi burukmu.” Gista menatap Colin dengan sedih. Colin membulatkan matanya. “Apa kamu pikir kami tidak tahu? Kamu berteriak sekeras itu dalam tidurmu menyebut nama Dira, tetangga mungkin mendengarnya juga.”


“Oh, Tuhan ….” Colin menutup wajahnya dengan salah satu tangannya. Keluarganya tertawa kecil. “Ini sangat memalukan.”


“Makanya, berhenti menyalahkan diri sendiri,” ejek Lily.


Colin mengabaikan adiknya dan duduk dengan tegak. “Aku punya pertanyaan penting. Apa menurut kalian ada yang perlu diperbaiki dari hubungan aku dan Dira dahulu? Apakah ada yang kurang?”


*******


Author's Note~


Yeess! Akhirnya, sampai juga di bab seratus! ♪ ♬ ヾ(´︶`♡)ノ ♬ ♪ Terima kasih banyak, teman-teman, yang setia mengikuti cerita Hadi dan Dira dari awal sampai bab ini. ♥ Terima kasih juga untuk segala bentuk dukungan yang diberikan, baik lewat jempol, komentar, vote, favorit, rating, juga hadiah. ♥


Bagaimana cerita mereka sejauh ini? Kalau ada kritik atau saran\, jangan segan-segan\, ya. Mau beri pujian juga boleh. Hahahaha .... #jitak_kepala_sendiri


Selamat berakhir pekan. (´ ▽`).。o♡

__ADS_1


Salam sayang,


Meina H.


__ADS_2