
Mata semua orang tertuju kepada benda itu, tetapi tidak satu pun dari kami yang mengerti apa yang hendak Om Zach lakukan. Aku memegang tangan Colin dan tersenyum kepadanya. Dia hanya tersenyum tipis, masih terlihat khawatir. Om Zach membuka layar ponselnya, lalu memilih entah apa dan sebuah bunyi keluar dari benda itu.
“Ada apa? Kamu mau menertawai aku?” Terdengar suara Laras. Rekaman itu hening sejenak. “Kamu tidak berani datang sendiri, jadi kamu meminta pamanmu menemani kamu?” Terdengar suara Laras tertawa kecil. Oh. Tuhan. Aku tahu di mana pernah mendengar Laras mengatakan kalimat itu! Aku tidak menduga bahwa Om merekam seluruh pembicaraan kami.
“Cukup! Matikan rekamannya!” seru Laras yang berusaha untuk meraih ponsel Om, tetapi Om lebih cepat bergerak. Dia menjauhkan benda itu dari jangkauan Laras.
“Aku jatuh cinta. Aku jatuh cinta dan berhenti berpikir dengan logikaku. Aku tahu yang aku lakukan salah ketika dia meminta agar hubungan kami dirahasiakan.” Suara Laras dalam rekaman itu terus bicara. Aku kini mengerti mengapa dia ketakutan. Orang tuanya tidak tahu mengenai hubungan dia dengan anak Pak Billy. Hal yang akan dia akui pada rekaman itu.
“Tolong, matikan! Aku akan bicara dengan jujur. Sungguh! Aku akan mengatakan yang sejujurnya!” teriak Laras dengan panik. Om Zach akhirnya mengalah. Rekaman itu dimatikan.
“Apa-apaan ini, Laras? Mengapa kamu ketakutan begini? Memangnya apa isi rekaman itu?” tanya papanya dengan bingung. “Apa kamu pikir aku akan marah karena kamu jatuh cinta? Tidak perlu khawatir, Nak. Itu hal yang wajar terjadi pada gadis seusiamu.”
“A-aku akan menemui petugas sekarang dan mengakui bahwa aku berbohong,” kata Laras.
“Tidak!” seru papanya. “Kamu tidak bisa mengatakan itu kepada mereka. Ini adalah jalan yang terbaik, Laras. Kalau kamu mengatakan bahwa laki-laki ini tidak terlibat, maka hukuman yang akan mereka jatuhkan kepadamu sangat berat, Nak. Pikirkan itu baik-baik.”
Dasar pria berengsek! Jadi, dia yang mengarang cerita dan melibatkan Colin dalam kasus Laras? Bukti video apa yang mereka tunjukkan kepada polisi sampai mereka percaya dan menangkap Colin? Itu tuduhan yang sangat jahat. Menyakiti aku saja sudah membuat Colin merasa bersalah selama berbulan-bulan. Dia tidak akan bisa melukai apalagi membunuh orang yang tidak bersalah.
“Dua belas anak, Pa. Ada dua belas anak yang mati karena perbuatanku. Papa menyuruh aku untuk merusak masa depan anak lainnya yang tidak ada hubungannya dengan kejadian itu?” ucap Laras lirih. “Aku dan Colin bahkan tidak pernah bicara berdua. Bagaimana cara Papa dan pengacara Papa membuktikan bahwa dia juga bersalah?”
“Kamu takut karena rekaman itu?” Pria itu menunjuk ke arah ponsel di tangan Om Zach. “Apa yang kamu katakan kepada mereka sampai kamu ketakutan begini? Katakan. Tidak ada orang yang bisa menyakiti kamu, Nak. Ada aku, papamu.”
“A-aku mau ke selku kembali.” Laras terlihat gugup dan segera berdiri.
“Tidak.” Papanya segera menahannya dengan memegang tangannya. Dia menoleh ke arah Om Zach. “Lanjutkan rekaman itu. Aku harus mendengarnya.”
Om Zach melihat ke arah Laras yang segera menggelengkan kepalanya. “Laras ada dalam rekaman ini dan dia menolak. Jadi, aku harus menghormati keputusannya.”
__ADS_1
“Dasar anak bodoh! Aku berusaha untuk membantumu, begini kamu membalas kebaikanku!” Pria itu melepaskan tangan Laras dengan kasar, lalu keluar dari ruangan.
Laras menangis terisak, mamanya segera berdiri dan memeluknya. Om Zach mengajak aku untuk keluar. Kami menunggu di luar ketika Om dan Colin bicara dengan petugas. Ternyata apa yang Colin khawatirkan terjadi. Dia merasa tidak nyaman ketika polisi yang melayaninya tidak bertanya dengan lembut lagi, tetapi mulai menginterogasinya begitu dia menyatakan bahwa dia kenal Laras.
Mungkin papa Laras membayar seseorang untuk mencari kemungkinan ada orang lain yang bisa diseret untuk membantu mengurangi hukuman putrinya. Wajar saja mereka memilih Colin. Dia anak dari seorang kepala sekolah dan sekretaris. Orang tua yang tidak punya pengaruh apa pun. Berbeda dengan siswa lain yang aku tahu adalah anak pengusaha kaya atau pejabat penting.
Aku membiarkan Tante Gista memeluk putranya sambil menangis terharu. Aku tidak bisa bayangkan apa yang terjadi di apartemen mereka pagi tadi. Semoga saja polisi tidak bersikap kasar kepadanya atau keluarganya. Mereka adalah orang baik. Bagaimana bisa ada orang yang mencoba untuk menuduh salah satu dari mereka telah berbuat jahat.
Om Zach menyatakan bahwa semuanya sudah beres dan Colin lepas dari masalah. Tetapi dia meminta Uncle Will untuk segera menghubungi dia apabila terjadi hal yang serupa. Aku memeluk Colin sesaat sebelum kembali ke mobil bersama Pak Sakti. Papa, Om Zach, dan Kak Hadi kembali ke kantor dengan mobil Papa.
Walaupun aku tidak bisa konsentrasi mengikuti perkuliahan, aku memaksakan diri untuk tinggal di kampus sampai mata kuliah terakhir. Charlotte dan Wyatt tidak bertanya mengapa aku datang terlambat. Mereka menunggu sampai aku sendiri yang menceritakannya.
Aku mengatakan apa yang terjadi pada pagi itu saat menunggu Pak Sakti datang menjemput aku. Charlotte mengumpat kesal begitu mengetahui tuduhan yang Laras ucapkan mengenai Colin. Aku juga ingin meneriakkan hal yang sama.
“Aku tidak bisa membayangkan jika aku menjadi Colin.” Charlotte menggelengkan kepalanya. “Dia harus keluar dari apartemen lewat lobi di mana ada banyak orang yang melihat dia dibawa ke mobil polisi. Itu adalah hal yang sangat memalukan. Melihat dia bebas nanti, belum tentu mereka percaya bahwa dia tidak bersalah. Bisa saja mereka berpikir bahwa dia lepas karena uang.”
“Kamu berpikir terlalu jauh, sweety,” ucap Wyatt memotong sebelum Charlotte melanjutkan kalimat berikutnya. “Itu adalah kejadian yang memalukan. Benar. Tetapi mereka pasti mengenal Colin dan keluarganya. Mereka adalah orang yang baik.”
Pak Sakti datang, maka kami berpisah. Mereka memasuki mobil mereka, sedangkan aku ke mobilku. Sampai di rumah, Mama menyambut aku dan mengajak aku untuk duduk bersamanya di ruang keluarga. Dia meminta aku menceritakan segalanya yang terjadi di kantor polisi.
“Syukurlah, Colin sudah dibebaskan.” Mama mendesah lega. “Gista bicara denganku lewat telepon. Dia terus saja berteriak histeris karena putranya dibawa polisi. Aku sempat tidak percaya ketika dia mengatakan semua itu. Colin sangat baik, bagaimana bisa dia melakukan kejahatan? Ternyata ada yang memfitnah dia. Gadis itu tidak ada jeranya.”
“Mengapa ada orang bisa sejahat itu, Ma? Seandainya Colin adalah orang yang jahat pun, dia tidak pantas difitnah seperti itu,” kataku sedih.
“Papanya seorang pejabat penting. Tentu saja dia tidak mau nama baiknya tercoreng. Aku dengar, dia akan mengikuti pemilihan caleg untuk tingkat nasional. Namanya bisa dikeluarkan dari daftar partainya kalau putrinya dinyatakan bersalah, sayang. Jadi, tidak heran mereka berusaha untuk kambing hitam.” Mama membelai pipiku. “Jangan khawatir. Kami akan menolong kalian jika mereka masih mencari masalah lagi.”
Aku kini mengerti mengapa Laras takut papanya mendengar pengakuannya pada rekaman itu. Pria itu pasti akan marah besar jika dia tahu putrinya pernah menjalin hubungan dengan laki-laki yang berusia jauh lebih tua. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan dia lakukan untuk menutupi perbuatan putrinya itu dari semua orang.
__ADS_1
“Semoga saja persidangan segera diadakan supaya kasus ini cepat selesai,” ucapku pelan. Mama mengangguk setuju.
Papa dan kedua saudaraku pulang, maka kami bisa makan malam bersama. Mereka tidak banyak bicara, sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Aku juga tidak mau membicarakan apa pun. Kejadian hari ini sudah sangat menyita perhatianku.
Berada di kamar seorang diri, kejadian pagi tadi kembali menguasai pikiranku. Hanya dengan satu kata saja, seseorang yang tidak bersalah bisa ditangkap oleh polisi. Seandainya papa Laras adalah orang biasa, dia tidak akan punya kuasa untuk menyakiti Colin. Aku tidak boleh kalah dari Papa. Aku harus bekerja dengan keras supaya punya banyak uang. Dengan begitu, ketika ada orang yang mencoba menyakiti aku atau Colin, kami bisa menjadi lawan mereka yang seimbang.
Pintu kamarku diketuk, lalu kepala Kakak muncul dari balik pintu. “Aku bosan hanya sendirian di kamar.” Kakak menutup pintu lalu duduk di salah satu sofa. “Main kartu?”
“Kakak datang ke sini hanya untuk main kartu? Mustahil.” Aku turun dari tempat tidur dan duduk di hadapannya, dengan meja berada di antara kami.
“Untuk minum teh hangat dengan kue juga.” Kakak menoleh ke pintu mendengar bunyi ketukan. Tanpa melihat, aku tahu yang datang adalah Adi.
“Ooo. Jadi ini yang kalian lakukan setiap kali berkumpul bertiga di kamar.” Mendengar suara Mama, aku menoleh. Dia datang bersama Papa dengan pakaian tidur mereka. “Ayo, sayang. Kita ikut.”
“Duh, jangan, Ma. Aku bisa kalah terus kalau Papa ikut main.” Aku menghalangi mereka untuk duduk di sofa. “Papa dan Mama bermesraan di kamar saja. Ini waktunya anak-anak, bukan orang tua.”
“Aku masuk tim kamu, jadi kamu tidak akan kalah.” Papa duduk di sisiku, aku segera memeluk lengannya dengan gemas.
“Yes! Kemenangan sudah di depan mata!” sorakku senang.
“Lalu bagaimana dengan aku, sayang?” keluh Mama dengan wajah sedih.
“Mama bersama aku saja,” ucap Adi yang masuk ke kamar. “Kita pasti bisa menang mudah melawan Papa dan Kak Dira.” Dia mengangkat kepalanya dengan sombong.
“Mengapa kamu yakin sekali?” tanya Kak Hadi heran.
“Aku sudah pelajari banyak permainan, Kak. Ini persoalan gampang. Yang terpenting adalah adu strategi.” Adi duduk di samping Mama sehingga dia berada di antara kedua putranya.
__ADS_1
“Aku terima tantanganmu. Kocok dan bagikan kartunya, Hadi,” kata Papa dengan senyum sinis.
Ponselku yang di atas nakas berdering, aku segera mengambilnya. Ternyata bukan panggilan video dari Colin. Ada beberapa pesan baru di kotak masuk yang datang nyaris bersamaan. Aku membuka kotak masuk dan ada begitu banyak pesan dari berbagai nomor yang tidak aku kenal atau simpan.