
“Maaf, kami terburu-buru,” Hadi melepaskan tanganku, lalu meletakkan tangannya di punggung bawahku. Dia menuntun aku berjalan menjauhi gadis itu.
Aku masih sempat melihat wajah gadis itu saat kami berjalan melewati dia. Bila dia terlihat sangat marah kepadaku, dia justru bersikap sebaliknya pada Hadi. Dia menatapnya penuh harap, penuh … cinta? Itukah sebabnya gadis itu terlihat marah kepadaku? Apa dia menyukai Hadi?
Mengapa aku malah terkejut? Tentu saja ada banyak perempuan yang menyukai Hadi. Dia tampan, bertubuh tinggi dan atletis, cerdas, dan yang membuat siapa pun tidak bisa menolak pesonanya, dia berasal dari keluarga terpandang dan kaya raya.
“Ada apa, Kak? Siapa dia?” tanya Dira melihat ke arah gadis yang tadi menyapa Hadi. Dia dan Charlotte terlihat tidak senang dengan apa yang mereka saksikan.
“Tidak ada apa-apa. Kalian mau ke mana lagi?” Dia mengangkat tangan kirinya untuk melihat jam tangannya, lalu menggandeng tanganku kembali. “Belum saatnya makan malam.”
“Temani aku dan Wyatt memilih cincin pertunangan kami!” seru Charlotte. Dia menggandeng tangan Dira yang ikut berteriak antusias. Mereka berjalan cepat di depan kami.
“Aku yang akan melamar, mengapa Dira yang diajak untuk memilih cincin?” tanya Wyatt heran. Kami bertiga tertawa mendengarnya.
Charlotte membawa kami ke sebuah toko perhiasan yang kelihatannya menjual barang mahal. Aku melihat barisan kalung, gelang, anting-anting, bahkan cincin yang diatur dengan menarik yang terbuat dari beberapa bahan berharga. Berlian mendominasi batu permata yang dipasangkan pada setiap jenis perhiasan yang ada.
Aku tidak pernah menggunakan perhiasan asli, hanya pernak-pernik yang menurutku sudah cukup menunjang penampilanku. Lagi pula aku tidak punya tempat khusus untuk menyimpan benda yang mahal dan berharga ini.
“Apa ada yang kamu suka?” tanya Hadi yang masih berdiri di sisiku. “Aku punya cukup uang untuk membelikan kamu perhiasan mana pun yang kamu mau. Atau kamu mau cincin tunangan juga?”
“Tidak. Gelang ini sudah cukup.” Aku menyentuh benda itu dan tenang melihatnya masih melingkari tanganku. “Bukankah pertunangan resmi kita akan diadakan pada pertengahan tahun ini? Aku yakin kita akan bertukar cincin pada hari itu. Dan itu hanya terjadi ‘kalau’ aku ingin menikah denganmu.”
Dia hanya tertawa dan tidak mengatakan apa pun untuk menanggapi kalimatku tadi. Charlotte memanggil aku dan menunjukkan cincin yang mereka pilih. Wyatt menganggukkan kepalanya menyatakan bahwa dia juga menyukai pilihan adikku itu. Cincin itu terbuat dari logam titanium bertatahkan berlian. Indah sekali.
Setelah Wyatt membayar cincin tersebut, kami keluar dari toko perhiasan. Kami berpapasan dengan sepasang kekasih saat akan keluar. Mereka bergeser untuk memberi kami jalan lebih dahulu. Wyatt berterima kasih dan berjalan keluar bersama Charlotte. Aku melihat wanita itu tidak melepaskan pandangan matanya dari kekasih adikku.
Tanpa tahu malu, dia juga melakukan hal yang sama pada Hadi. Dia menatap wajahnya dan berusaha untuk menarik perhatiannya dengan memainkan rambutnya. Aku meniru gaya Charlotte dan Dira setiap kali mereka menganggap seseorang sedang melakukan hal konyol. Memutar bola mataku.
“Cemburu?” tanya Hadi. Aku menoleh dan melihat dia sedang menatap ke depan, tetapi aku tahu pertanyaan itu ditujukan kepadaku.
__ADS_1
“Cemburu?” Aku tertawa mengejek. “Tidak. Aku hanya heran melihat sikap perempuan itu yang terang-terangan. Dia menggandeng pacarnya, tetapi masih sempat menggoda pria lain.”
Hadi menghentikan langkahnya, aku ikut berhenti. Dia menoleh ke belakang, aku juga. Dira dan Adi yang seharusnya berjalan di belakang kami ternyata masih berada di dekat toko perhiasan. Dira terlihat menari-narik pakaian adiknya, tetapi pemuda itu sibuk dengan ponselnya.
“Ada apa dengan mereka? Apa yang sedang Adi lakukan di sana?” tanyaku heran.
“Ada apa? Mengapa kalian berhenti di sini?” tanya Charlotte yang datang mendekati kami. Dia menoleh ke arah yang kami lihat. “Apa yang Dira dan Adi lakukan di sana?”
“Sepertinya Adi sedang merekam sesuatu atau seseorang. Biar aku yang panggil mereka.” Wyatt menawarkan diri, tetapi Hadi segera menahannya.
“Kita tunggu sebentar. Mereka akan segera menyusul kita.” Baru beberapa detik dia menyelesaikan kalimatnya itu, kedua adiknya berjalan ke arah kami.
Saat mereka sudah berada di dekat kami, aku bisa melihat wajah Adi merah padam. Sepertinya ada sesuatu di toko itu yang membuat dia marah atau kecewa. Tetapi dia tidak menjawab waktu Hadi bertanya ada masalah apa. Mungkin dia tidak mau menjawab karena kami ada di sini.
Untuk makan malam, Dira memilih salah satu restoran yang menjual mi khas Jepang. Aku tidak tahu bagaimana memilih menu, maka aku membiarkan Hadi yang menentukan makanan untukku. Selain membeli semangkuk mi, dia juga menambahkan beberapa camilan sebagai menu tambahan. Aku tidak yakin aku akan bisa menghabiskan semua makanan itu, tetapi ada dia yang akan membantu.
“Semua yang ada di atas bakimu adalah makanan kesukaan Kakak. Dia sengaja melakukan itu agar dia bisa memakannya bila kamu tidak suka,” kata Dira saat membayar semua makanan kami.
Selesai makan malam, kami mengantar Hadi dan adik-adiknya pulang. Dia mencium pipiku sebelum turun dari mobil atas desakan adik-adik kami. Aku perlu membicarakan ini dengan Charlotte berdua saja. Aku mengerti dia ingin membantu agar aku dan Hadi bisa lebih dekat, tetapi memaksa pemuda itu melakukan hal yang tidak dia inginkan bukanlah hal yang baik.
Kedua kakek dan kedua nenek kami menyambut kepulangan kami. Mereka menanyakan apa saja yang kami lakukan selama di luar rumah. Charlotte menceritakan segalanya tanpa melewatkan satu peristiwa pun. Kakek dan Grandpa terlihat khawatir saat tahu aku sempat kehilangan gelangku.
Melihat mereka saling bertukar pandang, aku yakin mereka sedang memikirkan cara lain yang harus mereka ambil untuk melindungi aku. Finley Taylor hanyalah satu orang, seharusnya mudah saja bagi kami untuk melawannya. Hanya karena kami tidak punya bukti, kami tidak bisa melaporkan tindak kejahatannya kepada polisi.
Nenek pamit lebih dahulu dan mengucapkan selamat malam, maka kami juga pergi ke kamar kami masing-masing. Seharian berada di luar rumah cukup melelahkan, apa lagi kami banyak tertawa saat mendiskusikan film yang kami tonton.
Setelah seharian tidak memeriksa ponsel, aku melihat ada beberapa pesan baru di kotak masuk. Salah satunya dari Sigit. Dia tidak pernah seagresif ini memberikan pekerjaan kepadaku. Aku sudah meminta penangguhan selama tiga bulan, dia masih saja mengirimi aku pesan yang sama.
Uang puluhan juta sudah tidak menarik lagi untukku. Aku sudah menemukan keluargaku, jadi aku tidak butuh uang untuk mencari mereka ke luar negeri. Sudah saatnya bagiku untuk memutuskan hubungan kerja samaku dengan Sigit. Aku membalas pesannya tersebut dengan ucapan terima kasih dan selamat tinggal.
__ADS_1
Aku tidak terkejut ketika beberapa saat kemudian ponselku bergetar dan namanya menghiasi layar. “Halo, Sigit,” sapaku sesopan mungkin.
“Apa maksud pesanmu, Mila? Kamu tidak akan menerima klien lagi?” tanyanya bingung.
“Iya. Aku berterima kasih atas kerja sama kita selama ini. Mulai dari sekarang, aku akan fokus pada studiku, lalu mencari pekerjaan yang bisa menunjang hidupku ke depan. Jadi, ini akan menjadi percakapan terakhir kita.”
“Mila,” katanya mencoba untuk mengubah pikiranku.
“Kamu tidak bisa terus mengirimi aku pesan yang tidak akan aku tindak lanjuti, Sigit. Hubungan kita hanya sebatas kerja, jadi kita tidak perlu berkomunikasi dalam bentuk apa pun lagi ke depannya. Tolong, hormati keputusanku,” kataku dengan nada serius.
“Baiklah. Aku hanya mencoba untuk membantu kamu. Jika kamu sudah tidak butuh uang tambahan untuk biaya kuliahmu, aku tidak akan memaksa,” balasnya mengalah. “Aku juga berterima kasih karena kamu sudah membantu keponakanku. Selamat tinggal, Mila. Jaga dirimu.”
Aku menghembuskan napas panjang, lega akhirnya aku bisa lepas dari pekerjaan yang tidak mudah itu. Setelah insiden dengan klien terakhir di mal itu, aku sudah tidak suka dengan pekerjaanku ini. Sigit melanggar perjanjian di antara kami. Dia belum pernah salah memilih klien dan mereka selalu sopan. Mereka menggunakan mata mereka untuk menelanjangi aku, itu bukan urusanku. Tetapi bila mereka sudah menyentuh sesukanya, itu pelanggaran berat. Aku bukan perempuan penghibur.
Pintu kamarku diketuk, aku mempersilakan masuk. Charlotte membuka pintu dan melongokkan kepalanya dengan senyum menghiasi wajahnya. “Apa aku boleh tidur di sini bersamamu?”
“Tentu saja,” jawabku cepat. Aku meletakkan ponselku kembali ke atas nakas.
Dia bersorak senang, lalu melompat ke tempat tidurku. “Ini adalah hal yang selalu ingin aku lakukan! Tidur bersama kakakku!” Dia mengangkat selimut, menutupi kakinya dengan kain tebal itu, dan duduk di sisiku. “Apa kamu baru teleponan dengan Hadi?”
“Charlotte …,” protesku pelan. “Kita perlu bicara tentang sikap kamu pada Hadi. Aku tidak mau kamu, juga Dira, mendikte dia melakukan apa yang boleh dan tidak boleh dia lakukan kepadaku. Apa kamu mau kalau aku melakukan hal yang sama pada Wyatt?”
“Kamu tidak kenal Hadi. Dia itu laki-laki kaku dan belum pernah pacaran sebelumnya. Jadi, aku dan Dira sepakat untuk membantunya sedikit demi sedikit. Jangan khawatir, aku tidak akan meminta dia melakukan hal yang membuat kamu tidak nyaman.”
“Aku bilang, tidak,” kataku dengan tegas.
“Tapi, Clarissa …,” rengeknya. Aku memasang wajah serius. “Baiklah, baik, aku tidak akan melakukan itu lagi.” Dia memasang wajah cemberut, lalu dia kembali berwajah ceria. “Aku penasaran dengan satu hal. Apa yang kalian lakukan saat kalian menghilang tadi? Benarkah Hadi tidak mencium kamu? Karena wajahmu memerah saat dia mengatakan itu.
“Nah, wajahmu memerah lagi. Jawab aku, Clarissa. Apakah dia mencium kamu? Di bagian mana? Pipi? Kening? Bibir?” tanyanya membombardirku.
__ADS_1
Pintu kamar terbuka, aku dan Charlotte serentak melihat ke arah itu. Nenek dan Grandma berdiri di ambang pintu kamarku. Aku mengerang melihat ada dua orang lagi yang harus aku hadapi. “Apa yang kami dengar itu benar? Kamu dan Hadi berciuman, Clarissa?”