
*Colin*
Ternyata aku belum bisa bernapas dengan tenang setelah menyelesaikan sidang skripsi. Aku masih harus mengunggah karya ilmiahku tersebut ke laman universitas, membayar dan mendaftar wisuda, barulah aku bisa sedikit menarik napas.
Sampai Mama mengingatkan aku mengenai pernikahanku dengan Dira. Aku harus mengepas setelan, merapikan rambut dan merawat kulit. Mama tidak mau mendengarkan protesku. Sebagai seorang laki-laki sejati, perawatan adalah hal yang paling aku hindari. Tetapi aku tidak bisa melawan.
Ketika Mama meminta aku dan Lily menjemput keluarga di bandara, aku tidak menduga bahwa mereka adalah Grandpa dan Grandma. Kejutan terbesarku melihat mereka akhirnya berkunjung ke Indonesia. Mereka adalah pekerja keras yang tidak mau membuang waktu dengan berlibur. Karena itu mereka punya banyak uang, tetapi tidak pernah jalan-jalan.
Suasana di kota mereka masih di bawah minus dan hujan salju kadang-kadang turun. Jadi, mereka senang sekali bisa lepas dari pakaian tebal mereka dan menikmati suhu tropis di Jakarta. Karena aku yang tidak punya aktivitas lain, maka aku yang membawa mereka mengunjungi banyak tempat wisata. Kami mengunjungi berbagai objek di Bali selama tiga hari, lalu tiga hari berikutnya di Jawa Tengah, barulah kami pulang.
Grandpa dan Grandma sangat senang dengan perjalanan kami. Mereka sampai merencanakan kedatangan mereka yang berikutnya pada musim gugur nanti. Aku melirik ke arah Lily yang harus menjadi pemandu mereka nantinya. Aku sudah tidak mungkin berlibur selama itu jika sudah bekerja.
Aku sedang menambah makanan ke atas piringku ketika Uncle Hendra mendekati aku dan meminta aku untuk mengikutinya. Kami sedang berada di rumah mereka untuk berkumpul bersama seluruh keluarga kami menjelang hari pernikahan pada keesokan harinya.
“Kamu tahu aku sangat menyayangi putriku,” kata Uncle sambil duduk di salah satu sofa di ruang keluarga. Dia menunjuk kursi yang ada di depannya.
Aku menelan ludah dengan berat, lalu duduk dan meletakkan piring di atas meja. “Jangan khawatir, Uncle. Aku berjanji akan menjaga Dira dengan baik dan membuatnya bahagia.”
“Jika kamu menyakiti dia lagi seperti sebelumnya—” katanya dengan tatapan dingin.
“Itu tidak akan terjadi, Uncle,” ujarku dengan cepat. “Aku akan selalu membicarakan segalanya dengan Dira sebelum memutuskan apa pun.”
“Jangan kecewakan aku, Colin. Aku bisa saja merebut dia kembali darimu, kalau kamu berani sedikit saja menyakiti dia. Apa kamu mengerti?” katanya dengan tegas. Aku mengangguk menurut.
Pernikahan kami berjalan dengan lancar. Semua orang yang hadir ikut berbahagia bersama kami. Aku tidak bisa mengingat apa pun selain Dira yang sangat cantik dengan gaun putihnya. Walaupun dia tidak berdandan seperti saat menjadi model atau bintang iklan, aku lebih menyukai riasannya yang apa adanya. Aku benar-benar pemuda yang beruntung.
Semua rasa lelah setelah perjalanan nyaris satu minggu bersama Grandpa dan Grandma akhirnya membuat tubuhnya menyerah. Aku segera tertidur di ranjang kamar hotel begitu selesai mandi. Hal yang membuat aku malu sendiri. Bagaimana bisa aku malah tertidur pada malam pertama statusku berubah dari tunangan menjadi seorang suami?
__ADS_1
Namun Dira tidak mempermasalahkan hal itu. Dia malah terlihat bahagia saat kami makan malam bersama. Kami memang tidak sempat makan sebanyak yang kami butuhkan selama acara resepsi. Orang-orang tidak berhenti mengucapkan selamat. Yang bisa kami nikmati hanyalah makan malam. Kue dan kudapan lainnya yang ada di atas meja tidak bisa kami sentuh.
“Sayang, apakah kamu membutuhkan asisten rumah tangga?” tanyaku setelah kami selesai makan. Dia menoleh ke arahku dengan mata besarnya. “Aku tahu kamu tidak pernah melakukan itu sejak kamu lahir, jadi aku tidak keberatan bila kita mempekerjakan dua atau tiga orang di apartemen.”
“Kamu serius? Membiayai orang yang bekerja untuk kita itu tidak murah.” Dia merapikan piring yang sudah kosong menjadi satu. “Biar aku saja yang menanggung gaji mereka. Kamu membiayai hal lain.”
“Tidak. Kita sudah membicarakan ini. Aku yang menanggung semua biaya hidup kita. Kamu simpan uang kamu untuk kebutuhan tidak terduga. Anggap saja sebagai tabungan hari tua,” kataku menolak. Wajahnya berubah cemberut. “Membiayai pekerja itu bukan hal yang berat, sayang. Aku masih ada tabungan dan begitu aku bekerja, kita punya uang setiap bulannya.”
“Aku tidak mau memberatkan kamu. Kita tidak berencana punya asisten rumah tangga. Bagaimana kamu akan mencukupi semua kebutuhan kita sendirian? Seharusnya aku juga ikut membantu, bukan hanya menghabiskan uang hasil kerja kerasmu,” katanya pelan.
“Bagaimana kalau begini? Aku akan meminta bantuanmu jika pengeluaran kita sudah melampaui pendapatan bulananku. Oke?” tanyaku memberi usul. Dia segera mengangguk setuju.
Hal pertama yang membuat aku menghela napas panjang ketika memasuki apartemen kami adalah tumpukan kado di ruang tengah. Aku tidak bisa melihat sofa, meja, apalagi televisi karena hadiah yang menumpuk tersebut. Apakah kami akan dikutuk bila beberapa barang ini kami jual?
Dira hanya tertawa saat kami membuka satu per satu kado tersebut. Kami mencatat nama setiap orang yang memberikan hadiah tanpa menyebut nama barangnya. Dira berencana untuk membalas setiap pemberian itu melalui hadir dan membawa kado pada acara pernikahan keluarga mereka.
Menjelang malam hari, kami belum selesai membuka semua kado tersebut. Aku mengeluh pelan ketika bel pintu apartemen kami berbunyi. Aku berjalan gontai menuju pintu untuk membukanya.
“Bantuan datang!!” sorak Charlotte yang segera memasuki apartemen, disusul oleh Wyatt, Clarissa, Hadi, Adi, Lily, bahkan orang tua kami.
Semua kado itu pun selesai dibuka hanya dalam waktu dua jam saja. Kami melakukannya setelah makan malam bersama. Aku seharusnya mengundang mereka tadi, jadi kami tidak perlu kesusahan mengerjakannya hanya berdua saja.
Hampir satu bulan setelah pernikahan kami, aku mengikuti upacara wisuda di auditorium universitas. Meskipun aku sudah punya istri, aku tetap mengajak orang tuaku untuk menemani aku. Dira tidak mau mencuri peran yang selama ini dilakukan oleh orang tuaku dalam mendukung pendidikanku.
Dengan perasaan bangga, aku melihat Hadi maju sebagai lulusan teladan angkatan kami. Dia lulus lebih cepat dengan nilai akumulatif yang lebih tinggi dari semua lulusan yang diwisuda bersama kami. Aku menoleh ke arah orang tuanya dan Aunt Zahara terlihat sedang menyeka pipinya dengan tisu.
Hal yang paling mendebarkan adalah pada saat kami semua diminta untuk berdiri dan mendengar lagu “Padamu Negeri” yang menggetarkan hatiku. Setelah mengabdi untuk keluarga, aku kini siap untuk mengabdi bagi orang banyak yang ada di sekitarku. Iya. Aku belajar setinggi ini bukan hanya untuk diriku sendiri, tetapi juga untuk negeriku.
__ADS_1
Sekalipun aku adalah orang keturunan asing dan tidak melupakan apalagi meninggalkan asal-usulku, aku akan menyayangi negeri tempat kelahiran istriku dan sahabat baikku. Lagi pula aku hidup dan besar di negeri ini, bukan di Amerika.
Karena kami bertiga diwisuda pada hari yang sama, keluarga memaksa kami untuk merayakannya di satu tempat. Pekarangan rumah Hadi menjadi pilihan. Dira sangat bahagia bisa menghabiskan satu harinya di rumah keluarganya. Kami tidak memberi tahu banyak orang, tetapi undangan yang hadir memenuhi rumah dan pekarangan tersebut.
Aku, Adi, Lily, dan Diah keluar sebagai juara kedua dalam turnamen game yang kami ikuti. Jadi, aku tidak terkejut melihat ada banyak orang yang aku kenal lewat kompetisi itu menghadiri acaraku. Ini pasti ulah Adi dan Diah. Mereka hanya tersenyum penuh arti kepadaku.
“Kalau kalian tidak hati-hati, aku akan mulai berpikir bahwa kalian adalah pasangan. Ke mana pun kalian pergi, kalian selalu saja berdua,” godaku sambil memberikan segelas jus kepada Diah.
“Kami memang pasangan, Colin,” kata Adi dengan santai. Mereka saling bertukar pandang.
“Pasangan dalam game tidak masuk hitungan.” Aku memutar bola mataku.
“Aku masih sekolah, belum saatnya untuk pacaran,” kata Adi menjelaskan.
“Aku masih menyembuhkan patah hati, belum saatnya untuk pacaran,” kata Diah tidak mau kalah. “Lagi pula, Colin, orang akan memanggil aku pedofil, bila aku mendekati anak di bawah umur. Akan beda kasusnya jika aku dan Adi sebaya.” Mereka mengadukan bibir gelas mereka sambil tersenyum.
“Jadi, buang jauh-jauh pikiran anehmu itu,” ujar Adi menyimpulkan.
“Ahh, sepertinya sayangku kalah berdebat lagi dengan adikku dan Diah,” ucap Dira yang memeluk pinggangku. “Abaikan dia. Suamiku memang suka berpikiran yang aneh.” Adi dan Diah tertawa, lalu pergi meninggalkan kami.
“Mengapa kita tidak bertaruh saja, sayang? Kita buktikan pendapat siapa yang benar,” kataku menantangnya. “Adi menyukai Diah, begitu juga sebaliknya.”
“Oke. Aku tidak takut.” Kami berjabatan tangan sebagai tanda sepakat.
Mendengar namaku dipanggil, kami menoleh ke arah datangnya suara. Aunt, ah, maksudku, Mama Zahara memanggil kami untuk mendekati mereka. Hadi dan Clarissa berdiri di sana juga. Ternyata semua orang ingin berfoto bersama kami bertiga.
Aku bahagia melihat semua keluarga dan sahabatku tertawa lepas, terutama istriku. Semoga saja aku bisa terus membuat dia bahagia. Entah apa yang akan terjadi dalam hidup kami di masa depan, aku tidak akan mengkhianati dia lagi. Aku tidak akan melakukan apa pun tanpa berdiskusi terlebih dahulu dengannya. Dia akan menjadi orang yang paling aku percayai dan andalkan.
__ADS_1