
Yang benar saja. Dia meminta aku untuk tidak mengakui usulnya itu sebagai ide dari kepalaku sendiri. Aku tidak pernah berpikir untuk mencuri ide orang lain dan mengeklaim bahwa itu adalah milikku. Tetapi aku tidak mau bertengkar dengannya di depan semua orang, jadi aku berjanji dengan serius.
Dia memeriksa ponselnya, lalu memasukkan benda komunikasi itu ke tasnya kembali. “Charlotte dan Wyatt akan menjemput aku dari restoran, jadi kamu tidak perlu mengantar aku pulang.”
“Beri tahu mereka, aku yang akan mengantar kamu pulang,” ujarku mendengar ide yang sangat tidak praktis tersebut.
“Kamu yakin dengan itu?” tanyanya menguji keseriusanku.
“Cepat kabari mereka sebelum aku berubah pikiran,” kataku setengah mengancam. Dia tersenyum bahagia dan segera mengeluarkan ponselnya. Semoga aku tidak akan pernah menyesali keputusan tanpa pikir panjangku pada sore ini.
Aku membawa dia ke restoran terdekat dari kantor. Aku tidak mau menghadapi kemacetan hanya demi mendengar sebuah ide yang belum tentu sebagus yang dia katakan. Tetapi saat dia memberi tahu aku apa yang dia pikirkan, ide itu tidak buruk. Bukan ide segar yang belum pernah dilakukan, namun aku yakin orang-orang yang lewat akan menyukainya. Setidaknya, mereka yang punya uang akan berhenti sejenak untuk melihat atraksi itu.
Clarissa tersenyum penuh kemenangan ketika melihat wajahku. “Apa aku bilang? Kamu akan suka dengan usul yang aku pikirkan. Memang sudah banyak yang melakukannya lebih dahulu. Tetapi ide ini sudah lama tidak dilakukan, jadi orang-orang pasti akan tertarik.”
“Aku akan sampaikan ini kepada manajer dan kita tunggu tanggapan darinya besok,” kataku tanpa memberinya harapan, tetapi juga tidak mengabaikan usulnya itu.
“Kamu sepertinya kurang nyaman bekerja di bagian pemasaran. Apakah ini bukan bidang yang kamu sukai?” tanyanya ketika makanan kami sudah diletakkan di depan kami masing-masing.
“Aku kurang suka bertemu dengan banyak orang baru. Aku lebih suka berada pada tim yang sama dan membahas strategi untuk mengembangkan usaha,” jawabku dengan jujur.
“Karena hal itu ada dalam kendalimu, sedangkan membujuk konsumen tidak ada dalam kamusmu?” tebaknya dengan tepat. “Aku setuju, tetapi aku sudah ditempatkan di sini, jadi aku harus memikirkan sesuatu untuk kebaikan divisi ini. Kamu sebaiknya banyak menonton film yang ada hubungannya dengan pemasaran. Itu bisa memberimu banyak ide.”
“Idemu itu kamu dapatkan dari film?” tanyaku ingin tahu.
“Aku tidak ingat. Tetapi aku tahu aku pernah melihatnya di suatu tempat.” Dia mengangkat bahunya.
“Aku hanya diminta untuk mendampingi kalian, bukan mencari ide untuk meningkatkan penjualan.” Aku menolak usulnya untuk memperbanyak pengetahuan dengan menonton.
“Kamu akan menjadi penerus Om Hendra. Apa kamu tidak akan menggunakan kesempatan ini untuk membuktikan kemampuanmu?” tantangnya. “Aku saja memanfaatkan magang ini untuk belajar dari perusahaan Om Hendra agar kelak bisa menggantikan Kakek.”
Aku tertarik dengan topik itu. “Kamu dan Charlotte sudah sepakat untuk memilih akan memimpin perusahaan yang mana?”
“Charlotte sudah resmi bertunangan dengan Wyatt. Aku tidak akan memisahkan mereka dengan menggantikan posisi Grandpa. Jadi, aku sudah fokus untuk menyiapkan diri meneruskan usaha Kakek,” jawabnya menjelaskan. “Aku tidak tahu bagaimana aku bisa mengerjakan tanggung jawab sebesar itu. Tetapi Kakek mengusulkan untuk melanjutkan studi dan belajar lagi.”
__ADS_1
“Itu usul yang tepat. Aku juga akan mulai mengincar kampus yang cocok setelah wisuda nanti.”
“Bukannya kamu akan bekerja di perusahaan papamu sebelum sekolah lagi?”
Aku menggeleng pelan. “Semakin cepat aku menyelesaikan studi, semakin cepat aku bekerja tanpa gangguan. Ini usul Papa. Orang tuaku membebaskan aku untuk memilih kampus mana pun. Aku tertarik untuk kuliah di luar negeri. Mungkin ke Inggris supaya bisa belajar dari Uncle Xavier juga.” Hal itu sudah aku pikirkan sejak lama, tetapi aku tidak yakin bisa kuliah di sana.
“Uncle Xavier?” tanyanya bingung.
“Iya. Sahabat sekaligus rekan bisnis Papa. Dia investor pabrik garmen kami.” Dia belum tahu tentang Uncle Xavier dan keluarganya. Keluarganya yang lain sudah pernah bertemu dengan mereka.
“Melanjutkan studi di Inggris, ya. Hm. Aku akan tanya Kakek apakah ada biaya yang cukup untukku kuliah di sana nanti.” Dia terlihat sedang berpikir.
Aku tidak menduga ceritaku ini akan memberinya inspirasi itu. “Clarissa,” kataku mulai frustrasi. “Aku ke sana untuk belajar, bukan berpacaran dengan kamu.”
“Aku tahu. Karena itu aku mengatakan akan kuliah di sana. Apakah aku tidak boleh ikut denganmu untuk belajar bagaimana berbisnis dengan Uncle Xavier?” tanyanya dengan wajah lugu.
“Tujuanmu belajar di sana bukan hanya untuk belajar. Kamu juga ingin menjaga agar aku tidak dekat dengan gadis lain, ‘kan?” tanyaku curiga.
Aku menghela napas panjang untuk menenangkan emosiku yang mendadak naik. “Clarissa, apa kamu tidak bisa memahami kata tidak? Mau sampai kapan kamu melakukan ini? Aku tidak akan mau kembali lagi kepadamu. Paham?”
“Begitu kamu berhenti membohongi dirimu sendiri, maka aku akan berhenti mengejar kamu. Mau sampai kapan hatimu masih menyayangi aku, sedangkan bibirmu berkata sebaliknya?” katanya tidak mau kalah. Aku membuka mulut ingin mengatakan sesuatu. “Jangan menyangkal, Hadi.”
“Aku tidak akan menyangkal atau berbohong. Aku tidak punya perasaan khusus lagi kepadamu,” kataku dengan tegas. “Bila kamu terus melakukan ini, aku bisa mati rasa, Clarissa. Itu lebih buruk daripada tidak punya rasa sayang lagi kepadamu.”
“Baiklah. Kalau begitu, kamu tidak keberatan jika aku dekat dengan Tegar, ‘kan?” tanyanya membuat aku terkejut. Tegar? Apa yang dilakukan pria itu kepadanya? Aku tidak tahu bahwa mereka dekat.
“Ada apa dengan Tegar?” Aku balik bertanya.
“Pada saat mengelilingi toko sesuai grup pagi tadi, dia tidak pernah jauh dari sisiku. Kamu tahu apa yang dia pikirkan mengenai kedekatan kita? Dia pikir aku gadis pemalu yang tidak nyaman dekat dengan orang lain sehingga aku terus berada di sisimu, teman satu kampusku.” Dia tertawa kecil. “Teman-teman yang lain tahu bahwa aku suka kamu, hanya dia yang beranggapan berbeda.”
“Tegar adalah pria yang baik. Kalau kamu juga suka dengannya, silakan saja. Kamu tidak perlu izin dariku,” kataku acuh tak acuh. Dia tersenyum penuh arti, senyumnya yang tidak aku suka.
Kami tidak bicara selama dalam perjalanan menuju rumahnya. Aku juga tidak mampir dan segera pulang setelah dia masuk ke rumahnya. Charlotte dan Wyatt pasti akan menggoda aku sepuas mereka jika aku masuk bersamanya ke rumah itu.
__ADS_1
Aku bisa menghindari kedua makhluk yang menjengkelkan itu, tetapi tidak dengan adikku. Dira berdiri menyambutku di teras ketika aku pulang. Pak Sakti segera mengambil alih mobilku untuk dimasukkan ke garasi, sedangkan aku menguatkan diri mendengar ejekannya.
“Jadi, makan malam berdua dengan Clarissa? Itu perkembangan yang sangat baik, Kak,” ucap Dira dengan wajah bahagia. “Seandainya Kakak pulang lebih cepat, Kakak bisa melihat wajah Mama yang sangat senang mendengar kalian kencan.”
“Kami tidak kencan. Kami hanya membicarakan pekerjaan sambil makan malam bersama. Tidak lebih,” kataku dengan tegas. “Charlotte dan Wyatt perlu bicara jujur tanpa menambah-nambahi hal yang tidak Clarissa sebutkan sama sekali.”
“Sebagian besar kisah cinta diawali dari makan malam bersama, Kak.” Dira mengedipkan sebelah matanya. “Sayang sekali, Colin sedang sibuk, jadi kami tidak bisa makan malam bersama tadi.”
“Memangnya dia sibuk apa?” tanyaku heran.
“Karena kami akan menikah pada awal tahun depan, dia berusaha untuk maju sidang skripsi sebelum akhir tahun. Jadi, kami bisa menyiapkan pernikahan dengan baik.”
“Dia beruntung. Aku hanya bisa menyentuh skripsiku pada akhir pekan. Itu pun jika kita tidak ada acara keluarga.” Aku mendesah pelan. “Bagaimana dengan hari pertama kehidupan kampusmu?” Aku bertanya sebelum dia kembali ke topik favoritnya.
“Kakak tidak akan percaya ini. Reese sangat baik kepadaku. Charlotte sampai bengong melihat dia bisa bersikap sangat manis. Dia hampir membuka kedoknya sendiri ketika Wendy datang. Tetapi dia segera memasang wajah ramahnya kepada Wendy juga.” Dira tertawa geli. “Dia pasti tidak menduga bahwa Wendy, gadis yang dia kejar-kejar untuk bayar ganti rugi itu satu kelas dengannya.”
“Sebaiknya kamu berhati-hati dan tidak terjebak umpannya. Aku tidak percaya gadis sejahat dia bisa mendadak menjadi orang baik,” kataku yang berhenti di ujung tangga.
“Dia tidak mendadak menjadi orang baik, Kak. Dia sedang berusaha membuat aku terkesan agar niatnya untuk menjadi pacar Kakak tercapai.” Dia menoleh ke arah koridor menuju kamarnya. “Aku ke kamar, ya. Selamat malam, Kak.”
“Kamu tetap harus berhati-hati, Dira,” kataku tidak suka melihat sikap menganggap remehnya.
“Ada dua orang yang selalu mengawasi aku, jadi apa lagi yang aku khawatirkan? Reese tidak akan membuang sia-sia uangnya untuk menyewa orang untuk menyakiti aku. Jangan lupa. Dia tidak mengincar aku, tetapi Kakak,” katanya mengingatkan. Perutku mual mendengarnya.
*******
Beberapa jam yang lalu~
“Jadi, kamu dan Hadi teman satu kampus?” tanya Tegar yang menyejajarkan langkahnya dengan Clarissa. “Dia orang yang sibuk. Kamu bisa bertanya kepadaku setiap hal yang ada hubungannya dengan divisi ini. Itu sebabnya aku tidak memasukkan kamu ke timnya. Jadi, kamu tidak perlu malu.”
“Terima kasih. Tetapi hubungan saya dan Hadi lebih dari teman satu kampus,” kata Clarissa memberi petunjuk. Mereka berjalan di barisan paling belakang ketika teman-teman yang lain memimpin di depan. “Apa Bapak tidak akan menjelaskan sesuatu kepada kami? Atau kita hanya jalan-jalan melihat koleksi yang dijual di toko ini?”
“Tugas kalian melihat apa yang ada di sekeliling kalian, lalu kita akan mendiskusikannya nanti. Ada apa? Kamu tidak nyaman berjalan bersamaku?” tanya Tegar. “Jangan khawatir. Hadi tahu kamu ada di tengah-tengah orang baik, karena itu dia membiarkan kamu satu grup denganku.” Clarissa hanya tersenyum mendengarnya.
__ADS_1