
Gara-gara ucapan adikku yang sok tahu semalam, aku tidak bisa tidur karena memikirkan Colin dan hubungan kami yang sudah hancur. Bahkan acara makan malam khusus untuk merayakan kelulusan Kakak ke langkah terakhirnya menuju meja hijau tidak bisa aku nikmati. Pak Fahri beserta timnya memasak makanan yang sangat lezat, tetapi terasa hambar di lidahku.
Ditambah lagi, kejadian saat Colin dan Clarissa berbincang dengan akrab hingga mereka tertawa bersama tidak bisa aku keluarkan dari kepalaku. Mereka hanya berteman, ‘kan? Tidak ada hubungan yang istimewa? Karena mereka terlihat lebih akrab dibandingkan saat Kakak dan Clarissa masih teman biasa. Bahkan saat mereka bertunangan pun, Clarissa tidak bersikap seakrab itu dengan Kakak.
Tidak, tidak, tidak. Clarissa tidak akan melakukan itu padaku. Meskipun dia tidak mencintai Kakak atau belum pernah mengatakan perasaan apa pun kepada Kak Hadi, dia tidak mencintai Colin. Itu tidak mungkin. Dahulu mereka hanya berpura-pura dekat, tidak ada yang serius. Tetapi bagaimana kalau sekarang tumbuh perasaan khusus di antara mereka? Clarissa dan Colin sama-sama sedang sendiri. Jadi, apa yang menghalangi mereka untuk bersama?
“Apa kamu sudah melihat wajahmu di cermin sebelum berangkat ke sini?” tanya Charlotte saat aku duduk di sisinya. Entah bagaimana dia bisa melihat wajahku dengan baik di balik kacamata hitamku. “Kamu pucat seperti mayat hidup.”
“Aku tidak mau mendengarkan kritikan mengenai penampilanku hari ini. Jadi, hentikan, Charlotte.” Dia adalah adik kandung Clarissa. Aku tidak mau keceplosan bicara dengan menanyakan ada hubungan apa antara kakaknya dan Colin.
Adi yang duduk di sebelah kananku tersenyum penuh arti. Aku menarik napas panjang untuk menenangkan emosiku. Ini bukan tempat yang tepat untuk bertengkar dengannya. Kak Hadi yang baru datang juga memberikan senyuman penuh arti kepadaku. Menjengkelkan sekali.
“Ah, Clarissa sudah keluar dari ruang ujian.” Charlotte membaca pesan pada ponselnya. “Kami akan ke sana untuk menemani dia menunggu hasilnya diumumkan.”
“Kamu mau ikut, Hadi?” tanya Wyatt menggoda kakakku. Dia hanya diam dan duduk di sisiku di mana Charlotte sebelumnya berada. “Ah, dia masih marah pada kakakmu, Sweety. Aku sudah bilang, hubungan mereka sudah tidak ada harapan lagi.”
Mereka berjalan menjauh dari kami. “Berarti rencanaku sudah tepat,” ucap Charlotte dengan suara lantang agar kami masih bisa mendengarnya. “Grandma akan datang membawa calon yang cocok untuk Clarissa. Semoga saja dia sebaik dan seromantis kamu, Honey.”
Rahang Kakak menegang mendengar kalimat itu. Aku dan Adi tertawa kecil melihat reaksinya. Kak Hadi melirik tajam ke arah kami berdua, maka kami hanya diam, tidak mau mencari keributan. Lagi pula aku tidak mau ejekanku nanti jadi senjata makan tuan. Kakak bisa saja membalas aku dengan membahas hubunganku dan Colin.
Tidak lama kemudian, Colin keluar bersama teman-temannya yang lain yang mengikuti seminar. Lily berdiri lebih dahulu dan berlari mendekati kakaknya. Dilihat dari wajahnya, aku bisa menebak bahwa ujian tadi tidak berjalan baik untuknya.
“Berhenti berakting. Aku tahu seminarnya berjalan dengan lancar. Dosen pembimbingmu adalah dosen yang baik, tidak galak seperti dosenku,” ujar Kak Hadi ketus.
“Punya sahabat baik kadang-kadang sangat mengerikan. Bagaimana kamu bisa tahu apa yang ada di dalam kepalaku?” Colin bergidik pelan.
“Jadi, kamu bisa menjawab semua pertanyaan dengan baik tadi?” tanya Lily ingin tahu.
“Tentu saja.” Colin menepuk dadanya dengan bangga. “Aku tidak akan mau kalah dari Hadi. Kamu pasti akan bangga padaku nanti.”
“Kamu gagal pun, aku tetap bangga padamu.” Lily memukul dada kakaknya.
__ADS_1
Colin menarik napas terkejut. “Kamu mendoakan aku gagal?”
Tentu saja Lily hanya bercanda. Beberapa saat kemudian, Colin dan peserta seminar lainnya diminta untuk kembali ke ruangan. Setelah menunggu beberapa menit, mereka keluar dan wajah Colin sangat ceria. Kami tidak menunggu untuk mengucapkan selamat padanya.
Clarissa juga datang dengan ekspresi yang sama persis. Charlotte mendahuluinya dengan memberi tahu kami bahwa dia lulus dengan nilai yang memuaskan. Aku menatap mereka bertiga secara bergantian. Clarissa tidak memberi perhatian khusus pada Colin, dia justru melirik ke arah Kak Hadi saat dia pikir tidak ada yang memerhatikannya. Colin juga tidak sedang menatap Clarissa, tetapi ke arahku. Aku segera membuang muka ketika pandangan mata kami bertemu.
Sama seperti hari sebelumnya, kami menuju restoran pilihan Clarissa dan Colin untuk makan bersama. Kak Hadi mengeluh karena mereka bisa patungan membayar makanan kami, sedangkan dia harus menanggung tagihan sendirian.
“Kamu bisa memesan makanan sebanyak yang kamu mau, Hadi. Win-win solution,” kata Colin santai.
“Dan merusak tubuhku sendiri? Tidak terima kasih,” tolak Kak Hadi.
Charlotte bertanya pada Colin bagaimana situasi seminar proposalnya tadi. Pemuda itu menjawab dengan antusias. Seperti yang telah dikatakan Kak Hadi, dosen pembimbingnya sangat baik dan membantu ketika ada pertanyaan dari dosen penguji yang terkesan ambigu atau memojokkan. Hal yang tidak dirasakan kakakku, karena semua dosen kompak menyerangnya. Dan mereka gagal.
Berikutnya, Adi yang bertanya bagaimana pengalaman seminar Clarissa tadi. Dia tidak mengalami kesulitan yang berarti. Setiap pertanyaan bisa dia jawab dengan baik dan tidak ada sikap dosen penguji yang berbeda dari yang biasa mereka tunjukkan saat mengajar di ruang kuliah.
“Lalu bagaimana kalian bisa seminar pada hari dan jam yang bersamaan? Apa kalian sudah janjian sebelumnya?” tanya Adi menyiram minyak ke hatiku yang masih panas. Dia melakukan ini dengan sengaja. “Padahal jurusan kalian berbeda.”
“Aku sangat beruntung mendapat kuota terakhir. Kalau aku terlambat beberapa menit saja, aku pasti dapat jadwal seminar besok. Aku tidak yakin aku bisa menunggu selama itu,” kata Colin. “Cukup membicarakan kami. Kepalaku hampir pecah karena bicara terus. Bagaimana dengan kalian? Seleksi PTN sudah di depan mata, apa kalian sudah siap?”
“Nilai kelulusan minimal kampus kalian sangat tinggi. Aku beberapa kali mengikuti uji coba dan belum berhasil meraih nilai itu. Aku tidak percaya diri bisa lulus, tetapi tidak ada salahnya mencoba.” Charlotte mengangkat kedua bahunya.
“Bahasa masih menjadi kendala bagiku, tetapi aku cukup percaya diri bisa lulus. Aku tidak sabar menjadi junior kalian di kampus,” kata Wyatt penuh percaya diri.
Mereka semua kemudian mengarahkan pandangan padaku. “Aku punya guru yang hebat, jadi aku tidak khawatir menghadapi seleksi masuk nanti.” Aku tersenyum pada Kak Hadi.
“Bila dia lulus, itu adalah sebuah keajaiban. Karena dia juga kesulitan meraih nilai kelulusan minimal,” ejek Kak Hadi. Aku hanya cemberut mendengarnya.
“Kalau Colin bisa masuk, maka Dira juga bisa. Dia lebih cerdas dari kakakku.” Lily tertawa kecil.
Colin menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku tidak percaya adikku sendiri bicara begitu.”
__ADS_1
“Aku bicara apa adanya. Kenyataannya memang begitu,” kata Lily membela diri.
“Tetapi ada hal yang lebih penting selain urusan akademik kita,” kata Kakak dengan wajah serius. “Awal bulan depan, persidangan Finley akan dimulai. Dan menurut Papa, persidangan Vivaldo dan Nora juga akan menyusul satu minggu setelahnya. Sebaiknya kita tidak banyak berada di luar rumah. Karena aku yakin, begitu kita memberi kesaksian, wartawan akan mengincar kita di mana pun kita berada.” Kakak menyapukan pandangannya.
“Kalau begitu, kami beruntung. Seleksi masuk PTN akan diadakan sebelum sidang dimulai.” Wyatt menoleh ke arah Clarissa. Mereka akan menjadi dua dari banyak saksi yang akan memberatkan bagi Finley. Aku menelan ludah membayangkan bahwa aku adalah saksi kunci dalam persidangan dua orang jahat, musuh bebuyutan orang tuaku.
“Semoga saja mereka semua dihukum yang seberat-beratnya. Mereka tidak pantas untuk dikasihani. Tetapi aku sangat menyayangkan satu hal. Finley tidak bisa dituntut atas penculikan yang dia lakukan ketika Clarissa masih bayi.” Charlotte memegang tangan kakaknya. “Itu kejahatan terbesarnya yang tidak bisa diampuni.”
“Iya. Dia menculik hanya untuk menyia-nyiakan Clarissa dalam pengasuhan orang asing yang tidak sayang apalagi peduli padanya,” kataku menambahkan.
“Hal seburuk itu tidak perlu diingat-ingat lagi. Aku sudah bertemu dengan keluargaku kembali. Itu yang paling penting. Aku punya kakek dan nenek yang baik hati, juga adik yang usil.” Clarissa berpura-pura mencubit pipi Charlotte.
“Dari banyak restoran yang bisa kamu datangi, kamu harus memilih restoran ini, Clarissa? Apa kamu masih belum bisa move on dari kenanganmu bersama kami?” Tanpa kami sadari, seseorang berdiri di samping meja kami. Aku mengenal suara itu, tetapi sejak kapan dia bisa berbahasa Indonesia?
*******
Valeria mengepalkan tangannya melihat Hadi dan Colin berbincang begitu akrab dengan gadis yang pernah menjadi pacarnya. Usahanya untuk mendekati Colin belum membuahkan hasil dan dia harus berhadapan dengan gadis misterius yang selalu memakai topi dan kacamata hitam itu.
Dia tidak pernah melihat gadis itu sebelumnya, jadi dia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Tetapi dia tahu bahwa gadis itu sangat akrab dengan dua pemuda yang ingin dia dekati. Pertama Clarissa, lalu sekarang gadis kedua pun muncul.
Rencananya untuk mendapatkan pemuda yang diincar hampir semua mahasiswi di kampus ini semakin jauh dari kata berhasil. Hadi sama sekali tidak peduli padanya. Memberi satu kesempatan pun tidak. Padahal dia sudah melakukan segalanya untuk mempercantik penampilannya. Tetapi pemuda itu malah jatuh cinta pada gadis dengan rambut pirang dan mata biru.
“Baiklah, Hadi. Bila aku tidak bisa mendapatkan kamu, maka gadis lain pun tidak.” Bibir Valeria merapat dan dia membalikkan badannya, menjauh dari Hadi dan teman-temannya.
*******
Author's Note~
Hai, teman-teman. Mohon maaf, aku tidak mempublikasikan lanjutan cerita ini selama beberapa hari belakangan. Ada proyek lain yang mendesak yang perlu segera aku selesaikan. Selamat membaca. Bila bab ini lolos review dengan normal, aku akan mempublikasikan lanjutannya hari ini. Tetapi bila ada kendala pada sistem, aku baru akan mempublikasikannya setelah bab ini lolos. Semoga saja tidak ada kendala.
Salam sayang,
__ADS_1
Meina H.