
*Dira*
Akhirnya, penantianku berakhir juga! Aku lulus di kampus dan jurusan yang aku idam-idamkan selama ini. Malam-malam panjang harus mengulang pelajaran, hari-hari penuh pertengkaran dan ejekan dari kakak, juga hobi dan pekerjaan yang berbulan-bulan aku tinggalkan pun tidak sia-sia. Hidupku bisa kembali normal lagi.
Vikal sangat berisik dan mengganggu aku tiada henti begitu tahu aku lulus seleksi masuk perguruan tinggi negeri. Dia meminta aku untuk bersiap-siap mengikuti audisi pada akhir pekan. Padahal Pak Billy mengizinkan aku untuk cuti beberapa hari lagi.
Aku tahu bahwa dia bosan hanya di rumah saja selama beberapa bulan belakangan ini. Tetapi itu bukan salahku. Aku sudah mendorong dia untuk punya lebih dari satu model yang dia kawal dari pertama kami bekerja bersama. Dia yang menolak dan memaksa hanya ingin bekerja denganku saja.
Hal lain yang membuat aku sangat tidak sabar menanti akhir pekan ini adalah rencana kami untuk mendekatkan Kakak dengan Clarissa kembali. Kami geregetan melihat mereka sering curi-curi pandang, tetapi tidak ada satu pun yang mau bergerak lebih dahulu. Jelas sekali bahwa mereka masih saling mencintai. Clarissa tidak mengatakan apa pun mengenai perasaannya kepada Kak Hadi, tetapi aku tahu bahwa gadis itu juga sayang kepadanya.
Pasti perasaan bersalah yang membuat gadis itu tidak juga melakukan sesuatu agar mereka bisa dekat lagi. Hal yang lumrah, karena keputusannya mengakhiri hubungan mereka bertepatan dengan hari di mana mereka seharusnya bertunangan adalah hal yang kejam.
Namun jauh lebih kejam bila kami membiarkan mereka terus menyangkal diri dan saling menjauh. Aku tahu Kakak tidak suka dengan apa yang kami lakukan. Dia bukan tipe laki-laki yang suka didikte atau dikendalikan. Setiap hal harus dia putuskan dan pilih sendiri. Karena itu kami menumbalkan Mama. Dia tidak akan berani memarahi Mama, bila Kakak tahu semua ini adalah rencananya.
“Kamu sudah bisa melepaskan tangan kekasihku. Kamu tahu bahwa memegang milik orang lain terlalu lama sangat tidak sopan, ‘kan?” ucap Kakak yang merangkul Clarissa. Luca yang sedang menjabat tangan gadis itu segera membulatkan mata tidak percaya.
Setelah berhari-hari kami berharap akan ada perubahan dalam hubungan mereka, membiarkan mereka menghabiskan waktu berdua saja, mengamati mereka dari jauh dan memikirkan apa lagi rencana lain yang bisa kami kerjakan, semuanya berakhir gagal. Namun justru kesempatan itu datang ketika Kakak melihat ada laki-laki lain yang tertarik kepada Clarissa.
Mengapa aku tidak memikirkan rencana itu sebelumnya? Kalau aku tahu segalanya akan semudah ini, aku sudah membayar salah satu teman modelku untuk berpura-pura mengejar cinta Clarissa. Kakak pasti tidak akan membiarkan orang lain merebut perhatian gadis itu.
“Dugaan kita tidak salah. Hadi pasti masih mencintai Clarissa!” sorak Charlotte yang segera berlari mendekati ketiga orang tersebut.
__ADS_1
Melihat Charlotte dan Wyatt memperkenalkan diri mereka kepada Luca, aku mengajak Colin untuk melakukan hal yang sama. Pemuda tampan itu bernasib buruk. Dia sudah jauh-jauh datang ke sini untuk bisa lebih dekat dengan Clarissa, ternyata ada penghalang. Tentu saja aku berpihak kepada kakakku daripada dia. Dia memang tampan dengan rambut gelap dan mata birunya, perpaduan yang sangat jarang, tetapi kakakku jauh lebih ganteng.
Colin menjemputku pada keesokan pagi untuk mendaftar ulang di kampus. Ada ratusan orang yang juga berada di lokasi yang sama yang sebaya denganku. Aku menunggu cukup lama sampai giliranku tiba. Charlotte dan Wyatt datang lebih pagi, jadi mereka selesai lebih dahulu.
Karena kami berniat memata-matai Kakak dan Clarissa, mereka pulang ke rumah untuk mencari tahu apakah Clarissa hanya di rumah saja bersama Luca atau bersama Kak Hadi. Aku juga ingin mengikuti mereka, tetapi giliranku masih lama.
Menjelang jam makan siang, aku akhirnya menyelesaikan urusanku dan keluar dari gedung tersebut. Colin menyambutku dan mengajakku kembali ke tempat parkir di mana sepeda motornya berada. Hanya beberapa langkah lagi dari kendaraannya, ponsel di dalam tasku bergetar.
Aku segera mengeluarkannya dan memeriksa nama penelepon pada layar. “Charlotte, ada kabar baik?” tanyaku tidak sabar.
“Kami hampir sampai rumah ketika kami berpapasan dengan mobil Hadi. Ada Clarissa duduk di sampingnya. Sepertinya mereka akan makan siang bersama. Ah, mereka memasuki mal! Cepat, datang ke sini. Kami tunggu!” Charlotte mengakhir hubungan telepon setelah menyebut nama mal yang dimasuki oleh mobil Kakak.
Colin bertingkah menyebalkan ketika dia tidak mengerti mengapa aku harus melihat apa yang Kakak lakukan bersama Clarissa. Aku tahu bahwa mereka hanya berpura-pura, tetapi aku ingin melihat seperti apa mereka bermesraan. Ini pasti lucu.
Dari tempat kami duduk, aku tidak bisa melihat wajah Clarissa, tetapi ekspresi Kakak bisa aku lihat dengan jelas. Dia masih saja bersikap sama, jual mahal. Dia sama sekali tidak tersenyum. Aku yakin mereka membahas hal yang sangat membosankan. Apa yang dilihat Clarissa dari kakakku itu? Sama sekali tidak ada yang menarik selain fisiknya saja.
Ketika Kakak terlihat marah sambil mengetuk dinidng pemisah antara mejanya dengan meja di sebelah, aku baru menoleh ke arah sebelahnya. Aku mengangakan mulut melihat Adi dan Lily ada di sana. Apa yang mereka lakukan? Apa mereka mengikuti Kakak dan Clarissa juga?
“Kalian ini, kakak dan adik sama saja.” Colin menggeleng-gelengkan kepalanya. “Pasti Adi yang mengajak Lily untuk datang ke tempat ini.”
“Adi tidak suka ikut campur urusan orang lain. Mereka pasti kebetulan berada di tempat ini dan melihat Kakak. Lalu mereka mengikuti dia, karena penasaran.” Aku tertawa kecil.
__ADS_1
“Itu alasan yang masuk akal. Sekolah masih libur, jadi wajar saja Adi dan Lily berada di sini,” kata Charlotte menimpali. “Apa kalian mau tambah pesanan atau sudah cukup?” Dia memberikan buku menu kembali kepada pelayan. Kami serentak menjawab sudah cukup.
“Sepertinya Luca tidak akan menyerah,” kata Charlotte begitu pelayan tadi pergi meninggalkan meja kami. Aku menoleh ke arahnya. “Sejak bangun pagi, dia tidak berhenti menempeli Clarissa. Saat sarapan bersama, dia sengaja duduk di sisinya dan terus mengajaknya bicara. Aku tidak tahu apa yang selanjutnya terjadi, karena harus ke kampus.”
“Luca dan keluarganya menginap di rumah kalian?” tanyaku terkejut. Tante Lindsey dan keluarga Hudson tidak ada hubungan keluarga, jadi untuk apa mereka menginap di rumahnya? “Apa mereka tidak menginap di hotel?”
“Rencananya begitu. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan di dalam mobil sehingga rencananya berubah. Karena aku tidak satu mobil dengan Nenek, Grandma, dan tamu mereka itu.” Charlotte mengangkat kedua bahunya. “Lagi pula mereka hanya akan menginap selama dua malam. Besok mereka akan pergi ke Bali untuk berlibur sampai akhir pekan.”
“Apa kalian akan pergi berlibur dengan mereka?” tanyaku ingin tahu. Wyatt dan Charlotte saling bertukar pandang.
“Tidak. Tetapi Luca membujuk Clarissa untuk menjadi pemandunya selama berada di Bali. Tentu saja kakakku menolak. Grandma menawarkan diri, karena ini sudah kesekian kalinya dia berlibur di Bali. Jadi, tempat itu sudah bukan tempat yang asing baginya.” Charlotte tersenyum penuh arti. “Coba kamu ada di sana bersama kami. Kamu pasti geli melihat wajah kecewa Luca.”
“Aku tidak mengerti apa yang membuat laki-laki itu tertarik dengan Clarissa. Aku tahu bahwa dia gadis yang menarik. Tetapi gadis yang tidak kalah menariknya juga ada banyak di Amerika. Aku tahu bahwa dia selalu dikelilingi banyak perempuan karena status dan keluarganya. Lalu untuk apa repot-repot mengejar Clarissa yang hidup dan besar di benua lain?” kata Wyatt curiga.
“Apa maksudmu, honey? Apa kamu curiga Luca punya maksud lain saat mendekati Clarissa?” tanya Charlotte khawatir. Dia mengerutkan keningnya. Apa yang Wyatt katakan cukup masuk akal. “Tetapi Finley sudah dipenjara dan dia akan mendekam di sana untuk waktu yang lama. Tidak mungkin dia mengirim orang lain untuk menculik kakakku lagi.”
“Sweety, kamu dan Clarissa adalah cucu satu-satunya dari Mason White. Kalian berdua adalah gadis yang sangat berharga dan menjadi incaran banyak pemuda. Grandma memberi pintu masuk kepada Luca, tidak mungkin dia menyia-nyiakan kesempatan ini.” Wyatt menyentuh tangan Charlotte. “Itu juga yang awalnya aku pikirkan. Perusahaan keluarga kami akan mendapat banyak keuntungan bila bekerja sama dengan perusahaan White. Sampai akhirnya aku benar-benar jatuh cinta kepadamu.”
“Kamu mendekati Charlotte karena hasutan Finley,” ucap Colin mendengus pelan. “Apa kamu pikir kami semua melupakan itu?”
Wyatt tertawa kecil. “Benar. Tetapi aku tidak akan pernah mendekati Charlotte bila hubunganku dengan dia tidak membawa keuntungan pada usaha keluargaku. Ingat, aku belum jatuh cinta kepadanya di awal perkenalan kami.”
__ADS_1
“Jadi, kamu curiga bahwa Luca juga punya niat yang sama sehingga dia mendekati Clarissa?” tanya Colin. Wyatt mengangguk dengan cepat. “Bagaimana kamu bisa seyakin itu? Apa kamu mengetahui sesuatu yang tidak kami ketahui?”
Wyatt mendekatkan tubuhnya, berniat untuk membisikkan sesuatu kepada kami. Aku dan Colin ikut melakukan hal yang sama. “Aku mendapat sebuah informasi dari sumber yang terpercaya.”