
Reese berdiri di belakangku dengan wajah memerah dan mata menatapku dengan tajam. Apa yang dia lakukan di sini? Bukankah katanya dia mau pergi ke agensinya? Tidak ada seorang pun yang berdiri di dekatnya. Tumben. Biasanya asistennya mengekor ke mana pun dia pergi.
“Siapa yang kamu sebut pembohong?” tanya Charlotte tersinggung.
“Kalian bilang kalian akan pergi ke toko buku. Mengapa kalian malah ada di sini?” tanya Reese marah. Aku mendesah pelan, tidak mau meladeni orang seperti dia.
“Apa kamu tidak bisa melihat jam? Kami sudah tiga jam lebih berkeliling toko buku. Lagi pula apa hakmu meminta kami berkata jujur? Suka-suka kami mau melakukan apa dengan waktu kami,” balas Charlotte tidak kalah sengit.
“Oh.” Reese melirik jam tangannya. Dia kemudian memasang senyum, merasa bersalah. “Maafkan aku. Karena terlalu asyik sendiri, aku tidak memerhatikan jam. Baiklah. Aku harus pergi ke agensi. Sampai besok, teman-teman.” Dia melambaikan tangannya dan pergi menuju pintu.
“Perempuan gila,” umpat Charlotte kesal. “Dia lebih suka menuduh, baru bertanya kemudian. Apa kesalahan Hadi sampai dikejar-kejar perempuan seperti itu?”
“Kamu baru bertemu satu orang yang bersikap begitu. Coba saja kamu berteman dengan dia sejak TK. Kamu akan tahu ada ratusan gadis yang lebih gila dari dia,” kata Colin. Charlotte bergidik pelan.
“Harta dan nama besar memang sangat menggiurkan.” Wyatt mengangguk pelan. “Aku tahu apa yang Hadi rasakan. Mereka bahkan tidak segan-segan menawarkan tubuh mereka.”
“Aku tidak akan memberi kamu kesempatan lagi kalau kamu selingkuh, honey.” Charlotte menatap Wyatt dengan serius. Kami bersorak mendengarnya.
“Jangan ragukan aku, sweety. Aku tidak akan mengkhianati kepercayaan kamu lagi,” janji Wyatt.
“Inilah alasan aku belum berpacaran di usia muda. Terlalu banyak drama,” ucap Wendy. Kami hanya tertawa mendengarnya. “Setelah melihat Dira dan Colin, aku harus kuat melihat hubungan kalian.” Dia memandang Charlotte dan Wyatt secara bergantian.
“Memangnya ada apa dengan hubungan kami?” tanya Charlotte.
__ADS_1
“Kekanak-kanakan,” jawab Wendy dengan jujur. Kami semua tertawa, kecuali Charlotte.
Sesuai dugaanku. Kakak tidak datang. Adi menolak karena malas keluar rumah dan menghadapi kemacetan. Hanya Clarissa yang memenuhi undangan kami. Dia terlihat mencari Hadi, tetapi tidak mengatakan apa pun. Aku dan Charlotte tersenyum penuh arti melihatnya.
Papa sudah menunggu di lapangan parkir ketika kami selesai makan. Colin tidak bisa mengantarku pulang, karena Lily ikut bersamanya. Charlotte tidak mungkin mengantar aku dengan kondisi rumah kami yang berbeda arah. Jadi, setelah memeluk Colin, aku segera memasuki mobil Papa.
Walaupun ada orang yang menjaga aku, Papa tidak mengizinkan aku untuk akrab dengan mereka. Papa mengharapkan mereka bisa bekerja secara profesional tanpa melibatkan perasaan pribadi. Aku mengerti apa yang Papa khawatirkan. Tetapi tidak semua laki-laki yang ada di dunia ini akan jatuh cinta kepadaku. Dia berpikir berlebihan.
“Bagaimana kuliahmu hari ini? Apakah gadis itu mengganggumu?” tanya Papa setelah memasukkan ponselnya ke saku jasnya.
“Reese tidak mengganggu aku, Pa. Seperti yang sudah aku sampaikan. Dia bersikap sangat ramah dan baik, karena dia ingin menjadi pacar Kak Hadi,” jawabku menjelaskan.
“Keputusanku tepat dengan menahan kakakmu selama tiga bulan di kantor. Gadis itu tidak akan punya kesempatan untuk mengganggunya.” Papa menggeleng pelan.
“Seperti yang kamu rasakan terhadap Colin?” tanya Papa setengah menggoda. Aku tersipu. “Apa dia bersikap baik kepadamu?”
“Sangat baik. Dia sedang fokus dengan skripsinya, jadi aku tidak mengalihkan pikirannya dengan membahas hubungan kami,” kataku pelan.
“Ada apa dengan hubungan kalian?” tanya Papa bingung.
“Kami akan menikah tahun depan, Pa. Waktunya tidak lama lagi, tetapi kami belum menyiapkan apa pun,” jawabku sedikit khawatir.
“Aku sudah bilang, biar itu jadi urusan mamamu. Gedung, gereja, katering, dan segala detail lainnya akan diurus dengan baik. Kalau kalian keberatan kami yang mengeluarkan biaya, cukup siapkan uang. Nanti kami akan beri jumlah yang perlu kalian bayar.” Papa tertawa.
__ADS_1
“Mengapa Papa selalu menertawakan permintaan Colin itu? Dia sudah baik tidak mau merepotkan Papa dan Mama dengan menanggung biaya pernikahan kami.” Aku cemberut.
“Kami akan mengundang banyak tamu, tentu saja kami merasa berhak untuk ikut menanggung biaya pernikahan kalian,” ujar Papa masuk akal. “Kamu adalah putri kami satu-satunya. Kami ingin acara kamu bahagia pada hari istimewamu tanpa khawatir mengenai biaya. Uang kalian bisa kalian pakai untuk biaya hidup. Percayalah, begitu menikah, ada saja biaya dadakan yang kalian butuhkan.”
Aku tidak mau melawan orang tuaku, tetapi aku juga tidak bisa membantah keinginan Colin. Karena ini adalah pernikahan kami, maka dia berharap kami yang membiayai segala pengeluaran. Dia tidak mau membebani orang tuanya atau pun orang tuaku. Aku mengerti dia tidak mau menyusahkan orang tuanya. Masalahnya, orang tuaku lebih dari mampu untuk membantu aku.
Berada di dua pilihan sulit memang menyebalkan. Namun aku lebih memilih berpihak kepada Colin. Dia adalah calon suamiku dan begitu kami resmi menjadi suami istri, dia adalah satu-satunya tempat aku bersandar. Bukan orang tua atau keluargaku lagi.
Usai mata kuliah terakhir pada hari Jumat, Vikal sudah menunggu di tempat parkir. Aku segera memasuki mobilnya dengan duduk di jok samping sopir, lalu dia mengemudikan mobil keluar dari lapangan parkir kampusku.
Malam ini menjadi pertemuan pertama antara para model dengan desainer dan panitia pelaksanaan peragaan busana yang memilih aku. Laras juga hadir, tetapi dia mengabaikan aku. Hanya asistennya yang menyapa aku dan Vikal dengan ramah.
Tidak mau ambil pusing dengan perubahan sikap Laras itu, aku menyapa model lainnya yang akan menjadi rekan kerjaku selama beberapa minggu ke depan. Hanya ada dua orang baru. Selebihnya adalah model yang sudah sudah tidak asing bagiku.
Pada pertemuan pertama itu, panitia meminta kami untuk memperkenalkan diri. Karena ada banyak model yang dipilih, kami membutuhkan waktu hampir satu jam untuk memperkenalkan diri saja. Pria yang memimpin acara itu kemudian menyebutkan jadwal acara yang harus kami hadiri. Tentu saja kami harus berlatih berjalan di atas panggung yang sudah mereka sediakan, mengepas pakaian yang dipilihkan untuk kami kenakan, dan sebagainya.
Ketika dia memamerkan desain pakaian lewat layar putih yang ada di depan kami, dia menyebut nama model yang akan memakainya. Kami sudah tahu bahwa nama pertama yang disebut akan menjadi orang pertama yang membuka acara. Begitu nama model itu disebut, kami bertepuk tangan untuknya. Dia sangat beruntung.
Nama demi nama disebut, tetapi namaku tidak juga diumumkan. Aku menoleh ke arah Vikal dengan cemas. Senyumnya malah semakin merekah ketika namaku tidak juga diucapkan pria itu. Aku tidak sengaja bertemu pandang dengan Laras. Dia tersenyum sinis kepadaku. Mungkin dia juga berpikir sama bahwa aku diam-diam dikeluarkan dari daftar model.
Aku rasanya mau menangis saja. Apakah mereka sengaja melakukan ini supaya aku datang hanya untuk mempermalukan aku di depan semua orang? Vikal juga sama jahatnya. Bagaimana bisa dia malah tersenyum bahagia mendengar namaku tidak juga disebutkan oleh pembawa acara?
“Nah, yang terakhir adalah model yang akan memakai desain terbaik yang dipilih langsung oleh Ibu Riani. Sebelumnya, saya ucapkan selamat karena kamu satu-satunya model yang dipilih oleh beliau,” kata pria itu membuat kami semua menahan napas.
__ADS_1