
*Clarissa*
Dia menekan tanganku yang memegang pena ke atas dokumen yang dia sebut surat pernikahan. Aku hanya diam saja, tidak membubuhi tanda tanganku di sana. Untuk apa? Aku bukan Mila, namaku adalah Clarissa. Jadi, saat dia terus mengancam aku, tanganku tetap diam.
“Apa kami bisa menggunakan sidik jarinya saja sebagai ganti tanda tangan?” tanya Finley frustrasi.
“Tidak bisa. Untuk melegalkan dokumen ini harus menggunakan tanda tangan pengantin wanita, bukan sidik jarinya,” jawab pendeta tersebut.
“Persétän dengan surat ini. Aku bisa mendapatkan tanda tangannya di lain hari.” Finley memegang lenganku, lalu menyeret aku ke arah pintu. “Kamu tidak akan bersikap keras kepala lagi setelah kamu menikmati satu hari bersamaku di tempat tidur. Kita lihat saja berapa lama kamu akan bersikap jual mahal begini.”
“Aku tidak sudi menjadi istrimu!” Aku menahan tenagaku saat memberontak ingin lepas darinya. Belum saatnya untuk menunjukkan kemampuanku. Aku yakin dia tahu bahwa aku bisa membela diriku sendiri. Tetapi aku ingin berdua saja dengannya saat aku akan menghajarnya.
Lebih mudah bagiku untuk melawan dia seorang diri daripada bertiga ditambah oleh dua anak buahnya yang bertubuh besar itu. Walaupun aku tidak melihat ada orang lain yang berjaga di luar ruangan ini tadi, aku tidak bisa meremehkan musuhku. Bisa saja dia punya banyak anak buah yang berada di sekitar rumah ini.
“Kamu tidak punya pilihan lain. Apa kamu pikir aku tidak menempatkan banyak orang untuk menjaga tempat ini? Kamu sudah tidak bisa kabur lagi dariku.” Dugaanku benar. Dia membuka pintu sambil menarik aku untuk mengikutinya. Tetapi langkahnya terhenti.
Aku menoleh ke arah yang dilihatnya. Seorang pria memakai seragam berdiri tegak di hadapan kami. “Finley Taylor, kamu ditahan atas percobaan pembunuhan, penculikan, dan pemaksaan yang terekam CCTV jalan raya, juga kami dengarkan dan saksikan sendiri pada saat ini.”
Oh. Tuhan. Syukurlah. Polisi datang menolong aku! Bukan hanya satu orang, tetapi ada banyak. Aku sudah nyaris putus asa karena orang jahat ini melepas gelang dan kalungku. Aku sudah siap untuk melepaskan diri dengan menggunakan benda apa saja yang ada di dekatku untuk melawan orang ini. Ternyata mereka tahu aku disekap di sini.
Finley segera melingkarkan tangannya di bahuku dan sebuah benda yang terasa dingin diletakkan di pelipis kananku. Polisi yang berdiri di hadapanku itu segera bersikap siaga dengan kedua tangan berada di depan tubuhnya, pertanda dia tidak ingin menggunakan kekerasan.
__ADS_1
“Kamu tidak perlu sampai bertindak sejauh ini. Turunkan senjatamu dan biarkan gadis itu pergi, maka hukuman untukmu tidak akan semakin berat.” Polisi itu mencoba untuk membujuk Finley.
“Mundur! Aku tidak akan melepaskan gadis ini. Minggir! Kalau tidak, aku akan memecahkan kepala cantik ini!” Dari bunyi klik yang aku dengar, Finley pasti menarik pelatuk pistolnya.
Jantungku berdebar dengan cepat. Aku tidak takut sedikit pun, tetapi aku belum pernah berada sedekat ini dengan senjata api. Salah gerak sedikit saja, aku bisa mati konyol. Dan aku tidak mau mati karena ditembak. Masa depanku masih panjang dan aku belum sempat menikmati hidupku bersama keluargaku.
“Pak, tempat ini sudah dikepung. Semua anak buah Anda sudah kami bekuk, jadi mohon kerja sama Anda. Tidak ada gunanya melawan, jadi serahkan diri Anda baik-baik agar hukuman Anda tidak semakin berat,” kata polisi itu lagi.
“Pasti kalian berpikir aku sedang main-main.” Bunyi tembakan yang sangat keras memekakkan telingaku. Aku memekik terkejut karenanya. Jantungku berdebar semakin cepat. Ketika mulut pistol kembali ditempelkan di pelipisku, aku meringis kepanasan. “Mundur! Sekarang!”
Telingaku berdenging begitu suasana di sekitarku hening setelah bunyi keras tersebut. Teriakannya itu nyaris tidak terdengar di telingaku. Para polisi yang berdiri di belakang petugas yang ada di depanku berjalan mundur, memberi ruang bagi teman mereka untuk mundur dari hadapan kami.
Pegangan tangan pria itu di depan tubuhku melonggar, jadi aku bisa menggigit tangannya dengan keras. Dia berteriak kesakitan dan menarik tangannya dariku. Seorang polisi segera mengamankan aku saat dua orang polisi bergelut mengambil pistol dari tangan Finley. Polisi lainnya masuk dan menahan empat orang yang ada di ruangan.
Kedua pria dan kedua wanita itu cukup waras dengan tidak melawan petugas. Mereka sama sekali tidak membantu Finley saat dia menahan aku tadi. Sepertinya mereka hanya orang yang dia sewa dan bukan bawahan setianya. Wajar saja. Ini bukan di negaranya dan dia hanya tinggal sementara di sini. Tidak seperti ayah Colin yang sudah lama bekerja dan tinggal di Indonesia.
“Lepaskan aku!” protes Finley saat kedua petugas itu berhasil memborgol tangannya di depan tubuhnya. “Aku orang yang dilindungi dan kalian berada di kawasanku! Kalian tidak bisa menangkap aku seperti ini! Lepaskan aku!” Omongan yang aneh. Apa dia pikir rumah tua ini adalah kedutaan?
Kedua polisi itu tidak memedulikan teriakannya dan menyeret dia keluar dari ruangan. Dia melihat ke arah aku dan mengatakan sebuah omong kosong bahwa aku adalah istri sahnya, aku hanya memutar bola mataku. Perempuan yang dia panggil dengan nama Mila itu tidak menandatangani surat pernikahan tersebut. Dan gadis itu bukan aku.
Kedua pria, kedua wanita, dan pendeta gadungan itu juga dibawa keluar. Polisi yang bersama aku menanyakan keadaanku. Aku ingin segera keluar dari tempat ini, jadi aku menjawab bahwa aku baik-baik saja. Dia membawa aku keluar dari ruangan itu menuju bagian depan. Aku memerhatikan rumah besar itu dan bersyukur bisa pergi tanpa harus susah payah melawan mereka.
__ADS_1
Bunyi sirene segera menyambut aku ketika pintu dibuka. Mobil polisi dan ambulans memasuki pekarangan dan berhenti di depan rumah. Melihat para polisi yang berpakaian khusus, sepertinya mereka melakukan penangkapan secara diam-diam. Setelah para penjahat berhasil dibekuk, barulah mereka semua menyalakan sirene dan masuk.
Polisi yang bersamaku mengarahkan aku ke ambulans. Aku duduk di tempat yang mereka minta agar mereka bisa memeriksa keadaanku. Hanya kepalaku yang benjol akibat kecelakaan dan luka bakar pada pelipis kanan akibat mulut pistol yang panas, tetapi mereka menyarankan supaya aku diperiksa lebih lanjut ke rumah sakit.
“Oh, Clarissa!” seru seseorang dengan panik. Aku pasti berhalusinasi mendengar suara itu. Benjol di kepalaku pasti lebih parah dari yang aku duga. “Clarissa! Syukurlah, kamu baik-baik saja.”
Aku menoleh ke arah datangnya suara dan tiba-tiba saja seseorang memeluk aku. Tidak mungkin. Tetapi mataku tidak mungkin berbohong. Grandpa dan Wyatt berdiri di hadapanku. Dan wanita yang sedang memeluk tubuhku adalah Grandma.
“Grandpa? Wyatt? Grandma?” tanyaku dengan bingung. Bukankah mereka sudah mendarat di Amerika? “Apa yang terjadi? Mengapa kalian ada di sini?”
*******
Author's Note~
Hai, teman-teman. Sebelumnya, aku meminta maaf tidak bisa memenuhi janji dan baru bisa mempublikasikan lanjutan ceritanya pada malam ini. Ada masalah di sebelah yang menguras pikiran dan perasaan, jadi aku tidak bisa konsentrasi menulis.
Terima kasih atas pengertiannya, dan bab lanjutannya akan aku publikasikan besok, ya. Semoga saja pikiran ini bisa diajak kerja sama. Semangaatt ...! ^_^
Salam sayang,
Meina H.
__ADS_1