Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 119 - Kembali Normal


__ADS_3

*Hadi*


Aku tahu bahwa Mama punya sesuatu yang dia rencanakan ketika duduk di sisi Clarissa. Mama yang biasanya tidak mau meninggalkan sisi Papa, sangat aneh mendadak tertarik untuk duduk di dekat perempuan yang telah menyakiti putranya.


Dugaanku itu benar saat aku mendengar pertanyaan Mama kepada Clarissa. Dia melakukan hal yang sama pada Colin. Menjadikan dia sebagai narasumber utamanya untuk tokoh yang ada dalam novel barunya. Padahal ada Adi yang juga bermain game online sama seperti dia. Mama pasti mau supaya Clarissa datang ke rumah kami setiap kali dia membutuhkan teman diskusi. Tidak boleh.


Bila Mama mau menggunakan strategi yang sama agar aku dan Clarissa kembali bersama, maka itu tidak akan pernah terjadi. Aku bukan Dira yang telah menjalin hubungan yang lama dengan Colin. Wajar saja dia sulit melupakannya. Aku dan Clarissa tidak akan pernah bersama lagi. Jadi, aku tidak mau melihat dia berkeliaran setiap hari di rumahku.


“Aku bertanya pada Clarissa, bukan kamu, Hadi,” ucap Mama dengan tegas.


“Tetap saja tidak boleh. Kalau Mama tetap memaksa, aku tidak mau kalian bertemu di rumah ini. Aku tidak sudi melihat dia ada di rumahku setiap hari,” kataku tidak kalah tegasnya.


“Dia tidak datang ke sini untuk menemui kamu, tetapi berdiskusi denganku,” balas Mama tidak mau kalah. “Papamu tidak akan mengizinkan aku keluar rumah setiap hari. Apa kamu mau kami ribut hanya karena masalah sepele?”


“Sepele? Ini bukan masalah sepele, Ma. Aku tidak mau melihat dia datang ke rumah ini setiap hari. Titik.” Aku menoleh ke arah Clarissa. “Aku harap kamu menjawab tidak.”


Tanpa menunggu responsnya, aku kembali ke tempat dudukku di sisi Adi dan Lily. Mereka berdua sibuk sendiri dengan game yang sedang mereka mainkan, jadi aku tidak perlu khawatir akan ada yang mengajak aku bicara. Karena saat ini aku bukan teman bicara yang baik.


Mama dan Clarissa masih mengobrol berdua. Mereka kini tertawa bersama, membuat aku curiga. Mama pasti berhasil membujuknya untuk menjawab iya. Sebenarnya dia itu ibuku atau bukan? Bagaimana bisa dia melakukan ini padaku? Gadis itu sudah menyakiti aku, putra kandungnya.


Pada hari Kamis pagi, kami sekeluarga sibuk sendiri memastikan kami tidak melupakan barang pribadi kami masing-masing. Aku, Adi, dan Papa sudah duduk tenang di ruang keluarga, menunggu Mama dan Dira bersiap-siap. Kami sudah terbiasa dengan lamanya waktu yang mereka butuhkan untuk memilih pakaian dan berias, jadi kami tahu harus melakukan apa agar tidak bosan menanti.

__ADS_1


Pak Kafin yang mengantar Papa dan Mama, sedangkan Pak Sakti mengendarai mobil di mana aku dan adik-adikku berada. Ketiga koper kami tidak akan cukup di dalam bagasi mobil bila kami hanya menggunakan satu mobil. Membiarkan salah satu sopir mengendarai mobil yang hanya berisi koper adalah hal yang tidak sopan, jadi kami selalu membagi keluarga kami dengan orang tua dan anak.


Dira mendadak berteriak saat kami memasuki gerbang masuk bandara. “Aku lulus, Kak! Aku lulus, Adi! Aku jadi junior Colin!!” soraknya senang. Dia menunjukkan pengumuman seleksi masuk PTN yang dia lihat lewat ponselnya. Iya, namanya ada pada layar dan dia lulus di jurusanku.


“Aku tahu kamu pasti lulus. Selamat, ya.” Aku mengacak-acak rambutnya.


“Kakak! Jangan lakukan itu. Ini kejutan untuk Colin. Aku sudah berjam-jam berdandan, jangan dibuat berantakan lagi.” Dia menyisir rambutnya dengan jemarinya. Aku semakin tergoda untuk mengacak rambutnya lagi. “Kak Hadi!!” Aku hanya tertawa melihatnya marah.


“Ini Mama mau bicara.” Adi meletakkan layar ponselnya ke depan Dira. Kami berdua mengapit Dira agar ketiga wajah kami bisa tampak di layar mereka.


“Sayang, apa itu benar?? Kamu lulus??” tanya Mama melalui panggilan video.


“Iya, Ma! Jurusan yang sama dengan Kakak!” jawab Dira antusias. Mama bersorak senang. Dia mencium dan memeluk Papa, padahal yang lulus putrinya, bukan suaminya. Kami menyoraki mereka, Mama malah semakin gemas mencium Papa.


Walaupun kami menjadi pusat perhatian karena seruan bahagia adikku dan sahabatnya, tidak ada yang keberatan dengan itu. Lagi pula setelah berbulan-bulan mereka fokus pada studi mereka, maka mereka layak untuk sedikit merayakannya.


Colin yang datang belakangan terkejut saat melihat adikku. Dira hanya tersenyum, menunggu sampai sahabatku itu pulih dari rasa kagetnya. Adikku mencat rambutnya kembali menjadi warna cokelat, sama dengan warna rambut Colin. Walaupun warna rambut mereka tidak akan bisa sepenuhnya mirip. Rambut Colin berwarna cokelat alami, sedangkan Dira warna buatan.


Papa dan Om Giovanni yang mengurus tiket dan bagasi kami, jadi kami bisa duduk di satu tempat, menunggu sampai mereka membawa boarding pass kami. Dira menatap memelas ke arahku ketika Vikal menelepon dan belum juga selesai bicara dengannya. Aku bisa berbuat apa? Dia yang berjanji akan kembali bekerja begitu pengumuman seleksi masuk PTN keluar. Maka dia harus menepati janjinya. Colin juga hanya bisa tertawa.


Lima mini bus sudah menunggu kami di Bandara Ngurah Rai ketika kami mendarat di Pulau Bali. Tidak seperti liburan sebelumnya, kami semua berwajah bahagia selama dalam perjalanan menuju Ubud. Dira sengaja tidak menyalakan ponselnya sejak turun dari pesawat untuk menghindari panggilan dari Vikal. Aku tersenyum melihatnya. Akhirnya, hidup kami kembali normal.

__ADS_1


Papa dan Mama semesra biasanya. Dira kembali bersama Colin dan menjalani hubungan mereka yang kekanak-kanakan seperti sebelumnya. Adi yang kembali asyik dengan game daringnya setelah lepas dari ujian akhir dan diterima di SMU di mana aku dan Dira pernah sekolah.


Hanya aku yang berbeda. Aku tidak lagi menunggu gadis yang pernah dijodohkan denganku saat aku masih kecil. Dia telah memilih untuk mengakhiri hubungan kami, maka aku tidak perlu terikat lagi dengan masa lalu. Aku bisa melanjutkan hidupku. Bila aku beruntung, aku juga bisa memilih sendiri gadis yang bersedia menjadi istriku nanti. Seperti Papa memilih Mama.


“Selamat datang!” seru Tante Dafhina dan Om Brady yang menyambut kedatangan kami.


“Nenek!!” Kedua anak mereka segera berlari keluar hotel mendekati Tante Darla. Aku tahu bahwa panggilan kami terasa aneh. Ibu dan anak, tetapi kami sama-sama memanggil mereka Tante. Apa boleh buat. Usia Tante Darla dan Mama terpaut cukup jauh, tetapi Tante Darla tidak mau dipanggil Nenek. Dia memaksa kami memanggilnya Tante. Begitu juga dengan Tante Lindsey dan Aunt Claudia.


Para pelayan hotel mengambil alih koper kami, sedangkan keluarga Om Brady mengajak kami ke halaman samping hotel. Ada beberapa meja makan bundar dengan kursi di sekelilingnya, serta makanan telah dihidangkan di atasnya. Air liur kami terbit melihat semua masakan lezat tersebut.


Kami makan siang bersama, lalu para orang tua memilih untuk beristirahat di kamar mereka. Colin dan Dira, serta Wyatt dan Charlotte punya rencana mereka sendiri, jadi aku hanya punya Adi dan Lily untuk diajak beraktivitas bersama. Tetapi aku salah. Mereka lebih suka duduk di balkon kamar dan membahas game daring yang membosankan itu.


Tidak mau menyia-nyiakan waktu dengan mendekam di dalam kamar, maka aku memutuskan untuk berenang. Ada pohon di tepi kolam renang, jadi berenang kapan saja di sana tidak akan membuat kepala pusing karena terkena sinar matahari langsung.


“Ng, tidak, terima kasih.” Terdengar suara seseorang yang aku kenal dari arah koridor menuju kolam. “Tolong, biarkan aku lewat.” Aku menghentikan langkah begitu mengenali pemilik suara tersebut.


“Mengapa tidak? Daripada berenang sendiri, lebih baik kamu ikut bersepeda bersama kami,” kata seorang laki-laki. “Teman-teman kami akan senang melihat gadis bule seperti kamu lancar bicara bahasa Indonesia. Tenang saja, kami bayar berapa pun harga yang kamu minta.”


“Iya. Kamu pasti butuh uang banyak untuk tinggal di hotel ini, ‘kan? Tidak usah pura-pura jual mahal. Satu dua malam bersama kami, kamu punya cukup uang untuk kembali ke negaramu,” goda laki-laki yang lain. Aku tersenyum mendengarnya.


“Lepaskan tanganku,” ucap Clarissa dengan lembut. Aku berbelok dan berdiri di ujung koridor agar bisa menyaksikan yang akan terjadi selanjutnya.

__ADS_1


“Bagaimana kalau kamu saja yang melepaskannya sendiri?” tantang pria pertama. Aku menggeleng pelan mendengar kalimat bodoh itu. Mereka seharusnya mengenali lawan sebelum menantangnya. “Tangan kamu sangat halus, jadi aku suka memegangnya.”


Walaupun aku hanya melihat bagian belakang tubuhnya, aku bisa membayangkan senyuman licik dari nada suaranya. “Baik. Kamu sendiri yang memintanya.”


__ADS_2