Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 144 - Sehari Bersama


__ADS_3

Colin berjanji akan menemani aku melakukan aktivitas sepanjang hari. Jadi, aku memakai baju terbaikku dipadukan dengan celana jin panjang dan sepatu kets. Pakaian yang selalu aku andalkan agar nyaman duduk di sepeda motornya. Aku mengambil salah satu tas sandangku, memasukkan semua barang pribadiku, dan keluar dari kamar.


Black dan Gold tidak ada di mana pun. Biasanya mereka menyambut aku yang menuruni tangga. Aku melihat ke sekeliling rumah kami, para pelayan juga tidak terlihat di sekitar ruang depan. Ke mana semua orang? Apakah mereka ada pekerjaan di ruangan lain?


Pak Abdi membukakan pintu ruang makan untukku, dan aku bertemu pandang dengan seseorang yang seharusnya tidak duduk di salah satu kursi yang mengelilingi meja makan. “Colin!” pekikku senang. Aku segera berlari mendekatinya dan memeluknya.


“Dira, kamu mengganggu dia yang sedang makan,” kata Papa mengingatkan. Tetapi aku tidak peduli. Colin berdiri dari tempat duduknya dan menyambut aku berarti dia tidak keberatan dipeluk begini.


“Tidak apa-apa, Uncle. Setidaknya Gold dan Black tidak menggeram lagi,” kata Colin sambil tertawa kecil. Aku melonggarkan pelukanku dan melihat ke arah lantai. Ternyata kedua anjing yang aku cari ada di sini dan sedang duduk manis. “Dira pasti mengatakan hal yang tidak benar mengenai aku kepada mereka sehingga mereka marah.”


Aku tertawa. “Kamu menghilang selama seminggu, wajar saja mereka marah. Kamu sudah membuat mama kesayangan mereka bersedih.” Aku melepaskan pelukanku, lalu duduk di kursi kosong di sisinya. “Apa kamu yakin bisa menemani aku seharian beraktivitas?”


“Tentu saja. Hari ini aku milikmu sepenuhnya,” jawabnya setengah menggoda. Kakak dan Adi segera ber-huu ria. “Kalian cemburu? Makanya, cepat punya pacar.”


“Aku baru lima belas tahun, Colin. Belum saatnya untuk berpacaran.” Adi menoleh ke arah Papa. “Iya, ‘kan, Pa?” Papa hanya mengangguk pelan.


Kami sarapan bersama penuh canda. Aku rasanya tidak percaya melihat wajah bahagia Colin. Apa yang telah terjadi selama seminggu yang lalu seperti tidak pernah terjadi. Dia mudah saja tertawa dan berbagi lelucon dengan kakak dan adikku. Tetapi begini lebih baik. Aku senang segalanya sudah kembali seperti semula.


Hal pertama yang harus aku lakukan adalah mendatangi kantor Pak Billy. Semua modelnya diminta untuk datang dan mendengarkan beberapa arahan sehubungan dengan peraturan baru yang dia buat. Tentu saja Om Zach juga datang mendampingi aku. Setiap hal yang ada hubungannya dengan perubahan isi kontrak, Papa selalu memastikan bahwa adik iparnya juga dilibatkan.


“Hasil audisi pagelaran busana besar itu akan diumumkan siang ini, apa kamu sudah siap, Dira?” tanya Laras yang duduk di sampingku.


“Kamu tahu bahwa aku jatuh pada saat audisi, aku tidak tahu apakah mereka akan menerima aku atau tidak. Lagi pula aku mengikuti audisi bukan untuk menang, hanya mencoba peruntunganku saja. Aku sudah lama cuti, jadi aku berharap bisa kembali aktif lewat pagelaran besar atau iklan yang menggunakan produk yang sudah dikenal secara global.” Aku mengangkat kedua bahuku, pasrah.

__ADS_1


“Ah, iya. Aku lupa dengan insiden itu.” Dia melihat ke arah kakiku. “Apakah lututmu sudah pulih?” Aku mengiyakan. “Punya ayah yang kaya raya memang enak, ya. Semua masalah kita bisa mereka selesaikan dengan mudah.”


“Apa maksudmu?” tanyaku bingung.


“Lo? Kamu tidak tahu? Model yang sudah menyebabkan kamu jatuh di panggung audisi masuk dalam daftar hitam, karena papamu. Dia tidak akan bisa bekerja di bidang ini untuk waktu yang sangat lama.” Laras tertawa kecil. “Mengapa masih saja ada orang yang berani mencari masalah denganmu?” Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Bukan papaku yang memasukkan dia ke daftar hitam. Aku yakin juri yang melihat kejadian itu yang sudah membuat keputusan tersebut. Papa akan menjebloskan dia ke penjara bila benar Papa ikut campur tangan. Bukan membiarkan dia bebas,” kataku memberi tahu sifat Papa yang aku kenal.


“Itu dugaanmu sendiri atau kamu sudah tanya papamu?” tanyanya menantang. Aku tertegun sejenak. Laras adalah satu dari sedikit model yang mau berteman denganku tanpa pamrih. Tetapi hari ini dia terdengar berbeda. Biasanya dia pendengar yang baik, tetapi baru kali ini dia menantang apa yang aku katakan.


“Apakah ada masalah, Laras? Sesuatu yang tidak aku ketahui telah terjadi?” tanyaku pelan, berhati-hati agar tidak memancing masalah yang mungkin hanya imajinasiku.


“Tidak. Memangnya ada apa?” Dia malah balik bertanya.


Asisten Pak Billy menarik perhatian kami dan memulai pengumuman yang membuat kami semua diminta untuk hadir. Aku pikir ada hal yang sangat penting. Ternyata hanya mengenai beberapa model yang memutuskan untuk tidak meneruskan kontrak dengan agensi milik Pak Billy.


Teman-teman yang keluar sepertinya tidak berganti agensi, tetapi memilih untuk mandiri. Aku tidak bisa membayangkan waktuku yang akan terkuras habis jika aku melakukan segalanya sendiri. Apalagi bila aku sampai kehilangan Vikal. Aku akan kuliah dan tidak akan sempat untuk mengurus pekerjaan seorang diri. Jadi, selama dia mau bekerja bersamaku, aku mau bertahan dalam timku ini.


Om Zach pamit untuk kembali ke kantor Papa usai pertemuan tersebut. Dia tidak ikut makan siang bersama kami. Aku mengajak Colin yang berada di ruang tunggu untuk masuk dan makan bersama kami. Dia terlihat segan, jadi aku menarik tangannya dan menyeretnya ke meja saji.


“Aku bukan model, Dira. Bagaimana kalau temanmu tidak suka melihat aku ikut makan bersama kalian?” ucap Colin segan sambil melihat ke sekeliling kami.


“Aku yang meminta dia untuk mengajakmu makan. Siapa yang berani protes? Aku yang membayar semua makanan ini dari kantong pribadiku,” kata Pak Billy dari arah belakang Colin.

__ADS_1


Dia segera membalikkan badan dan menunduk malu. “Maaf, Pak. Saya tidak bermaksud begitu.”


“Makan yang banyak. Kamu tahu sendiri bahwa para model ini tidak akan menghabiskan semua makanan yang sudah aku sediakan.” Pak Billy menepuk-nepuk bahu Colin. Dia menurut.


“Mengapa kamu tidak bilang dia berada di belakangku?” bisik Colin dengan suara tertahan begitu Pak Billy sudah jauh dari kami. Aku hanya tertawa geli.


“Setelah makan, kita ke warung kopi, ya. Aku rindu Wendy.” Aku menyendokkan nasi ke piringku, lalu berlanjut memilih lauk-pauk.


“Kamu tidak ada pekerjaan lagi hari ini?” tanya Colin heran.


“Aku masih menunggu hasil dari beberapa audisi yang aku ikuti. Sampai ada yang menerima aku, maka aku punya banyak waktu luang.” Aku tersenyum kepadanya. “Karena kamu berjanji akan menemani aku seharian ini, aku tidak akan menyia-nyiakannya.”


“Aku tidak akan ingkar janji,” katanya dengan tegas setengah bercanda. Dia menyapukan pandangan ke meja saji. “Pak Billy tahu tidak akan ada yang akan makan dalam porsi besar. Lalu mengapa dia memesan makanan sebanyak ini?”


“Karena dia akan membagi makanan ini dengan pegawainya setelah acara ini selesai,” jawabku. “Bahkan ada dari mereka yang akan membawa makanan ini pulang untuk keluarga di rumah.”


Colin mengangguk mengerti. Aku mengajaknya untuk duduk begitu piring kami penuh. Kami hanya duduk berdua, jadi aku tidak perlu mengobrol dengan teman-teman. Vikal juga berbaik hati dengan tidak duduk di dekat kami. Dia pasti mengerti bahwa aku rindu pacarku setelah berhari-hari tidak bertemu dengannya.


“Papa mengajak kami ke vila pada akhir pekan ini. Liburan bersama sebelum semester baru dimulai.” Aku melihat ke arah Colin. “Jadi, aku tidak bisa kencan denganmu pada dua hari itu.”


“Oke.” Dia mengangguk mengerti. “Hm. Sepertinya aku perlu melakukan hal yang sama dengan keluargaku. Kami bisa pergi berlibur bersama juga. Mungkin menginap di satu hotel di sekitar sini atau ke luar kota. Kamu memberiku ide yang bagus, sayang.”


“Ngomong-ngomong tentang keluargamu, kamu belum cerita apa yang terjadi,” kataku mengaingat janjinya. Dia akan mengatakan segalanya kepadaku ketika kami bertemu.

__ADS_1


Tiba-tiba seseorang memekik senang menarik perhatian kami semua. Aku menoleh dan melihat Laras melompat-lompat di tempat. “Mereka menerima aku!” soraknya bahagia.


Oh, iya. Siang ini adalah pengumuman untuk model yang diterima pada pagelaran busana yang akan diadakan pada bulan depan. Aku segera meletakkan piringku di atas meja, lalu mengeluarkan ponsel dari tasku. Colin menatapku dengan heran. “Hari ini adalah pengumuman audisi yang aku ikuti pada dua minggu lalu. Semoga saja aku lulus.”


__ADS_2