Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 183 - Tidak Berteman


__ADS_3

*Clarissa*


Aku senang sekali mendapat sambutan hangat di rumah Hadi. Mamanya membuat aku merasa diterima apa adanya. Dia membawa aku mendekati meja di mana ada banyak kue yang enak, lalu menanyakan banyak hal kepadaku. Dia dan Grandma tidak berhenti menggoda aku agar segera menikah dengan Hadi. Hal yang tidak mungkin aku kabulkan. Hadi ingin menyelesaikan sekolahnya sebelum meresmikan hubungan kami.


Hadi datang beberapa saat kemudian. Seperti kata Tante Zahara, dia segera memonopoli aku dan tidak mengizinkan siapa pun menjauhkan aku dari sisinya. Kami bergabung dengan kakek dan neneknya yang ada di ruang keluarga. Mereka segera menghujani kami dengan banyak pertanyaan.


Aku bahagia penglihatanku kembali tepat pada waktunya. Grandpa dan Grandma datang pada hari Senin. Aku sudah bisa melihat mereka, walaupun masih kabur. Hadi datang untuk mengucapkan selamat malam, terkejut melihat kehadiran mereka. Tetapi dia berjanji untuk tutup mulut. Benar saja, Tante Zahara dan Dira tidak tahu sama sekali bahwa mereka sudah berada di Indonesia.


Penglihatanku sepenuhnya pulih sehari yang lalu. Aku bisa membaca buku dengan baik dan tidak ada lagi pemandangan yang kabur. Tetapi Kakek dan Nenek masih melarang aku untuk pergi ke kantor untuk melanjutkan magangku. Om Hendra juga berpendapat sama. Aku terpaksa menurut.


Datang ke rumah ini dan bertemu dengan banyak orang adalah hal yang menyenangkan. Sudah lama rasanya aku hanya mengurung diri di rumah. Orang-orang tidak memandang aneh kepadaku. Kaki dan tanganku yang masih dibalut gips tidak menarik perhatian mereka. Syukurlah. Aku sempat takut akan menerima tatapan penuh belas kasihan dari para tamu undangan.


Puncak perayaan ulang tahun Om Hendra berjalan dengan lancar. Dia tidak terlihat seperti pria yang berusia lima puluh empat tahun. Wajahnya jauh lebih muda daripada usianya. Mungkin karena dia bahagia bersama Tante Zahara. Apa hubunganku dan Hadi bisa sekuat mereka nanti?


“Mengapa kamu tersenyum seperti itu?” tanya Hadi. “Apa kamu suka pada papaku?”


“Serius, sayang? Kamu menuduh aku begitu?” tanyaku tidak percaya. Dia cemberut. “Aku kagum dengan hubungan orang tuamu, bukan sedang mengagumi Om Hendra.” Aku menggerakkan tombol pada kursi rodaku agar bergerak mendekati meja saji.


“Baiklah, kalau begitu.” Dia berjalan di sisiku. “Kamu mau makan apa? Biar aku ambilkan.”


Aku tersenyum merasakan sentuhannya pada belakang kepalaku. Dia mendekati meja dan aku menunjuk apa saja yang aku mau. Dia melakukan hal yang sama pada piring kedua, lalu mengajak aku untuk bergabung dengan Colin dan Dira.


Kami mengobrol dengan santai ketika ada orang yang berdiri di sisi Hadi. Aku menoleh dan menatap terkejut ke arah kedua gadis itu. Apa yang Valeria dan Manda lakukan di sini? Tangannya yang mengusap perutnya itu segera memberi aku jawaban yang selama ini menjadi misteri.


“Maaf, bisa kamu ulangi lagi pernyataan itu?” tanyaku kepada Valeria. Dia yang semula melihat Hadi, menoleh ke arahku. Dia melirik Manda, lalu tersenyum sinis menatap keadaan tangan dan kakiku. “Kamu bilang apa tadi?” Aku mengulang pertanyaanku.


“Apa Hadi tidak cerita? Kami menghabiskan waktu indah bersama di tempat tidur. Aku mengandung anaknya. Jadi, maafkan aku. Kamu harus menyingkir dan membiarkan kami menikah,” kata Valeria dengan sombongnya. “Di mana orang tuamu, Hadi? Sudah saatnya kamu memperkenalkan kami.”


“Kami di sini, Valeria,” jawab Om Hendra yang membuat aku terkejut. Apa yang sedang terjadi di sini? “Ayo, kita bicara di dalam. Ada banyak orang di sini.” Dia tersenyum begitu ramah kepada mereka.

__ADS_1


Ruangan yang dia pilih sebagai tempat kami bicara lebih mengejutkan lagi. Ruang khusus untuk Tante Zahara tidak boleh dimasuki oleh siapa pun. Itu adalah tempatnya bekerja. Aku saja hanya bisa masuk ketika dia yang mengundang aku ke sana.


“Silakan duduk,” ucap Om Hendra kepada Valeria dan Manda. Dia dan istrinya duduk di sofa untuk tiga orang, jadi Adi yang duduk bersama mereka. Hadi berdiri di sisiku, sedangkan teman-teman yang lain berdiri di belakang kami. “Katakan, apa yang bisa aku bantu?”


“Aku mengandung anak Hadi, Om.” Valeria melirik ke arah Manda. Gadis itu mengeluarkan sebuah amplop dari tasnya. Dia memberikan amplop itu kepada Om Hendra. “Aku tidak percaya Hadi tidak pernah bercerita tentangku. Kami punya hubungan istimewa sampai kami melewati batas.”


“Hadi selalu menceritakan segalanya kepada kami, bahkan gadis yang dia sukai.” Om Hendra melipat kembali kertas dalam amplop yang sudah dibacanya tersebut. “Bagaimana kamu bisa yakin bahwa anak itu adalah anak Hadi?”


“Om bisa tanya sendiri kepadanya.” Valeria melirik Hadi. Aku ingin sekali memukul wajahnya itu agar tidak tersenyum lagi. Dia bertindak seolah-olah semua orang akan merelakan Hadi untuknya.


“Aku mau mendengar cerita dari sisimu sebelum bertanya kepadanya,” kata Om Hendra membujuk.


“Dia mengajak aku tidur di hotel pada hari Selasa dua minggu yang lalu. Aku tidak tahu dia baru membicarakan apa dengan Colin, tetapi dia terlihat sangat tertekan. Itu bukan pertama kalinya dia mengajak aku tidur bersama untuk mengurangi stres. Aku mencintai dia, karena itu aku setuju melakukan apa saja asal bisa bersamanya.” Gadis itu memasang wajah sedih.


“Kamu yakin Hadi yang mengajak kamu ke hotel itu?” tanya Om Hendra lagi, mengonfirmasi. Aku tidak mengerti bagaimana dia bersikap tenang. Aku saja ingin memaki gadis tidak tahu malu itu.


“Iya, Om. Silakan saja Om tanya kepada Manda. Dia adalah saksiku.” Valeria menyikut Manda.


“Begitu.” Om Hendra mengangguk pelan. Sikap tenangnya itu membuat aku tidak sabar. “Keluarlah, Irwan,” panggilnya. Sebuah pintu di belakangnya terbuka dan seorang pria keluar. Dia membawa sebuah laptop di tangannya. “Kalau begitu, tolong, jelaskan kepadaku. Apa ini?”


Dari ekspresi wajah Hadi dan Dira yang terlihat lega, sepertinya mereka mengenal pria yang baru bergabung tersebut. Valeria dan Manda serentak membulatkan mata mereka melihat apa yang ada di layar laptop. Sayangnya, aku tidak bisa melihatnya dari posisiku berada.


“Bagaimana dengan ini? Apa kalian bisa menjelaskannya juga?” tanya Om Hendra yang diikuti dengan Om Irwan menekan tombol pada kibor laptopnya. Wajah kedua gadis itu memucat. “Perlu aku tunjukkan video berikutnya juga?” Om Irwan kembali menekan tombol yang sama.


“Ada apa, Nak? Lidahmu mendadak tertelan sehingga kamu tidak bisa bicara?” tanya Om Hendra dengan suara lembut. “Apa kalian pikir aku diam saja membiarkan kalian meneruskan rencana kalian, karena aku tidak tahu? Orang-orang takut kepadaku bukan tanpa alasan.”


“Orang-orang tidak takut kepadamu, Mahendra Perkasa,” ucap Valeria dengan lancang. Kedua tangannya mengepal di atas pangkuannya. “Mereka tidak berdaya melawan intimidasimu, karena kamu punya uang yang banyak. Kamu bisa membayar orang untuk memutarbalikkan fakta. Apa kamu pikir aku tidak tahu itu?”


“Begitu. Fakta mana yang aku putar balikkan? Fakta bahwa ibumu sendiri yang membunuh ayahmu? Fakta keluargamu menuntut dia atas perbuatannya dan membuatmu hidup di penjara bersamanya? Kalau ada yang mau kamu katakan, sampaikan kepadaku. Mengapa harus melibatkan putraku?” kata Om Hendra keberatan.

__ADS_1


“Karena kamu seharusnya menjadi ayahku. Kalau kamu menikah dengan Mama, maka aku yang akan tinggal di rumah ini. Bukan di rumah kecil itu! Hadi yang tidak tahu berterima kasih dengan menolak cintaku sama saja denganmu yang telah menolak Mama. Kalian pikir kalian begitu hebat hingga tidak terjangkau. Lalu dia lebih memilih bersama gadis cacat? Kalian berdua sama gilanya!” pekik Valeria.


“Apakah ini sudah cukup, Zach?” tanya Om Hendra. Aku bingung mendengar dia menyebut nama om Hadi yang tidak ada di dalam ruangan. “Baik. Aku tunggu.” Dia mengeluarkan sebuah ponsel dari saku kemejanya, lalu melepaskan benda kecil dari lubang telinga kirinya.


“Kejahatan yang kamu lakukan masuk dalam tindak pidana, Valeria. Kamu berencana melakukan pelecehan terhadap Hadi. Lalu kamu datang ke rumah ini dan berusaha menipu kami dengan mengaku bahwa janin itu adalah milik putraku. Kamu akan dipenjara untuk waktu yang lama.” Om Hendra berdiri, begitu juga dengan Tante Zahara.


“Tidak, Hendra! Aku mohon, jangan!” Seorang wanita keluar dari balik pintu yang sama di mana Om Irwan tadi datang. “Putriku masih muda, maafkan dia.”


“Mama? Apa yang Mama lakukan di sini??” seru Valeria tidak suka.


Wanita itu menarik tangan Valeria dan memukul lengannya. “Dasar anak bodoh! Berlutut dan minta maaflah. Apa kamu lebih suka masuk penjara?”


“Aku tidak sudi berlutut di bawah kaki orang yang sudah merusak hidupku! Dia yang seharusnya meminta maaf kepadaku!” ucap Valeria dengan berang. Om Hendra mengabaikannya dengan berjalan menuju pintu. Kami semua mengikuti dia keluar dari ruangan itu.


“Hendra! Jangan pergi! Dengarkan penjelasanku!” pekik wanita itu dengan panik.


Tidak ada aba-aba apa pun, kami semua mengikuti acara tersebut seolah-olah tidak ada yang terjadi. Hadi tidak mengatakan sesuatu, jadi aku mengikuti apa yang dia lakukan. Menghabiskan makanan kami yang sempat terinterupsi Valeria dan Manda.


“Siapa gadis yang datang bersama Valeria?” tanya Dira bingung.


“Manda, mahasiswa satu jurusanku.” Aku segera menjawabnya.


“Apa dia temanmu?” tanya Dira lagi.


Aku menggelengkan kepalaku. “Aku tidak berteman dengannya. Tetapi dia tidak berhenti mendekat dan memperlakukan aku layaknya sahabat.”


“Aku bisa memahami alasan Valeria melakukan ini. Tetapi apa yang mendorong Manda bekerja sama dengannya?” tanya Colin bingung. Kami hanya diam tidak bisa menjawabnya. “Apa ada yang bisa melihat apa yang ada di layar laptop tadi?”


“Tiga video,” jawab Wyatt. “Pertama, kedua gadis itu berada di lobi hotel membawa Hadi. Kedua, mereka membawanya ke sebuah kamar. Ketiga, Valeria memasuki kamar dengan laki-laki lain.”

__ADS_1


“Apa??” tanya Hadi terkejut. “Jadi, selain aku, ada laki-laki lain yang mereka ajak masuk ke kamar??”


__ADS_2