
Omongan orang mengenai pengusaha itu tidak berlebihan. Dia bukan hanya cakap dalam pekerjaan, tetapi juga bisa memberikan presentasi yang menarik. Walaupun dia tidak masuk dalam standar tampan bagi kebanyakan orang, senyum ramahnya membuat dia terlihat enak dipandang.
Entah apa hubungan Hadi dengan Pak Mahendra, tetapi aku menebak dari pembawaan mereka yang sedikit mirip, mereka adalah ayah dan anak. Apa urusan laki-laki itu harus hadir di ruangan ini juga? Dia jelas tidak sedang kuliah dengan berada di sini.
Saat kuliah berakhir, mereka keluar ruangan lebih dahulu. Aku mendesah lega. Kalau sampai dia mengajak aku bicara lagi, aku tidak akan bisa lari kali ini. Manda mengajak aku menuju ruang kuliah berikutnya, maka aku berdiri dan mengikuti dia. Aku melihat sekeliling kami, khawatir dia mendadak muncul dan menginterogasi aku.
“Ada apa? Kamu mencari sesuatu?” tanya Manda yang ikut melihat ke kanan dan kirinya.
“Tidak. Ayo, cepat. Nanti kita tidak dapat tempat duduk di barisan depan.” Aku menarik tangan Manda agar mempercepat langkahnya.
Mata kuliah yang harus aku ikuti tidak banyak. Menjelang siang, aku sudah bisa pulang. Aku berpisah dengan Manda pada mata kuliah terakhir karena dia ingin bertemu dengan pacarnya. Biasanya aku menghabiskan waktu di perpustakaan jurusan, tetapi tidak pada hari ini. Aku ingin kembali ke kamar sewaku dan mengerjakan tugas yang harus dikumpulkan pada keesokan hari.
Aku mampir ke kantin untuk membeli makanan dan mengantri bersama mahasiswa yang lain. Setelah membayar makanan itu, aku bergegas menuju gerbang keluar. Seolah-olah hidup ini tidak suka melihat aku tenang satu hari saja, pemuda yang aku hindari itu malah berdiri santai di sisi sebuah mobil tidak jauh dari gerbang.
“Mengapa aku mulai berpikir bahwa kamu sengaja berada di mana saja aku berada?” tanyaku curiga. Setelah berulang kali bertemu secara tidak sengaja, aku menganggap bahwa mengabaikannya sudah tidak ada gunanya lagi.
“Kamu bicara denganku?” Dia berpura-pura terkejut, lalu melihat ke sekeliling kami. “Ah, sepertinya kamu memang sedang bicara denganku. Aku pikir kamu akan berpura-pura tidak mengenal aku dan berjalan begitu saja di depanku.”
“Ada apa? Aku tidak punya banyak waktu untuk bicara dengan orang asing,” tukasku cepat, tidak punya waktu untuk berbasa-basi.
“Masuklah. Kita bicara di tempat lain saja.” Hadi membuka pintu depan mobil dan menggunakan sinyal dengan tangannya untuk mempersilakan aku masuk.
“Aku tidak akan mau menerima ajakan dari orang asing.” Apa mau laki-laki ini sebenarnya? Mengapa dia tidak bicara dengan temannya saja daripada mengganggu aku?
“Colin juga orang asing tetapi kamu mau ikut bersamanya, bahkan mengizinkan dia memegang kamu dengan mesra.” Dia masih berdiri memegang pintu itu tetap terbuka. “Aku tidak akan macam-macam denganmu. Kamu sudah melihat siapa ayahku. Aku tidak akan berbuat apa pun yang bisa merusak reputasinya. Masuklah.”
Aku mengalah dan masuk ke mobil tersebut. Setelah duduk di sampingku, dia menyalakan mesin mobilnya dan keluar dari pekarangan fakultasku. Dia hanya diam saja selama dalam perjalanan, maka aku juga diam. Saat dia mampir di sebuah restoran cepat saji, dia bertanya apa aku butuh sesuatu. Aku meminta sebotol minuman karena aku hanya membeli makanan.
Kami berhenti di sebuah taman dan dia mengajak aku keluar. Berjalan selama beberapa menit, kami menemukan sebuah bangku kosong. Kami duduk dan menyantap makanan kami masing-masing. Aku tidak menduga bahwa berada di tempat dan situasi yang berbeda bisa memengaruhi selera makan.
Duduk di bawah naungan pohon besar, merasakan angin yang bertiup membuat aku makan dengan lahap. Saat aku merasa makanan itu belum cukup mengenyangkan, Hadi menawarkan satu burger yang dibelinya. Dia meletakkan burger itu di tanganku ketika aku hanya menatapnya dengan ragu.
__ADS_1
“Siapa namamu?” Dia memberikan gelas kertasnya yang sudah kosong kepadaku untuk digabungkan dengan sampah bekas makanan kami yang lain.
“Mila.” Aku meletakkan kantong berisi sampah itu di antara kakiku dan kakinya.
“Itu benar-benar nama aslimu?” tanyanya sambil menatapku dengan saksama.
“Iya. Mila Foster. Kamu bisa melihat daftar hadir angkatanku kalau kamu tidak percaya.” Aku membuka botol minumanku dan meneguk isinya.
“Jadi, kamu benar-benar menggunakan nama aslimu.” Dia mengangguk pelan. “Siapa orang tuamu? Melihat dari makanan yang kamu beli, kamu pasti tidak tinggal bersama mereka.”
“Aku tidak punya orang tua. Orang tua angkatku memutuskan untuk mengusir aku dari kehidupan mereka, jadi aku tidak punya siapa pun sekarang.” Aku mengangkat kedua bahuku dengan santai. Dia mengerutkan keningnya. “Dengar, aku tidak berbohong. Aku tidak tahu mengapa kamu ingin tahu tentang semua itu, tetapi aku bukan orang jahat.”
“Pembohong memang tidak semuanya orang jahat. Tetapi orang jahat biasanya suka berbohong.” Ekspresi wajahnya yang semula santai berubah dingin. “Cole adalah sahabatku sejak kecil dan dia melamar adikku untuk menjadi istrinya sejak kami masih kecil. Mereka berdua adalah orang yang sangat aku sayangi. Tolong bantu aku. Apa yang Cole inginkan darimu?”
Klien yang satu ini benar-benar akan menghancurkan pekerjaanku. Dia punya sahabat yang tidak kenal menyerah. Wajar saja, yang sedang kami sakiti dengan sandiwara kami adalah adiknya. Gadis itu ternyata bukan pacar biasa atau perempuan yang mengejar-ngejar cintanya. Colin sudah menjanjikan akan menikah dengannya sejak mereka masih kecil.
Mengetahui fakta ini, aku malah semakin bingung. Apa yang membuat Colin harus bersandiwara? Dia bisa mengajak gadis itu bicara berdua. Kelihatannya dia gadis yang cukup dewasa dalam berpikir. Bila gadis lain tantrum melihat tunangan, pacar, atau orang yang dia taksir datang bersama wanita lain, maka dia tidak begitu. Dia malah mengajakku berkenalan dengan ramah.
“Kamu bilang, kamu tidak punya orang tua. Bagaimana dengan keluargamu yang lain? Ke mana mereka?” tanyanya mengubah topik pembicaraan.
“Apa hubungan antara kehidupan pribadiku dengan hubungan aku dan Colin?” tanyaku bingung. Apa yang sebenarnya ingin dia ketahui?
“Tidak ada. Mengenai kamu dan Cole sepertinya rahasia yang tidak akan kamu ungkapkan, jadi aku tidak mau membuang waktu. Lebih baik kita membahas hal lain,” jawabnya.
“Aku tidak tahu di mana keluargaku. Bahkan pria dan wanita yang semula aku pikir adalah orang tuaku, bukanlah orang tua kandungku.” Mereka berdua adalah orang Indonesia asli. Dengan ciri-ciri fisik yang aku miliki, mereka jelas bukan orang tua kandungku. Sayangnya, mereka sudah meninggal. Aku tidak bisa bertanya mengapa aku berada di rumah itu bersama mereka.
“Apa maksudmu?” tanyanya yang tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
“Sebentar. Mengapa kamu ingin tahu tentang keluarga dan orang tuaku?” tanyaku mulai curiga.
“Aku bertanya dan kamu menjawab, jadi aku teruskan. Mengapa sekarang kamu keberatan?” Benar juga. Aku yang membuat dia tertarik untuk terus menggali tentang aku.
__ADS_1
“Aku menjawab supaya kamu berhenti mengganggu aku. Sebaiknya aku pulang sekarang. Aku punya tugas dari dosen yang harus dikumpulkan besok.”
“Apa kamu melakukan ini karena kamu membutuhkan uang? Cole membayar kamu untuk berpura-pura menjadi pacarnya. Itukah yang terjadi?” tanyanya penuh selidik. Aku diam. “Kamu tidak punya orang tua dan keluarga yang mengurus kamu. Kuliah membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Jadi, kamu mendapatkan uang dengan menyewakan dirimu?”
*******
Sementara itu di depan sebuah sekolah~
“Maaf, maafkan aku,” ucap Colin dengan wajah penuh penyesalan.
Lily menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. “Aku menunggu dua jam. Dua jam! Kamu dari mana saja?” tanya Lily dengan kesal.
Colin melingkarkan tangannya di bahu adiknya dan membawanya mendekati sepeda motornya. “Aku keasyikan belajar di perpustakaan. Kamu tahu ‘kan mulai semester depan aku akan mulai menyusun skripsi. Jadi, aku sedang mencari topik yang bisa aku angkat.”
“Bohong. Kamu pasti memikirkan Dira lagi.” Lily mendengus pelan saat kakaknya memasang helm di kepalanya. “Sebaiknya kalian segera bicara berdua. Putuskan dia baik-baik dan jangan gunakan cara rendahan seperti Jumat malam lalu. Memalukan.”
“Kadang aku tidak percaya kamu masih empat belas tahun.” Colin menaiki sepeda motornya dan membantu adiknya dengan memberikan tangannya.
“Punya kakak yang kekanak-kanakan seperti kamu memaksa aku untuk dewasa sebelum waktunya.” Lily memutar bola matanya, tetapi Colin tidak bisa melihatnya.
“Apa kamu mau mampir ke suatu tempat atau kita langsung pulang ke rumah?” Colin menyalakan mesin kendaraannya.
“Mampir ke mal. Aku mau beli hadiah untuk Dira. Kalau kamu butuh pendapatku, aku bisa memberi tahu apa yang dia inginkan sebagai kado ulang tahunnya.” Lily memeluk kakaknya dari belakang.
“Aku lebih mengenal dia daripada kamu. Dan aku tahu kado apa yang dia inginkan dariku.” Colin memasuki lalu lintas dan menjaga jarak aman dengan sepeda motor di depannya.
“Cincin pertunangan yang sampai detik ini tidak juga kamu berikan padanya,” ejek Lily.
“Diam atau aku akan menurunkan kamu di sini.”
“Kalau kamu berani, aku akan adukan pada Mama.”
__ADS_1
“Aaarrgghh!” Colin berteriak frustrasi.