Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 8 - Berbelanja


__ADS_3

*Hadi*


Nenek Anya dan Nenek Naava segera masuk ke mobil bersama Mama duduk di jok belakang, ketika Dira duduk di sisiku. Aku tersenyum melihat adikku memutar bola matanya melihat tingkah kedua nenek kami. Saat semua orang sudah duduk dengan rapi, aku menjalankan mobil keluar dari pekarangan rumah.


Minggu depan adalah ulang tahun Dira. Seperti biasa, kami merayakannya bersama seluruh keluarga juga sahabat dekat Papa dan Mama. Tentu saja Dira akan mengundang teman-temannya, tetapi dia membatasi orang yang boleh datang. Dia memang gadis yang supel, bukan berarti dia akrab dengan semua orang yang dekat dengannya.


Nenek Naava ingin membelikan baju baru untuk Dira kenakan pada hari istimewanya itu. Adikku sudah memohon agar mereka memesan lewat aplikasi belanja daring yang ada di ponselnya, tetapi Nenek menolak. Mereka tidak mau mengalami drama barang yang tiba tidak sesuai dengan pesanan.


Aku mengerti mengapa Dira tidak suka berbelanja langsung dengan mendatangi toko atau butik. Sebagai seorang model remaja terkenal, sulit baginya untuk berada di tempat umum tanpa dikenali oleh orang-orang di sekitarnya. Sering sekali mereka tidak hanya sekadar melihatnya, ada yang minta berfoto bersama atau tanda tangan. Dia tidak menyukai semua perhatian itu.


Dira mengenakan topi dan kaca mata hitam untuk menyamarkan wajahnya saat turun dari mobil. Mereka memasuki mal, sedangkan aku mencari tempat kosong untuk memarkirkan kendaraan. Aku membutuhkan waktu lama untuk mendapatkan tempat karena hari ini adalah hari Minggu.


Ingin makan sesuatu yang ringan dan minum kopi, aku menuju salah satu restoran yang menyajikan kopi yang cukup enak. Pelayan segera mengantar aku ke meja yang kosong karena aku hanya datang seorang diri. Tahu apa yang akan aku pesan, aku menolak buku menu yang dia sodorkan dan menyebut makanan dan minuman yang aku mau.


Aku mengeluarkan ponselku saat benda itu bergetar. Panggilan masuk dari Mama. “Ya, Ma?”


“Kamu sedang di mana? Jangan lupa mengantri untuk memesan tempat di restoran kesukaan Nenek Naava. Kita akan makan siang di sana tepat jam dua belas,” kata Mama. Aku melirik jam tanganku. Masih ada waktu satu jam untuk duduk santai di tempat ini.


“Oke, Ma. Kita akan makan berlima atau Papa dan kedua Kakek akan menyusul?” tanyaku.


“Hanya kita berlima,” jawab Mama yang diikuti dengan percakapan antara Mama dengan Nenek Anya juga Dira. “Ah, aku harus akhiri teleponnya. Ingat, jangan lupa memesan tempat di restoran.”


Aku sudah bisa membayangkan mereka sedang berdebat memilih gaun atau dress mana yang cocok untuk Dira kenakan nanti. Ujung-ujungnya mereka akan membeli tiga pakaian yang mereka suka dan adikku harus menanggung beban memilih salah satu yang akan dia pakai. Itu artinya ada dua orang yang akan merasa terluka karena pakaiannya tidak terpilih. Drama khas keluargaku.

__ADS_1


Kalau Papa tahu aku sedang duduk santai di restoran dan bukan menemani mereka, aku pasti akan diberi kuliah selama satu jam lebih. Tetapi menemani perempuan berbelanja adalah neraka bagiku. Mereka sanggup berjalan dari satu sudut ke sudut lain, butik satu ke butik lain selama berjam-jam tanpa merasa lelah. Ujung-ujungnya, mereka membeli pakaian, sepatu, atau tas yang mereka lihat pertama kali pada butik pertama. Itu pemandangan yang menjengkelkan.


Mama selalu mengizinkan aku untuk menunggu di satu tempat yang aku suka selama mereka berbelanja. Aku tidak diwajibkan untuk ikut bersama mereka ke mana pun mereka pergi. Lagi pula di tempat seramai ini tidak akan ada orang yang berani menyakiti atau menculik mereka. Tetapi bila ada Papa, maka aku terpaksa mengekori ke mana pun Mama atau Dira melangkah.


Pelayan mengantarkan pesananku dan mataku menangkap sosok yang kukenal saat aku mengangkat kepalaku. Seorang wanita muda berambut pendek berwarna cokelat gelap sedang duduk tidak jauh dari mejaku. Di sampingnya ada seorang pria yang meletakkan tangannya di pundaknya dengan jempolnya bergerak-gerak mengusap bahu gadis itu.


Warna rambutnya memang berbeda, tetapi wajah, warna kulit, dan gerak-geriknya terlihat tidak asing bagiku. Dia belum menyadari bahwa aku sedang memerhatikan dia, jadi aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.


Melihat seorang pelayan mendatangi mereka dengan membawakan sebuah baki kecil, aku segera menghabiskan makananku dan meminum kopiku. Aku tidak tahu mengapa aku melakukan ini, tetapi aku membayar tagihanku di kasir agar bisa mengikuti mereka.


Gadis yang aku curiga itu akhirnya menoleh ke arahku saat pria itu memasuki sebuah toko elektronik. Dia berdiri di dekat pintu masuk toko dan menyapukan pandangan ke sekelilingnya ketika mata kami bertemu. Semula dia melewatkan aku begitu saja sebelum dia kembali lagi menatap aku. Dan matanya melebar begitu dia mengenali aku.


Meskipun warna dan model rambutnya berbeda, bahkan warna matanya lebih gelap, aku tidak akan melupakan wajah yang baru aku lihat dua hari yang lalu. Mila. Mengapa dia ada di sini bersama pria lain yang kelihatan seperti pacarnya? Apa dia selingkuh di belakang Colin?


Aku mendesah keras melihat antrian orang yang menunggu giliran mereka untuk makan di dalam restoran. Aku mendekati pelayan yang berdiri di depan dan menyebut jumlah orang yang akan makan bersamaku. Karena semua kursi untuk menunggu sudah terisi, aku berdiri tidak jauh dari restoran tersebut.


Begitu keluargaku datang, hanya lima menit menunggu, kami pun dipersilakan untuk masuk. Aku mengambil alih semua kantong dan tas belanjaan yang mereka bawa dan membiarkan mereka yang memilih makanan untukku. Semua kantong itu perlu aku simpan di mobil. Ketika aku kembali nanti, makanan pasti baru diantar, jadi kami bisa makan dengan santai.


Semua barang yang aku bawa itu aku letakkan di bagian belakang mobil. Ketika aku berada di dekat tangga darurat menuju elevator, terdengar bunyi dan suara ribut. Aku menghentikan langkah saat mengenali suara gadis yang bicara cukup keras tersebut.


Aku berbelok menuju tangga darurat dan mencari sumber keributan. Di bagian tangga bawah dari tempatku berdiri seorang wanita muda sedang menekan leher seorang pria dengan sikunya, lalu memelintir tangannya di punggung bawahnya, sedangkan dada pria itu menempel di dinding.


“Sentuh aku sekali lagi, maka tanganmu akan aku patahkan. Kamu dengar itu?” ucap perempuan itu dengan suara berbisik. Tetapi suaranya bergema sehingga aku bisa mendengarnya.

__ADS_1


“Aku tidak melakukan apa pun yang melanggar batas. Kamu sendiri yang menggoda aku, lalu kamu berlagak menjadi korban sekarang? Lepaskan aku!” bentak laki-laki itu.


Dasar pecundang. Bagaimana bisa dia kalah kuat dengan seorang perempuan? Dalam keadaan tidak berdaya begitu, dia malah bersikap arogan, bukannya meminta maaf. Kalau aku jadi perempuan itu, tangannya itu sudah aku patahkan.


Namun gadis ini boleh juga. Dia tahu bagaimana menjaga dirinya sendiri. Bila diamati dari caranya berdiri dan memasang kuda-kuda, dia pasti tahu banyak mengenai bela diri. Dia tidak hanya menumpukan kekuatannya kepada tubuh laki-laki itu, tetapi juga bersikap waspada andai ada yang menyerang dia dari belakang.


“Jadi, kamu memilih bermain kasar. Kamu pasti belum pernah bertemu dengan Sigit. Sampaikan salamku untuknya saat dia mengunjungi kamu nanti.” Gadis itu tiba-tiba saja melepaskan tangannya dari pria itu, membalikkan badan, dan menaiki tangga. Dia berjalan ke arahku.


“Perempuan berengsek! Jangan kabur! Kembalikan uangku baru kamu bisa pergi!” Pria yang gelap mata itu mengejar wanita muda itu. Tetapi dia berhenti saat bertemu pandang denganku. Dia melihat ke arah belakangku. Pasti sudah ada beberapa pengunjung lain juga yang datang karena penasaran mendengar suara ribut dari sini.


Menyadari bahwa dia tidak akan punya kesempatan sama sekali untuk menyakiti gadis ini, dia berbalik dan menuruni tangga menuju lantai bawah. Orang yang ingin naik hanya menatapnya dengan bingung. Aku menarik tangan gadis itu karena kami menghalangi jalan mereka yang ingin menggunakan tangga darurat.


“Tolong, lepaskan tanganku,” kata gadis itu. Dia menundukkan kepala dan berusaha mengubah suaranya, tetapi dia sudah tidak bisa membohongi aku lagi.


“Biarkan mereka lewat dahulu,” ujarku tidak memedulikan permintaannya.


Mereka yang berdiri di belakangku satu per satu menuruni tangga, selebihnya kembali keluar melalui pintu. Aku memerhatikan wajah gadis itu dengan saksama. Meskipun dia memandang ke bawah, aku bisa melihat bahwa dia mengenakan lensa kontak. Maka rambut ini pasti wig.


“Siapa kamu yang sebenarnya? Mengapa aku merasa kamu terlihat tidak asing?” tanyaku pelan.


“Maaf, aku tidak kenal kamu. Kamu pasti salah orang.” Dia menarik tangannya dariku, kali ini aku membiarkannya. Tanpa menunggu lagi, dia berjalan menuju pintu.


“Aku tahu kamu adalah Mila,” kataku dan dia menghentikan langkahnya. “Tetapi aku yakin itu bukanlah nama aslimu. Siapa kamu? Apa tujuan kamu mendekati Colin?”

__ADS_1


__ADS_2