Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 162 - Teman Lama Misterius


__ADS_3

Aku memang tidak melihat Hadi keluar dari tempat parkir kafe. Tetapi aku ingat bahwa dia sudah memasuki mobilnya. Aku tidak merasakan firasat apa pun sehingga tidak menunggu dia untuk pergi dari tempat itu. Lagi pula aku terburu-buru agar tidak terlambat menjemput Lily.


Hadi tidak menunjukkan sinyal bahwa dia berniat pergi ke suatu tempat selain ke tempat kerjanya. Apalagi dia tidak berhenti memikirkan Clarissa selama kami bicara. Lagi pula Hadi adalah orang yang bertanggung jawab. Jadi, tidak mungkin dia pergi ke tempat lain tanpa memberi tahu siapa pun.


Aku berusaha membantu dengan menghubungi teman-teman bermain basket kami, tetapi mereka tidak tahu-menahu tentang keberadaan Hadi. Mereka semua bingung dengan pertanyaanku itu. Mereka tidak dekat dengan Hadi dan hanya bertemu dengannya untuk bertanding basket. Jadi, wajar saja mereka heran dengan telepon dariku itu.


“Bagaimana? Ada yang tahu di mana Hadi berada?” tanya Lily yang ikut khawatir.


Aku menggeleng pelan. “Ke mana dia pergi sejak siang tadi?” Aku melirik jam tanganku. “Sudah pukul sembilan malam. Apakah terjadi sesuatu yang buruk kepadanya?”


“Bisa jadi dia mengalami kecelakaan, lalu ada orang yang membawa dia ke rumah sakit. Coba kamu hubungi rumah sakit terdekat dari kantor Uncle Hendra,” ucap Lily memberi usul.


“Tidak. Mereka pasti sudah melakukan itu. Lagi pula Hadi selalu membawa tanda pengenal. Tidak mungkin pihak rumah sakit tidak menghubungi keluarganya jika dia benar-benar berada di rumah sakit. Seseorang mungkin sudah menculiknya. Atau ada yang menjebaknya dan mengajak dia bertemu di suatu tempat, lalu menyekapnya.”


Dia baru saja mengatakan bahwa keluarganya punya banyak musuh, hal buruk langsung terjadi kepadanya. Di mana kira-kira dia berada? Bila Uncle saja tidak bisa menemukan dia dengan bantuan Om Irwan, apalagi aku. Yang aku kenal hanya teman-teman yang punya hobi bermain game.


Sampai Dad dan Mama pulang pun, kami belum mendengar kabar selanjutnya dari Dira. Ternyata Mama tahu mengenai Hadi yang tidak kembali ke kantor. Mereka tidak curiga meskipun Hadi tidak memberi tahu bahwa dia tidak akan datang. Barulah pada saat jam pulang kerja, mereka tahu Hadi tidak ada di mana pun. Uncle tetap memenuhi undangan makan malam dengan koleganya ditemani oleh Mama. Tetapi Om Irwan terus memberinya kabar mengenai pencarian mereka.


Ponselku bergetar lagi dan aku segera mengambilnya dari atas meja. Membaca nama Dira, aku menjawab panggilan masuk tersebut. “Apa ada kabar dari Hadi?” tanyaku tidak sabar.


“Iya. Syukurlah, Kakak sudah pulang. Dia baik-baik saja. Aku hanya bisa memberi tahu itu sekarang. Aku harus bergabung dengan keluargaku lagi. Sampai nanti.” Dira memutuskan hubungan telepon sebelum aku sempat bertanya apa yang terjadi.


“Yang penting Hadi sudah pulang,” kata Mama menenangkan aku. Bertepatan dengan itu, Dad keluar dari kamar dalam keadaan segar dan memakai baju piyamanya. “Saatnya bagiku untuk mandi dan bersiap untuk istirahat. Selamat malam, anak-anak.”

__ADS_1


Aku dan Lily membalasnya, kemudian berdiri dari sofa. Kami juga harus bersiap-siap untuk istirahat. Lily masih harus pergi sekolah, sedangkan aku berjanji akan bertemu dosenku untuk membahas bab dua skripsiku yang semoga sudah selesai dia periksa.


“Sayaanng!” Aku merasakan seseorang memeluk aku dari belakang. “Aku rindu kamu!”


Aku baru saja melepaskan helmku. “Dira, biarkan aku lepaskan jaketku sebentar.” Dia menurut dan melepaskan pelukannya. Aku membuka jaketku, lalu memasukkannya bersama helm ke tempat yang tersedia di bawah jok. Aku mengunci tempat penyimpanan tersebut, lalu memeluk gadisku.


Dia tertawa geli. “Mengapa kemarin kamu tidak menemui aku sebelum pergi bersama Kakak?” Dia mempererat pelukannya. “Padahal aku mencari kamu di ruang dosen.”


“Aku dan Hadi sudah lama tidak bicara. Jadi, aku tidak menunggu sampai kamu keluar ruang kuliah. Lagi pula kita masih bisa bertemu hari ini. Aku akan menunggu kamu, lalu kita makan siang bersama.”


“Baiklah.” Dira melepaskan pelukannya. “Siang ini aku mau makan sate daging sapi,” ucapnya senang.


“Apa saja yang kamu mau, sayang.” Aku merangkul bahunya. “Ayo, sebaiknya kalian ke ruang kuliah sebelum terlambat.” Charlotte dan Wyatt berjalan lebih dahulu di depan kami. “Bagaimana kabar Hadi? Kamu tidak cerita apa yang terjadi kepadanya semalam.”


“Teman lama?” tanyaku bingung. Setahuku, hanya aku teman lamanya. Tidak ada orang lain yang pernah dekat dengannya sejak dahulu.


“Iya. Apa kamu kenal siapa kira-kira teman lamanya itu?” tanya Dira. Aku hanya menggelengkan kepala. “Aneh. Lokasi kafe cukup dekat kantor Papa. Siapa yang Kakak temui pada hari itu, ya? Aku tidak pernah tahu bahwa Kakak suka bertemu dengan teman lama sampai lupa waktu.”


“Aku akan tanyakan itu kepadanya nanti pada saat kami bermain basket. Kamu tidak perlu berpikir yang tidak-tidak. Kamu harus bersiap-siap untuk mengikuti peragaan busana. Wajah kamu harus bahagia dan tenang. Apa kamu mengerti?” ucapku mengingatkan.


“Mengapa kamu sekarang terdengar seperti Vikal?” ejeknya. Aku tertawa.


Kami mengobrol sebentar di dekat kelas mereka. Begitu Reese datang, aku pamit dan membalas sapaan gadis itu sekadarnya. Aku tidak mau berurusan dengannya, apalagi sampai mendengar dia meminta aku menyampaikan salam kepada Hadi. Cukup Dira saja yang melakukan tugas itu.

__ADS_1


Melihat panjangnya antrian di depan ruang dosen, aku berharap bahwa mereka hanya mengantar skripsi, bukan berdiskusi. Aku tidak akan tahan menunggu terlalu lama. Sayangnya, harapanku itu pupus begitu saja. Aku menunggu sampai dua jam sampai aku bisa memasuki ruangan itu.


Dosen pembimbingku hanya tertawa melihat wajah lelahku. Dia menawari minuman, tetapi aku menolak. Syukurnya, dia memberi aku kabar baik dan menyatakan bahwa bab duaku sudah beres. Aku diizinkan untuk melanjutkan ke bab tiga. Spontan saja aku bersorak senang.


Dia memberi tahu langkah-langkah apa saja yang perlu aku lakukan ketika memulai penelitianku. Aku sudah mengetahui semua itu pada saat seminar proposal. Tetapi aku tidak mengatakan apa pun mendengar dia mengulangnya lagi. Aku tahu bahwa dia bermaksud baik.


Aku melirik jam tangan. Masih ada waktu sekitar satu jam sepuluh menit sebelum Dira keluar dari mata kuliahnya yang kedua. Aku menggunakan waktu itu untuk menuju perpustakaan. Malang tidak bisa ditolak, aku malah berpapasan dengan Valeria yang baru keluar dari ruang belajar.


“Hei, Colin!” sapanya dengan ramah. Tetapi aku segera bersikap waspada. Dia tertawa. “Aku tidak akan memeluk kamu di sini. Tidak akan ada gunanya. Pacar kamu sedang kuliah.” Dia tersenyum geli. “Apa kamu tahu ke mana sahabat baikmu setelah mengobrol denganmu di kafe itu?”


Pertanyaan itu membuat aku tertegun sejenak. “Apa maksudmu?” Tidak mungkin dia orang yang Hadi temui dari siang sampai malam hari.


Valeria mendekat agar bisa berbisik kepadaku, “Sebaiknya kamu tanyakan langsung kepadanya. Aku tidak mau merusak kejutan yang sudah dia siapkan untukmu.”


Aku sengaja tidak membalas kalimatnya itu supaya dia tidak menahan aku lebih lama. Aku berjalan melewati dia menuju ruang belajar. Ada banyak mahasiswa yang sedang menggunakan meja dan komputer yang tersedia. Melihat ada satu komputer yang tidak terpakai, aku segera mendekatinya.


Tepat pada jam makan siang, aku bergegas keluar dari ruangan itu. Aku sudah punya cukup bahan untuk mengerjakan penelitianku. Jadi, setelah makan siang nanti, aku bisa menjemput Lily dan pulang. Tidak perlu kembali ke perpustakaan lagi. Sayangnya, aku tidak bisa bermain game untuk beberapa hari ke depan.


Dira menyambut kedatanganku dengan melambaikan tangan dari lantai dua gedung perkuliahan kami. Dia berjalan bersama Wendy, sedangkan Wyatt sendirian. Aneh. Ke mana Charlotte? Gadis yang aku cari itu muncul dari balik dinding yang menutupi tangga. Dia sedang mengobrol dengan Clarissa sambil menuruni tangga.


Mereka baru saja memutar di bordes dan menurunkan kaki menuju anak tangga berikutnya ketika seseorang mendorong Clarissa dari belakang. Gadis itu kehilangan keseimbangan sehingga jatuh berguling hingga ke lantai dasar. Pemandangan itu seolah-olah tidak nyata dan bagaikan adegan dalam sebuah film.


Begitu rasa terkejutku hilang, aku segera berlari mendekatinya. Charlotte hanya bisa berteriak panik karena terlambat menolong kakaknya. Aku terpana melihat posisi kaki Clarissa saat tersungkur di lantai. Dia yang semula diam, mulai mengerang kesakitan. Aku berlutut di sisinya dan mengulurkan tangan untuk memeriksa keadaannya. Tetapi aku tidak tahu harus melakukan apa terlebih dahulu.

__ADS_1


“Jangan, Colin! Jangan sentuh dia. Biarkan paramedis yang memeriksanya! Kamu bisa memperparah keadaannya,” seru Wyatt dari bordes. Aku segera menarik tanganku menjauh dari Clarissa.


__ADS_2