
*Colin*
“Bangs*t!” Sebuah pukulan keras menghantam wajahku tanpa peringatan. Begitu keras hingga aku sedikit terhuyung ke kanan. Kerah kausku ditarik dengan paksa hingga aku berdiri muka dengan muka dengan Hadi. “Beri aku satu alasan mengapa aku sebaiknya tidak membunuhmu sekarang.”
“Kamu mau jadi pengusaha menggantikan ayahmu,” ucapku dengan suara tercekik. “Kamu harus punya masa lalu yang bersih, tidak ada catatan kriminal.”
“Aku tetap bisa menjadi pengusaha karena itu perusahaan papaku.” Hadi menggertakkan giginya, menahan amarah. “Segera bicara dengan adikku atau aku bersumpah aku akan membunuhmu bila dia sampai menangis lagi. Dan aku tidak peduli dengan fakta bahwa kamu adalah sahabatku.”
Dira menangis? Dia baik-baik saja semalam. Dia mengajak Mila bicara dengan akrab, senyumnya setulus dan seramah biasanya sehingga aku berpikir bahwa rencanaku itu gagal total. Kapan dia menangis? Apakah saat di mobil atau di rumah mereka?
Hadi melepaskan kerahku dan mendorong aku menjauh darinya. Sebagai orang asing yang secara genetik bertubuh tinggi, aku tidak bisa mengintimidasi sahabatku. Hadi sama tingginya denganku. Seratus sembilan puluh senti. Jadi, berhadapan dengannya seperti ini, kami selalu sejajar. Tetapi melihat wataknya, sekalipun dia lebih pendek dariku, aku yakin dia akan tetap menantang aku seperti ini bila aku berani menyakiti salah satu adiknya.
“Mila benar-benar pacarku. Karena sikapmu ini, juga reaksi Dira yang membuat aku tidak bisa jujur pada kalian sejak awal.” Aku menyeka bibir dengan punggung tanganku dan melihat ada noda darah di sana. Pukulannya kuat juga. “Aku terpaksa menggunakan cara ini.”
“Kamu serius?” tanya Hadi tidak percaya. “Setelah kamu kembali dari Amerika, kamu masih bersikap sama pada Dira. Aku sahabatmu, Cole. Jangan bohong. Aku benci pembohong. Katakan, ada apa? Mengapa tiba-tiba ada gadis bernama Mila di antara kalian?”
“Aku serius dan tidak berbohong.” Aku mendekati bangku di mana tasku berada.
“Tatap mataku bila kamu tidak berbohong,” tantangnya.
Tanganku yang sedang memutar botol minuman berhenti bergerak. Aku sengaja membalikkan badan dan tidak melihat dia saat bicara karena aku tahu aku tidak bisa membohongi dia. Tetapi untuk bicara jujur, semuanya sudah terlambat. Aku sudah mantap untuk melanjutkan rencanaku.
“Hai, Hadi, Colin!” Teman-teman kami datang bersamaan, menyelamatkan aku dari interogasi yang tidak akan berakhir baik jika diteruskan. Tidak berakhir baik bagiku.
Mereka adalah teman-teman kampus kami yang sepakat untuk bermain bola basket tiga lawan tiga. Aku dan Hadi berada pada tim yang sama, jadi aku tidak perlu khawatir harus berhadapan dengan amarahnya selama kami bertanding santai. Itu satu hal yang aku kagumi darinya. Setiap kali kami punya masalah, tidak ada orang lain yang mengetahuinya. Masalah kami hanya untuk kami berdua.
Usai bertanding di mana tim kami yang menang, kami makan siang bersama ditraktir oleh tim yang kalah. Melihat selera makan kami yang tinggi selesai berolahraga, mereka sama sekali tidak peduli dengan uang yang harus mereka keluarkan saat membayar tagihan.
“Apa rencanamu malam ini?” tanya Hadi saat kami berjalan menuju tempat parkir. Aku menyentuh perutku yang terasa sangat penuh.
__ADS_1
“Bertemu dengan teman satu tim game-ku di tempat biasa. Malam ini kami akan berperang untuk mempertahankan kastil kami.” Aku berhenti di depan mobilnya. “Kamu mau ikut?”
“Aku harus menjemput Dira. Dia sebentar lagi selesai pemotretan.” Hadi menutup layar ponselnya kembali, lalu mengeluarkan sebuah kartu dari dompetnya. “Kamu serius mau pergi dengan muka begitu? Atau kamu menganggapnya sebagai trofi makanya kamu pamerkan?”
Tanganku refleks menyentuh pipi kiriku. “Tidak ada yang tidak bisa disamarkan riasan. Aku bisa mengikuti kamu sampai di rumah. Kita bisa pergi dengan sepeda motorku dan aku akan mengantar kamu pulang nanti,” kataku mencoba membujuknya. Dia terlihat sedang berpikir.
“Baiklah. Jangan terlalu malam, besok pagi aku harus mengantar adik-adik ke sekolah mereka.” Hadi membuka pintu mobilnya, maka aku berjalan menuju tempat parkir sepeda motor.
Selama mengendarai sepeda motor, aku berusaha untuk tetap konsentrasi melihat lalu lintas di sekitarku. Menghindari kecanggungan kami berdua nanti, aku mengikuti Hadi dan tidak mencoba untuk mendahului mobilnya. Walaupun dari jalan yang dia tempuh, aku bisa menebak di mana Dira melakukan pemotretan.
Dira adalah gadis yang menjadi idaman laki-laki mana pun. Bukan hanya berwajah cantik, bertubuh bagus, dia juga cerdas dan baik hati. Paket lengkap yang hanya ada dalam impian itu justru ada pada gadis itu. Hanya orang bodoh yang akan menolak kesempatan bisa memiliki dia.
Semakin memikirkan itu, aku semakin yakin untuk mengakhiri hubungan kami. Aku tahu ini akan melukai dia, tetapi itu hanya sementara. Dia akan kembali ceria dan bisa jadi akan mendapatkan pemuda yang lebih baik dariku. Sebaiknya aku mulai memikirkan cara mengurangi intensitasku datang ke rumahnya.
Tiba di lokasi, Hadi mengajak aku untuk mencari Dira. Biasanya kami hanya menunggu sampai dia datang ke tempat parkir, tetapi aku menuruti kemauannya. Kami menuju kerumunan orang dengan melewati pembatas yang sengaja dibuat agar pengunjung taman tidak mengganggu jalannya pemotretan tersebut.
Merasakan gerakan tidak jauh dari tempatnya berdiri, aku menoleh. Oh. Tuhan. Aku memaksa kakiku berlari secepat yang aku bisa. Jarak antara aku dan dia seolah-olah tidak berkurang, dia malah terlihat semakin menjauh. Tetapi aku terus menggerakkan kakiku ketika orang-orang mulai berteriak mengalihkan perhatiannya.
Suara jeritan dan teriakan mereka membuat debaran jantungku semakin liar dan napasku memburu. Ketika aku berada di dekat mereka, aku mendorong badan pria di sisinya, lalu menangkap tubuh Dira dan melindungi dia dengan tubuhku. Kami mendarat di rumput dengan lengan kananku menjadi tumpuan berat badan kami. Bunyi benda berat jatuh di atas rumput terdengar begitu dekat dengan kami. Lalu sesaat keadaan di sekeliling kami sunyi.
Napasku terengah-engah, jantungku berdebar sangat kencang, dan dadaku serasa akan meledak. Aku merasakan tubuh Dira bergetar dengan hebat, tanganku yang ada di punggungnya merasakan jantungnya berdetak dengan cepat, dan napasnya yang memburu terasa hangat di leherku.
“Dira! Colin!” Terdengar suara Hadi diikuti dengan genggaman erat pada lengan kiriku. “Kalian tidak apa-apa? Apa kalian terluka?”
Aku membuka mata dan segera melihat keadaan Dira. Gadis itu masih memegang bajuku dengan erat. Dia menyembunyikan wajahnya di leherku sehingga aku tidak bisa melihat ekspresinya. Apakah dia terluka? Aku hanya merasakan sakit di lengan kanan atasku, selebihnya hanya nyeri biasa.
Orang-orang mengelilingi kami, tetapi mereka menjaga jarak agar kami punya ruang untuk bernapas. Hanya Hadi dan Vikal yang berada di dekat kami. Hadi menolong adiknya untuk duduk, lalu Vikal membantu aku. Merasakan sakit pada lengan kananku saat menumpukan tubuh dengan tanganku, tidak salah lagi. Aku sudah melukainya.
“Colin, kamu baik-baik saja?” tanya Hadi yang terlihat khawatir. Aku mengangguk pelan. “Dira, kamu bagaimana? Ada bagian tubuhmu yang sakit?”
__ADS_1
“A-aku baik-baik saja,” jawabnya dengan suara bergetar. Dia melihat ke arah kakaknya, lalu Hadi memeluknya. Perlahan napas Dira mulai teratur.
Vikal memberikan segelas air kepadaku yang segera aku teguk hingga habis. Suasana yang semula tenang itu berubah berisik dengan orang-orang memberi perintah untuk merapikan peralatan dengan hati-hati. Aku dan Dira diminta untuk duduk dan petugas medis yang memang selalu siap sedia dalam tim mereka memeriksa keadaan kami.
“Apa yang terjadi, Vikal?” Hadi menarik kerah pakaian asisten Dira itu dengan wajah marah. “Apa yang kamu lakukan sampai ini terjadi pada adikku? Kalian sudah berjanji akan menjaganya dengan baik, lalu apa yang kamu lakukan? Bagaimana bisa kamu berdiri begitu jauh darinya?”
“Hadi, tenang. A-aku mengambilkan minum untuknya tadi. Aku janji, ini tidak akan terjadi lagi. Aku tidak akan pergi dari sisi Dira sedetik pun.” Vikal melihat ke sembarang arah, tidak berani menatap Hadi secara langsung.
“Ini kecelakaan terakhir. Jika terjadi lagi, Dira akan pindah ke agen lain yang lebih bertanggung jawab, sampaikan itu kepada Pak Billy. Cari tahu apa ini murni kecelakaan atau ada yang ingin mencelakai adikku. Aku beri waktu satu minggu. Bila kalian tidak memberi aku kabar baik, semua kecelakaan yang pernah terjadi akan aku laporkan pada papaku.” Hadi melepas kerah pria itu, lalu menolong Dira untuk berdiri. “Kami pulang. Ayo, Cole.”
“Tunggu, Hadi. Jangan beri tahu Pak Mahendra mengenai hal ini. Agen kami bisa ditutup paksa,” pinta Vikal memohon. Dia mengikuti kami dan terus berusaha membujuk sahabatku.
“Vikal, cukup.” Aku meletakkan tanganku di dadanya, menghentikan dia terus mengikuti kami. “Hadi akan semakin marah jika kamu terus memaksa. Cek apa yang terjadi tadi sebaik mungkin. Bila kamu bisa membuktikan itu hanya kecelakaan, mungkin Hadi tidak akan mengadu kepada Uncle Hendra. Tetapi bila kamu berusaha melindungi pelaku, detik itu juga kamu akan kehilangan pekerjaanmu.”
*****
Sementara itu di sebuah mobil~
“Dia berusia dua puluh tujuh tahun!?” pekik Zahara memenuhi mobil. “Game apa yang kamu mainkan sampai ada pernikahan segala??”
“Itu hanya bagian dari misi, Ma. Kami menikah di game, bukan kehidupan nyata.” Adi mendesah pelan, mulai frustrasi harus menjelaskan segalanya kepada Zahara.
“Apa kalian juga melakukan hal yang tidak-tidak di game sebagai suami istri?? Sayang, apa kamu tahu tentang ini?? Anak kita belum genap lima belas tahun dan dia sudah menikah!” protes Zahara.
“Sayang, itu hanya permainan. Kamu bisa tanya Kafin. Dia juga main game yang sama. Coba jelaskan pada istriku, Kafin.” Hendra menoleh ke arah sopirnya.
“Tuan Besar dan Tuan Muda benar, Nyonya. Itu hanya sebuah misi besar yang diikuti dengan misi kecil untuk mendapatkan hadiah. Tidak ada aktivitas suami istri seperti yang Nyonya khawatirkan. Semuanya hanya berupa ritual. Kencan, lamaran, menikah, bulan madu, dan kabarnya akan ada misi untuk memiliki anak juga,” ucap Kafin menjelaskan panjang lebar.
Zahara membulatkan matanya. Wajah Hendra memucat. “Apa?? Bulan madu?? Punya anak??”
__ADS_1