Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 170 - Tuduhan Jahat


__ADS_3

Mama terlihat lelah saat berjalan melewati pintu depan rumah. Papa yang ada di sisinya hanya diam, tidak mengatakan apa pun untuk menghiburnya. Kakak justru tampak semakin khawatir daripada saat dia menceritakan kejadian di kamar hotel itu. Wajahnya begitu pucat.


“Bila ada gadis lain yang mengandung anak Kak Hadi, apakah hubungannya dengan Clarissa akan berakhir?” tanya Adi prihatin.


“Itu sudah pasti. Aku tidak yakin Clarissa akan berbesar hati menerima anak Hadi dengan perempuan lain.” Aku mengusap keningku yang tidak gatal. “Tetapi entahlah. Bisa jadi aku salah. Mungkin saja Clarissa tidak peduli dengan hal itu dan masih mau menikah dengan Kakak.”


“Keduanya adalah pilihan yang sulit. Aku tahu Clarissa sangat sayang kepada Kakak. Kalau tidak, dia tidak akan mengejarnya segigih itu. Kasihan mereka,” ucap Adi pelan. Iya. Kasihan Clarissa dan Kakak.


Siapa gadis yang sudah tidur dengannya? Kemungkinan besar perempuan yang menelepon Kakak bukanlah gadis yang sama yang menghabiskan waktunya bersama Kakak di kamar hotel. Bagaimana bisa ada wanita muda yang mau meniduri seorang laki-laki yang tidak dia kenal? Ah, tetapi orang akan melakukan apa saja demi uang yang banyak.


Apa yang begitu membanggakan menjadi istri Kak Hadi sampai perempuan berlomba melakukan apa saja untuk memiliki cintanya? Apa enaknya memaksakan keinginan kita terhadap orang lain yang tidak tertarik dengan kita? Kak Hadi mirip seperti Papa. Meskipun pernikahan mereka bahagia, Papa tidak sepenuhnya lepas dari wanita yang mendamba menjadi istrinya. Syukurlah, Papa masih bisa menghindar dari para perempuan itu sampai sekarang.


Mungkin karena aku belum pernah kelaparan, jadi aku tidak bisa memahami mengapa orang rela melakukan segalanya demi uang dan kenyamanan hidup. Tetapi kalau aku bisa memilih, aku mau Papa dan Mama adalah orang biasa seperti Om Will dan Tante Gista. Mereka tidak punya banyak musuh. Ah, aku lupa. Pernikahan mereka juga tidak luput dari masalah.


“Ada apa, Dira?” tanya Vikal bingung. “Kamu dari tadi mendesah pelan terus.”


Kami sedang menunggu giliranku untuk mengikuti audisi bintang iklan. Vikal sudah mendaftar lebih dahulu, jadi aku tidak perlu menunggu terlalu lama. “Tidak ada apa-apa. Keluargaku sedang ada masalah, tetapi ini tidak ada hubungannya denganku.”


“Syukurlah. Kamu sudah cukup menghadapi masalah. Aku tidak mau kamu mengurung diri lagi jika ada masalah yang baru.” Vikal menepuk bahuku. Aku mengangguk pelan.


Colin tidak ikut bersama kami. Dia harus menemani Lily di rumah. Aku melarangnya datang dengan membawa adiknya serta. Lily tidak akan betah berada di tempat ini hanya untuk menunggu aku yang akan mengikuti audisi. Lagi pula aku belum tentu mendapatkan kontrak. Ada begitu banyak saingan lain yang jauh lebih muda dan menarik dariku.


Ketika giliranku tiba, aku menarik napas panjang sebelum berdiri. Vikal mengikuti aku dan panitia yang mengantar aku menuju ruang audisi. Asistenku bisa melihat dari jauh selama dia tidak bicara atau melakukan apa pun yang bisa mengganggu kelancaran audisi.


Ada tiga orang juri yang duduk di balik meja panjang di hadapanku. Mereka membaca formulir yang aku isi, lalu saling berdiskusi sebelum melihat ke arahku. Pria yang berada di tengah menatap aku dengan saksama dari kepala hingga kaki. Otakku menyuruh aku untuk segera pergi dari tempat ini, tetapi aku bertahan. Ini adalah ujian.

__ADS_1


“Erendira, kamu punya banyak prestasi sejak kecil. Kamu bahkan baru saja mengikuti pagelaran bergengsi mengenakan kebaya desain terbaik Ibu Riani.” Pria itu menatap aku dengan kagum. “Tidak mudah mendapat kesempatan dalam peragaan kebaya buatannya. Kamu pasti melakukan satu keahlianmu sampai terpilih menjadi penutup pagelaran dan berjalan bersamanya.”


Aku menahan diri untuk tidak mengerutkan kening mendengar pernyataannya yang aneh tersebut. Aku tetap tersenyum sewajarnya dan tidak menunjukkan reaksi lewat anggukan maupun gelengan kepala. Tetapi pria yang ada di sebelah kanannya dan wanita yang ada di sisi kirinya tidak menutupi apa yang mereka pikirkan.


“Apa maksud kamu, Mas? Keahlian apa?” tanya wanita itu.


“Apa kamu melakukannya di depan semua kru pada saat audisi atau hanya di ruang ganti?” tanya pria itu tanpa menjawab pertanyaan rekannya.


“Maaf, Om. Saya tidak mengerti,” kataku dengan jujur.


“Membuka pakaian. Kamu melakukannya di depan semua kru pada saat audisi atau di kamar ganti?” tanyanya terus terang.


Darahku berdesir dari kepala ke seluruh bagian tubuhku. Jantungku yang semula tenang mulai berdebar lebih cepat. Amarah dan geram bercampur menjadi satu. Beraninya dia tersenyum sinis saat mengatakan itu. Dia sudah membaca formulir di depannya. Aku punya reputasi yang baik selama mengikuti audisi dan menjadi duta merek apa pun yang memercayakan aku menjadi model mereka. Tetapi mendapatkan bagian dalam sebuah peragaan busana dengan membuka pakaian tidak pernah ada dalam agendaku.


“Lo? Kamu juga sudah lihat videonya yang viral itu. Orang kaya seperti mereka akan melakukan segala cara untuk tenar. Tiga orang yang dipenjara itu pasti komplotan mereka sendiri. Apa kamu tidak tahu semua itu hanya akal-akalan dia saja?” ucap pria jahat itu menuduh keluargaku.


“Mas boleh meragukan integritas gadis ini, tetapi menuduh Ibu Riani bukanlah tindakan bijak. Dia adalah seorang desainer kebaya yang dihormati banyak orang. Mas sudah melihat sendiri betapa cocoknya dia yang mengenakan kebaya indah itu.” Wanita itu membela Ibu Riani.


“Kamu sebaiknya diam saja atau aku akan meminta panitia untuk memecat kamu sekarang juga,” ancam pria itu dengan serius. Wanita itu menutup mulutnya. Pria itu kembali melihat ke arah aku. “Ayo, aku mau melihat sesempurna apa tubuhmu sampai Ibu Riani memilih kamu. Buka pakaianmu.”


Aku menunggu beberapa saat sebelum memberi respons. Namun tidak ada seorang pun yang ada di ruangan itu yang membuka mulut untuk menyatakan keberatan mereka. Pria ini jelas-jelas sudah menghina aku di depan semua orang. Kalau mereka sependapat dengannya, maka aku tidak mau menjadi bintang iklan produk mereka.


“Perusahaan ini memproduksi makanan. Untuk apa saya membuka pakaian, Om? Saya selalu menghindari iklan sabun mandi dan pakaian dalam, karena saya tidak perlu melepas baju.” Aku menatapnya dan kedua rekannya secara bergantian. Meskipun badanku gemetar, suaraku tetap tenang. “Bila membuka baju adalah salah satu syarat, maka saya undur dari audisi ini.”


Tanpa menunggu, aku menundukkan kepala sambil tetap tersenyum, dan menuju pintu keluar. Vikal segera berjalan di dekatku. Pria yang tadi membawa aku ke ruangan ini menunjukkan sikap prihatin saat membukakan pintu untuk kami. Aku hanya tersenyum dan bernapas lega begitu berada di luar ruangan yang menyesakkan tersebut.

__ADS_1


“Dasar orang gila,” umpat Vikal. Dia merangkul bahuku. “Kamu tenang saja, Dira. Kita tidak perlu berhubungan dengan orang jahat ini. Masih ada produk lain yang lebih menghargai calon modelnya.”


“Hanya satu orang yang mencari masalah, Vikal. Tidak semua orang itu yang berbuat jahat,” ralatku.


“Apa kamu tidak melihat? Mereka semua diam saja. Itu artinya mereka setuju dengan apa yang laki-laki itu lakukan kepadamu. Mereka semua adalah orang jahat,” ujar Vikal masih kesal.


“Temanmu berkata benar.” Terdengar suara seorang pria dari arah belakang kami.


“Oh, sial. Kakiku patah, jantungku sakit,” ucap Vikal mendadak latah. Aku tertawa mendengarnya. “Ah, ma-maafkan saya, Om. Saya tidak bermaksud menuduh Anda.”


“Tidak. Kamu benar. Kami seharusnya tidak diam dan membiarkan dia merendahkan Erendira.” Pria itu sedikit menundukkan kepalanya. “Aku mewakili semua kru meminta maaf kepadamu. Apa yang kami lakukan sangat tidak adil. Tolong, datanglah lagi besok. Kamu tidak perlu mengikuti proses wawancara, langsung saja mengikuti proses pemotretan dan pengambilan adegan.” Pria itu memberi sebuah amplop kepada Vikal.


“Tetapi, Om. Ini tidak adil.” Aku mengambil amplop itu dari Vikal yang menatap aku penuh protes dan mengembalikannya. “Saya tidak lolos wawancara, mengapa saya maju ke tahap berikutnya? Tidak, terima kasih. Sebaiknya, berikan amplop ini kepada yang lebih berhak.”


“Kamu justru lebih pantas menerimanya dibandingkan peserta lain. Kamu tetap bersikap sopan dan tenang meskipun rekanku sudah menghina kamu.” Dia mendorong amplop itu kembali kepadaku dan tidak mau menerimanya. “Aku mohon, datanglah besok untuk tes selanjutnya.”


Melihat tatapan memohonnya, aku terpaksa menerima pemberiannya tersebut. Tidak ada salahnya memenuhi permintaannya itu. Toh, aku belum tentu lulus. “Baik. Terima kasih atas kesempatan yang Om berikan kepada saya.”


“Semoga kamu beruntung.” Dia menoleh ke arah panitia yang memanggilnya, lalu kembali melihat aku dan Vikal. “Aku harus kembali. Senang bertemu denganmu.” Dia mengulurkan tangannya, maka aku menerimanya dan kami berjabatan tangan sesaat. Dia pergi setelah menjabat tangan Vikal.


“Dia pria yang baik,” ucap Vikal. Dia mengambil amplop itu dari tanganku dan membukanya. “Ini adalah informasi tempat, waktu, dan nomor pesertamu untuk tes selanjutnya. Kerja yang bagus.”


“Bukankah kamu tadi marah kepada semua orang itu? Mengapa kamu tidak meminta aku untuk menolak tawaran ini?” tanyaku menggodanya.


“Aku lapar. Ayo, kita makan. Aku yang traktir.” Dia melingkarkan tangannya di bahuku, lalu mengajak aku menuju pintu keluar. Aku tertawa karena dia tidak menjawab pertanyaanku. Tetapi kami segera berhenti melihat siapa yang duduk di salah satu kursi di ruang tunggu. Vikal segera melepaskan rangkulannya. “Selamat siang, Pak. Tidak biasanya Anda datang ke lokasi audisi.”

__ADS_1


__ADS_2