
*Hadi*
“Apa aku bilang? Mereka pasti terkejut melihat perubahan penampilan Kakak,” ucap Adi yang duduk di kursi kosong di sampingku.
“Tentu saja mereka terkejut. Aku terlihat jauh lebih cantik dengan warna rambut alamiku.” Dira menyisir rambutnya dengan jemarinya. Rambut yang semula berwarna cokelat sama seperti warna rambut Colin, kini berwarna hitam berkilau.
Dira tidak main-main. Dia serius memutuskan hubungan asmaranya dengan Colin. Mengubah warna rambut itu sama saja dengan tidak ada kesempatan atau jalan bagi Colin untuk kembali padanya. Ini benar-benar musibah besar bagi sahabatku yang bodoh itu.
Sejak mereka duduk di bangku sekolah dasar, Dira meniru apa saja yang Colin kenakan. Tentu saja Mama keberatan. Dira adalah anak perempuan, bukan laki-laki. Supaya Dira tidak kecewa dan tetap bisa tampil serasi dengan tunangannya itu, Mama membeli warna baju yang sama dengan yang Colin miliki. Jadi, mereka tetap terlihat harmonis meskipun tidak mengenakan pakaian yang sama.
Begitu Dira menjadi model remaja dan mengenal riasan, dia mengecat warna rambutnya sama seperti warna rambut Colin. Karena kulitnya yang pucat, warna rambut barunya terlihat cocok dan memberi dia penampilan yang lebih segar. Yang mengherankan, tawaran iklan produk terus berdatangan meskipun warna rambutnya tidak natural lagi.
“Sepertinya apa pun warna rambut kamu, pasti cocok untukmu. Tetapi dengan warna alami, kamu akan membebaskan wali kelasmu dari masalah,” goda Mila.
“Bagaimana kamu bisa tahu? Sekolahku memang aneh. Padahal mereka sudah memberi izin padaku untuk mengecat rambut demi pekerjaan. Tetap saja ada guru lain yang mencibir wali kelasku.” Dira duduk di samping Mila.
“Mengecat rambut demi pekerjaan?” kataku dan Adi serentak, mengulang kalimatnya tadi dengan nada mengejek.
“Kakak mengecat rambut supaya bisa kembar dengan Colin. Seluruh dunia juga tahu itu,” cibir Adi. Aku dan Mila tertawa mendengarnya.
“Anak kecil jangan ikut campur urusan orang yang lebih tua.” Dira menoleh ke arah Mila. “Jadi, apa yang kalian bicarakan sampai membahas tentang kalah dan menang? Apa kalian sedang taruhan? Kalian taruhan apa? Aku juga mau ikut.”
Mila melirik ke arahku. “Taruhan ini rahasia. Aku yakin Hadi keberatan bila adiknya sampai tahu dia kalah dariku nanti.”
“Aku tidak akan kalah,” kataku dengan tegas. Aku menoleh ke arah Dira. “Apa yang kalian tunggu? Kita harus segera pulang.”
__ADS_1
“Kami memesan minuman untuk dibawa pulang. Kita pergi setelah mereka selesai membuatnya.” Dira masih melihat ke arah Mila. “Ayo, jawab aku. Kalian taruhan apa? Aku serius ingin ikut.”
“Mila bertaruh aku akan menjadi orang pertama yang jatuh cinta kepadanya andai, tolong garis bawahi kata andai itu, tumbuh cinta di antara kami.” Aku menjawab pertanyaan konyol itu.
“Oh, aku ikut! Aku ikut! Maafkan aku, Kak. Tetapi kamu sudah dipastikan akan kalah. Jadi, aku bertaruh Mila yang akan menang,” sorak Dira seolah-olah dia sudah memenangkan taruhan.
“Kamu ini sebenarnya adik siapa?” ucapku pura-pura tersinggung. Aku ikut bahagia melihat Dira bisa menjadi dirinya sendiri saat bersama Mila. Bahkan saat bersama Wendy pun dia tidak sebahagia ini.
“Kalau begitu, aku juga ikut. Dan aku bertaruh untuk Kak Mila.” Aku mengangakan mulutku saat melihat ke arah Adi. Dia hanya mengangkat kedua bahunya. “Sebagai taruhannya, aku mengusulkan yang kalah membayar biaya liburan kita ke Puncak.”
“Tidak. Itu jumlah uang yang sangat besar,” kataku keberatan.
“Aku juga tidak setuju. Papa punya vila di puncak, itu terlalu murah.” Dira tersenyum licik dan aku memicingkan mata padanya. “Kita berlibur ke Bali saja. Om Brady dan Tante Dafhina pasti senang menerima kita di penginapan milik mereka.”
Om Brady dan Tante Dafhina adalah menantu dan putri Tante Darla, salah satu sahabat dekat Mama. Sejak memiliki anak pertama, mereka mengundurkan diri dari pekerjaan mereka di Jakarta untuk membuka penginapan di Bali. Penginapan mereka tidak pernah sepi, selalu saja ada tamu yang menginap di sana meskipun bukan akhir pekan.
“Kamu ini bagaimana, sih? Taruhan itu harus besar. Kalau kita ke Labuan Bajo, Papa sudah pasti akan membayar semua akomodasi kita. Lalu Kak Hadi tetap tidak keluarkan uang sepeser pun. Itu bukan taruhan namanya.” Dira memutar bola matanya. “Lagi pula kita baru dari sana dan aku bosan pergi ke pantai. Aku mau kali ini kita menginap di pedesaan. Jadi, penginapan Tante Dafhina adalah pilihan yang terbaik. Aku juga sudah rindu suasana Ubud.”
“Kita akan berlibur bersama, mengapa Kakak yang menentukan lokasinya? Itu tidak adil. Kita harus sepakat mengenai tempatnya baru kita bisa teruskan taruhan ini,” ucap Adi keberatan.
“Ya, sudah. Ayo, kita pungut suara. Siapa yang setuju berlibur ke Puncak?” tanya Dira. Tidak ada yang mengangkat tangan. “Labuan Bajo?” Adi segera mengangkat tangannya. Dira tersenyum penuh kemenangan. “Bali?” Dia dan Mila serentak mengangkat tangan mereka.
“Kak Mila curang!” protes Adi. “Kakak tidak mengatakan apa-apa saat Kak Dira mengusulkan tempat itu tadi. Mengapa Kakak malah mendukung dia sekarang?”
“Maafkan aku. Tetapi setelah aku pertimbangkan, aku punya cukup uang untuk membayar biaya perjalanan dan penginapan kita berlibur di Bali. Kalau aku kalah.” Mila melihat aku saat dia memberi penekanan pada kata kalau. “Dan juga, aku belum pernah berlibur sejauh itu bersama siapa pun. Kalian sepertinya teman perjalanan yang menyenangkan, jadi mengapa tidak?”
__ADS_1
“Jangan salah. Kami bertiga bukan satu-satunya orang yang akan ikut berlibur.” Dira menatap aku penuh arti sebelum dia menoleh lagi ke arah Mila. “Sahabatku Charlotte akan pulang dari Amerika. Dia pasti mau ikut juga. Kamu tidak bisa menolak dia karena tidak mau menerima kata tidak.”
“Charlotte? Siapa dia?” tanya Mila bingung. Wajar saja. Pada acara ulang tahun Dira, dia berkenalan dengan semua orang. Tetapi tidak satu pun dari mereka yang bernama Charlotte.
“Cucu Tante Lindsey. Apa kamu masih ingat dia dan Om Edu?” Mila menoleh ke arahku sebelum menganggukkan kepalanya. “Kami baru saja berkiriman pesan saat aku berada di salon. Dia dan Aunt Claudia akan tiba di Indonesia pada hari Senin nanti.”
*******
Sementara itu di sebuah kamar hotel~
Seorang pria bertubuh tinggi, berambut cokelat gelap, dan bermata hijau dengan setelan hitam membungkus tubuh atletisnya melihat keadaan kamar yang dimasukinya. Dia tersenyum puas, lalu duduk di salah satu kursi empuk.
“Ini hanya tempat tinggal sementara Anda sampai kami mendapatkan apartemen yang cocok sesuai gambaran Anda. Maafkan atas ketidaknyamanan ini. Anda datang tanpa memberi tahu, jadi kami—” ucap seorang pria yang usianya lebih muda dengan gaya penuh hormat bercampur takut.
“Aku tidak mengeluhkan apa pun, jadi kamu bisa diam. Aku terpaksa datang karena kalian semua sangat ceroboh sampai rencanaku nyaris gagal total. Bagaimana bisa kalian membiarkan gadis itu bertemu dengan mereka? Apa kalian bisa mengganti semua uang yang sudah aku keluarkan untuk melakukan rencana ini? Dasar orang-orang bodoh tak berguna!”
“Ma-maafkan saya, Pak. Saya sudah melakukan segalanya semampu saya untuk memperbaiki kesalahan kami ini. Kalau perlu, kami akan menyingkirkan gadis itu segera.” Suara pria yang lebih muda itu bergetar karena takut.
“BODOH!! Kapan aku pernah bilang aku mau dia mati!? Ha?? Aku adalah pengusaha terhormat, jadi aku tidak bisa terlibat dalam tindakan kriminal yang bisa mencoreng nama baikku! Keluar! Kau hanya membuat aku sakit kepala!” perintah pria yang lebih tua dengan berang. Pria muda itu tidak bergerak sedikit pun, melainkan tetap menundukkan kepalanya.
“Maafkan dia. Semua itu bukan kesalahannya. Anggap saja keberuntungan sedang berpihak pada gadis itu,” ucap seorang pria yang dari tadi duduk di hadapannya.
“Aku membayar kalian untuk menyingkirkan semua keberuntungan dari sisinya, dan kalian gagal. Yang pantas kalian dapatkan atas kesalahan kalian bukan pengampunan, tetapi hukuman. Kalian gagal menahan dia tetap berada di tempat yang jauh, sekarang dia sudah sangat dekat dengan mereka. Sampai kapan aku harus mendengar kabar buruk dari kalian?”
“Aku punya kabar buruk yang lain,” ucap pria yang duduk di hadapannya itu tanpa gentar.
__ADS_1
“Dia masih menolak untuk menerima pekerjaan yang baru?” tanya pria tua itu yang dijawab dengan anggukan. “Tawarkan uang yang lebih banyak kepadanya. Naikkan terus jumlahnya sampai dia mau menerima klien lagi. Mengapa mengerjakan hal sesepele itu saja kamu tidak becus?”