
*Hadi*
Clarissa Raina. Gadis kecil yang selama ini hanya menjadi kenangan dalam kepala dan ingatanku. Perlahan berubah menjadi seorang wanita muda yang tidak berhenti memberi aku kejutan. Aku tidak percaya dia adalah gadis yang sama yang Colin bawa pertama kali dan disebutnya sebagai pacar.
Dia menghadapi adik angkatnya yang tantrum dengan tenang, tetapi dia bisa bersikap sangat tegas pada Colin. Caranya menghadapi pria yang mengaku sebagai ayah kandungnya itu juga di luar dugaanku. Aku pikir dia akan senang karena akhirnya dia bertemu dengan orang tua kandungnya, ternyata dia bisa bersikap hati-hati, tidak terbawa emosi.
Kehidupan seperti apa yang telah dia lalui selama dia berada di luar sana? Apakah hidupnya begitu berat sehingga dia tidak mudah percaya kepada siapa pun? Melihat dia menangis untuk pertama kalinya, aku tidak terkejut dia tidak mau seorang pun melihat air matanya. Dia bahkan menutupi dirinya dariku tadi.
Namun apa yang aku lihat di depan mataku lebih mengejutkan dari semua itu. Dia bisa membela dirinya sendiri dari pria bertubuh lebih besar dan berotot darinya. Gerakannya lincah dan terukur sehingga dengan mudahnya dia menjatuhkan dua orang dalam waktu singkat. Aku seperti melihat salah satu adegan film laga di depan mataku sendiri.
Aku berusaha bersikap setenang mungkin agar dia tadi tidak semakin panik saat mobil menghadang kami. Padahal kenyataannya jantungku berdebar sangat kencang membuat aku kesulitan berpikir apa yang harus aku lakukan lebih dahulu. Berada dalam situasi seperti ini seorang diri lebih baik daripada ada orang lain yang harus aku lindungi.
Ternyata dia bisa melindungi dirinya sendiri. Dia sampai harus menyentuh tanganku untuk menarik perhatianku adalah pertanda bahwa aku melamun karena terpukau dengan keahlian bela dirinya. Gerakan demi gerakan yang dia lakukan tidak sembarangan, tetapi dilakukan dengan sistematis. Apakah dia belajar di perguruan tertentu?
Tidak mau kalah dengannya, aku berusaha memukul jatuh lebih banyak pria darinya. Aku tidak belajar ilmu bela diri secara khusus, tetapi aku tahu bagaimana melindungi diriku sendiri. Karena tujuan Papa meminta aku untuk belajar adalah untuk menjaga diriku, bukan mengikuti kompetisi.
Jantungku berdebar begitu cepat karena adrenalin membuat aku semakin waswas dengan gerakan cepat mereka yang berusaha untuk memukul aku. Tetapi aku lebih cepat dari mereka. Tindakan mereka semua sangat aneh. Jika mereka hanya ingin membawa Mila, mengapa mereka memukuli kami seperti ingin menghabisi nyawa kami?
Gerakan mereka semakin serampangan begitu melihat aku bukanlah lawan yang gampang. Aku sengaja membiarkan mereka kehabisan napas dan mempelajari gerakan mereka sebelum memukul dan membalas serangan mereka.
Aku terlalu fokus menangkis ayunan pemukul dua orang pria yang menyerang aku dengan membabi buta sehingga saat seseorang menepuk bahuku dari belakang, aku hampir mengarahkan pemukul padanya. Ternyata dia adalah orang yang disuruh Papa untuk menolong kami.
“Pergilah, Tuan. Kami yang akan mengambil alih dari sini.” Dia mengayunkan kakinya saat pria yang ada di depanku berusaha untuk memukul kepalaku. Tendangan itu mengenai sisi kepalanya dengan keras sehingga dia jatuh tersungkur di aspal. “Cepat, Tuan!” desaknya.
Sebuah mobil berhenti di sisi kami, dia menolong menyingkirkan sisa pria jahat yang mencoba menghalangi aku dan Mila untuk masuk ke kendaraan tersebut. Pria di belakang setir segera melajukan mobil begitu aku menutup pintu di sisiku.
“Bagaimana dengan barang-barangku?” tanya Mila khawatir. Dia menoleh ke ara belakang kami.
“Mereka akan membawanya ke rumah Tante Lindsey.” Aku merapikan pakaianku kembali, lalu menoleh ke arah pria yang duduk di depan. “Bukankah seharusnya ada orang yang mengikuti Mila ke mana pun dia pergi? Mengapa hari ini dia tidak ada?”
__ADS_1
Ada seorang pria yang Om Irwan kirim untuk menjaga Mila atas perintah Papa. Bukan hanya Mila, untuk Dira dan Adi juga. Sejak kehadiran pria bernama Colton atau Finley itu, Papa mengkhawatirkan ada yang akan mencoba menjauhkan kami dari Mila lagi. Pengawal untuk Dira dan Adi adalah untuk mencegah Vivaldo dan Nora menyakiti mereka, entah apa pun rencana mereka selanjutnya.
“Mereka berkhianat, Tuan,” jawab pria itu singkat.
Aku tidak percaya dengan pendengaranku sendiri. Aku sudah begitu tenang karena pria itu akan menolong kami mengatasi kedelapan pria itu tadi, ternyata setelah beberapa saat melawan mereka, dia tidak juga muncul. Aku tidak menduga bahwa akan ada pengkhianat di antara orang kepercayaan Om Irwan. “Apa yang terjadi padanya?”
“Dia sudah dibereskan.” Aku menelan ludah dengan berat mendengarnya. Itu jenis hukuman yang menakutkan. Bagaimana Om Irwan bisa menghabisi nyawa orang tanpa ketahuan, aku tidak akan bertanya. Itu urusannya dengan orang-orang kepercayaannya.
“Orang yang mengikuti aku?” tanya Mila dengan bingung. Dia memandang aku dan sopir itu secara bergantian. “Apa maksudnya, Hadi?”
“Papa meminta seseorang ditempatkan untuk menjadi pengawalmu sampai kita semua yakin bahwa pria bernama Finley itu bukan ancaman lagi. Kami yakin bahwa dia ada hubungan yang erat dengan hilangnya kamu saat masih kecil.”
“Aku bisa menjaga diriku sendiri. Jangan khawatir.”
“Jangan khawatir?” Aku menatapnya tidak percaya. Apa dia tidak sadar dengan apa yang baru terjadi? “Mereka menggunakan pemukul yang terbuat dari besi tadi. Apa kamu pikir mereka akan gunakan cara yang sama ketika akan menculik kamu pada kesempatan berikutnya? Tidak, Mila. Bisa saja mereka akan menggunakan senjata api dan kamu tidak akan bisa berkutik.”
Wajahnya yang semula terlihat percaya diri berubah pucat pasi. “Siapa laki-laki itu sebenarnya? Aku tidak punya kesalahan apa pun padanya, lalu mengapa dia tidak lepaskan saja aku? Wanita yang dia cintai sudah meninggal dunia, apa lagi yang dia mau?” tanya Mila heran.
Seluruh anggota keluarga yang ada di rumah bergegas berlari keluar rumah untuk menyambut kedatangan kami. Wajah Tante Lindsey dan Aunt Claudia sudah penuh dengan air mata. Pasti ada yang memberi tahu mereka apa yang terjadi pada kami.
Aku melihat Mama berlari ke arahku dan segera memeluk tubuhku dengan erat. Dia menangis tersedu-sedu dalam pelukanku. Aku mengusap-usap punggungnya, berusaha untuk membantunya menenangkan diri. Biasanya aku mengejek Mama bersikap berlebihan, tetapi kali ini aku tidak akan melakukan itu karena aku sadar bahwa yang kami baru lewati tadi bisa mengancam nyawa kami.
Tante Lindsey mengajak kami semua untuk masuk ke rumahnya. Para pelayan segera menyajikan minuman dan makanan untukku dan Mila. Aku menyentuh perutku menyadari aku belum makan siang. Mama membantu mengisi piringku, lalu memberikannya kepadaku dengan segunung nasi dengan berbagai lauk-pauk dan sayur di atasnya.
“Apa yang terjadi? Apakah mereka mengatakan sesuatu mengenai siapa yang melakukan semua ini?” tanya Tante Lindsey khawatir.
“Salah satu dari mereka menyebut tentang ayahku ingin aku pulang,” jawab Mila pelan. Hanya dia yang sempat menanyakan itu kepada pria yang menariknya keluar dari mobil. Aku tidak perlu bertanya, karena aku tahu siapa yang menjadi dalang dari kejadian tadi.
Aku sangat berterima kasih mereka menunggu sampai kami selesai makan untuk menanyakan hal itu. Pembicaraan ini akan berlangsung sangat lama, sedangkan aku sudah sangat lapar. Berkelahi dengan mereka menguras sisa tenagaku. Aku membiarkan Mila yang menjawab semua pertanyaan dan aku fokus menikmati camilan.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian terdengar bunyi mobil memasuki pekarangan. Pintu ruangan terbuka dan Papa berdiri di sana dengan wajah khawatir. Dia segera mencari aku, lalu mendesah lega melihat bahwa aku baik-baik saja. Dia segera mendekati aku untuk bisa memeriksa keadaanku.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Papa. Aku mengangguk pelan. Dia menepuk pipiku dengan senyum menghiasi wajahnya. “Mereka semua sudah dibawa ke kantor polisi. Aku yakin mereka tidak akan mau mengakui siapa yang telah menyuruh mereka melakukan semua ini. Tetapi mereka semua akan dipenjara untuk waktu yang lama.”
“Apa maksudmu, Hendra? Jadi, nyawa cucuku akan terus terancam dan kita tidak bisa berbuat apa-apa?” tanya Tante Lindsey panik.
“Lindsey, kami akan berusaha yang terbaik untuk membuat pria itu membayar semua kejahatannya. Kita hanya perlu sedikit bersabar. Aku berjanji kami akan menemukan cara untuk membalasnya segera. Kita semua akan menjaga Clarissa dengan baik.”
Tante Lindsey dan Aunt Claudia memegang tangan Mila dan menatapnya dengan khawatir. Aku mengerti dengan apa yang mereka rasakan. Tetapi Papa ada benarnya. Finley harus ditangani dengan hati-hati. Dia berhasil menjauhkan Mila dari kami selama bertahun-tahun, maka itu artinya dia bukan pria sembarangan.
“Hari ini seharusnya hari yang bahagia.” Tante Darla berdiri dari tempat duduknya. “Jangan biarkan insiden tadi merusak semua rencana kita.”
“Ah, iya. Kamu benar!” Tante Lindsey ikut berdiri, begitu juga dengan Aunt Claudia. Mereka berjalan keluar dari ruangan.
Aku menatap Mama dengan heran, tetapi aku menurutinya dengan ikut berdiri juga. Kami menuju ruang keluarga. Saat pelayan membukakan pintu terdengar teriakan Charlotte dari dalam ruangan. Mila melihat ke arah Tante Lindsey dan Aunt Claudia sebelum melepaskan tangan mereka dan mendekati saudaranya.
Ketika aku sudah berada di ambang pintu. Darah berdesir dari kepala ke sekujur tubuhku. Charlotte berdiri di sisi meja di mana ada foto Om Matias dan Aunt Abby sedang tersenyum bahagia. Seolah-olah ikut menyambut putri mereka yang telah lama hilang. Ucapan Charlotte tadi akhirnya ikut menyentuh hatiku juga. Selamat datang kembali, Clarissa. Kedua kakak beradik itu berpelukan sambil menangis terisak.
Belasan tahun berpisah, keluarga ini akhirnya bertemu kembali. Meskipun orang tua mereka tidak ada, aku yakin mereka menyaksikan pertemuan kedua putri mereka kembali dari atas sana. Finley Taylor. Dia akan membayar dengan harga yang sangat mahal atas perbuatan jahatnya ini.
*******
Author’s Note~
Hai, teman-teman.
Aku mengucapkan Selamat Menyambut Hari Raya Idul Fitri 1443 H kepada semua pembaca yang merayakannya. Selamat berkumpul bersama keluarga. Kalau belum bisa tahun ini, semoga di lain kesempatan ada rejeki dan waktu yang pas agar bisa kumpul lagi.
Bila aku punya kesalahan, mohon dimaafkan, ya. Selamat menikmati liburan panjang untuk kita semua.
__ADS_1
Salam sayang,
Meina H.