
*Hadi*
Ketika aku berdiri, kepalaku sangat pusing dan mataku berkunang-kunang. Colin berjalan di depanku, sudah tidak sabar untuk menjemput Lily. Aku tidak mau merepotkan dia, jadi aku memegang meja di dekatku. Setelah menunggu beberapa saat, pusing itu pergi. Aku bergegas menuju mobil.
Aku ingat aku membuka kunci mobil, membuka pintu, lalu duduk di jok depan. Tetapi aku tidak ingat apa pun setelah itu. Entah mengapa aku tidak bisa melawan mataku yang mendadak sangat berat. Saat aku membuka mataku lagi, aku sedang berbaring di sebuah kamar yang tidak aku kenal.
Menyadari bahwa aku sendirian dan tidak ada seorang pun bersamaku, aku keluar dari tempat itu. Melihat ada banyak pintu lain di koridor yang aku lewati, aku segera tahu bahwa aku berada di hotel. Siapa yang membawa aku ke tempat ini?
Aku memeriksa saku celanaku dan menemukan dompet serta ponselku masih ada di tempat yang aman, begitu juga dengan kunci mobilku. Tetapi aku tidak ingat di mana aku memarkirkannya. Tidak mau pusing, aku menelepon Pak Sakti dan meminta dia menjemput aku setelah membagi lokasiku.
Keluargaku menangis menyambut aku pulang. Kepalaku masih pusing, jadi aku tidak bisa menjawab semua pertanyaan yang mereka ajukan. Untung saja Papa melerai mereka dan mengizinkan aku untuk ke kamar dan beristirahat. Sekalipun aku sangat kelelahan, aku menyempatkan diri untuk mandi dan berganti pakaian.
Bangun pada keesokan harinya, aku baru sadar bahwa aku telah melakukan kesalahan besar. Aku lupa seharusnya aku membawa Clarissa untuk makan malam bersama keluarga kami. Begitu sampai di kantor, aku segera mencari dia. Tetapi Tegar memberi tahu bahwa dia meminta izin untuk datang terlambat. Dia harus ke kampus untuk menemui dosen pembimbingnya.
Gadis pintar. Dia tidak mau kalah denganku sehingga dia mempercepat menyelesaikan skripsinya. Bagus. Dengan begitu, kami bisa lulus bersama dan siapa tahu, kami juga bisa melanjutkan kuliah di kampus yang sama. Walaupun kami akan bekerja di perusahaan yang berbeda dan bergerak di bidang yang berbeda juga, selama kami berada di kota yang sama, maka kami bisa bersama.
Aku tidak tahu apa yang menyebabkan aku mengambil keputusan ini. Tetapi aku tahu bahwa aku sudah lelah membohongi diriku sendiri. Semua orang menunjukkan betapa konyolnya setiap kalimat dan tindakanku terhadap Clarissa. Mereka semua tahu perasaanku yang sebenarnya kepada gadis itu, jadi untuk apa lagi aku terus menipu diri?
Semoga saja Clarissa sekuat yang dia katakan kepadaku. Karena dalam tiga bulan ini dia harus bisa membuktikan bahwa dia tidak akan mengucapkan kata putus lagi. Bila satu syarat itu saja tidak sanggup dia penuhi, aku terpaksa menutup pintu hatiku untuknya selamanya.
Ponselku yang ada di atas mejaku bergetar. Membaca nama pada layar, aku tidak bisa menjawab panggilan masuk di luar urusan kerja. Dia pasti hanya mau pamer bahwa dia bertemu Clarissa. Tetapi Dira tahu bahwa aku tidak bisa diganggu pada jam kerja. Jika dia tetap nekat menelepon, mungkin ada hal yang buruk telah terjadi.
“Kak, cepat ke sini sekarang,” ucap Dira dengan suara panik setelah aku menyapanya.
“Ke mana? Aku sedang bekerja, Dira,” kataku mengingatkannya. Ketika dia menyebut nama sebuah rumah sakit, aku berdiri dan keluar dari bilikku. Dia tidak mengatakan siapa yang sedang sakit, tetapi aku menelepon Papa. Begitu Tante Gista yang menjawab, aku memberi tahu nama rumah sakit kepadanya dan meminta Papa untuk menyusul ke sana.
__ADS_1
Apakah Reese akhirnya lepas kendali dan menyakiti adikku? Oh, Tuhan. Apa yang dia lakukan kepada Dira? Ke mana Wyatt? Mengapa dia tidak menjaga adikku? Lalu bagaimana dengan pengawal yang bertugas menjaganya? Apa mereka semua sedang terlena dengan keadaan yang sangat damai akhir-akhir ini sehingga lalai?
Aku sangat kesal melihat lampu lalu lintas mendadak hanya punya lampu berwarna merah. Mengapa di saat aku perlu tiba secepat mungkin di suatu tempat, keadaan justru menghalangi niatku itu? Aku sudah bisa melihat gedung rumah sakit tujuanku, tetapi lampu merah itu lama sekali berubah hijau.
Orang pertama yang aku lihat di ruang UGD adalah Om Edu. Mengapa dia yang ada di sini? Ke mana Mama? Apa adikku salah menelepon orang? Namun saat aku melihat Tante Lindsey yang sedang menangis, ini bukan kesalahan. Aku berjalan mendekat dan melihat adikku sedang berpelukan dengan Charlotte. Mereka berdua baik-baik saja. Begitu juga dengan Wyatt dan Wendy. Lalu siapa yang sedang sakit?
Merasakan seseorang menepuk bahuku, aku menoleh. “Cole? A-apa yang terjadi?” Semua orang melihat ke arahku. Dira orang pertama yang mendekati aku dan memeluk aku dengan erat. Aku semakin tidak mengerti.
Isakan Charlotte dan Tante Lindsey pun menyadarkan aku. Clarissa. Jantungku berdebar dengan cepat. Aku bisa merasakan tubuhku gemetar. Aku menatap sahabatku, masih menunggu dia menjawab pertanyaanku. Melihat dia kesulitan untuk berkata-kata, dugaanku pasti benar.
“Clarissa … jatuh dari tangga di kampus.” Colin berhasil mengucapkan kalimat itu dengan susah payah. “Dia sedang ditangani oleh dokter. Setelah berteriak kesakitan sepanjang perjalanan ke sini, dia akhirnya tidak sadarkan diri. Mereka sedang menyiapkan dia untuk menjalani operasi.”
“Jatuh? Bagaimana dia bisa jatuh? Tiga tahun lebih dia kuliah di kampus itu, bagaimana bisa hari ini dia jatuh dari tangga??” tanyaku menuntut kejujuran. “Apa ada yang kamu sembunyikan dariku?”
“Colin tidak menyembunyikan apa pun,” kata Wyatt menengahi. “Semua orang masih terkejut. Yang aku tahu dari cerita teman-teman, Reese yang mendorong Clarissa sampai dia jatuh dari tangga.”
“Operasi tadi, operasi apa yang kamu maksud?” tanyaku kepada Colin.
Dia masih tidak bisa bicara. “Dokter mengatakan bahwa kakinya patah, jadi mereka harus segera memperbaiki posisinya. Mereka sedang memastikan bahwa Clarissa tidak punya penyakit apa pun yang sedang dia derita yang bisa mengganggu jalannya operasi nanti.” Wyatt yang menjawab.
Kakinya patah? Bila mereka sampai harus mengoperasinya, apakah dia akan baik-baik saja? Dia masih bisa berjalan lagi, ‘kan? Tidak. Aku tidak boleh memikirkan hal yang buruk. Dokter pasti akan mengusahakan yang terbaik. Ada satu hal penting yang harus aku lakukan.
“Di mana Reese? Ada di mana perempuan jahat itu?” tanyaku yang tidak menyembunyikan rasa marahku. Colin hanya menggelengkan kepalanya. Aku menoleh ke arah Wyatt.
“Kami semua konsentrasi pada keadaan Clarissa, jadi tidak ada yang melihat gadis itu,” jawab Wyatt.
__ADS_1
“Orang Irwan sudah membawanya ke kantor polisi,” kata Papa yang datang dari arah belakangku. Aku merasa lega melihat dia ada di sini bersama kami. “Video jatuhnya Clarissa di tangga itu viral di media sosial. Terlihat jelas siapa yang mendorongnya. Jadi, kita punya bukti dan saksi mata yang cukup untuk menahannya.”
Aku segera mengeluarkan ponselku dari saku. Tangan Papa menghalangi aku untuk membuka layar ponselku itu. “Sebaiknya jangan, Nak. Video itu … aku saja tidak sanggup melihatnya.”
“Keluarga Clarissa?” ucap seseorang. Om Edu segera mendekat. “Pasien sudah siap untuk dioperasi. Tolong, bubuhkan tanda tangan di sini.”
Papa segera mendekat dan ikut membaca isi dari kertas yang diberikan oleh suster tersebut. Melihat Papa tidak lagi menghalangi aku, maka aku membuka mesin pencarian. Sebelum mengetikkan apa pun sebagai kata petunjuk, layar itu menampilkan video terbaru yang salah satunya menggambarkan suasana mirip gedung kampusku.
Aku memilih video itu, menunggu sampai situs itu terbuka, lalu memainkannya. Ada wajah seorang gadis yang sedang bicara ke arah kamera. Aku tidak menyalakan volume agar tidak mengganggu suasana ruangan yang sedang sibuk menangani pasien.
Ketika gadis itu berjalan dan kamera mengikutinya, aku melihat ke arah tangga yang dimaksud. Clarissa dan Charlotte menuruni tangga, lalu memutar di bordes. Saat Clarissa akan menurunkan kakinya, sebuah tangan mendorongnya sehingga dia kehilangan keseimbangan dan jatuh.
Kamera itu tetap mengarah ke Charlotte dan pelakunya. Reese. Aku tidak bisa melihat ekspresi wajahnya dengan jelas, karena jaraknya terlalu jauh. Kamera itu lalu mengarah ke Clarissa, tetapi tubuhnya segera ditutupi Colin yang berlari mendekatinya.
Pada saat kami tidak sengaja bertemu Reese dan asistennya di depan toko kue, aku tidak menyangka kejadian itu akan berakhir begini. Dia memang terlihat marah menyadari bahwa aku dan Clarissa punya hubungan khusus. Tetapi apa yang terjadi di kampus sampai dia tega mendorong Clarissa?
*******
Sementara itu di kantor polisi~
“Lepaskan aku dari sini! Aku tidak bersalah! Video itu bohong! Bukan aku pelakunya!” teriak Reese penuh protes kepada polisi yang hanya mengabaikannya.
“Hei! Jangan berisik! Sudah cukup kau ganggu tidurku!” Seorang wanita memukul teralis yang memisahkan selnya dan Reese.
Reese tidak memedulikan perempuan itu dan terus saja berteriak sambil mengguncang pintu selnya. Dia berhenti ketika pintu masuk terbuka dan seseorang yang dia kenal muncul. Seorang wanita ikut masuk bersama dengan seorang perwira polisi.
__ADS_1
“Dad! Mom! Apa kalian datang untuk menolong aku? Syukurlah. Cepat, buka pintu ini! Aku sudah tidak sabar untuk pulang!” sorak Reese senang. Tetapi sepasang suami istri hanya terdiam. “Ada apa dengan kalian? Cepat, buka pintunya!”
Carl menatap putrinya itu tanpa ekspresi, sedangkan Bianca mulai menangis tidak percaya. “Clarissa sudah bertahun-tahun tidak mengganggu hidup kita lagi. Apa yang baru saja kamu lakukan, Reese? Mengapa kamu sampai bertindak sejauh ini?”