
*Colin*
Dalam perjalanan menuju rumah keluarga Hadi, kami hanya diam saja. Dad mengingatkan aku sekali lagi agar menggunakan kesempatan itu untuk bicara dengan Uncle Hendra. Jantungku berdebar sangat cepat membayangkan harus bicara dengan pria yang aku segani itu.
Uncle Hendra adalah pria yang baik. Aku tidak perlu takut padanya. Tetapi aku telah melakukan satu kesalahan besar yang tidak akan termaafkan. Dia menitipkan putrinya kepadaku, malah aku sakiti. Aku sudah pernah menyaksikan sendiri bagaimana dia memperlakukan orang yang telah berani menyentuh keluarganya.
Pada saat kami kelas tiga SMU semester terakhir, Hadi ditemukan berdua saja dengan seorang siswa putri di ruang kesehatan. Gadis itu duduk di salah satu dipan dengan seragam terbuka paksa dan roknya terangkat hingga ke pinggang dengan bekas cakaran terlihat jelas di sisi salah satu pahanya. Hadi yang menatapnya dengan pandangan kosong berdiri di sisi dipan tersebut.
Karena gadis itu berteriak histeris, semua orang, terutama guru tidak berpikir sebelum bertindak. Mereka memarahi Hadi, mengusirnya keluar dari ruangan, lalu berusaha untuk menenangkan gadis yang berteriak minta tolong itu.
Seorang pemuda tiba-tiba saja melayangkan tinjunya ke wajah Hadi, yang dengan cepat segera ditangkisnya dengan tangannya. Siswa lain hanya berani mengata-ngatai Hadi sebagai laki-laki rendahan tidak tahu malu, pemerkosa, penjahat, tetapi tidak ada yang berani menyentuh dia. Karena mereka semua tahu siapa ayahnya.
“Beraninya kau menyentuh pacarku! Apa karena ayahmu orang kaya, jadi kau pikir semua gadis di sekolah ini mau memberikan badannya untukmu!? Baj*ngan! Kau pantasnya dipenjara! Kali ini kau pasti akan dikeluarkan dari sekolah! Orang kaya berengsek!” Dia terus menghujani Hadi dengan tinju yang dilayangkan dengan sembarangan yang ditangkis dengan mudah.
Aku yang muak melihat semua orang mendadak percaya bahwa Hadi adalah orang jahat segera menjauhkan pemuda gila itu darinya. Guru datang untuk membubarkan kerumunan, lalu meminta Hadi untuk pergi ke ruang guru. Masih dengan tatapan kosong, dia melihat guru tersebut sebelum berjalan menuju ruang guru. Aku mengikutinya.
Kesempatan itu aku gunakan untuk menghubungi Uncle Hendra. Dia tidak butuh detailnya dan berjanji akan segera tiba secepatnya. Kami hanya duduk tanpa melakukan apa pun saat tiba di ruang guru. Para pengajar yang ada di ruangan itu belum tahu-menahu apa yang telah terjadi.
Saat seorang guru yang aku tahu menangkap basah Hadi di ruangan itu datang, dia tidak bertanya sebelum melayangkan sebuah tamparan di wajah Hadi. Tidak pernah ada seorang pun yang berani melakukan hal senekat itu padanya sebelumnya. Jadi, aku mengerti mengapa semua guru menarik napas terkejut melihat dia melakukan hal itu.
“Anak berengsek, tidak tahu diri! Apa kamu hobi nonton film porno? Itukah yang kamu lakukan di waktu senggangmu? Aku tahu semua nilai tinggimu itu palsu karena kamu mudah saja mendapatkan itu dengan pengaruh ayahmu. Jangan pikir karena semua guru di sini takut padamu, maka aku juga begitu. Memalukan! Sekolah ini seharusnya tidak menerima siswa mesum seperti kamu!”
Kejadian itu berlangsung sangat cepat sehingga aku terlambat bereaksi. Aku baru sempat berdiri di depan Hadi ketika satu tamparan telah mendarat di pipinya. Uncle Hendra akan sangat marah melihat wajah putra sulungnya nanti.
Entah apa yang dikatakan gadis itu sehingga guru ini begitu marah. Tetapi apa hubungannya antara kejadian hari ini dengan nilai akademik Hadi yang sempurna dan pengaruh ayahnya? Hadi belajar keras untuk mendapatkan prestasi yang baik di sekolah ini, tidak ada campur tangan papanya.
__ADS_1
“Bu, hentikan. Jangan lakukan ini. Mengapa Ibu memukul dia sebelum bertanya?” Dua orang guru wanita datang mendekat dan menjauhkan dia dari Hadi.
“Mau bertanya apa lagi? Dia mau menggagahi siswa putri kita di ruang kesehatan. Buktinya sudah jelas. Dokter sekolah sedang memeriksa keadaannya, dia akan menyusul ke sini dan memberi tahu kalian laki-laki seperti apa dia,” tudingnya penuh amarah.
Dokter sekolah datang bersamaan dengan kedatangan Uncle Hendra, Uncle Zach, dan Mama. Pria itu sangat berang saat melihat bekas tamparan pada pipi kiri Hadi. Pipi pucatnya itu menunjukkan cap tangan yang berwarna kemerahan dengan jelas. Jika tatapan bisa membunuh, mungkin guru itu sudah kehilangan nyawanya hanya dengan pandangan tajam papa Hadi.
Uncle Hendra menahan diri sekuatnya ketika mendengar penjelasan dokter sekolah mengenai keadaan siswa putri yang mengaku akan diperkosa Hadi. Dia mendapati bekas cakaran pada sisi paha siswa itu aneh. Bila Hadi yang melakukannya, seharusnya tidak ada bekas di sana karena kulit bertemu dengan kulit. Bekas kuku itu adalah bukti bahwa gadis itu sendiri yang mengangkat roknya dengan terburu-buru. Setelah dia bertanya dengan serius, gadis itu mengaku bahwa Hadi memang tidak menyentuhnya. Dia menuduhnya karena pemuda itu terus-menerus menolak cintanya.
Siswa itu meminta maaf, tetapi dia harus keluar dari sekolah dan melakukan pertemuan pers untuk menjelaskan bahwa video dan foto yang telanjur disebarkan oleh para siswa itu bohong. Guru yang menampar Hadi dipecat secara tidak terhormat dan tidak bisa lagi mengajar di sekolah mana pun. Lalu pemuda yang mengaku pacar siswa putri itu dikeluarkan dari sekolah.
Masalah sebesar itu dilakukan dengan cepat dan efektif dalam hitungan jam. Aku yakin kepala sekolah sedikit membasahi celananya sendiri saat mendengar Uncle Hendra akan bicara dengan kepala dinas pendidikan bila hal serupa sampai terjadi lagi. Tuduhan pelecehan itu tidak seberapa dibandingkan sikap guru yang memukul siswa tanpa melakukan penyelidikan lebih dahulu. Aku tidak pernah merasa setakut itu pada Uncle Hendra.
Sejak kejadian itu, Hadi menjadi dingin dan tidak peduli dengan orang lain, terutama perempuan, saat mereka meminta tolong. Dia tidak mau lagi peduli dengan mereka yang mengaku sedang sakit dan butuh bantuan ke dokter atau rumah sakit. Dia lebih memilih membiarkan orang lain yang melakukannya. Dia juga tidak pernah berada dalam satu ruangan dengan seorang perempuan.
Hatinya yang memang tidak pernah tersentuh oleh gadis mana pun semakin mati rasa karena ulah siswa putri itu. Dia langsung menatap siapa pun dengan tajam setiap kali membicarakan tentang asmara. Bila mereka tetap nekat membahasnya, maka dia akan pergi dari tempat itu.
Dan aku sangat menyesal telah jatuh dalam perangkap Vivaldo dan Nora. Bodoh! Seharusnya aku jujur saja pada Hadi sejak pertama bertemu dengan mereka. Bukan bersikap sok pahlawan dengan berusaha untuk menyelamatkan muka keluarga mereka. Aku pantas untuk dibenci oleh keluarga ini karena telah menyakiti Dira. Tetapi aku harus bersikap jantan dengan bicara pada ayah dan ibunya.
“Kak Diah? Kehormatan apa yang membuat Adi bisa memaksa Kakak datang ke acara seperti ini?” tanyaku yang terkejut melihat istri dalam game Adi bisa menghadiri perayaan ulang tahunnya.
“Halooo … ini bukan malam minggu,” ucapnya mengejekku. Aku tertawa. “Kalian selalu membuat acara pada malam minggu, dan kalian sudah tahu mengapa aku tidak bisa datang.”
“Kamu bisa meniru Colin dengan sesekali membawa pacarnya ke acara kita. Apa pacar kamu itu laki-laki yang benci game?” tanya Adi penasaran.
“Dia suka game, tetapi permainan kartu.” Diah menutup mulut menyembunyikan tawanya. Kami terbahak mendengarnya. “Membosankan, aku tahu. Yaah, setidaknya dia tidak melarang aku untuk bermain game kesukaanku.”
__ADS_1
“Berhenti bicara, mana kado dari kalian?” tuntut Adi dengan tangan kanan terulur ke arah kami.
“Kamu belum periksa karakter utamamu hari ini? Aku sudah mengirimkan hadiah untuk suami dalam game-ku.” Diah mengedipkan sebelah matanya.
“Oh, ya?” Adi segera mengeluarkan ponselnya dari saku celananya dan membuka aplikasi game kami. “Wow, Diah. Ini weapon skin yang aku inginkan! Terima kasih!”
“Periksa lagi baik-baik,” kata Diah sambil mengangkat kedua alisnya saat menatap aku.
“Kamu memberi aku costume terbaru juga!? Ini kado terbaik yang pernah aku terima! Tetapi ini, ‘kan, tidak murah. Seharusnya kamu tidak mengeluarkan uang sebanyak ini hanya untuk game.”
“Aku ingin saat kamu akhirnya memutuskan untuk menjual karakter itu, kamu bisa menjualnya dengan harga mahal. Maka aku akan sangat bangga pernah menjadi istrinya.”
“Weapon skin dan costume? Itu tidak seberapa. Seharusnya kamu juga periksa kado dariku,” kataku tidak mau kalah.
“Tidak ada pemberitahuan yang lain pada karakterku ini.” Adi menatap aku dengan bingung.
“Karena aku tidak memberi sesuatu untuk karaktermu, melainkan akunmu.”
Adi segera keluar dari aplikasi tersebut dan membuka akun surelnya. Matanya membulat terkejut sehingga aku tersenyum puas. Diah cemberut melihatnya. “Voucher ini banyak sekali, Colin.”
“Kamu bisa membeli apa pun yang kamu mau. Weapon skin, costume, skill tambahan, apa saja. Bahkan kado untuk istrimu.” Aku melirik ke arah Diah.
“Tentu saja hadiahmu lebih mahal. Bagaimana bisa aku mengalahkan seorang sultan?” Diah mendengus keras. Kami tertawa mendengarnya.
Perayaan itu berlangsung dengan meriah. Dan kami tidak berhenti bicara mengenai game dan strategi terbaru kami untuk menghadapi perang berikutnya saat makan malam bersama. Aku sesekali melihat ke arah Dira yang duduk bersama Hadi dan sahabatnya. Aku merindukan dia, tetapi tidak bisa mendekat karena kebodohanku sendiri.
__ADS_1
Saat aku melihat Uncle Hendra dan Aunt Zahara sedang berdua saja, aku menoleh ke arah Dad. Dia sedang menatap aku dan segera memberi sinyal agar aku mendatangi mereka. Aku menarik napas panjang begitu merasakan debaran jantungku semakin cepat. Aku pamit kepada teman-temanku, lalu mendekati pasangan tersebut.
“Maaf, Uncle. Apa kita bisa bicara sebentar?” tanyaku dengan sopan. Dia menatapku tanpa ekspresi, lalu mengangguk pelan. Aku menelan ludah dengan berat. Ya, Tuhan. Aku sangat takut pada pria ini.