
“Clarissa, kamu diam dan jangan bergerak,” kataku melihat ular itu sudah memutuskan siapa yang akan didekatinya di antara kami berdua. “Ular itu tidak akan mematuk kamu jika kamu diam.”
Bukannya terlihat panik, gadis itu malah tersenyum. Dia mengambil tudung saji besar di atas meja di dekatnya dan menutup ular dengan benda tersebut. Aku sampai menahan napas melihat kenekatan, atau lebih baik jika aku katakan, keberaniannya tersebut. Siapa perempuan ini? Bagaimana bisa dia tidak takut sama sekali dengan ular sendok itu?
Pelayan yang melihat kejadian itu segera mendekati Clarissa dan mengambil alih tudung saji tersebut. “Terima kasih, Nona. Pada jam ini memang sering ada ular yang muncul di pekarangan. Kami akan mengamankannya sekarang.”
“Baik, Pak.” Clarissa mundur, membiarkan pria itu melakukan tugasnya. Aku masih menatapnya tidak percaya. “Ayo, Hadi. Biarkan bapak ini melakukan tugasnya.”
Kami mundur beberapa langkah. Seorang rekannya datang membawa sebuah karung kecil dan pria itu memasukkan ular yang sudah dia pegang erat-erat bagian kepala dan mulutnya itu ke karung tersebut. Mereka segera pergi membawa ular itu entah ke mana.
“Yang kamu lakukan itu sangat berbahaya, Clarissa. Ular tadi bisa saja mematukmu,” kataku tidak peduli jika aku terdengar khawatir.
“Aku baik-baik saja, ‘kan?” katanya santai. “Aku sudah terbiasa bertemu ular selama aku masih kecil, Hadi. Aku tahu bagaimana menghadapi mereka.”
Aku memilih untuk diam dan tidak melanjutkan pembicaraan kami. Kalau ada yang mendengar, mereka bisa salah paham dan berpikir bahwa aku berniat kembali kepada gadis ini. Jadi, aku memilih duduk di salah satu kursi dan menunggu keluarga kami bergabung bersama kami.
Tante Dafhina sangat terharu dengan jalannya acara yang sudah kami siapkan. Kami merayakan ulang tahun pernikahannya, lalu Wyatt bermain gitar dan Charlotte bernyanyi menghibur kami semua dengan suara merdunya. Kami duduk mengelilingi api unggun ketika mereka menyanyikan lagu cinta yang membuatku tidak nyaman. Tetapi aku tidak bisa protes, karena ini acara pernikahan, wajar saja lagu yang mendominasi bertema cinta.
Pada hari Sabtu, kami bebas melakukan aktivitas masing-masing. Tentu saja para wanita sepakat untuk pergi ke pantai, lalu ke pasar seni untuk berbelanja. Hal yang membosankan. Karena tinggal di kamar lebih membosankan lagi, aku ikut bersama mereka.
Aku berenang di pantai dan mengabaikan para pasangan yang sedang di mabuk asmara di sekitarku. Berbelanja ke pasar juga aku lakukan dengan santai. Para perempuan sibuk memilih barang-barang yang menarik perhatian mereka, kami para pria hanya mengikuti ke mana mereka melangkah.
“Berhenti memasang wajah menjengkelkan itu,” kata Papa yang berjalan di sisiku. “Masa kamu tidak bisa bersikap elegan di depan perempuan yang sudah menolak kamu? Tunjukkan kepadanya bahwa dia tidak berhasil menyakiti kamu.”
“Aku tidak memasang wajah menjengkelkan,” kelitku membela diri.
Papa menunjuk ke arah cermin di dekat kami. “Lihat saja sendiri, kalau kamu tidak percaya.” Aku tidak mau melakukannya, karena aku tahu Papa tidak akan berbohong. “Aku pernah melakukan kesalahan dengan menunggu selama lima tahun untuk kembali kepada ibumu. Jangan ulangi kesalahan yang sama dengan bersikap begini.”
“Aku tidak mau membicarakan ini.”
__ADS_1
“Menyangkal perasaan hanya akan membuat dirimu sendiri susah, Nak. Aku tidak bermaksud jahat. Hanya mencoba untuk mencegah kamu melakukan kesalahan yang sama.” Papa menepuk bahuku. “Clarissa gadis yang baik. Mamamu suka kepadanya, lalu apa yang kamu tunggu? Maafkan apa yang sudah dia lakukan dan mulailah awal yang baru.”
Mengatakannya tidak semudah melakukannya. Apa wajahku sekentara itu, ya? Mengapa semua orang menganjurkan aku agar kembali kepada Clarissa? Sepertinya mereka semua lebih peduli kepadanya daripada aku. Mereka mengenal aku lebih lama, tetapi Clarissa yang berhasil mendapat dukungan dari semua orang. Ini tidak adil.
Aku melihat Mama meletakkan sebuah baju di depan tubuh Clarissa dan tertawa bahagia dengan Tante Lindsey. Bahkan mamaku sendiri mengkhianati putranya. Apa yang begitu istimewa pada Clarissa sehingga mereka semua ingin kami kembali bersama?
Gadis itu tidak butuh laki-laki. Apa mereka semua tidak tahu itu? Dia bisa melindungi dirinya sendiri dari serangan penjahat, bisa mengatasi binatang berbisa yang mencoba mendekatinya, dia bahkan membayar semua uang yang digunakan orang tua angkatnya untuk membesarkan dia.
“Ya, ampun, Kak. Berhenti memasang wajah itu. Tersenyumlah. Liburan sudah bearkhir, kita akan kembali ke Jakarta. Kakak tidak perlu bertemu dengan Clarissa selama beberapa hari ke depan.” Adi tersenyum penuh arti. “Ayo, kita ke lobi sekarang.”
Kami berpapasan dengan dua sejoli yang sedang dimabuk asmara di depan elevator. Seperti yang aku khawatirkan, Clarissa menyusul kemudian bersama Lily. Aku terpaksa ikut bersama mereka ke dalam lift. Kedua pasangan itu sengaja bergelayut mesra di depanku. Padahal aku tidak cemburu dengan kedekatan mereka. Pacaran tidak masuk dalam kamusku untuk lima tahun ke depan.
Seorang pelayan menyambut kami di lobi dan meminta kami meninggalkan koper kami kepadanya. Lalu dia mempersilakan kami untuk makan siang terlebih dahulu di ruang makan. Tante Dafhina dan Om Brady sudah menunggu kami di sana.
Kami dipersilakan untuk mengambil makanan kami masing-masing. Mereka tidak perlu memintanya dua kali. Kami segera menuju meja saji dan mengisi piring kami. Karena para orang tua belum datang, aku bisa duduk di kursi yang aman, jauh dari Clarissa. Makanan yang aku santap pun terasa lebih nikmati dari biasanya.
“Apa saja akan aku lakukan asal hari peringatan pernikahan kalian lebih berkesan.” Tante Darla memeluk dan mencium putrinya tersebut.
Setelah berpamitan, kami semua memasuki mini bus yang akan mengantar kami ke bandara. Aku bernapas lega. Akhirnya, kami akan kembali ke rumah dan aktivitas kami sehari-hari. Aku perlu mencari bahan yang cukup untuk menyelesaikan skripsiku. Jadi, begitu kuliah kembali dimulai, aku bisa berdiskusi dengan dosen pembimbingku.
“Wah, wah. Yang selama beberapa hari cemberut dan berwajah menjengkelkan, akhirnya tersenyum kembali,” goda Papa. Aku hanya mendelik sesaat ke arahnya.
“Itu hal yang wajar, Pa. Aku pernah berada di posisinya.” Dira menatap Colin yang duduk di sisinya. “Tetapi masa itu sudah lewat dan aku bahagia bisa bersama sayangku lagi.”
“Kalian semua sepertinya meniru sifat keras papa kalian. Dia juga begitu dahulu.” Mama mengejek Papa yang hanya tertawa mendengarnya.
“Apa kamu lupa bahwa kamu juga tidak kalah kerasnya denganku? Hm?” Papa menekan ujung hidung Mama. Kami serentak mengerang melihat kemesraan mereka.
Kami tiba di bandara Soekarno-Hatta pada sore hari. Aku pikir kami akan menuju pintu keluar untuk masuk ke mobil. Ternyata para orang tua mengajak kami untuk makan terlebih dahulu. Hal yang tidak akan aku tolak, karena perjalanan menuju rumah akan membutuhkan waktu hampir dua jam.
__ADS_1
Semua orang terlihat bahagia meskipun baru melakukan perjalanan yang melelahkan. Rasa penat usai berenang di laut dan berbelanja di pasar seni mulai terasa di tubuhku. Aku yakin para orang tua lebih merasakan lelah lagi.
“Ah, mereka sudah mendarat!” seru Tante Lindsey kepada kami semua. Aku mengerutkan kening tidak mengerti siapa yang sedang dia bicarakan.
“Ciiee, Clarissa akan segera bertemu dengan penggemar barunya.” Charlotte mengedipkan sebelah matanya kepada kakaknya. Ooo. Jadi, itu alasan kami semua makan di sini. Mereka menunggu sampai Aunt Claudia dan rombongannya tiba.
“Apa kalian akan ikut berlibur ketika mereka ke Bali nanti?” tanya Tante Darla kepada Tante Lindsey.
“Tidak.” Tante Lindsey bertukar pandang dengan suaminya. “Edu tidak mungkin meninggalkan usahanya terlalu lama. Dia masih punya tanggung jawab sampai Clarissa atau Charlotte siap untuk mengambil usaha keluarga kami.”
“Jangan khawatir, Kakek. Aku akan lulus sebelum tahun ini berakhir. Jadi, Kakek sudah bisa bersiap-siap untuk pensiun,” kata Clarissa menghiburnya.
“Aku sudah tidak sabar untuk meninggalkan kantorku untuk selamanya dan berdua saja dengan istriku sepanjang hari di rumah.” Om Edu merangkul Tante Lindsey dan mereka tertawa bersama.
Setelah mendapat kabar bahwa Aunt Claudia menuju tempat pengambilan bagasi, kami berdiri dan keluar dari restoran tersebut. Kami berjalan menuju gerbang keluar kedatangan internasional. Aku melihat Clarissa beberapa kali mendesah pelan sambil menatap kedua sepatunya. Dia kelihatan tidak antusias dengan kedatangan neneknya kali ini. Padahal biasanya dia bahagia menyambut kunjungan kakek dan neneknya tersebut.
“Ah, itu mereka!” seru Tante Lindsey. “Claudia! Mason!” Dia melambaikan tangannya ke arah mereka yang segera menoleh dan tertawa bahagia.
Aunt Claudia dan Uncle Mason mempercepat langkah mereka. Ada tiga orang berwajah asing yang juga berkebangsaan Amerika berjalan di belakang mereka. Aku menebak bahwa pemuda itu adalah orang yang disebut-sebut oleh Wyatt dan Clarissa.
“Clarissa sangat beruntung! Luca bahkan lebih tampan dalam kehidupan nyata daripada fotonya!” pekik Charlotte tertahan. Aku mengabaikan sorakan senangnya itu.
“Hai, semua!” sapa Aunt Claudia bahagia. “Mengapa kalian semua menyambut kedatangan kami? Aku sudah meminta Lindsey untuk langsung pulang. Kami bisa datang sendiri ke rumah mereka.”
“Apa serunya hanya menunggu kamu yang datang sendiri? Kami menunggu sambil makan malam, jadi tidak terasa lama.” Tante Lindsey dan Aunt Claudia saling berpelukan.
Di saat semua orang bergantian menyambut dan memeluk Aunt Claudia dan Uncle Mason, seorang pemuda mendekati Clarissa dan mengabaikan yang lain. Dia mengulurkan tangannya kepada gadis itu yang disambutnya dengan enggan. Ada apa dengan Clarissa? Dia berhadapan dengan pemuda yang membuat adiknya sendiri cemburu. Apa dia tidak suka dengan laki-laki tampan itu? Apalagi mereka terlihat serasi dengan penampilan fisik sama-sama kaukasoid.
Itu yang ada di dalam pikiranku. Tetapi tubuhku berpendapat berbeda. Kakiku melangkah mendekati Clarissa, tanganku merangkul tubuhnya, lalu mulutku berkata, “Kamu sudah bisa melepaskan tangan kekasihku. Kamu tahu bahwa memegang milik orang lain terlalu lama sangat tidak sopan, ‘kan?”
__ADS_1