Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 99 - Hubungan Kita Sempurna


__ADS_3

Kami menggunakan beberapa jam terakhir di Ubud dengan berkeliling ke Pasar Seni. Aku membeli oleh-oleh untuk keluargaku, begitu juga teman-teman yang lain membeli barang untuk keluarga mereka. Kak Hadi dan para laki-laki mengeluh malu setiap kali kami kembali ke toko pertama yang menawarkan harga lebih rendah dari toko berikutnya.


Walaupun aku punya cukup uang untuk digunakan berbelanja, aku tidak mau menghabiskannya dengan sia-sia. Bila dengan uang seratus ribu rupiah aku bisa membeli lima barang, mengapa harus puas dengan membeli tiga barang saja?


“Kak! Adi! Apa yang kalian lakukan!?” pekikku terkejut. Mereka menatapku dengan mulut penuh tanpa merasa bersalah. “Kue ini untuk kita makan bersama di rumah. Bukan dihabiskan di sini!”


“Hanya satu kotak, Kak. Kami janji tidak akan meminta bagian kami lagi saat kita sudah sampai di rumah,” ucap Adi dengan wajah memelas. Mereka berdua serentak mengangkat jari telunjuk dan jari tengah mereka. “Kami janji.”


Aku tahu mereka akan melanggar janji mereka sendiri. Kakak dan Adi tidak pernah menepati kata yang keluar dari mulut mereka sendiri bila ini ada hubungannya dengan makanan. Tetapi aku tidak mau berdebat dan memutuskan untuk berjalan keluar dari kamar.


Hanya beberapa menit di kamar mandi, kedua saudaraku sudah menjarah tas khusus berisi oleh-oleh. Padahal mereka sudah memakan kue serupa dalam perjalanan kami kembali dari pasar ke hotel. Mereka memang tidak bisa dipercaya untuk menjaga tasku.


Koper kami sudah diurus oleh pegawai hotel, jadi kami tinggal makan siang di restoran, lalu pergi ke bandara. Teman-teman sudah berkumpul di ruang makan di tempat yang sudah disediakan oleh Tante Dafhina dan suaminya. Pasangan itu dan kedua anak mereka menemani kami makan.


Perpisahan itu menjadi lebih emosional bagiku karena teringat dengan percakapanku bersama Tante Dafhina. Dia telah membantu aku melihat masalahku dari sisi lain. Juga membuka mataku mengenai satu hal. Tidak ada hubungan yang sempurna. Pernikahannya yang semula aku anggap ideal bila dibandingkan dengan orang tuaku, ternyata punya masalahnya sendiri.


“Ada apa?” tanya Colin yang malangnya menjadi teman satu barisanku di pesawat. “Kamu dari tadi menatap wajahku. Apa ada yang menempel di mukaku?”


“Kamu semakin jelek,” kataku acuh tak acuh.


“Dan kamu semakin cantik,” balasnya tanpa ragu.


Aku berakting ingin muntah. “Aku baru tahu bahwa kamu hobi menggombal.”


“Aku berkata jujur, itu bukan gombalan,” katanya membela diri. Aku hanya memutar bola matanya, lalu kembali menyibukkan diri dengan buku yang aku pegang. “Apa aku boleh menanyakan sesuatu padamu?” Aku ber-hm pelan saat memberi jawaban, berpura-pura tertarik dengan buku yang aku baca. “Hadi mengatakan hal yang aneh padaku. Katanya, ada yang kurang dalam hubungan kita.”


Aku menutup buku itu, lalu perlahan menoleh ke arahnya. “Kakak harus memberi tahu kamu bahwa ada yang kurang dalam hubungan kita dahulu, baru kamu bertanya padaku? Apa selama ini kamu tidak pernah menyadari bahwa ada yang kurang dalam hubungan kita?”


“Kamu beranggapan bahwa ada yang kurang dalam hubungan kita?”


“Tidak. Aku tidak beranggapan … aku tahu ada yang kurang dalam hubungan kita.” Aku meralatnya dengan cepat. Melihat wajah bingungnya, aku hanya menggeleng pelan.

__ADS_1


“Mengapa kamu tidak memberi tahu aku? Bagiku, hubungan kita sempurna, tidak ada yang salah atau kurang,” gumam Colin yang terlihat berpikir keras.


“Kamu serius, Colin? Kamu begitu mudahnya percaya pada dua orang itu dan merusak hubungan kita, lalu kamu bilang, hubungan kita sempurna?” tanyaku tidak percaya.


“Dira, aku sudah meminta maaf padamu. Aku juga sudah menjelaskan mengapa aku melakukan itu. Aku melakukannya bukan karena ada yang salah dengan hubungan kita.”


“Tidak ada yang salah dengan hubungan kita, Colin. Aku tidak mau membicarakan masalah itu lagi, karena sudah tidak ada gunanya. Untuk apa membahas hubungan yang sudah putus?” kataku pelan.


Colin diam dan tidak memberi respons lagi, maka aku juga diam. Aku melanjutkan bacaanku, tetapi tidak satu kata pun masuk otakku. Karena kepalaku tidak berhenti berpikir, bagaimana bisa dia tidak tahu bahwa ada yang kurang dalam hubungan kami?


Iya, kami menjalani hubungan kami dengan serius. Aku bahkan tidak tahu mengapa aku setuju saja dengan rencananya untuk menikah suatu hari nanti. Tetapi saat aku sudah cukup umur dan pertama kali merasakan sesuatu yang berbeda, yang hanya aku rasakan saat Colin berada di dekatku, aku tahu bahwa hanya dia satu-satunya pemuda dalam hidupku.


Aku mendesah pelan ketika pramugari memberitahukan bahwa pesawat akan segera lepas landas. Dua jam duduk berdampingan tanpa bicara benar-benar menyiksa. Colin memejamkan mata dan duduk bersandar setelah beberapa saat kami tidak bicara. Aku tidak tahu apakah dia tidur atau hanya ingin memejamkan matanya. Tetapi aku menurunkan penutup jendela agar matanya tidak silau. Aku membuka penutup jendelanya kembali atas instruksi pramugari.


Tanganku yang ada di atas pangkuanku disentuh, aku menoleh ke arah tangan itu. Colin meletakkan tangannya di atas tanganku, tidak menggenggamnya. “Aku serius ketika aku berkata bahwa aku tidak bermaksud menyakiti kamu. Aku menyesal sudah mengakhiri hubungan kita. Tetapi tidak ada yang kurang dalam hubungan kita.


“Apa yang aku lakukan tidak ada hubungannya dengan rasa percaya pada orang jahat itu. Aku sudah katakan padamu bahwa aku pikir aku sedang melindungi kamu dan keluargamu. Kalau aku tahu semuanya akan berakhir begini, apa kamu pikir aku akan memutuskan hubungan kita?” tanya Colin pelan. “Dira, saat kamu bahagia, aku bahagia. Apa kamu tahu bahwa saat kamu sedih, aku juga merasakan hal yang sama?”


Dia menarik tangannya dariku dan segera menutup mulutnya. Aku melihat dia menahan napasnya. Matanya terpejam dan aku melihat tubuhnya bergetar. Menyadari apa yang sedang terjadi, aku menyentuh lengannya. Dia segera menjauhkan diri dariku dan memberi sinyal dengan tangannya yang bebas agar aku tidak menyentuhnya.


Karena aku juga tidak mau membuat dia malu dengan menangis di depan orang banyak, maka aku menuruti permintaannya. Entah mengapa aku merasakan kesedihan yang sama. Tanpa terasa, air mata jatuh membasahi pipiku. Aku memalingkan wajah ke arah jendela agar dia tidak melihatnya.


“Apa kamu tidak apa-apa?” tanya Kak Hadi saat kami sudah berada di terminal kedatangan. Aku tersenyum kepadanya. “Apa Colin mengatakan sesuatu padamu? Kalian berdua terlihat sangat jelek.”


Aku memutar bola mataku mendengar kalimat itu. “Kakak juga akan berekspresi sama seandainya dua jam duduk berdampingan dengan Clarissa.”


“Clarissa mungkin akan begitu, aku tidak. Dia sudah aku anggap tidak ada.” Kakak mengangkat kedua bahunya dengan santai. Aku mengangakan mulutku mendengarnya. “Aku serius.”


“Pembohong. Seandainya aku buta, aku tetap bisa melihat Kakak tidak berhenti mencuri pandang ke arah Clarissa selama kita bersama,” ejekku.


“Kamu bicara seolah-olah kamu tidak melakukan hal yang sama,” semprotnya.

__ADS_1


“Aku tidak melihat ke arah Colin!” Aku tahu bahwa membohongi kakakku tidak akan ada gunanya. Tetapi lebih baik begini daripada mengakuinya.


“Apa aku perlu meminta Tante mengirim rekaman CCTV di ruang makan, lobi, kolam renang, dan lift di mana kamu juga Colin berada?” tantangnya. Aku menganga tidak percaya. “Kamu melihat dia setiap kali kamu pikir tidak ada yang memerhatikanmu. Pembohong.”


“Oh. Aku akan adukan ini pada Papa dan Mama. Aku ingat sekali bahwa Papa mengingatkan Kakak untuk menjaga aku dan bersikap baik padaku. Ini bukan sikap yang baik,” ancamku.


“Adukan saja, maka aku tidak mau membantu kamu mempersiapkan diri mengikuti seleksi masuk universitas,” kata Kakak tidak mau kalah. Aku menarik napas terkejut. “Jangan lupa, siapa yang butuh siapa sekarang, adikku sayang.”


Ketika kami semua dijemput oleh sopir, maka Colin satu-satunya yang dijemput oleh keluarganya. Kami menyapa mereka sesaat, lalu menuju mobil kami masing-masing. Uncle Will dengan baik hati menawarkan Wendy tumpangan sampai ke rumahnya. Melihat sahabatku itu merasa segan, Tante Gista menarik tangannya agar masuk ke mobil mereka.


Aku bertemu pandang dengan Colin yang menutup bagasi mobil setelah memasukkan koper Wendy. Tanpa mengucapkan apa pun, aku hanya melewatinya menuju mobil kami. Kakak berjalan di sisiku, lalu melingkarkan tangannya di bahuku.


Tidak. Ini tidak benar. Aku tidak boleh pergi seperti ini. Aku menoleh ke arah Kak Hadi dan meminta dia untuk ke mobil lebih dahulu. Aku membalikkan badan dan memanggil nama Colin. Dia yang sedang berjalan menuju pintu mobilnya menoleh. Aku tidak menunggu agar aku tidak berubah pikiran dan memeluknya dengan erat.


“Dira?” tanyanya bingung.


Aku menghirup aroma parfum favoritnya yang dahulu aku pilihkan. Aku tersenyum mendengar detak jantungnya perlahan semakin cepat. Sudah lama rasanya aku tidak berada sedekat ini dengannya. “Aku serius saat aku katakan ini bukan salahmu, Colin.”


“Tidak. Ini salahku.” Kali ini dia tidak menahan tangisnya. “Aku bersalah sudah melepaskan kamu. Karena laki-laki itu mendekati kamu setelah kita putus ….”


“Itu tidak benar. Hubungan kita berakhir atau tidak, mereka akan tetap menemukan cara untuk menyakiti keluargaku lewat aku. Jadi, akulah sasaran mereka. Bukan kamu.” Aku memeluknya sejenak saat dia hanya diam saja, lalu melepaskannya. “Jaga dirimu baik-baik.”


“Kamu juga,” katanya pelan.


Aku membalikkan badan dan berjalan tanpa menoleh ke belakang lagi. Kakak yang masih berdiri di tempatnya semula mengangakan mulutnya melihat aku. Aku sudah siap untuk menghadapi dia dan Adi yang akan mengejek aku selama kami dalam perjalanan ke rumah.


Dengan tubuh lelah, pikiran penat, namun dengan semangat baru, aku tersenyum pada Pak Abdi yang membukakan pintu mobil. Aku memeluk pria baik hati yang hanya berdiri kaku itu sampai aku melepaskan pelukanku. Lalu aku memeluk Pak Liando yang membantu menurunkan koper kami dari bagasi mobil.


“Tunggu, Nona! Anda tidak boleh masuk!” seru salah satu petugas keamanan yang berlari mengikuti seseorang yang berjalan cepat ke arah kami.


“Apa yang dia lakukan di sini??” tanya Adi yang berdiri di sisiku dengan nada tidak suka.

__ADS_1


__ADS_2