Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 143 - Rindu Melanda


__ADS_3

*Dira*


Aku menarik napas panjang dan mengeluarkannya perlahan. Entah apa yang sedang terjadi sampai Colin dan Uncle Will berurusan dengan polisi. Colin hanya mengatakan bahwa dia akan memberi tahu aku segalanya nanti. Nanti ini, kapan? Bulan depan? Tahun depan? Kami sudah tidak bertemu selama satu minggu lebih dan aku rindu berat.


“Kak, makan yang sopan. Piringnya jangan dipukul-pukul dengan sendok dan garpu,” ucap Adi bawel. Dari tadi dia tidak berhenti mengganggu aku.


“Bisakah kamu fokus bermain game saja?” Aku menoleh ke arah pintu. “Papa dan Mama ke mana sampai sekarang belum pulang juga?”


“Ada apa? Kakak mau bertanya tentang Tante Gista kepada Papa? Mengapa tidak telepon Colin dan tanya sendiri kabarnya? Kami saja masih mengobrol lewat game.”


“Oh, ya? Mana? Mana?” tanyaku tidak sabar.


“Tidak sekarang.” Adi menghalangi tanganku menyentuh ponselnya yang ada di atas meja. “Dia sedang luring. Biasanya dia bermain agak malam, tetapi dia lebih sering membiarkan karakternya bermain secara otomatis tanpa harus dia kendalikan.”


Aku mendesah keras. “Kalian laki-laki sama saja. Tidak peka.” Aku melanjutkan makanku. Semakin cepat aku selesai makan, semakin cepat aku bisa kembali ke kamar.


“Selamat malam, Tuan,” sapa Pak Abdi yang membukakan pintu untuk Kak Hadi. Kakak menyapa kami, lalu duduk di samping Adi.


Mengingat apa yang terjadi pada hari ini, aku tersenyum. Wajahnya cemberut begitu pasti karena dia seharian bersama Clarissa di kantornya. “Bagaimana pekerjaan hari ini, Kak?”


“Jangan tanya. Kalian pasti merencanakan semua ini,” ucapnya jengkel.


“Clarissa magang di kantor Papa itu sudah rencana lama, Kak. Saat Kakak dan dia putus, semua orang memikirkan rencana terbaik untuk menyatukan kalian kembali,” kata Adi membuka rahasia. Aku menendang kakinya di bawah meja sehingga dia menoleh ke arahku. “Kak Hadi sudah tahu, Kak. Aku hanya mengklarifikasi saja,” lanjutnya membela diri.


“Aku tidak mengerti. Apa yang begitu sulit Kakak maafkan dari Clarissa? Dia gadis yang baik. Iya, dia telah melakukan kesalahan, tetapi semua orang juga begitu. Lihat saja aku dan Colin, juga Charlotte dan Wyatt. Hubungan kami jauh lebih baik setelah melewati badai besar,” tanyaku tidak mengerti.


“Anak kecil tidak perlu ikut campur urusan orang dewasa,” jawab Kakak acuh tak acuh.


“Orang dewasa? Beda usia kita hanya tiga tahun. Aku sudah delapan belas tahun, Kak. Bukan anak-anak lagi,” protesku.

__ADS_1


“Apa kamu tahu apa bahasa Inggris remaja? Teens. Kamu tahu apa artinya, ‘kan? Belasan. Umur kamu delapan belas tahun. Jadi, iya, kamu masih remaja alias anak-anak,” ejeknya. “Masih belasan tahun tetapi mau menikah tahun depan. Ada-ada saja.”


“Diih, aku yang punya masa depan mengapa Kakak yang protes? Lagi pula aku dan Colin akan tetap bersikap seperti biasanya. Kami hanya tinggal bersama supaya tidak perlu hidup terpisah lagi. Kalau Kakak sudah bertemu orang yang tepat, Kakak juga akan melakukan hal yang sama. Tidak mau jauh lagi darinya,” kataku sambil mengedipkan sebelah mataku.


“Hah! Aku tidak punya waktu untuk cinta. Ada tanggung jawab besar yang sudah menunggu begitu aku lulus kuliah. Lalu aku juga perlu melanjutkan studiku untuk membekali diri.”


Inilah yang aku suka dari kakakku, sekaligus pemberi semangatku. Dia selalu serius dengan tanggung jawab yang Papa bebankan kepadanya. Tidak seperti beberapa teman model yang aku kenal yang juga anak pengusaha kaya raya. Mereka lebih suka mengejar mimpinya sendiri dan membiarkan orang tua mereka mencari pengganti mereka sendiri.


Papa atau Kakek tidak pernah memaksa Kakak untuk menjadi penerus utama memimpin perusahaan keluarga kami. Tetapi mereka rajin membawanya ke kantor, melihat pabrik, memeriksa gudang, juga membahas hal-hal yang ada hubungannya dengan usaha retail. Aku dan Adi juga diajak serta, namun aku lebih suka mencoba semua pakaian dan berlenggak-lenggok di depan mereka.


Lama-kelamaan, Kakak pun tertarik untuk menjadi seperti Papa dan Kakek. Usaha keras mereka untuk mempersiapkan Kakak pun berhasil. Tetapi Kakak jadi lebih cepat dewasa daripada usianya. Dia bukan pemuda yang asyik diajak bersenang-senang. Dia selalu saja berpikir serius. Satu-satunya waktu aku pernah melihat Kakak begitu santai adalah saat dia masih bersama Clarissa.


“Hai, anak-anak!” sapa Mama yang berdiri di ambang pintu ruang keluarga di mana aku dan kedua saudaraku menonton televisi. “Kalian belum masuk kamar?”


“Kami menunggu sampai Mama dan Papa pulang,” jawabku. “Papa dan Mama dari mana?”


Mama menoleh ke arah Papa yang mengangguk pelan. “Kami dari apartemen Will dan makan malam bersama mereka.” Mama duduk di sofa di sisi kami bersama Papa.


“Aku tadi ke kantor papamu, jadi kami sekalian pergi ke sana bersama, sayang. Lagi pula ada hal yang perlu kamu dengar langsung dari Colin. Bukan dari kami.” Mama membelai rambutku. “Dia tidak akan suka melihat kamu datang bersama kami malam ini. Kamu sabar, ya.”


“Cole bahkan tidak mau menceritakan apa pun kepadaku. Apakah masalahnya seberat itu, Ma?” tanya Kak Hadi penuh selidik. Mama mengangguk pelan. “Baik, aku mengerti.”


Kakak memahami keputusan sahabatnya, tetapi aku tidak. Namun memaksa Papa atau Mama memberi tahu aku apa yang sebenarnya terjadi, mereka pasti menolak. Aku bisa membujuk mereka membuka rahasia pribadi mereka, tidak dengan rahasia orang lain.


Pembicaraan kami terpotong ketika pintu terbuka, lalu Ibu Yuyun masuk membawakan baki berisi minuman. Sita menyusul membawakan piring berisi roti. Begitu mencium aromanya, aku segera tahu bahwa minuman dalam cangkir adalah teh jahe.


“Kami berencana mengajak kalian berlibur pada akhir pekan ini. Hanya kita saja. Sebelum kalian mulai masuk sekolah dan kampus,” kata Papa yang menatap kami satu per satu. “Bagaimana?”


Kami bertiga mengangguk setuju sambil sibuk dengan teh dan roti di tangan masing-masing. “Kita akan berlibur ke mana, Pa?”

__ADS_1


“Yang dekat saja. Ke vila. Kita bisa wisata kuliner lagi dengan makan dia tempat favorit kalian atau mencoba tempat yang baru,” usul Papa. Aku sudah bisa membayangkan enaknya liburan tersebut. “Ada syaratnya.” Papa melihat ke arahku. “Tidak boleh ada komunikasi terlalu lama dengan orang luar. Itu adalah acara keluarga, jadi tidak boleh ada telepon mesra berjam-jam dengan pacar.”


“Mengapa hanya aku yang diberi peraturan itu? Bagaimana dengan Adi yang suka main game?” protesku tidak terima diperlakukan tidak adil begitu.


“Dia boleh bermain game selama dia tidak menatap layar selama berjam-jam,” jawab Papa santai. Adi menjulurkan lidahnya kepadaku. Menyebalkan sekali.


Setelah selesai berdiskusi mengenai liburan singkat kami dan menghabiskan semua kudapan malam tersebut, kami menuju kamar masing-masing. Aku merasa sepi saat berada di kamar seorang diri. Aku tidak bisa seperti Charlotte yang masuk ke kamar kakaknya. Kedua saudaraku laki-laki. Dahulu Mama mengizinkan aku sesekali tidur bersama Kakak, tetapi menjelang remaja tidak boleh lagi.


Terbiasa melakukan panggilan video dengan Colin sampai aku tertidur, aku kehilangan dia. Berharap kepada Black dan Gold juga tidak ada gunanya. Kedua anjing itu lebih memilih tidur bersama Kakak. Padahal orang yang mereka perhatikan itu tidak peduli dengan niat baik mereka.


Mendengar bunyi benda bergetar di atas nakas, aku melompat terkejut. Aku segera mengambil ponselku dan membaca nama pada layar. Colin! “Aku benar-benar marah padamu.”


Dia malah tertawa. “Apa begitu cara menyapa calon suamimu dengan benar?” godanya. Aku hanya cemberut. “Maafkan aku, sayang. Aku janji aku akan menceritakan segalanya. Besok aku temani kamu ke mana saja kamu pergi, ya? Bagaimana?”


*******


Beberapa saat sebelumnya~


Colin merasakan jantungnya berdebar dengan kencang, tetapi hal itu tidak mengganggu fokusnya saat menyetir. Lalu lintas jalan pada malam hari sudah lengang, jadi dia bisa mengendarai mobil dengan kecepatan yang lebih tinggi dari normal.


Will tidak menegur atau memintanya untuk mengurangi kecepatan, karena dia juga ingin mereka bisa segera tiba di tujuan. Jarinya tidak berhenti menepuk ponsel yang ada dalam genggamannya. Hatinya tidak tenang sebelum dia bisa bertemu dengan istrinya lagi.


“Apa kamu yakin Mama mau pulang bersama kita malam ini, Colin? Mama tidak mengatakan apa pun mengenai tawaranmu tadi,” ucap Lily dengan nada khawatir.


“Setidaknya kita sudah mencoba. Mama berhak untuk menolak atau menerima maksud baik kita,” kata Colin dengan santai, menutupi rasa khawatir yang sama yang juga dia rasakan.


Memasuki sebuah perumahan, Colin memperlambat laju mobil. Wajah waswasnya berubah lega ketika dia melihat Gista berdiri di depan pagar rumah Kenzie bersama kakek dan neneknya. Dia menghentikan mobil di depan mereka. Will yang keluar dari mobil terlebih dahulu.


“Sayang,” ucapnya dengan wajah bahagia. Gista tetap memasang wajah serius dan menjaga jarak dari suaminya. Dia menatap Colin dan Lily bergantian.

__ADS_1


“Ayo, Ma. Kita pulang,” ajak Lily penuh harap. Mama tidak menolak tangan adikku yang memegang tangannya, tetapi dia belum juga tersenyum.


Gista menghela napas panjang. “Aku hanya akan pulang bersama kalian setelah Will menjawab sebuah pertanyaanku dengan jujur.”


__ADS_2