
“Sejak kapan kamu ada di sini, Claudia??” tanya Mama terkejut. “Mengapa kamu tidak memberi tahu bahwa kamu akan datang?”
“Aku ingin memberi kalian semua kejutan. Sesuatu yang buruk terjadi kepada cucuku, tentu saja aku datang dan memastikan bahwa dia akan baik-baik saja,” Aunt Claudia bergeser sehingga kami bisa melihat Clarissa yang duduk di kursi rodanya.
“Hai, sayang!” Mama segera mencium kedua pipi Clarissa. “Akhirnya, kita bertemu juga. Apa kamu sudah bisa melihat? Kamu menatap wajahku dengan baik.”
Clarissa tersenyum. “Sudah, Tante. Aku sudah bisa melihat Tante dengan jelas.”
“Syukurlah.” Mama membelai wajahnya. “Hadi masih di kantor, jadi aku bisa memonopoli kamu.” Mama tertawa geli. “Ayo, ada kue kesukaan kamu di ruang makan.” Dia berjalan memutar dan mendorong kursi roda tersebut. Aunt Claudia mengikuti mereka. Aku menggelengkan kepalaku.
Wyatt, Charlotte, dan Wendy berjalan bersama memasuki rumahku. Kami mengambil makanan dan minuman, kemudian duduk bersama. Aku terpaksa meninggalkan mereka ketika Nenek Naava memanggil aku dari ambang pintu ruang keluarga.
“Apakah itu teman kamu yang bernama Wendy?” tanya Nenek. Aku segera mengangguk. “Aku perlu bicara dengannya sekarang.”
“Nenek akan melakukan itu sekarang??” tanyaku tidak percaya. Dia tersenyum. “Sebentar, Nek. Aku akan panggilkan dia. Nenek tunggu saja di dalam, ya.”
Aku kembali kepada teman-temanku dan mengajak Wendy untuk mengikuti aku. Dia menatap aku dengan bingung. Kami tidak punya banyak waktu jika Papa tiba nanti, maka aku sedikit menarik tangannya. Charlotte dan Wyatt yang penasaran mengikuti kami menuju ruang keluarga.
“Wendy, silakan duduk, sayang,” ucap Nenek Naava mempersilakannya duduk di sofa di depannya. Wendy menurut dan aku duduk di sisinya.
“A-ada apa, Nek? Apakah aku telah melakukan sesuatu yang salah?” tanya Wendy khawatir. Dia menyapukan pandangannya ke sekelilingnya. Keempat kakek dan nenekku hanya tertawa geli.
“Kamu tidak melakukan kesalahan apa pun,” kata Nenek Naava. “Aku punya hadiah untukmu. Kamu tahu bahwa aku aktif di kegiatan sosial. Cucuku, Dira, sering membicarakan kamu. Aku pikir-pikir, mengapa aku terlibat dengan banyak anak di luar sana, tetapi abai dengan yang ada di dekatku.”
Nenek meletakkan amplop yang dipegangnya di atas meja, lalu mendorongnya mendekat ke arah Wendy. “Ini adalah kartu ATM yang isinya bisa kamu pakai untuk biaya kuliahmu. Kembalikan kartunya kepadaku ketika kamu lulus nanti. Aku akan mengisinya sebanyak dua puluh juta setiap awal bulan. Aku berharap jumlah itu bisa membantu kuliahmu, juga sekolah adikmu.”
“Tidak, Nenek. Ini banyak sekali,” ucap Wendy yang menangis terharu. “Gajiku selama bekerja paruh waktu tidak pernah sebanyak ini.”
“Kuliah itu tidak mudah. Kamu tidak bisa melakukannya sambil bekerja jika kamu mau cepat tamat, Wendy. Terimalah. Lebih baik beasiswa ini aku berikan kepada orang yang aku kenal bertanggung jawab atas hidupnya daripada untuk orang yang tidak aku kenal,” bujuk Nenek.
Wendy melihat amplop itu dan Nenek secara bergantian. Air mata yang membasahi pipinya jatuh semakin deras. “Te-terima kasih. Terima kasih banyak. Aku berjanji akan belajar sebaik mungkin. Aku akan tunjukkan hasil belajarku setiap akhir semester sebagai buktinya. Terima kasih, Nenek.”
__ADS_1
“Sama-sama, sayang,” balas Nenek yang ikut terharu. Wendy berdiri, lalu duduk di samping Nenek agar bisa memeluknya. Syukurlah, aku sempat skeptis bahwa sahabatku ini akan bersikap keras kepala dan menolak bantuan tersebut. Aku sengaja memberi tahu Nenek agar dia bisa kuliah dengan tenang, tanpa mengkhawatirkan biayanya lagi.
“Kamu benar juga,” bisik Charlotte yang berdiri di sisiku. “Dia tidak akan bisa menolak pemberian nenekmu. Aku pikir dia akan menolaknya tadi.”
Aku dan Charlotte beberapa kali memberi sinyal bahwa kami ingin sedikit membantu biaya kuliahnya dan sekolah adiknya. Tetapi Wendy terus saja menolak. Padahal kami tahu bahwa uang tabungannya sudah banyak terpakai untuk biaya awal masuk kuliah. Walaupun kami menuntut ilmu di universitas negeri, biaya kuliahnya tidak murah.
“Ada satu kejutan lagi untukmu,” ucap Nenek misterius. Aku tersenyum mendengarnya. Dia berdiri, lalu menggandeng tangan Wendy agar mengikutinya keluar dari ruangan. Kami berjalan menuju pintu depan. “Aku tahu bahwa jarak rumah kamu dan kampus cukup jauh. Kamu harus berangkat sangat pagi untuk mengikuti perkuliahan. Aku juga tahu bahwa kamu sudah punya SIM.”
Wendy terlihat kebingungan. Kami berhenti di depan sebuah sepeda motor baru yang sengaja dihiasi dengan pita di depan pintu garasi rumah kami. Wendy memekik terkejut. Nenek Naava mengangguk pelan. Sepeda motor itu untuk Wendy. Dia kembali menangis terharu.
“Kamu bisa santai pergi ke kampus setelah mengantar adikmu ke sekolahnya. Jangan pikirkan pajak motor ini. Aku akan mengirim uangnya setahun sekali selagi kamu masih kuliah,” kata Nenek.
“Hari ini hari ulang tahun Om Hendra. Mengapa aku yang mendapat banyak hadiah?” ucap Wendy terharu. Nenek mengusap-usap punggungnya. “Sekali lagi, terima kasih.”
“Sama-sama, sayang. Ayo, cobalah. Bila terasa tidak nyaman, kita masih bisa menukarnya.” Nenek sedikit mendorongnya agar mendekati kendaraan tersebut. Wendy menurut. Dia melihat kunci ada di kontaknya, lalu menyalakannya. Pak Liando menolong membuka pitanya agar Wendy bisa duduk.
Kami tersenyum melihat dia mengendarai sepeda motor itu dengan gesit. Aku merasakan rangkulan di bahuku. Aku menoleh dan melihat Nenek tersenyum kepadaku. Aku mengucapkan terima kasih kepadanya. Dia mengangguk senang.
Aku dan kedua saudaraku memutuskan untuk memberinya nanti ketika semua orang sudah pulang. Kami menikmati makan malam di mana saja yang kami inginkan. Mama mengajak Papa ke kebun samping rumah, sedangkan aku dan Colin tetap di aula depan. Semua orang terlihat bahagia dengan makanan mereka dan orang yang berada di dekat mereka.
“Clarissa sudah melihat dengan jelas lagi adalah kabar yang sangat baik,” ucap Colin pelan. “Wendy yang mendapat banyak hadiah juga kabar yang baik.”
Wendy memukul lengan Colin. “Jangan membuat aku menangis lagi,” ucapnya terharu. “Jangan beri aku apa pun. Sudah cukup. Kalian tahu bahwa aku tidak suka berutang budi.”
“Utang budi?” Colin tertawa geli. “Keluarga Dira memiliki segalanya. Mereka memberi bukan karena mereka mengharapkan imbalan, tetapi karena mereka tahu kamu layak mendapatkannya. Ingat dengan janjimu sendiri. Kamu akan menunjukkan hasil belajarmu setiap akhir semester. Semoga saja kamu tidak punya nilai C atau D.” Colin menjulurkan lidahnya.
“Nilaiku pernah buruk, karena aku tidak bisa belajar setiap waktu. Kondisi sekarang berbeda. Aku akan buktikan bahwa nilaiku bisa lebih baik darimu,” kata Wendy tidak mau kalah.
“Kita lihat saja nanti. Kalian belum bertemu dengan dosen killer di awal semester,” ujar Colin menakut-nakuti kami. Dia tertawa puas melihat kami sedikit gentar.
“Apa yang kamu lakukan terhadap adikku dan sahabatnya?” tanya Kakak yang bergabung bersama kami. Dia duduk di depan kami dengan Clarissa berada di sisi tempat duduknya.
__ADS_1
“Hanya memberi tahu mereka bahwa kuliah di jurusan kita tidak semudah yang mereka bayangkan,” jawab Colin dengan santai. “Mereka pikir semua dosen kita seramah dan sebaik dosen yang mereka temui di semester pertama.”
Kakak tertawa kecil. “Kamu seharusnya tidak merusak kejutan itu, Colin. Aku sudah menutup mulut, karena ingin melihat sendiri adikku pulang kuliah dengan keadaan menangis.”
“Maafkan aku harus merusak harapanmu itu, Hadi.” Colin melingkarkan tangannya di bahuku. “Dira sudah menjadi istriku pada tahun kedua kuliahnya nanti. Jadi, dia tidak akan tinggal di sini.” Kakak mengerang pelan. “Puaskan dirimu menggoda calon istriku sampai bulan Februari tahun depan. Karena setelah itu, dia hanya milikku seorang.”
“Ah, iya! Aku lupa.” Kakak menepuk keningnya. Dia menoleh ke arah Wyatt. “Kalau begitu, aku minta tolong kepada Wyatt saja untuk merekam ekspresi wajahnya saat bertemu dosen itu.” Aku cemberut mendengarnya, ketika teman-teman yang lain tertawa.
“Adikmu akan menikah lebih dahulu darimu, apa kamu tidak keberatan, Hadi?” tanya Clarissa. Dia menatap aku dan Colin penuh arti.
“Mengapa aku harus keberatan? Mereka sudah lama merencanakan hari pernikahan mereka. Kamu sudah tahu kapan aku berencana untuk menikah. Setelah menyelesaikan studi masterku,” kata Kakak dengan santai. “Atau jangan-jangan kamu yang keberatan adikmu menikah lebih dahulu?”
“Kamu harus mengubah rencanamu itu, Hadi.” Seseorang bergabung bersama kami. Aku menoleh dan melihat seorang gadis yang wajahnya sudah aku kenal. Tetapi aku tidak mengenal gadis yang ada di sebelahnya. Tangannya yang mengusap perutnya menarik perhatianku. “Ada seorang anak yang tidak bisa menunggu sampai kamu menyelesaikan studi lanjutmu. Kita harus segera menikah.”
*******
Beberapa jam sebelumnya~
Seorang pelayan membukakan pintu untuk seorang wanita yang terlihat harap-harap cemas. Dia memasuki ruangan itu. Matanya membulat melihat pria yang duduk di sebuah kursi pada satu-satunya meja yang ada di dalam.
“Hendra! Aku tidak percaya ini. Kamu yang mengundang aku datang??” tanyanya bahagia. Seorang pria yang berdiri di samping Hendra segera menghalanginya untuk mendekat. “Aku temannya, bukan orang jahat.” Perempuan itu berusaha untuk melepaskan diri dari pengawal Hendra.
“Duduklah. Aku tidak memintamu datang untuk bernostalgia,” kata Hendra dengan dingin. Dia hanya duduk tenang menatap kursi di hadapannya. Wanita itu menurut dan duduk di depannya. “Apa yang kamu katakan kepada putrimu mengenai aku?”
“Putriku Valeria? Apa hubungan dia dengan kamu?” Wanita itu balik bertanya.
“Apa kamu memberi tahu dia bahwa aku yang telah membunuh suamimu? Atau kamu memfitnah aku dengan mengatakan bahwa aku yang menjebloskan kamu ke penjara?” tanya Hendra.
“Ti-tidak. Aku tidak mengatakan apa pun mengenai kamu kepadanya,” ucap wanita itu membela diri.
“Lalu mengapa dia terus saja mengganggu hidup putraku?” ucap Hendra menuntut. “Putrimu hamil, Keva. Apa kamu tahu itu? Dia berniat untuk memanfaatkannya agar putraku menikah dengannya.”
__ADS_1