
Kami membiarkan keluarga itu saling melepas rindu. Tante Lindsey dan Aunt Claudia tidak menahan diri mereka lebih lama lagi. Mereka berdua memeluk kedua cucu mereka dengan erat. Merasakan seseorang melingkarkan tangannya di pinggangku, aku menoleh. Mama menarik aku mendekat dan merangkul aku juga Papa.
“Aku tidak akan bisa membayangkan terpisah dari anak-anakku selama belasan tahun. Jauh dari kalian selama beberapa jam saja, aku sudah khawatir ingin tahu apa kalian baik-baik saja.” Mama meletakkan kepalanya di lenganku.
“Clarissa sudah pulang, jadi kamu harus bersiap untuk berpisah dari putra sulung kita, sayang,” kata Papa menggoda Mama. Kami berdua melihat Papa dengan heran. “Aku yakin Claudia tidak akan menunda rencananya untuk menyatukan dia dengan cucunya.”
“Hadi dan Mila masih kuliah, Claudia tidak akan melakukan itu sekarang.” Mama menggeleng pelan. “Lagi pula mereka sudah lama berpisah, kita tidak bisa memaksa mereka untuk bersama hanya demi rencana mama dan nenek mereka yang egois ini.”
“Berpisah untuk waktu yang lama tidak menghalangi putra kita untuk jatuh cinta pada gadis itu.” Papa mengedipkan sebelah matanya ke arahku. Aku tertawa kecil.
Mama menoleh kepadaku dengan kening berkerut. “Hadi? Kamu dan Mila … kalian ….” Dia melihat aku dan Mila secara bergantian.
“Tidak ada apa-apa di antara kami, Ma. Papa bersikap berlebihan.” Aku menggelengkan kepalaku.
“Oh, aku tidak berlebihan. Caramu melihat Clarissa memang belum seperti caraku melihat istriku yang sangat aku cintai.” Tanpa peduli dengan tempat di mana kami berada, Papa menundukkan kepalanya agar bisa mengecup bibir Mama. “Tetapi aku tahu kamu sedang menuju ke sana. Dan kalau kamu tidak hati-hati dan bertindak cepat, begitu orang tahu siapa dia, para pemuda lain akan mengantri untuk menjadi pacarnya.”
Membayangkan apa yang baru saja Papa ucapkan membuat aku merasa tidak nyaman. Aku tidak bisa menerima ada pemuda lain yang menjadi pacarnya. Mila adalah Clarissa, gadis kecil yang dijanjikan Aunt Claudia untuk menjadi istriku. Dia tidak boleh menjadi milik laki-laki lain.
“Kamu lihat sendiri, ‘kan, sayang? Putra kita jatuh cinta pada Clarissa.” Papa dan Mama tertawa geli. Aku menatap mereka berdua dengan tajam.
Tidak mungkin. Aku jatuh cinta pada Mila? Kami baru beberapa kali bertemu dan bicara. Aku bahkan tidak tahu apa makanan kesukaannya. Papa pasti salah menilai sikapku pada gadis itu. Ketika aku mengajak dia bicara usai kuliah yang Papa berikan beberapa minggu lalu, itu murni karena aku ingin tahu apa hubungan dia dengan Colin dan mengapa dia begitu mirip dengan Aunt Abby. Bukan karena aku tertarik secara khusus kepadanya.
__ADS_1
Iya, aku akui bahwa akhir-akhir ini aku merasakan sesuatu yang berbeda setiap kali aku tidak sengaja menyentuh dia secara fisik. Aku ingin lebih sering bersamanya, ingin lebih dekat dengannya, bahkan beberapa hari ini dia selalu menjadi orang yang aku pikirkan sebelum tidur. Itu bukan tanda seorang laki-laki sedang jatuh cinta, ‘kan? Aku hanya khawatir padanya karena hasil tes itu.
Tante Lindsey mengajak kami semua untuk duduk bersama di ruangan itu. Dia dan Aunt Claudia begitu bahagia duduk mengapit Mila, sedangkan Charlotte duduk bersama kekasihnya, Wyatt. Aku dan orang tuaku duduk di sofa yang sama.
Mereka berterima kasih atas apa yang sudah kami lakukan sehingga membantu mereka menemukan cucu mereka yang hilang. Tante Lindsey meminta bantuan Tante Qiana untuk membantu mengurus segala keperluan birokrasi agar Mila bisa kembali resmi menjadi Clarissa. Dia juga meminta bantuan Papa untuk bicara dengan kampus mengenai hal itu.
“Apa kamu keberatan dengan namamu? Kalau kamu menyukai nama Mila, kami bisa memasukkan nama itu pada seluruh dokumen pribadimu,” tanya Tante Lindsey.
Mila segera menggelengkan kepalanya. “Itu bukan namaku dan aku tidak tahu mengapa mereka memilih nama itu. Aku suka nama Clarissa dan tidak keberatan untuk menggunakannya.” Dia melihat ke arahku. “Mila adalah gadis yang tidak jelas asal-usulnya. Aku ingin kembali menjadi diriku sendiri.”
“Baik. Kalau begitu, mulai hari ini kami akan memanggil kamu dengan nama aslimu,” ucap Tante Lindsey dengan wajah terharu. “Claudia yang memilihkan nama itu untukmu. Dia dan Zahara saling berdiskusi nama apa yang cocok dengan Hadi. Abby adalah anak yang baik. Dia setuju saja dengan semua saran yang diajukan grandma-mu.”
“Ah, kebetulan kamu menyinggung hal itu,” kata Aunt Claudia dengan mata berbinar-binar bahagia.
“Mengapa tidak? Aku dan Mason akan segera kembali ke Amerika, aku tidak akan membiarkan ada hal yang belum diselesaikan saat kami kembali nanti.” Dia segera mengangkat tangannya saat aku baru saja membuka mulutku. “Aku tidak mau mendengar protesmu. Anak gadis lebih dahulu, jadi aku akan tanya pendapat Clarissa.”
Clarissa tersenyum penuh arti. Dia pasti sudah tahu ke mana arah pembicaraan ini. Semoga saja dia benar-benar gadis yang bertindak hati-hati. “Bertanya tentang apa, Grandma?”
“Jadi, saat kamu masih dalam kandungan ibumu, aku dan Zahara berniat untuk menikahkan kalian berdua,” kata Aunt Claudia.
“Hadi sudah menceritakan hal ini padaku,” ucap Clarissa pelan. Aunt Claudia dan Tante Lindsey menatapnya dengan terkejut. Semua orang serentak melihat ke arahku, lalu tersenyum penuh arti. Aku benar-benar tidak suka berada di tempat ini pada saat ini.
__ADS_1
“Kalau begitu, bagaimana menurut kamu mengenai Hadi? Apa kamu mau menjadi istrinya? Ooh … kalian akan menjadi pasangan yang sangat serasi!” seru Aunt Claudia senang. Keempat sahabatnya tertawa geli melihat reaksinya.
“Aunt, kami bahkan belum satu bulan saling mengenal.” Aku merasa perlu untuk menyatakan rasa protesku kembali. “Dan juga kami masih kuliah, mengapa mendadak membicarakan pernikahan?”
“Anak ini benar-benar tidak sabar. Giliranmu untuk bicara akan tiba. Sekarang masih giliran Clarissa.” Aunt Claudia memutar bola matanya. Mereka semua tertawa. “Jadi, bagaimana menurutmu, Clarissa? Jangan khawatir tentang Hadi. Dia adalah pemuda yang baik. Walaupun aku jarang berkunjung ke Indonesia, aku mengikuti perkembangannya sejak dia masih kecil.”
Aku menoleh ke arah Papa dan Mama meminta dukungan, mereka malah tersenyum penuh arti. Papa bahkan memberi aku tatapan seolah-olah berkata, apa aku bilang? Apa Aunt Claudia tidak bisa memilih hari lain untuk membicarakan ini? Kami baru saja menghadapi bahaya besar, lalu keluarga ini kembali bersama, dan semua hal besar itu harus ditambah dengan membahas pernikahan?
“Bolehkah aku memikirkan hal ini terlebih dahulu, Grandma? Aku tahu bahwa Grandma dan Nenek hanya memikirkan yang terbaik untukku. Tapi kenyataan mengenai aku adalah bagian dari keluarga ini merupakan kejutan dan beban yang besar. Aku yakin aku harus beradaptasi dan mempersiapkan diri agar aku layak menjadi anggota keluarga ini.
“Bila aku juga harus menjalani hal seserius pernikahan, aku tidak yakin bahwa aku siap dengan semua ini. Aku tidak menolak rencana baik Grandma dengan Tante Zahara. Aku hanya meminta waktu.” Bagus. Dia memang gadis yang bijak.
“Sayang, tidak ada yang menyebut tentang kalian akan menikah segera. Kita bisa mengadakan acara kecil sebagai simbol kalian akan saling setia terhadap satu sama lain. Anggap saja itu pertunangan, tetapi hanya di antara kita. Ketika kalian sudah siap untuk meresmikan hubungan kalian, kita akan mengadakan acara resmi di depan semua orang. Bila kalian mau bertunangan dahulu, silakan. Jika kalian ingin langsung menikah, itu lebih baik lagi,” kata Tante Lindsey menjelaskan. “Bagaimana?”
“Baik, Nenek.” Clarissa mengangguk setuju. Apa katanya? Baik? Apa dia tidak tahu bahwa mereka sedang menjebaknya dengan kalimat itu?
“Nah, Hadi, aku sudah tahu apa pendapatmu, jadi aku tidak akan bertanya lagi,” ucap Aunt Claudia melanggar janjinya sendiri. Aku menatapnya tidak percaya.
“Aku bahkan belum mengatakan—” protesku dengan cepat.
Pintu ruangan tiba-tiba terbuka. Aku membalikkan badan dan bersiap memarahi siapa pun yang telah memotong sebelum aku selesai bicara. Ternyata yang datang adalah Dira. Kapan dia pulang dari sekolahnya? Aku tidak mendengar bunyi mobil masuk pekarangan.
__ADS_1
“Aku sudah membawa setelan Kak Hadi! Apa kita akan melakukan acaranya sekarang!?” tanyanya dengan mata berbinar bahagia. Aku menatap tidak percaya ke arah setelanku yang terbungkus rapi dengan plastik pelindungnya yang dia angkat tinggi-tinggi.