
Aku tidak mengerti mengapa orang seumur pria bernama Vivaldo dan wanita bernama Nora itu menggunakan pemuda yang masih usia sekolah seperti Jordan untuk menyakiti Dira? Apa yang mereka lakukan itu bahkan tidak akan dipikirkan oleh orang-orang seumur kami. Mempermalukan orang lain dengan menyebarkan siaran langsung tubuh polos mereka itu tidak manusiawi.
Bagaimana Dira bisa melewati masa-masa sulit itu dan duduk di sana, disaksikan oleh banyak orang, aku tidak tahu. Aku yakin beberapa dari orang yang ada di sini melihat siaran tersebut. Aku masih belajar menggunakan sosial media, jadi aku tidak tahu bagaimana orang bisa menonton video itu, sedangkan aku tidak.
Ketika siaran itu viral pun, aku tidak tahu bagaimana membuatnya bisa muncul pada layar ponselku. Aku hanya bisa berharap semoga ada banyak orang yang gagap teknologi seperti aku sehingga bisa mengurangi jumlah orang yang menyaksikan langsung siaran tersebut.
Dira beberapa kali hampir menangis di kursi saksi. Tetapi dia berhasil mengakhiri kesaksiannya dengan baik. Penasihat hukum para penjahat itu berusaha sebisa mereka untuk merusak kredibilitas Dira sebagai saksi. Hal yang sulit untuk dilakukan karena bukti yang mengarah pada Nora terlalu berat. Dia menggunakan akunnya sendiri untuk menayangkan hal tersebut. Vivaldo dan Jordan juga tidak bisa berkelit, karena mereka ada di rumah yang sama ketika peristiwa itu terjadi.
Beberapa teman sekelas Dira dan Jordan juga memberi kesaksian secara sukarela. Ada satu gadis yang mencoba berbohong yang berhasil dibuat bungkam oleh penuntut umum. Dia satu-satunya yang bersaksi bahwa Jordan dan Dira adalah sepasang kekasih. Omong kosong yang dia sendiri pun tidak memercayainya terlihat dari sikapnya yang menghindari tatapan mata hakim.
“Kalau benar Jordan dan Dira berpacaran atau Dira cinta mati padanya, perempuan waras mana yang mau tubuh tanpa pakaiannya disiarkan secara langsung? Apa mereka tidak bisa membayar pengacara yang lebih cerdas? Dira dalam keadaan tidak sadar dalam tayangan itu. Sukarela dilihat dari mananya dia bersedia mempertontonkan tubuhnya?” ucap Charlotte geram ketika hakim sudah meninggalkan ruang sidang.
“Walaupun terdengar gila, sudah tugas mereka untuk membuka peluang agar hukum yang akan diterima kliennya lebih ringan dari yang diajukan jaksa.” Wyatt mengulurkan tangannya untuk membantu Charlotte berdiri. “Aku lapar. Ayo, kita makan.”
“Kamu ini hanya memikirkan makanan saja. Apa kamu tidak sedikit pun bersimpati dengan apa yang terjadi pada Dira??” protes Charlotte. Wyatt mencium pipinya, dan adikku itu segera luluh. Aku memutar bola mataku melihat tingkah mereka berdua.
“Hendra mengundang kita makan siang di rumahnya.” Kakek menoleh ke arah kami. “Kita bertemu di rumah mereka. Charlotte, tolong mampir beli cokelat kesukaan Dira. Beli satu kotak yang besar, ya. Dia akan membutuhkannya.”
“Baik, Nek,” ucap adikku menurut.
Dira dan keluarganya keluar melalui pintu khusus agar mereka tidak dikejar oleh wartawan. Kami melewati pintu utama bersama orang yang menghadiri sidang tadi. Ada begitu banyak wartawan yang berdiri di depan pintu. Wyatt segera menolong aku dan Dira untuk melewati mereka. Untung saja mereka tidak mengenal aku dengan masker dan kacamata hitam atau mereka akan mengajukan pertanyaan sehubungan dengan sidang Finley.
Charlotte memberikan cokelat titipan Nenek kepada Dira. Sepertinya dia sangat menyukai cokelat tersebut, karena dia melompat senang menerimanya. Colin tidak sedetik pun menjauh darinya, jadi kami kesulitan bicara dengan leluasa. Tidak jauh beda dengan Charlotte yang tidak bisa jauh dari Wyatt. Hanya Wendy yang akhirnya duduk di sisiku.
__ADS_1
Namun aku mengerti. Dira sedang membutuhkan dukungan orang-orang yang dia cintai pada hari ini. Apalagi dia baru saja mengulang kejadian yang traumatis itu di depan ketiga orang yang dengan sengaja menghancurkan dirinya.
“Kamu pasti sudah mengikuti seleksi masuk PTN, kampus apa yang kamu pilih?” tanyaku pada Wendy ketika tidak ada satu pun dari kami yang mau bicara lebih dahulu.
“Sama dengan Dira dan Charlotte. Supervisorku juga menyarankan aku untuk mengambil jurusan itu. Karena dia akan menunjuk aku menjadi penggantinya bila aku sudah selesai kuliah nanti,” jawabnya dengan riang. “Apa menurutmu jurusan itu bisa aku ikuti nanti?”
“Semua jurusan akan memulai semester awal mereka dengan teori dasar, jadi kamu tidak perlu khawatir akan ketinggalan apa pun.” Aku menghiburnya. “Semoga saja kamu lulus seleksi masuk.”
“Pengumumannya beberapa hari lagi. Aku sangat gugup.” Dia meletakkan tangannya di dada kirinya sambil tersenyum tipis. “Aku ingin kuliah dengan baik, lulus secepatnya, agar bisa membantu orang tua menyekolahkan adik-adikku nanti.”
Melihat dia, aku seperti melihat diriku sendiri beberapa bulan yang lalu. Aku juga pernah ada pada posisinya. Bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupku sendiri. Bukan hanya itu, aku juga harus mencari uang untuk membayar jasa keluarga Foster. Aku lebih beruntung dari gadis ini. Karena uang datang padaku begitu cepat. Walaupun aku harus membayar mahal sudah melakukan hal itu.
Namun para pria yang telah terbantu dengan jasaku, membalaskan dendamku dengan telak. Sigit tidak hanya kehilangan perusahaannya, dia juga tidak bisa mendapatkan pekerjaan atau rekanan bisnis lagi karena ulahnya itu. Mengapa dia mau saja mendengar saran dari Finley? Apa dia belum belajar juga bahwa pria itu hanya memanipulasinya saja?
“Hai, Clarissa sayang,” sapa seorang wanita ketika Wendy pamit ke toilet.
“Apa aku boleh duduk di sebelahmu?” tanyanya dengan sopan.
“Tentu saja, Tante. Silakan.” Ini rumahnya, sofanya, mengapa dia harus meminta izin padaku? Dia benar-benar wanita yang sopan.
“Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa kamu sudah bisa membiasakan diri dengan hidupmu yang baru?” tanyanya lembut.
“Sudah, Tante. Terima kasih.” Aku tersipu. “Tetapi kadang-kadang saya masih merasa asing, percaya tidak percaya, keluarga kandung saya ternyata orang-orang baik.”
__ADS_1
“Kamu anak yang baik, tentu saja kamu berasal dari keluarga baik-baik.” Dia mengangguk pelan. “Jangan bicara dengan bahasa formal denganku. Bicara seperti dengan temanmu atau keluargamu saja. Apalagi kita sudah sering bertemu, hanya jarang mengobrol berdua.”
“I-iya, Tante,” kataku menurut. Dia memakai parfum yang aromanya menenangkan. Meskipun jarak duduk kami tidak dekat, aku bisa mencium wanginya dengan jelas.
“Aku dengar dari Claudia, kamu sedang dekat dengan pemuda dari Amerika?” tanyanya membuat aku terkejut. Mengapa Grandma menceritakan hal itu pada Tante Zahara?
“Tidak dekat, Tante. Grandma hanya memperkenalkan kami,” kataku meralat.
“Tetapi katanya kamu dan dia sering mengobrol lewat panggilan video. Claudia bahkan mengirim fotonya padaku. Dia pemuda yang tampan, walaupun tidak akan pernah bisa menandingi Hadiku.” Dia mendekatkan ponselnya kepadaku. Ada foto Luca di sana sedang tersenyum bahagia.
“Kamu jangan gugup begitu. Aku dan Claudia memang selalu terbuka mengenai banyak hal, bahkan yang pribadi sekalipun. Jangan segan hanya karena aku adalah ibu Hadi. Bila kamu bahagia dengan laki-laki ini, maka dia yang terbaik untukmu.” Dia tersenyum lembut.
“Grandma berlebihan, Tante. Aku dan Luca tidak dekat. Iya, kami sesekali bicara lewat panggilan video. Tetapi menggunakan ponsel Grandma. Aku tidak pernah bicara dengannya lewat nomor pribadinya.” Aku menggeleng pelan.
“Lo? Mengapa tidak? Dia pemuda yang tampan, cerdas, kaya raya, dan dia ahli waris keluarganya satu-satunya. Pemuda yang malang. Dia hidup begitu bebas, tetapi harus meninggalkan kebiasaan lamanya setelah kakaknya meninggal.” Tante Zahara mendesah pelan. “Menurut Claudia, dia sangat cocok denganmu. Lalu apa yang membuat kamu tidak ingin dekat dengannya? Dia pemuda idaman di kampusnya. Bahkan gadis-gadis di sana memperebutkan perhatiannya.”
Seandainya saja dia bukan ibu kandung Hadi, aku akan menganggap ini percakapan normal. Tetapi karena dia adalah mama mantan tunanganku, agak risi rasanya mendengar dia membahas tentang pemuda lain denganku. Grandma juga untuk apa membahas hal yang belum pasti pada orang lain? Tante Zahara jadi salah paham.
“Aku tidak kenal dengannya, Tante. Aku hanya tahu dia dari beberapa kali panggilan video. Bila gadis lain bisa menyukai seorang pemuda dengan cara itu, aku tidak. Yang aku temui setiap hari saja, tidak bisa lagi dekat denganku.” Aku segera mengulum bibirku menyadari aku hampir keceplosan.
“Kamu benar juga. Yang kamu lihat hanya dia lewat komunikasi jarak jauh. Bisa saja dia orang yang berbeda saat berada di dekat kita.” Tante Zahara menganggukkan kepalanya, tanda setuju. “Baik, kita jangan bahas soal laki-laki lagi. Aku punya permintaan dan aku harap kamu mau menolongku.”
“Apa itu, Tante?” tanyaku ingin tahu, sekaligus lega dia mengalihkan topik pembicaraan kami.
__ADS_1
“Aku ingin membuat sebuah novel baru. Nah, aku suka dengan kisah hidup kamu dan tertarik membuat tokoh dengan pekerjaan itu.” Dia terlihat antusias. “Apa kamu mau bercerita sedikit mengenai pekerjaan kamu saat menerima klien seperti Colin?”
“Tidak. Sama sekali tidak boleh.” Seseorang sudah lebih dahulu menjawab sebelum aku sempat memikirkan apa yang sedang Tante Zahara maksudkan.