Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 150 - Keseleo Lidah


__ADS_3

Untuk pertama kalinya, aku tidak langsung beristirahat setelah mandi dan berganti pakaian. Colin sudah serius mengerjakan skripsinya, aku tidak mau ketinggalan. Mengurangi waktu tidur tidak akan membuat aku jatuh sakit, jadi aku bisa mengerjakan penelitianku pada malam hari dan fokus bekerja dari pagi hingga sore hari.


Aku menyimpan semua berkas skripsiku di folder daring. Saat mendampingi karyawan magang, aku bisa melanjutkan bab awal penelitianku ketika mereka sedang belajar mandiri. Ini adalah ide yang bagus, walaupun rasa lelah yang aku rasakan menjadi dua kali lipat.


Manajer suka dengan usul yang Clarissa sampaikan kepadaku pada malam sebelumnya. Dia berjanji akan mendiskusikannya dengan atasannya, lalu memberi tahu aku hasilnya. Aku menyebutkan nama Clarissa sebagai orang yang mengajukan ide itu kepadaku. Dia mengangguk sambil tersenyum.


“Hadi, apa kita bisa bicara sebentar?” tanya Tegar ketika aku sedang mengisi gelas di dapur. Aku melihatnya dan menunggu dia melanjutkan ucapannya. Dia melihat ke kanan kiri, lalu menutup pintu dapur. “Ini mengenai Clarissa,” katanya sedikit gugup.


Hm. Sepertinya gadis itu tidak membesar-besarkan ceritanya kemarin. “Ada apa dengan Clarissa?” tanyaku melihat dia tidak juga menyampaikan maksudnya.


“Kamu tidak keberatan bila aku mendekati dia, ‘kan?” tanyanya berhati-hati.


“Semua orang boleh berada di dekatnya,” kataku pura-pura tidak memahami kalimatnya.


“Maksudku bukan begitu. A-aku suka kepadanya. Kamu dan dia tidak punya hubungan khusus, jadi aku boleh mendekati dia, ‘kan?” tanyanya memastikan.


“Apa kamu tahu siapa dia?” tanyaku penuh selidik.


“Tentu saja. Fotonya pernah mengisi berita di media-media besar. Dia cucu seorang pengusaha besar yang pernah hilang dan ditemukan kembali. Tetapi, Hadi. Aku menyukai dia bukan karena dia berasal dari keluarga kaya raya,” katanya membela diri.


Oh, ya? Matanya berbinar-binar menyebut tentang Clarissa sebagai cucu pengusaha besar dan dia berkelit dengan mengatakan bukan itu alasannya menyukai gadis itu? Berani sekali dia berusaha untuk membodohi aku. “Tidak banyak yang tahu hal ini, karena dia sedang magang. Maaf, Tegar. Clarissa adalah pacarku. Dia tidak sendiri lagi.”


“Benarkah?” tanyanya skeptis. Dia menatap aku dengan saksama. “Clarissa tidak bilang bahwa dia sudah punya pacar.”


“Coba kamu tanya dia lagi.” Aku menepuk bahunya. “Aku masih banyak pekerjaan. Sampai nanti.”


Sebelum dia mengajukan pertanyaan berikutnya, aku keluar dari ruangan itu menuju bilikku. Aku segera terduduk di kursi begitu kakiku terasa lemas. Bodohnya aku. Apa yang baru saja aku katakan? Mengapa aku tidak bisa menjaga mulutku dan mengucapkan kalimat itu lagi?


Kalau Tegar sampai bertanya kepada Clarissa, matilah aku. Dia tidak akan melepaskan aku lagi. Apa yang aku pikirkan? Mengapa aku malah menyuruh dia untuk bertanya langsung kepada Clarissa? Bodohnya aku. Semua ini gara-gara kami terlalu lama bersama sampai aku tidak bisa membedakan yang mana logika dan yang mana hanya perasaan sesaat.

__ADS_1


Untuk menghindari Clarissa, aku segera keluar dari ruangan divisi pemasaran begitu jam kerja usai. Ada pesan baru dari Dira di kotak masuk ponselku, tetapi aku mengabaikannya. Dia mengajak makan malam bersama teman-temannya. Aku yakin salah satu temannya pasti Clarissa.


Dari Pak Abdi, aku tahu bahwa yang ada di rumah adalah Mama dan Adi. Papa akan pulang setelah pertemuannya dengan kolega bisnisnya usai. Selama tidak ada Dira, maka aku akan aman di rumah. Mama tidak akan punya waktu untuk mengganggu aku, karena kesibukannya dengan proyek novel barunya. Apalagi bahan mengenai kesaksian Clarissa sudah lengkap.


“Bagaimana sekolahmu hari ini, Adi? Apakah guru dan teman sekelasmu bersikap baik?” tanya Mama kepada adikku.


“Iya, Ma. Terima kasih kepada Kak Hadi dan Kak Dira. Mereka semua berharap aku akan menjadi siswa secemerlang mereka.” Adi mengangkat alisnya ke arahku.


“Zach juga sering mengeluhkan hal yang sama.” Mama tertawa kecil. “Bukan kesalahan kakakmu bila sekolah menganggap mereka memiliki prestasi yang bisa dibanggakan.”


“Kak Hadi selalu menduduki peringkat siswa dengan nilai tertinggi, Kak Dira seorang model remaja terkenal, lalu apa yang bisa aku banggakan dari diriku sendiri, Ma?” tanya Adi merendah. Melihat wajah pura-pura sedihnya membuat aku hampir saja melempat sendokku ke arahnya.


“Kamu atlet e-sport yang sudah beberapa kali memenangkan kejuaraan tingkat kota madya, bahkan nasional. Berhenti menganggap dirimu tidak punya hal yang bisa dibanggakan. Zaman kalian sudah sangat berubah. Kamu boleh tanya Om Zach. Kakek dan nenek kalian tidak pernah mengizinkan dia bermain video game. Sekalipun dia tidak pernah dapat nilai rendah. Kamu beruntung,” kata Mama.


“Lagi pula kalau orang lain tidak bisa melihat kelebihanmu, apa keluargamu tidak cukup? Kami semua tahu kehebatan kamu.” Mama tersenyum bangga. “Kakakmu saja punya tabungan yang jumlahnya kalah dengan tabunganmu.” Mama melirikku.


Yang aku sukai dari Papa dan Mama adalah mereka tidak pernah mendikte kami melakukan apa yang kami suka. Mereka membiarkan kami mengetahui berbagai banyak bidang dan memberikan setiap hal yang kami butuhkan untuk mengerjakan hobi kami. Aku akhirnya suka dengan balok-balok yang bisa aku susun menjadi benda apa saja. Dira dengan sikap alaminya di depan kamera. Kemudian Adi yang tidak bisa berkedip melihat game daring yang ditunjukkan Colin kepadanya.


Beban yang Papa dan Mama letakkan di pundakku tidak pernah memberatkan aku. Dengan senang hati, aku bersedia menjadi teladan bagi adik-adikku. Mereka juga tidak pernah mendengarkan apa kata orang mengenai cara mereka mendidik kami.


Aku tahu bahwa ada beberapa ibu yang mengejek hobi Adi yang dinilai hanya buang-buang waktu. Pendapat mereka itu tidak berubah sekaligus Adi pernah menyabet piala presiden dalam kompetisi e-sport tingkat nasional. Seandainya saja mereka tahu bahwa hobinya itu menghasilkan uang lebih banyak dari uang bulanan mereka.


Mendengar ketukan pada pintu kamarku, aku mempersilakan masuk. “Hai, aku ada kabar baik untukmu.” Papa melambaikan sebuah pamflet yang dipegangnya. “Xavier mengirim ini lewat surel. Ada tawaran beasiswa yang bisa kamu lamar di salah satu universitas di Inggris. Pendaftaran belum dibuka, tetapi kamu bisa melihat semua persyaratannya dan mempersiapkan dirimu.”


Aku segera menerima pamflet tersebut. “Terima kasih banyak, Pa! I-ini yang aku tunggu!”


“Xavier dan keluarganya siap untuk membantu kamu selama kuliah nanti. Mereka juga bersedia untuk membantu kamu menyesuaikan diri pada masa-masa orientasi,” kata Papa dengan bangga. “Aku tidak percaya, kamu sebentar lagi akan lulus dan melanjutkan studi.”


“Aku juga tidak percaya, Pa. Apa menurut Papa, aku akan bisa mendapatkan beasiswa ini?” tanyaku sedikit ragu. “Pasti aku punya banyak saingan dari berbagai negara.”

__ADS_1


“Jangan pikirkan biaya, Nak. Aku masih sanggup membiayai kuliahmu. Hanya untuk satu tahun, itu bukan masalah yang besar. Yang penting, kamu kembali dan melakukan hal yang kamu sukai begitu kamu menggantikan aku.” Papa menepuk bahuku.


“Hal yang aku sukai? Bukankah Papa ingin aku memimpin perusahaan dengan cara Papa?” tanyaku bingung. Perusahaan sudah berada di bawah kepemimpinan Papa hampir selama dua puluh tahun. Bagaimana bisa Papa mengharapkan apa yang sudah dia capai diubah ketika aku yang memimpin?


Papa tertawa kecil. “Kapan aku pernah mengatakan itu? Setiap orang punya caranya masing-masing saat memimpin. Kakekmu tidak pernah meminta aku menjadi seperti dia. Aku tahu beban ini sangat berat untukmu, aku juga merasakannya. Tetapi aku mau kamu menjadi dirimu sendiri. Perusahaan kita pasti akan berubah warna begitu berpindah ke tanganmu. Aku tidak keberatan. Aku yakin, Kakek juga tidak akan keberatan.”


“Meneruskan program sebelumnya lebih mudah daripada melakukan hal yang sama sekali baru, Pa. Yang Papa sampaikan tadi justru lebih menakutkan bagiku,” kataku dengan gentar.


“Kamu bisa menyerahkan hakmu ini kepada Dira atau Adi. Yang mana saja tidak masalah untukku,” kata Papa dengan santai. Aku cemberut mendengarnya. “Aku tahu kamu pasti keberatan.” Dia tertawa sambil menepuk punggungku.


Aku memerhatikan pamflet itu sesaat. “Hm. Apa aku bisa berbagi informasi ini kepada Clarissa? Apa menurut Papa, Uncle Xavier akan keberatan bila beban mereka bertambah satu orang?”


Papa menatapku penuh arti. “Clarissa? Kamu ingin kuliah bersamanya di Inggris?” Dia tertawa senang. “Mamamu pasti akan melompat bahagia mendengar kabar ini.”


Aku segera menahan tangannya saat dia berjalan menuju pintu. “Papa jangan salah paham. Aku hanya bertanya, bukan mengajak dia untuk kuliah bersamaku.” Mengapa aku bisa keseleo lidah dua kali? Apa yang sebenarnya sedang aku pikirkan?


*******


Sementara itu di sebuah rumah~


“Sial!” Valeria menutup pintu kamarnya dengan keras. Dia menyapu pandangannya ke sekelilingnya. “Ke mana Hadi belakangan ini? Mengapa dia tidak datang ke kampus? Dia sangat peduli dengan studinya, tetapi mengapa dia belum juga mengajukan skripsinya kepada dosennya?”


Pintu kamarnya diketuk. “Valeria? Apa yang terjadi? Kamu tidak apa-apa?” tanya seorang wanita.


Valeria menarik napas panjang, berusaha untuk menenangkan dirinya. “Iya, Ma. Aku baik-baik saja.” Dia membuka pintu dan mamanya segera masuk memeriksa keadaannya.


“Ada apa, Nak? Akhir-akhir ini kamu terlihat stres. Apa dosen pembimbingmu mempersulit skripsimu? Aku bisa datang ke kampus dan bicara dengannya,” kata mamanya memberi usul.


Valeria menyeringai. “Mama mau bicara apa dengan dosenku? Apa Mama mau memberikan tubuh Mama seperti yang Mama lakukan di ruang guruku? Mama tidak mungkin menawarkan uang. Kita tidak punya apa-apa karena Mama sudah membunuh papaku!”

__ADS_1


__ADS_2