Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 35 - Bukti


__ADS_3

*Colin*


Mereka lama sekali berada di restoran tersebut sampai kakiku kesemutan karena hanya duduk diam menunggu di atas sadel sepeda motorku. Aku mengunci sepeda motor itu, lalu bergegas kembali ke restoran. Untungnya, tadi mereka duduk di bagian dalam restoran yang tidak akan bisa melihat ke arah gerbang masuk tempat parkir.


Karena bagian luar restoran sedikit lebih gelap daripada bagian dalam, maka aku bisa melihat mereka dengan jelas. Aku meninggalkan mereka berdua saja, tetapi kini sudah ada seorang pemuda yang duduk bersama mereka. Wajah itu asing bagiku. Setelah mengancam aku untuk memutuskan hubungan dengan Dira, apa yang akan mereka lakukan bersama pemuda itu?


Semakin dipikirkan, aku semakin mengutuk diriku sendiri. Seharusnya aku selalu jujur kepada Hadi. Bila dalam urusan strategi, aku adalah jagonya. Tetapi Hadi adalah otaknya. Dalam keadaan begini, dia selalu tahu membaca situasi. Aku malah bertindak tanpa berpikir dahulu hanya karena khawatir reputasi Aunt Zahara rusak bila foto itu tersebar.


Pria bernama Vivaldo itu berdiri, begitu juga wanita bernama Nora. Pemuda itu pun ikut berdiri, lalu dengan senyum bahagia bergantian menjabat tangan pria dan wanita tersebut. Sial. Awas saja kalau mereka merencanakan hal yang buruk pada Diraku. Mereka tidak akan bisa lolos.


Aku bergegas menuju tempat di mana sepeda motorku berada. Jalan di hadapan kami satu arah, jadi mereka harus melewati aku begitu keluar dari tempat parkir. Kendaraan pertama yang muncul adalah sepeda motor yang aku yakin dikendarai pemuda itu. Lalu yang berikutnya adalah mobil. Aku melihat pria dan wanita itu duduk di jok depan lewat jendela.


Aku menjaga jarak aman saat mengikuti mobil mereka dari belakang. Sesekali aku berada di kiri atau tengah agar pria itu tidak curiga dan menganggap aku sedang mengikuti mereka. Perhentian mereka yang pertama adalah di depan sebuah rumah kecil di jalan yang cukup untuk dilalui dua mobil.


Hanya wanita itu yang keluar. Seseorang membukakan gerbang yang ternyata seorang wanita yang sudah berumur. Dia masuk ke pekarangan rumah bersama wanita tua tersebut. Mobil bergerak, aku mengikutinya kembali.


Perjalanan kali ini lebih panjang. Untung saja pria itu tidak melewati jalan tol atau aku tidak akan bisa mengikuti dia. Tiba di depan sebuah rumah yang tidak besar, dia keluar dari mobilnya untuk membuka pagar. Sepertinya dia tinggal seorang diri. Padahal dari informasi yang aku dapatkan lewat internet, dia punya tiga orang anak. Ke mana mereka semua?


Setelah dia masuk ke dalam rumah, aku menunggu beberapa saat untuk memastikan bahwa dia tidak sedang membohongi aku. Bisa saja dia berpura-pura masuk ke rumah ini, tetapi bukan ini tempat tinggalnya. Sekalipun aku berhati-hati, aku bisa saja salah perhitungan dan dia menyadari bahwa dia sedang diikuti. Melihat dia sama sekali tidak curiga dan tetap berada di rumah itu, aku pun memutuskan untuk pulang.


“Apa ini?” tanya Kakek Kenzie, ayah kandung Mama, saat kami datang ke rumah mereka. Sebuah mobil boks mengikuti kami memasuki pekarangan rumah mereka.


“Sesuatu untuk Kakek.” Aku mengedipkan sebelah mataku saat berjalan menuju mobil tersebut. Kakek mengikuti aku dan melihat ke bagian dalam boks. Dua orang pria menurunkan sebuah kursi berbahan kulit yang kelihatannya berat dari mobil itu.


“Colin, rumah ini kecil. Mau ditaruh di mana lagi kursi itu?” tanya Kakek bingung. “Lagi pula rumah ini sudah punya cukup kursi. Atau ini kursi khusus untukmu?”

__ADS_1


“Aku sudah bilang. Ini untuk Kakek.” Aku menggeleng pelan.


Setelah mereka meletakkan kursi tersebut di tempat yang aku tunjuk, Mama membantu mengantar mereka keluar rumah. Aku mempersilakan Kakek untuk duduk, lalu aku menunjuk sebuah tombol beserta fungsinya. Kakek sering mengeluhkan badannya terasa tidak enak. Jadi, aku memutuskan untuk mencari solusinya.


Kursi ini sangat laku dan belum ada yang mengeluhkannya. Jadi, aku membelikan kursi ini untuk Kakek. Sistem pijatnya sangat canggih dan akan berhenti automatis bila penggunanya tertidur. Bagian kakinya akan naik dan bagian kepala akan sedikit turun dengan sendirinya untuk membuat tidur penggunanya lebih nyaman.


“Kamu sudah memberi aku banyak barang. Lebih baik kamu menabung uangmu. Bukankah awal tahun depan kamu akan menikah dengan Dira? Akan ada banyak biaya tak terduga yang harus kalian penuhi nanti.” Kakek memberi nasihat sambil tersenyum bahagia merasakan tubuhnya dipijat.


“Kamu membawa sesuatu untuk kakekmu. Bagaimana dengan aku?” tanya Nenek Hagia dengan bibir cemberut. Orang tua dan adikku tertawa kecil mendengarnya.


“Ini untuk Nenek. Dengan satu alat ini, Nenek bisa membuat semua adonan kue dan roti dengan satu tombol saja. Lalu tinggal dipanggang atau diolah seperti yang Nenek inginkan.” Lily memberikan kotak yang dari tadi dibawanya.


Nenek segera menerima kotak tersebut dan membukanya. “Oh, Colin! Benda ini sedang viral dan aku ingin sekali memilikinya! Bagaimana kamu bisa tahu? Tetapi ini harganya sangat mahal.”


“Ini tidak seberapa, Nek. Melihat Nenek bahagia adalah yang paling penting. Aku mau menjadi pencicip pertama saat Nenek membuat sesuatu dengan alat ini,” tuntutku.


“Mengapa Nenek malah membuat kroisan kesukaan Dira?” protesku.


“Karena dia tunangan kamu. Bukannya kamu selalu bilang kalau dia bahagia, maka kamu akan lebih bahagia lagi?” ucap Nenek dengan nada riang.


“Nek,” kata Lily yang aku tahu berusaha untuk meralat Nenek. Aku segera menutup mulutnya dengan tanganku. Adikku memberontak dengan kesal. Dia berteriak di telapak tanganku yang segera aku mengerti. Katanya aku dan Dira sudah putus.


“Aku sudah lapar. Ayo, kita makan sekarang. Apa Nenek memasak burger dan piza kesukaanku?” Aku segera mengalihkan pembicaraan.


“Lebih baik dari itu,” jawab Nenek misterius. Aku segera memikirkan menu makanan lain sambil berjalan bersamanya menuju ruang makan. Dia tidak mengiyakan jawabanku, maka tebakanku salah. Senyumnya mengembang saat aku menyebut spageti dan lasagna.

__ADS_1


“Aku juga memasak sate bumbu kacang kesukaanmu,” kata Nenek menambahkan. Aku bersorak senang, lalu memeluk tubuhnya dengan erat.


Selama kami makan bersama, aku menghindari tatapan mata Lily. Aku tidak berbohong. Aku hanya menunda memberi tahu mereka mengenai berakhirnya hubunganku dan Dira. Mereka sangat bahagia hari ini. Aku tidak mau merusaknya dengan kabar buruk.


Mereka sangat sayang pada Dira, jadi aku tidak sampai hati mengecewakan mereka. Aku tahu kapan pun aku menyampaikan berita itu, mereka tetap akan sedih dan terluka. Tetapi tidak hari ini. Lebih baik aku memilih hari lain setelah aku bicara secara resmi dengan Uncle Hendra.


Makanan lezat yang aku kunyah mendadak hambar begitu aku mengingat pada hari Selasa nanti, aku harus bicara dengannya. Tentu saja Dad dan Mama benar. Aku meminta tangan Dira langsung dari Uncle Hendra, maka aku harus mengembalikannya secara baik-baik juga kepadanya. Aku sudah cukup menjadi pengecut dengan membiarkan Dira mengucapkan kata putus, maka aku tidak bisa membiarkan dia juga yang menjelaskan putusnya hubungan kami pada ayahnya sendiri.


Dengan perut kenyang, kami menonton bersama di ruang keluarga menemani Kakek, ketika Mama dan Lily membantu Nenek membuat kroisan dengan berbagai isian di dapur. Aroma sedap roti itu memenuhi ruangan membuat perutku berbunyi.


Beberapa potong kroisan kami nikmati bersama dengan es buah. Beberapa potong lagi sudah Nenek kemas dalam sebuah kotak bekal, khusus untuk Dira dan keluarganya. Nenek berpesan bahwa orang tua dan kedua saudara laki-lakinya masing-masing mendapat satu potong, sisanya untuk Dira.


Sampai di apartemen, aku terpaksa keluar lagi untuk mengantar titipan Nenek ke rumah Hadi. Lily tersenyum penuh arti, karena dia tahu benar bahwa aku akan mendapat masalah besar mendatangi rumah keluarga itu sekarang. Aku hanya bisa berdoa di dalam hati semoga Uncle dan Aunt tidak di rumah dan aku hanya akan bertemu Hadi.


Kesempatan berada di luar rumah juga aku manfaatkan untuk bertemu dengan teman bermain game-ku yang mengawasi rumah pria bernama Vivaldo itu. Mereka berdua akan langsung masuk ke rumahnya bila dia sedang di luar. Aku perlu memastikan bahwa dia tidak meninggalkan berkas dalam bentuk apa pun yang ada hubungannya dengan Aunt Zahara.


Uncle Hendra dan Aunt Zahara adalah orang yang cukup terkenal, jadi mereka tahu seperti apa wajah tanteku itu. Semoga saja pria itu berkata benar bahwa tidak ada lagi foto kebersamaannya dengan Aunt Zahara yang masih disimpannya. Atau aku akan melanggar perjanjian karena mereka telah melanggarnya lebih dahulu.


Yang menyambut aku setelah Pak Abdi membukakan pintu depan adalah Gold dan Black. Kedua anjing itu mencium kakiku dna mengitari tubuhku, menghalangi aku untuk masuk ke rumah. Lalu Dira berjalan dengan santai menuruni tangga mendekati pintu depan.


“Aku sudah katakan dengan tegas bahwa aku tidak mau melihat kamu di rumah ini untuk sementara waktu. Ini masih dalam tenggat ‘sementara waktu’, Colin.” Dira menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. “Pergi segera atau aku akan memerintahkan Black dan Gold untuk menggigit kamu.” Kedua anjing itu menggeram dengan satu sisi bibir mereka naik ke atas, menunjukkan barisan taring mereka yang tajam.


Aku menelan ludah dengan berat. “Dengar. Aku terpaksa datang ke sini. Nenek menitipkan ini untukmu.” Aku mengulurkan kotak besar yang aku bawa. Dira melirik Pak Abdi yang mengambil kotak itu dari tanganku. “Segera pergi kalau urusanmu sudah selesai.”


“Kamu tidak akan mengucapkan terima kasih atas pemberian nenekku?” tanyaku tersinggung.

__ADS_1


“Aku bisa menelepon Nenek Hagia dan berterima kasih langsung.” Dira membalikkan badannya. “Gold, Black, habisi dia.”


“Apa??” Kedua anjing itu menggeram dengan keras sambil melangkah mendekati aku. Oh, sial. “Dira! Apa yang kamu lakukan!? Diraa! Tarik kembali perintahmu!”


__ADS_2