
*Hadi*
Papa dan Om Zach memasang wajah serius saat kami berada di dalam mobil. Tante Gista tidak ikut, melainkan Om yang bersama kami. Aku segera tahu bahwa kami tidak pergi untuk urusan pekerjaan. Lalu ke mana mereka akan membawa aku pada jam kerja?
Aku hanya menerima pemberitahuan dari Tante Gista yang meminta aku untuk datang ke pintu lobi secepat mungkin. Mobil Papa sudah menunggu dengan mereka berada di jok belakang. Jadi, aku yang duduk di samping Pak Kafin. Mereka tidak mengatakan apa pun sepanjang perjalanan.
Begitu mobil memasuki pos jaga kantor polisi, aku pun mengerti. Ini pasti ada hubungannya dengan Valeria. Papa tidak mungkin membawa aku ke sini bila ada urusannya dengan Reese. Gadis itu hanya punya masalah dengan keluarga Om Edu, bukan kami.
Om Zach bicara dengan seorang petugas, lalu dia membawa kami ke sebuah ruangan. Kami diminta untuk menunggu. Aku mengikuti Papa dan Om yang duduk di kursi yang mengelilingi meja besar. Kami menunggu cukup lama sampai pintu dibuka kembali dan Valeria beserta mamanya memasuki ruangan. Tangan gadis itu diborgol dan seorang polisi wanita memegang lengannya.
“Terima kasih sudah mau memenuhi permintaanku, Hendra,” ucap Ibu Keva dengan wajah lega. Dia menoleh ke arah putrinya yang masih berdiri. “Ayo, Valeria. Katakan apa yang mau kamu sampaikan.”
Gadis itu melihat ke arah aku. Dia merapatkan bibirnya, terlihat berat dengan apa yang akan dia katakan. “Aku meminta maaf atas apa yang aku lakukan.”
Ibu Keva tersenyum gugup. “Katakan dengan benar, Valeria,” katanya memberi perintah.
“Aku meminta maaf atas apa yang aku lakukan kepadaku, Hadi. Tolong, berbaikhatilah kepadaku dan bebaskan aku dari tempat ini,” ucapnya lagi, masih dengan nada tidak tulus.
“Val—” kata Ibu Keva yang berdiri dari tempat duduknya.
“Tidak perlu. Memaksa seseorang melakukan apa yang tidak dia inginkan tidak akan ada gunanya,” ucap Papa menyela. “Bila dia menganggap dia pantas untuk menghabiskan masa mudanya di dalam penjara, dan melahirkan anaknya dengan kondisi itu, maka biarkan saja dia memilih itu.”
Valeria merapatkan bibirnya, kemudian dia melakukan hal yang tidak aku duga. Dia menunduk, lalu berlutut di lantai. “Hadi, tolong maafkan aku,” ucapnya dengan kepala tertunduk. Aku tidak mau menjawabnya. Om Zach dan Papa menoleh ke arahku. Aku hanya mengangguk pelan.
“Kami akan menarik tuntutan kami dan putrimu bisa bebas setelah semua urusan administrasi selesai. Tetapi kami punya syarat. Apa kalian mau dengar?” kata Om Zach.
“Kami akan melakukan apa pun yang kalian minta,” jawab Ibu Keva dengan cepat.
“Baik. Kalian hanya kami beri waktu selama satu tahun bagi Valeria untuk menyelesaikan studinya. Begitu dia wisuda, kalian berdua beserta bayi itu tidak boleh ada di provinsi ini lagi. Kalian tidak boleh menelepon, menemui, atau menegur keluarga Mahendra Perkasa jika bertemu secara tidak sengaja. Jika kalian melanggar, maka kami akan melanjutkan tuntutan atas kejahatan Valeria.” Om Zach memberikan kertas yang isinya baru dibacakan tersebut.
__ADS_1
“Kalian berdua harus menandatangani surat pernyataan ini. Silakan dibaca terlebih dahulu.” Dia memberikan dua buah pulpen untuk Valeria dan mamanya.
Ibu Keva tidak membaca dan langsung membubuhi tanda tangannya. Berbeda dengan Valeria yang membaca setiap kata yang tertera pada surat tersebut. Aku bisa melihat dia keberatan dengan beberapa hal yang dia baca, tetapi dia tidak mengatakan apa pun. Setelah selesai, dia menggores tanda tangannya pada bagian bawah dokumen.
Om Zach menerima dokumen itu kembali dan memeriksanya. Dia memberikan satu map kepada Valeria, satu kepada Keva, dan satu lagi untuk dirinya sendiri. “Urusan kita sudah selesai. Kami permisi.” Om melihat ke arah kami, maka kami berdiri.
“Maaf,” kata Valeria pelan. Kami menoleh ke arahnya. “Bagaimana dengan perempuan satu lagi? Apa dia tidak akan menandatangani dokumen yang sama, lalu dibebaskan?”
“Perempuan yang mana?” tanya Om Zach bingung.
“Amanda,” jawab Valeria singkat. Dia memandang kami dengan heran. “Aku dengar dia punya kenalan orang berduit yang akan membantu dia bebas. Aku pikir kalian orangnya.”
Om Zach tertawa kecil. “Apa kamu sempat terpikir bahwa kami sendiri yang menyuruh gadis itu mendekati kamu untuk menjebak Hadi? Kami tidak membutuhkan sensasi untuk menarik perhatian publik pada kami. Kakak iparku lebih suka hidup damai tanpa masalah.”
“Lalu siapa yang dia maksud?” tanya Valeria lagi.
“Itu adalah informasi yang tidak akan kami bagikan ke sembarang orang.” Om Zach tersenyum. “Apa dia sudah bebas?” Valeria tertegun. “Apa sekarang kamu mengerti apa bayarannya kalau berani mengganggu keluarga kami? Orang berduit mana pun tidak akan bisa membebaskan kalian, kecuali kami sendiri.” Om mendekati kami yang sudah berdiri di ambang pintu.
Om bicara sejenak dengan petugas polisi yang ada di dalam ruangan lain, sedangkan aku dan Papa duduk menunggu. Ponselnya tidak berhenti menerima telepon masuk dari Tante Gista, Mama, dan orang-orang yang aku kenal sebagai koleganya.
“Siapa yang Valeria maksud dengan orang berduit yang akan membebaskan dia, Om?” tanyaku begitu kami sudah berada di dalam mobil lagi.
“Finley. Sepertinya sudah lama pria itu menggunakan orang-orang yang berbeda untuk mengawasi Clarissa. Gadis itu baru dia pekerjakan saat Clarissa masuk kampus. Menurut keterangan yang Irwan dapatkan, Finley menggunakan trik yang sama. Dia mengaku sebagai ayah kandung gadis itu. Dia percaya dan dia pikir apa yang dia lakukan kepada Clarissa adalah usahanya untuk membuktikan sayangnya kepada Finley. Padahal pria itu hanya mempermainkan dia,” jawab Om Zach.
Aku butuh waktu untuk mencerna kalimat tersebut. Jadi, Manda mendekati Clarissa dan menjadi temannya demi memata-matai hidupnya? Laki-laki apa itu? Mengapa dia begitu terobsesi kepada Clarissa? Apakah karena dia jatuh cinta kepadanya? Pria itu sudah gila.
“Orang yang berbeda-beda, siapa lagi sebelum Manda yang menjadi orang suruhan Finley?” tanyaku ingin tahu. “Apakah teman SMU-nya?”
Om menggeleng penuh arti. Dia menoleh ke arah Papa sebelum menjawab. “Carl dan Bianca Foster.”
__ADS_1
“Apa??” seruku tidak percaya. Melihat Pak Kafin terkejut, aku segera meminta maaf kepadanya. “Ja-jadi, orang tua angkatnya itu adalah orang bayarannya juga??”
Om menganggukkan kepalanya. “Mengapa kamu terkejut begitu? Apa kamu pikir dia tidak akan terus mengirim orang untuk memastikan Clarissa tidak kembali kepada keluarganya? Dia datang ke sini, karena Clarissa sudah dekat dengan kakek dan neneknya. Seandainya dia masih mencari-cari, Finley tidak akan datang ke Indonesia.”
“Tetapi dia berniat menikahi Clarissa. Bukankah itu artinya dia terobsesi kepadanya?” tanyaku mencoba menghubungkan peristiwa yang satu dengan yang lainnya. “Aku tidak percaya dia datang hanya karena Clarissa hampir bertemu dengan keluarga kandungnya.”
“Bisa jadi.” Om Zach mengangguk setuju. “Apalagi dia menerima begitu banyak foto pertumbuhan Clarissa dari usia balita sampai sebelum dia ditangkap. Setelah dia melihatnya langsung, menurutku, dia langsung yakin bahwa dia jatuh cinta kepada Clarissa. Ditambah lagi, gadis itu mirip dengan wanita yang dia cintai.”
Aku bergelut dengan diriku sendiri pada malam harinya. Aku ingin memberi tahu Clarissa yang sebenarnya mengenai orang tua angkatnya, tetapi aku tidak mau dia berduka lagi. Aku sekarang mengerti mengapa mereka tidak terlalu peduli kepadanya. Pantas saja perhatian mereka hanya untuk putri mereka. Keputusan mereka mengangkat Clarissa menjadi anak hanya demi uang.
“Hai, sayang. Tidak biasanya kamu menghubungi aku secepat ini,” sapa Clarissa dengan ceria. Dari keadaan di belakangnya, sepertinya dia sudah berada di kamar. “Aku dengar, Valeria sudah keluar dari tahanan?”
Pasti Om Edu yang memberi tahunya. “Iya. Tetapi bukan itu alasan aku menghubungi kamu.”
*******
Sementara itu di sebuah rumah~
“Menjadi orang kaya itu enak, ya. Semua masalah bisa diatasi hanya dengan jentikan jari saja. Aku seharusnya hidup sejajar dengan Hadi. Dia pasti mau menerima aku, kalau aku berasal dari keluarga kaya dan terhormat seperti Clarissa,” gumam Valeria pelan.
“Kamu masih punya kesempatan untuk hidup yang lebih baik. Bahkan lebih dari apa yang dimiliki Hadi atau Clarissa.” Keva mendekatkan sebuah sendok ke tangan Valeria. “Pertama-tama, kamu harus makan dan jaga kesehatanmu. Pria kaya tidak suka gadis yang tidak menarik.”
“Aku hamil, Ma.” Valeria tertawa sarkas sambil mengusap perutnya. “Mana ada pria dari keluarga baik-baik mau menikah dengan perempuan nakal seperti aku.” Dia mengambil sendok, lalu mulai menyuap nasi ke mulutnya.
“Karena itu, kita akan ke dokter besok pagi untuk menggugurkan kandunganmu,” jawab Keva santai.
Valeria membulatkan matanya. Dia menyentuh perutnya dengan sikap melindungi. “Tidak. Anak ini tidak bersalah. Aku akan membesarkannya.”
“Aku tidak akan membiarkan kamu mencoreng namaku lebih dari ini. Kamu tidak perawan lagi bukan hal yang penting bagi seorang laki-laki. Tetapi begitu kamu punya anak, mereka tidak akan tertarik kepadamu. Kalau kamu masih ingin hidup mewah, turuti kata-kataku.”
__ADS_1
Valeria tertawa sinis. “Turuti kata-kata Mama? Lihatlah apa yang terjadi kepadaku karena menuruti semua kata Mama. Hidupku hancur, Ma. Aku tidak akan menuruti kata-kata Mama lagi.”
“Oh, ya?” Keva tersenyum dengan arogan. “Memangnya kamu bisa hidup tanpa aku? Kalau kamu mau membesarkan anak itu, maka keluar dari rumah ini! Aku tidak mau mengurus dua orang yang tidak berguna seumur hidupku.”