Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 186 - Tinggal Kenangan


__ADS_3

Cepat atau lambat, Clarissa akan mengetahui hal ini. Tetapi lebih baik bila dia mendengarnya dariku. Lagi pula dia tidak punya perasaan apa pun terhadap keluarga Foster. Aku yakin dia tidak akan sedih mendengar siapa mereka yang sebenarnya.


“Aku tahu. Kamu menghubungi aku, karena kamu rindu!” ucapnya senang. Dia berhenti bergerak, lalu video itu menunjukkan keadaan langit-langit kamarnya. Mungkin dia meletakkan ponselnya di atas nakas agar bisa berpindah dari kursi roda ke tempat tidur.


“Kita bicara setiap hari, aku tidak sempat merindukan kamu,” ucapku menggodanya, tetapi aku mengatakannya dengan nada serius.


“Kamu selalu saja menyangkali perasaanmu sendiri.” Video itu kembali menunjukkan wajahnya. “Jadi, apa alasan kamu menghubungi aku secepat ini?”


“Manda teman satu jurusanmu itu ternyata kaki tangan Finley,” kataku memberi tahunya. Dia hanya mengatakan ooo tanpa respons lainnya. “Kamu tidak terkejut?”


“Dia bukan temanku, jadi aku tidak peduli siapa dia atau apa yang dia lakukan,” katanya santai. “Dia berada di dalam penjara untuk membayar perbuatannya, jadi aku bisa tenang sekarang.”


“Oke.” Aku menatapnya baik-baik. Iya, dia kelihatan santai saja. “Lalu ada satu hal lagi. Ada orang lain yang menjadi orang suruhan Finley sebelum dia. Kedua orang tua angkatmu.”


Dia yang semula bersikap santai, menatap aku dengan serius. Dia menegakkan badannya. “Kedua orang itu bekerja untuk Finley??” tanya Clarissa tidak percaya.


Aku mengangguk dengan cepat. “Aku juga tidak percaya, tetapi itu hasil dari penyelidikan Papa. Hanya mereka berdua yang bekerja untuk Finley. Reese tidak tahu-menahu tentang itu. Jadi, apa yang dia lakukan terhadap kamu adalah murni karena cemburu, bukan karena dibayar.”


Clarissa tertawa terkejut. “Pantas saja mereka tidak menolak uang yang aku berikan kepada mereka. Aku sempat bingung mengapa mereka sama sekali tidak punya perasaan terhadap aku. Untuk apa mengadopsi aku kalau mereka tidak membutuhkan aku? Ternyata karena mereka dibayar.” Dia mengangguk-angguk mengerti.


“Kamu tidak merasa marah atau sedih?” tanyaku pelan.


Dia segera menggelengkan kepalanya. “Mereka sudah mendapatkan ganjaran atas semua perbuatan jahat mereka kepadaku. Putri mereka satu-satunya mendekam di dalam penjara dan terancam akan kehilangan masa depannya, studinya, bahkan pekerjaannya.”


“Kamu benar juga,” kataku mulai mengerti. Clarissa tidak perlu bersusah-payah untuk membalas perbuatan mereka. Putri mereka sendiri yang merusak segala yang telah mereka bangun.


“Reese mungkin tidak akan dipenjara untuk waktu yang lama, karena aku selamat. Tetapi mereka sangat peduli dengan nama baik keluarga. Apalagi pekerjaannya menuntut Reese menjaga reputasi dan tindakannya di depan umum. Kamu pasti tahu berapa yang harus dia bayar sebagai ganti rugi kontrak iklan dan lain-lain begitu dia divonis bersalah, ‘kan?” Clarissa tersenyum puas. “Dia dan keluarganya hancur, karena perbuatannya sendiri.”


“Maafkan pertanyaanku yang terkesan lancang. Tetapi aku mau tahu, apa kamu pernah sayang kepada mereka?” tanyaku berhati-hati.


“Tentu saja. Gadis kecil mana yang tidak sayang kepada orang yang mau menjadi temannya dan memberi tempat tinggal, pakaian, serta makanan untuknya? Tetapi sikap Reese yang jahat kepadaku mempermudah aku untuk melepaskan hubungan dengan mereka. Orang tua yang baik itu adalah seperti kedua kakek dan nenekku yang sayang kepadaku, bukan Bapak dan Ibu Foster.”

__ADS_1


Wajahnya yang tersenyum bahagia sama sekali tidak meninggalkan rasa luka atau sedih setelah mengetahui siapa mereka yang sebenarnya. Aku tidak yakin aku akan membiarkan mereka pergi begitu saja dari hidupku. Jika aku jadi dia, mereka bertiga pasti akan aku buat menderita. Lebih dari apa yang telah mereka lakukan kepadaku.


Mungkin keluarga Om Edu sudah terbiasa memaafkan perbuatan jahat orang lain kepada mereka. Papa tidak pernah mengajari kami begitu. Orang yang melakukan kesalahan harus dihukum. Bukan dengan mengotori tangan sendiri, tetapi menyerahkan mereka kepada pihak yang berwajib. Jika tidak begitu, mereka akan berpikir bahwa kami lemah dan bisa dipermainkan.


Seperti biasa, aku bertemu Colin pada hari Sabtu pagi untuk bermain basket bersama. Dia beruntung satu tim denganku sehingga dia tidak perlu mengeluarkan uang untuk mentraktir makan tim yang menang. Aku sengaja meminta dia menjemput aku dari rumah, jadi kami bisa ke mana pun dengan cepat menggunakan sepeda motornya.


Kami makan siang bersama dan mereka kali ini bersikap serius, tidak bercanda seperti biasanya. Ada yang membahas mengenai rencana mereka saat kuliah nanti. Yang lainnya mengeluhkan tentang dosen pembimbingnya yang memberi kesulitan.


“Beri aku nama dan nomor dosenmu itu. Aku akan coba supaya ada yang bicara dengannya. Apa yang dia lakukan kepadamu itu tidak baik. Apalagi kamu membayar uang kuliah yang tidak murah.” Aku melambaikan ponselku agar dia segera mengirim informasi yang aku minta.


“Apa kamu yakin dia tidak semakin mempersulit studiku kalau dia tahu?” tanya temanku itu dengan nada khawatir. “Aku lebih baik lama tamat daripada dikeluarkan dari kampus, Hadi.”


“Tenang saja. Kalau pun dia tahu, dia tidak akan berani mengganggu kamu lagi,” kataku berusaha untuk meyakinkan dia.


“Hadi tidak akan menawarkan bantuan, jika dia tidak bisa membantu.” Colin menepuk bahuku. “Kamu lihat saja pada hari Senin nanti. Dosenmu pasti berubah sikap kepadamu.”


Dia adalah mahasiswa yang rajin, tidak pernah membuat masalah. Jadi, apa yang dilakukan dosen itu kepadanya sangat tidak adil. Seandainya dia mahasiswa bermasalah, aku maklum. Walaupun aku tetap tidak terima ada seseorang yang menyalahgunakan kekuasaannya.


“Kamu sudah memikirkan tawaranku?” tanyaku kepada Colin saat mengembalikan helm kepadanya. Kami sudah tiba di depan rumah dan Pak Abdi sudah membukakan pintu depan.


“Mengenai bekerja di perusahaan keluargamu?” tanyanya mengonfirmasi. Aku mengangguk. “Apa aku punya pilihan lain?” Dia malah balik bertanya.


“Aku tidak akan membujuk kamu, Cole. Jadi, terserah. Kamu ambil atau tolak.” Aku berjalan menuju pintu depan. “Aku punya kandidat lain yang tidak akan berpikir dua kali untuk menerima tawaranku itu. Jangan pernah berpikir bahwa kamu adalah calon tunggal.”


“Aku mengenal kamu dengan baik, Hadi. Aku adalah calon tunggal,” katanya dengan sombong. Aku tidak membantahnya lagi. “Aku masih berpikir sama. Aku tidak yakin aku bisa menjadi seperti Mama. Perusahaan Uncle terlalu besar bagiku untuk menjadi asistenmu kelak.”


“Aku sudah bilang, mulailah belajar dari Tante Gista.” Aku menggelengkan kepalaku. “Kamu justru sangat beruntung bisa bicara dan belajar langsung dengan orang yang posisinya akan kamu gantikan.”


“Seperti kamu dengan Uncle,” gumamnya pelan.


“Apa kamu mengerti sekarang?” Aku melanjutkan langkahku menuju tangga setelah mempersilakan dia menunggu Dira di ruang keluarga.

__ADS_1


Charlotte dan Wyatt sudah siap untuk pergi ketika aku tiba. Mereka tidak membuang-buang waktu dan bergegas masuk ke mobil, lalu melambaikan tangan mereka kepadaku. Sepertinya aku datang terlambat sehingga mereka harus buru-buru pergi.


Kepala pelayan mereka mengantar aku menuju ruang keluarga. Clarissa sudah duduk di salah satu sofa sedang asyik menonton siaran di televisi. Dia segera menepuk sisi kosong di sampingnya. Aku mencium puncak kepalanya sebelum duduk di sebelahnya.


“Bukankah acara ulang tahunnya malam ini? Mengapa mereka terburu-buru begitu?” tanyaku heran.


“Kamu tidak akan percaya ini.” Dia tertawa geli. “Mereka berdua belum membeli kado. Sejak bangun tidur sampai beberapa saat yang lalu, mereka tidak juga menemukan kata sepakat akan memberikan hadiah apa dari toko daring. Jadi, mereka pergi untuk membeli langsung di mal.”


“Apakah dengan pergi ke mal akan mempermudah mereka untuk sepakat membeli barang yang cocok?” tanyaku bingung.


“Masalahnya di toko daring, sayang. Bukan barangnya. Charlotte sudah beberapa kali sial berurusan dengan pembelian barang secara daring. Jadi, dia tidak mau membayar barang dengan harga mahal yang ternyata palsu.” Clarissa menyodorkan remote televisi kepadaku. “Kamu mau nonton apa?”


“Tidak. Kamu saja yang memilih saluran,” tolakku. Dia meletakkan benda itu kembali di pangkuannya. “Bagaimana dengan skripsimu? Apa kamu membutuhkan bantuan?”


Dia meletakkan kepalanya di bahuku. “Tidak. Kakek sangat membant aku. Apalagi dia menguasai bidang yang aku teliti. Charlotte dan Wyatt membantu aku membuat tabel dan mengetik semua hal yang sudah aku catat. Jadi, bersiap-siaplah. Bisa jadi aku yang lebih dahulu sidang skripsi daripada kamu,” katanya dengan penuh percaya diri.


“Sayang, di situlah letak kesalahanmu. Aku sudah selesai dengan penelitianku, tinggal mengolah datanya saja. Aku sudah terlalu jauh di depanmu,” kataku memamerkan perkembangan skripsiku.


Dia memukul lenganku dengan tangan sehatnya. “Mengapa kamu selalu lebih dahulu dariku?”


Pintu ruangan diketuk, lalu kepala pelayan mereka masuk. “Maafkan saya sudah mengganggu, Nona. Ada orang di gerbang yang tidak mau pergi sebelum bertemu dengan Nona. Petugas keamanan sudah melakukan segala cara, mereka tidak mau pergi. Apa perlu saya telepon polisi?”


*******


Sementara itu di kantor polisi~


Manda berjalan mondar-mandir di ruang tahanannya. Dia sudah meminta tolong kepada seorang petugas yang berjaga untuk mencoba menghubungi temannya. Tetapi wanita itu belum kembali juga. Dia segera mendekati jeruji dan berteriak memanggil penjaga.


“Aku sudah bilang, usahamu itu tidak akan ada gunanya. Mereka mungkin mau menolong kamu,” ucap seorang tahanan yang ada di sebelah sel Manda. “Mereka keluar untuk mengambil makanan, bukan menelepon temanmu.”


“Bukan pertolongan mereka yang aku harapkan, tetapi temanku. Kamu lihat saja nanti. Aku pasti keluar dari tempat ini,” ucap Manda dengan yakinnya. Dia kembali duduk dan melihat ke arah pintu. “Finley tidak akan membiarkan aku mendekam lama di tempat ini. Dia pasti sedang berusaha untuk membebaskan aku,” gumamnya menghibur diri.

__ADS_1


__ADS_2