Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 89 - Aku Hancur


__ADS_3

*Dira*


Aku tidak ingat apa yang terjadi sehingga aku berbaring di tempat tidurku sendiri. Hal terakhir yang aku lakukan adalah menghadiri acara perpisahan di aula sekolah. Pakaianku sudah diganti dengan baju tidur berbahan kaus yang panjangnya menutupi lututku.


Yang mengherankan adalah Papa, Mama, Kak Hadi, dan Adi berada di kamarku juga. Mama duduk di tepi tempat tidurku dengan tangannya menggenggam tanganku. Papa berdiri di belakang Mama, sedangkan Kak Hadi dan Adi duduk di sisi kiri tempat tidurku.


“Bagaimana keadaanmu, sayang?” tanya Mama pelan.


Aku mengerutkan kening mendengar pertanyaannya itu. Apakah sesuatu yang buruk telah terjadi padaku? Aku mengalami kecelakaan atau jatuh dari tangga? Mengapa mereka semua terlihat khawatir. Ah, tidak. Itu bukan ekspresi khawatir. Mereka sedang sedih.


“Ma?” Aku bangun dari posisi berbaring ke posisi duduk. “Apa yang terjadi? Mengapa Mama sedih? Aku baik-baik saja, Ma. Lihat, aku tidak apa-apa. Tidak ada yang terasa sakit pada tubuhku.” Aku membuka lebar tangan kiriku yang bebas untuk menunjukkan bahwa aku bangun dengan nyaman. Tidak ada yang terasa nyeri pada tubuhku.


“Apa yang kamu ingat terakhir kali, Dira?” tanya Kak Hadi.


Aku menoleh ke arahnya yang sedang menatap aku dengan waswas. Aku berpikir sejenak dan hanya acara di sekolah yang aku ingat. “Aku sedang mengikuti acara perpisahan di sekolah bersama Wendy, Charlotte, dan Wyatt.” Aku sengaja tidak menyebut nama Jordan agar Mama tidak bertanya lebih lanjut. Dia bisa penasaran bila tahu ada seorang pemuda yang sedang aktif mendekati aku.


“Lalu apa ada hal khusus yang terjadi?” tanya Kak Hadi lagi.


“Mm. Tidak.” Aku mencoba untuk mengingat. “Yang pasti, aku tidak tahu bagaimana aku bisa berada di kamarku. Sebentar. Aku ingat aku ke toilet bersama Charlotte dan Wendy. Lalu aku merasa pusing, jadi kami ke meja saji untuk mengambil minuman. Aneh, aku tidak ingat apa pun setelah itu.”


“Bila ini bisa kami lakukan, maka kami tidak akan mengatakan apa-apa padamu. Sebisa mungkin kamu akan menutupi hal ini darimu selamanya. Karena ini bukan hal yang bisa kamu terima dengan baik, ah, jangankan kamu. Aku juga bisa gila jika ini terjadi padaku.” Kak Hadi menggeleng pelan sambil memejamkan matanya.


“Ada apa, Kak? Apa yang tidak akan bisa aku terima dengan baik?” tanyaku mulai khawatir.


“Seseorang memberi kamu obat tidur. Karena kamu bersama Wyatt, Charlotte, dan Wendy, aku yakin bukan salah satu dari mereka yang melakukannya.” Kak Hadi menatap aku dengan serius. Aku sudah tahu nama siapa yang akan disebutnya. “Aku tidak tahu bagaimana obat tidur itu bisa ada dalam tubuhmu, tetapi Jordan membawa kamu dari acara itu ke sebuah rumah. Vivaldo dan Nora membantunya. Mereka—”


“Sebentar. Ke mana teman-temanku saat Jordan membawa aku pergi?” tanyaku bingung.


“Mereka ada di aula. Menurut Wyatt, dia curiga sesuatu yang aneh terjadi karena kamu tidak juga kembali dan saat dia melihat ke meja saji, kamu menghilang. Dia baru sadar bahwa Jordan juga tidak ada di kursinya. Dia bergegas keluar dari aula, mengingat janjinya kepadaku untuk menjaga kamu. Dia melihat kamu dibawa ke gerbang belakang sekolah. Jordan sudah memasukkan kamu ke sebuah mobil saat mereka hampir berada di dekatmu.

__ADS_1


“Mereka menghentikan taksi kosong yang kebetulan lewat dan mengikuti mobil Jordan. Seandainya Charlotte dan Wendy tidak ikut, dia bisa langsung bertindak menolong kamu. Tetapi dia tidak bisa bertindak gegabah karena kedua gadis itu.”


“Jordan membawa aku ke sebuah rumah? Lalu apa yang terjadi?” Genggaman Mama pada tanganku sedikit lebih erat saat aku menanyakan itu. Aku tidak merasakan sakit atau tidak nyaman pada area pribadiku, jadi dia pasti tidak menyentuh aku di sana.


“Pertama, Om Irwan sudah menghapus semua jejak yang mereka tinggalkan. Jadi, kamu tidak perlu khawatir mengenai video atau foto yang masih tersisa. Karena Om Irwan sudah memastikan bahwa tidak ada satu tangkapan layar pun yang masih disimpan orang di gadget mereka.” Kak Hadi menelan ludah dengan berat. Kalimat yang akan dia ucapkan berikutnya pasti sangat berat.


“Maafkan aku, Dira. Maaf, ini terjadi padamu.” Mata Kak Hadi berkaca-kaca.


Jantungku berdebar dengan cepat. “Kak, apa yang terjadi?” tanyaku dengan suara bergetar.


“Nora menyiarkan secara langsung keadaan kamu yang tidak sadarkan diri tanpa sehelai benang pun di akun media sosialnya,” kata Kak Hadi dalam satu helaan napas.


Kamar berubah hening setelah Kak Hadi selesai bicara. Sampai bunyi tarikan napas Mama yang memburu pun bisa aku dengar dengan baik. Jantungku yang berdebar dengan cepat kini semakin cepat nyaris keluar dari dadaku. Tubuhku bergetar dengan hebat ketika kenyataan itu menyadarkan aku. Ini bukan mimpi.


Aku pernah berada di sebuah tempat dengan kondisi toilet yang kurang memadai. Meskipun aku tidak tahu siapa yang melakukannya, aku merasa sangat malu mengetahui ada orang yang mengintip aku dari atas tembok pemisah bilik toilet. Wendy sampai khawatir karena badanku gemetar bahkan sampai kami selesai melakukan wisata sekolah.


Ini bukan hanya satu orang yang mengintip aku saat buang air kecil. Ini adalah siaran langsung di media sosial yang bisa dilihat ribuan, bahkan ratusan ribu pasang mata. Mereka melihat tubuhku tanpa pakaian. Mereka melihat dadaku, perutku, area pribadiku, pahaku, yang bahkan tidak pernah aku pamerkan saat aku menjadi model busana.


“Dira?” tanya Mama pelan saat aku menarik tanganku darinya dan kembali berbaring. “Sayang, katakan sesuatu. Jangan diam saja.”


Aku menutup mata, lalu menarik selimut sampai menutupi leherku. Semua ini hanya mimpi. Aku akan terbangun beberapa saat lagi dan menemukan kamarku kosong. Hanya ada aku yang bangun tidur pada pagi hari seperti biasanya. Kak Hadi kemudian akan menggedor pintu kamarku agar aku bersiap-siap untuk joging. Tidak ada Mama, Papa, Kakak, dan Adi duduk di dekatku.


Sebuah tangan membelai sisi kepalaku. “Dira, ini bukan mimpi. Kamu tidak tahu betapa aku juga berharap ini hanya mimpi buruk. Tetapi, Dik, ini kenyataan.”


“Tidak,” isakku pelan.


“Ini kenyataan, Dira. Aku juga tidak mau mengatakan ini kepadamu. Tetapi lebih baik bila kamu mendengar berita ini dari kami daripada orang lain.”


“Tidak, Kak. Ini hanya mimpi. Aku hanya bermimpi.” Aku mengucapkan kalimat itu bagai mengucap mantra dan berharap mantra ini manjur. Aku mengabaikan air mata yang mengalir deras membasahi bantalku. Aku juga tidak memedulikan rasa sesak di dadaku.

__ADS_1


“Kita hadapi ini bersama, sayang. Kami di sini untukmu. Kamu tidak perlu menanggung beban ini sendirian. Aku tahu berita ini sulit untuk diterima, tetapi kita akan mencari jalan keluar bersama.”


“Jalan keluar? Jalan keluar apa, Ma?” Aku menoleh ke arahnya. “Semua orang melihat aku telanjang. Aku seorang model, Ma. Ada banyak orang yang mengenal aku. Poster, sampul majalah, papan iklan, situs web, bahkan televisi menampilkan wajahku setiap hari sepanjang tahun. Bukan hanya karierku yang hancur, hidup dan masa depanku juga hancur.”


“Tidak, sayang. Jangan bilang begitu.” Mama menggeleng pelan dengan wajah bersimbah air mata.


“Ke mana pun aku berjalan, orang akan menertawakan aku. Aku yakin saat ini pun sudah banyak orang yang mengumpat dan menghina aku dengan meneruskan siaran itu di berbagai media. Produk mana yang mau menggunakan wajah ini sebagai duta merek dagang mereka? Kampus mana yang akan menerima aku sebagai mahasiswa mereka, Ma? Dan laki-laki mana yang mau menerima aku menjadi kekasihnya? Tidak ada. Tidak akan ada, Ma.”


Aku meraung keras mengeluarkan rasa sesak di dadaku. Pelukan Mama tidak membuat aku lega sama sekali. Aku menolaknya dan berharap dia memberi aku ruang untuk bernapas. Tetapi Mama malah mempererat pelukannya. Dan saat Kakak dan Adi ikut memelukku, aku menangis kencang. Ya, Tuhan. Jika bisa. Cabut saja nyawaku sekarang. Bagaimana aku bisa punya muka menghadapi orang di luar sana?


*******


Sementara itu di sebuah kantor polisi~


Vivaldo dan Jordan serentak menoleh ke arah Nora. Mereka mengangakan mulut mereka usai mendengar pernyataan lengkap yang diberikan oleh wanita itu. Bahkan polisi yang menginterogasi mereka tidak bisa menyembunyikan rasa tidak percaya mereka.


“Kamu,” ucap Vivaldo yang tersekat dengan air liur yang ditelannya sendiri. “Kamu menyiarkan gadis itu di media sosial dalam kondisi tanpa pakaian? No-Nora, apa yang kamu pikirkan? Itu bukan bagian dari rencana kita. Itu—”


“Diamlah,” kata Nora dengan kesal. “Kalian seharusnya berterima kasih padaku karena cara ini jauh lebih efektif daripada menyebarkan foto dia sedang bercinta dengan Jordan.”


“Itu tidak ada dalam kesepakatan kita, Nora,” kata Jordan keberatan. “Kita sepakat aku tidur dengan dia, lalu menikahi dia bila dia hamil.”


“Kami harus mengatakan itu kepadamu supaya kamu mau mengikuti rencana kami. Apa kamu pikir kami bersusah payah sampai sejauh ini hanya untuk merusak citra seorang gadis? Dasar bodoh. Kami punya target yang jauh lebih besar. Menghancurkan keluarga Mahendra Perkasa.” Nora tertawa kecil. “Dengan begini, mereka sudah tidak seperkasa nama besar mereka.” Nora tertawa puas.


*******


Author's Note~


Aku tahu beberapa bab terakhir ini sangat berat untuk dibaca. Mohon kesabarannya, ya, teman-teman. Setelah dua atau tiga bab ke depan, konfliknya tidak akan seberat ini. >_<

__ADS_1


Salam sayang,


Meina H.


__ADS_2