
Aku dan Dira memukul-mukul punggung Adi begitu tahu yang dia sebut dengan pacar adalah istri dalam game-nya. Wanita bernama Diah itu sudah punya pacar, jadi kami tahu Adi hanya bercanda. Lagi pula wanita dewasa seperti dia tidak akan tertarik kepada pemuda ingusan seperti adikku.
Ibu Yuyun datang membawakan minuman hangat dan makanan ringan untuk kami. Aku segera berpindah duduk di sofa. Setelah membalas ucapan terima kasih kami, Ibu Yuyun keluar dari kamar Dira. Kami melanjutkan percakapan dengan santai sambil menikmati makanan tersebut.
Papa dan Mama mengajak Adi mengikuti setiap undangan yang mereka hadiri agar dia tidak merasa sendiri. Dira mengikuti audisi ditemani oleh Colin, sedangkan aku menghabiskan akhir pekanku di rumah Clarissa. Dia belajar membuat dua menu makanan baru dibantu Tante Lindsey.
Aku dengan senang hati menerima hasilnya dan memakannya dengan lahap. Clarissa sampai curiga bahwa aku berpura-pura menikmati masakannya yang tidak enak. Memang rasa makanan itu belum sesempurna buatan Pak Fahri. Tetapi sebagai pemula, masakannya lezat.
“Kamu tidak perlu susah payah belajar memasak, sayang. Kita akan mempekerjakan koki, jadi kamu bisa fokus memerhatikan aku. Bukan mengurus rumah,” ucapku mengingatkan.
“Oh. Pria mandiri seperti kamu masih butuh perhatian?” godanya. Aku tertawa.
“Apa kamu tidak melihat bagaimana tingkah kakekmu setiap kali dia pulang dari tempat kerja?” Tante Lindsey ikut tertawa. “Walaupun dia seorang bos, begitu berada di rumah, dia berubah menjadi anak kecil. Hal yang biasanya bisa dia lakukan sendiri mendadak tidak bisa dikerjakannya.”
“Ooo. Jadi ini yang kalian bicarakan sepanjang hari saat di rumah saja? Membicarakan orang di belakangnya, hm?” ucap Om Edu yang memasuki ruang makan. Kami serentak tertawa. “Di mana Charlotte dan Wyatt?” Dia melihat ke sekitar kami.
“Masih berenang di kolam,” jawab Tante Lindsey.
“Ayo, kita bersiap sekarang. Penata riasmu sudah datang,” ajak Om Edu. Istrinya menurut. Mereka akan menghadiri undangan resepsi pernikahan pada sore ini.
Clarissa mengajak aku untuk melanjutkan percakapan di ruang keluarga. Para pelayan sudah bersiap untuk merapikan ruang makan tersebut. Karena kondisi kaki dan tangannya, Clarissa tidak bisa melakukan banyak aktivitas. Jadi, kami memilih sebuah saluran yang memutar film laga.
Wyatt dan Charlotte bergabung bersama kami setelah mereka selesai makan siang. Film sudah hampir berakhir, tetapi mereka tidak keberatan. Wyatt mengajak kami bermain kartu yang segera kami setujui. Charlotte selalu menang setiap kali kami bermain berbagai jenis permainan kartu. Aku sudah menguasai peraturannya pun belum bisa mengalahkan dia.
Dosen pembimbingku sudah pulang, maka aku datang ke kampus sepagi mungkin agar menjadi orang pertama yang berdiskusi dengannya. Aku hampir saja bersorak senang ketika dia mengatakan bahwa bab duaku sudah bagus dan aku bisa melanjutkan ke bab 3.
Bukan hanya aku yang mendapatkan kabar baik, Clarissa juga. Dosennya meminta ditambahkan beberapa teori, tetapi dia sudah bisa mengerjakan bab ketiganya. Aku menitipkan skripsi itu kepada Charlotte dan pergi ke kantor dengan tubuh yang ringan.
__ADS_1
Bab ketiga adalah yang tersulit dalam mengerjakan skripsi, karena itu adalah isi dari penelitian yang kami kerjakan. Aku sudah punya semua data yang aku butuhkan, tinggal mengolahnya saja. Colin justru baru memulai penelitiannya dengan menyebarkan kuesioner. Siapa bilang yang lebih dahulu mulai menjamin akan lebih dahulu selesai?
“Mengapa kamu tersenyum terus seperti itu? Ada kabar gembira apa?” tanya Clarissa saat aku meminta neneknya untuk menghubungkan kami lewat panggilan video.
“Aku sudah menyelesaikan bab duaku, jadi aku bisa lanjut ke bab tiga,” jawabku senang. “Kamu juga begitu. Ada yang perlu ditambahkan pada bab dua, tetapi dosenmu mempersilakan kamu lanjut ke bab tiga. Selamat, sayang.” Aku menghentikan mobil begitu lampu merah menyala.
“Wah! Syukurlah! Jadi, kita bisa lulus bersama!” soraknya senang. Aku ikut tertawa bersamanya.
Namun ada yang aneh pada dirinya. Lalu aku teringat dengan kalimat pertamanya saat menyapa aku. “Sayang, apa penglihatanmu sudah kembali?” tanyaku penuh harap.
“Akhirnya, kamu menyadarinya juga! Iya, sayang! Aku bangun pagi tadi semuanya bisa aku lihat walaupun masih sedikit kabur. Dokter sudah datang memeriksa aku. Katanya, besok atau lusa, aku sudah bisa melihat dengan jelas lagi!” serunya bahagia. Syukurlah.
“Maafkan aku. Sore ini aku tidak bisa datang ke rumahmu. Selamat untukmu, sayang.” Aku ikut merasakan bahagia.
Wajahnya berubah cemberut. “Kamu mau ke mana? Sore ini ada orang yang ingin bertemu dengan kamu. Apa kamu tidak bisa mampir untuk makan malam?” pintanya.
“Bagaimana dengan besok?” tanyanya lagi.
“Aku tidak bisa. Ada acara besar di rumah, jadi aku harus membantu adikku memeriksa beberapa persiapan terakhir,” jawabku yang merasa semakin tidak enak melihat wajah sedihnya. “Aku akan datang pada hari Kamis sore. Bagaimana? Skripsimu sudah aku titipkan ke Charlotte. Jadi, kamu bisa memulai penelitianmu.” Aku mencoba untuk membujuknya.
“Kamu ada acara besar di rumah? Mengapa kamu tidak mengundang aku?” tanyanya sedih.
“Tante Lindsey tidak mengatakan apa pun mengenai acara di rumah kami?” Aku balik bertanya. “Ini bukan acaraku, jadi aku bukan penyebar undangan. Papa yang bertugas melakukan itu. Karyawan kantor, kolega bisnis, dan sahabatnya yang mendapatkan undangan.”
“Nenek atau Kakek tidak mengatakan ada acara yang harus kami hadiri pada hari Rabu nanti,” ucapnya pelan. “Baiklah. Aku akan bertanya kepadanya nanti. Aku tidak tahu apakah sebaiknya aku datang. Dengan kondisiku ini, aku tidak cocok mengenakan pakaian yang bagus.”
“Pakai baju yang nyaman saja, sayang. Aku mencintai kamu, jadi kamu tidak perlu berusaha keras untuk menarik perhatianku lagi,” kataku mencoba mencairkan suasana.
__ADS_1
“Gombal. Aku yakin kolega Om Hendra akan membawa anak gadis mereka untuk menghadiri acara di rumah kalian. Kalau aku tidak tampil lebih baik dari mereka, kamu yang akan malu sendiri.”
“Kamu bisa datang saja sudah cukup, sayang.” Aku berhenti sejenak. “Bunyi apa itu?”
“Ada panggilan masuk. Aku akan berikan ponselku kepada Nenek. Ini pasti telepon penting. Sampai nanti, sayang. Hati-hati di jalan.” Dia mencium kamera sehingga aku bisa melihat bibirnya mendekat. Aku hanya tertawa melihat tingkahnya.
Rapat sudah dimulai, jadi aku tidak memasuki ruangan itu agar tidak menginterupsi jalannya acara. Aku langsung ke bilikku dan menyalakan komputer untuk melihat daftar tugasku pada hari ini. Tegar datang dan memberikan beberapa usulan dari karyawan magang yang menjadi tanggung jawab kami. Aku mendesah pelan melihat tumpukan kertas itu.
Syukurlah, aku bisa menyelesaikan pekerjaanku tepat waktu. Tegar menatap aku tidak percaya, karena dia masih memeriksa kertas-kertas tersebut. Aku bergegas menuju tempat parkir. Untung saja adik-adik meminta bertemu di mal yang dekat dengan lokasi kantorku. Pak Sakti mengantar mereka, lalu nanti kami akan pulang bersama.
“Kak! Di sini!” Terdengar suara Dira memanggil ketika aku memasuki sebuah kafe di mana mereka sudah menunggu aku. Mereka meminta aku duduk sejenak. “Kami sudah mencari informasi.” Dira meletakkan sebuah brosur di atas meja di depanku. “Bagaimana kalau kita beri jam saja?”
“Aku sudah punya rencana lain. Ponsel Papa sudah bertahun-tahun tidak diganti. Aku akan memberi itu sebagai kado.” Aku melihat mereka secara bergantian. “Kalau kalian mau memberikan jam itu, silakan.” Aku mengambil gelas di depan Adi dan meneguk isinya.
“Aku tidak keberatan,” ucap Adi. Dira juga setuju.
Kami pergi ke toko jam terlebih dahulu. Aku membiarkan Dira dan Adi berdiskusi berdua memilih jenis dan warna jam yang cocok untuk Papa. Padahal yang mana pun bukan masalah untuknya. Papa tidak pernah peduli dengan penampilannya. Bila dibandingkan dengan aku dan Adi, orang-orang mengatakan bahwa Papa tidaklah menarik. Harta dan nama keluarga yang membuat Papa menjadi incaran banyak wanita. Anggapan yang aneh. Aku dan Adi justru mirip dengan Papa.
Dira yang suka dengan laki-laki tampan saja selalu membandingkan mereka dengan Papa. Baginya, Papa adalah pria paling ganteng di dunia. Teman-teman modelnya dianggap biasa saja, bahkan Colin yang dicintainya kalah menarik. Standar setiap orang memang berbeda-beda.
Setelah mendapatkan jam yang mereka inginkan, kami menuju toko ponsel terdekat. Aku sudah tahu barang yang aku incar. Jadi, aku cukup menyebut merek dan tipenya, pelayan toko pun memberikan apa yang aku minta. Aku tidak membuka kotaknya dan meminta jaminan aku bisa mengembalikan barang itu bila ternyata dalam kondisi rusak.
“Kalian mau makan apa? Aku yang traktir,” kataku sambil melihat barisan restoran yang ada di sekitar kami. Aroma yang sedap membuat perutku semakin lapar.
“Yang hangat saja, Kak.” Adi mengusap-usap perutnya. “Aku sudah lama tidak makan bakso.” Aku menoleh ke arah Dira, dia mengangguk setuju.
“Baiklah. Ayo.” Aku mempersilakan Adi untuk berjalan lebih dahulu dan memilih tempat makan yang dia inginkan. Aku dan Dira mengikutinya.
__ADS_1
Langkahku terhenti ketika seseorang memegang lenganku dari belakang. Aku menoleh dan melihat seorang wanita separuh baya menatapku dengan aneh. “Hendra? Kamu Hendra, ‘kan?” tanyanya dengan senyum bahagia. Siapa wanita ini? Mengapa dia memanggil aku dengan nama Papa?