Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 15 - Latihan


__ADS_3

Aku meminum segelas air yang Om Zach berikan. Keadaanku sudah lebih tenang. Tetapi saat aku melihat ke arah jus jeruk yang ada di atas meja, air mata mengancam untuk keluar. Minuman yang dibawakan Colin untukku.


Pintu terbuka, aku segera memalingkan wajah. Aku tidak mau siapa pun yang masuk ke ruangan ini melihat wajahku. Mendengar Om hanya diam saja, sepertinya yang masuk adalah keluarga kami. Aku menyeka wajah untuk terakhir kalinya dengan tisu sebelum menoleh.


“Kamu tidak bisa menghalangi aku untuk membunuh dia. Aku tidak peduli kamu akan membenci aku untuk selamanya, tidak ada seorang pun yang bisa membuat adikku bersedih seperti ini.” Kak Hadi memberikan sebuah tas kepadaku. Aku mendesah lega melihatnya.


“Jangan konyol. Dia adalah sahabat baik Kakak. Aku akan baik-baik saja. Lagi pula waktunya sangat tepat untuk menjadi jomlo. Aku akan menyelesaikan SMU dengan tenang dan begitu aku dinyatakan lulus di universitas yang sama dengan Kakak, aku bisa lanjutkan karierku. Kakak tahu sendiri bahwa kontrak kerja model seperti aku sering menuntut aku untuk jomlo pada kurun waktu tertentu.” Tas yang Kakak bawa berisi peralatan riasku, jadi aku bisa memperbaiki penampilanku sebelum keluar dari ruangan.


“Aku sudah bilang, itu bukan jenis kontrak yang boleh kamu terima. Kehidupan pribadimu adalah urusanmu, bukan mereka. Bila mereka menuntut kamu untuk menjaga nama baik dan reputasimu, aku setuju. Karena kamu adalah wajah mereka, jadi skandal yang kamu lakukan akan mencoreng nama mereka juga,” kata Om Zach mengingatkan.


“Baiklah,” kataku mengalah. “Lagi pula Om tidak perlu khawatir. Om akan membaca semua kontrak itu sebelum aku menandatanginya seperti biasanya.”


“Karena Hadi tidak akan tega menyakiti sahabatnya sendiri, maka aku yang akan membunuh Colin.” Om menatapku dengan tajam agar aku tidak melawan, tetapi aku tidak peduli.


“Berhenti bicara tentang membunuh. Anggap saja ini latihan. Aku tidak mau kalian membunuh semua laki-laki yang kelak akan mematahkan hatiku. Aku tidak selemah itu. Aku tahu bahwa tidak semua kisah cinta berakhir bahagia. Jadi, kalian juga harus bisa menyadari hal itu mulai dari hari ini.” Aku tersenyum melihat keadaan wajahku sudah lebih baik.


“Kak Ara juga bersikap tidak wajar tadi. Seharusnya dia marah melihat Colin datang dengan gadis lain pada hari ulang tahunmu. Mengapa dia malah diam saja dan terpukau melihat dia?” ucap Om Zach penuh protes.


“Om, Dira sudah berhasil menenangkan diri. Sebaiknya kita tidak membahas tentang Cole atau Mila di depannya. Orang-orang akan mencari kamu, Dira. Ayo, kita keluar sekarang,” ajak Kak Hadi.


Kami bertiga kembali ke ruang depan. Semua orang masih asyik dengan teman bicara dan makanan mereka masing-masing. Aku melihat Mila masih dikelilingi sahabat Mama, tetapi Colin tidak terlihat di mana pun. Mungkin dia sedang di toilet.


Menjelang jam sepuluh malam, mereka mulai pamit untuk pulang. Para tetangga, keluarga Om Zach, kedua kakek dan nenekku, keluarga Uncle Will, Colin, juga sahabat dan asistenku keluar dari rumah kami. Tetapi para sahabat Papa dan Mama tidak bergerak dari tempat duduk mereka.

__ADS_1


Saat Papa memberi sinyal, mereka semua masuk ke ruang keluarga. Aku menatap Kakak dengan heran, tetapi dia hanya diam saja. Melihat sikap tenangnya, sepertinya dia tahu apa yang hendak mereka diskusikan. Aku ikut masuk ke ruangan itu dan membiarkan para pekerja kami mengerjakan tugas mereka membersihkan ruang depan.


Beberapa sofa sudah dipindahkan ke ruangan itu sehingga semua orang bisa duduk dengan nyaman. Aku duduk di salah satu sofa tiga dudukan agar kedua saudaraku bisa duduk bersamaku. Para orang dewasa memasang wajah sangat serius yang membuat aku semakin bingung.


Bu Yuyun masuk bersama Sita membawa beberapa gelas air di atas baki. Mereka meletakkannya di atas meja dan aku membantu membaginya di depan orang tua kami yang terdekat dari posisi dudukku. Lalu mereka pergi dan suasana masih tenang.


“Aku tidak percaya bahwa dia lahir dan besar di Amerika,” kata Tante Lindsey memulai percakapan. “Aku tahu bahwa ada sekian persen kemungkinan kita punya kembaran di dunia ini. Tetapi dia terlalu mirip dengannya untuk disebut sebagai kembaran. Gadis itu adalah putri mereka.”


Gadis itu? Apa yang sedang dibicarakan oleh Tante Lindsey? Kembaran siapa? Putri siapa? Aku melihat ke arah Papa dan Mama yang memasang wajah serius sama seperti para sahabat mereka. Apa yang tidak aku ketahui di sini?


“Kita akan segera mengetahui kebenarannya. Aku akan mengantar sampel rambutnya besok pagi ke laboratorium dan kita akan tahu apa benar dia anak Matias, putra kita.” Om Edu menunjukkan sebuah kantong plastik, lalu memasukkannya ke tas tangan Tante Lindsey.


Oh. Tuhan. Apakah mereka sedang membicarakan Mila? Mengapa mereka curiga dia adalah anak almarhum Om Matias? Clarissa menghilang sejak dia berumur tiga tahun, bahkan mereka percaya bahwa dia sudah tiada. Lalu apa yang membuat mereka berpikir dia adalah anaknya?


“Apa aku boleh mengatakan sesuatu?” ucap Kak Hadi. Semua mata memandang ke arahnya. “Aku sedikit tahu tentang Mila. Kami beberapa kali mengobrol beberapa hari belakangan ini.”


“Itu berita baik. Apa yang ingin kamu katakan?” Tante Lindsey terlihat tidak sabar.


“Menurut pengakuannya, dia bernama Mila Foster. Sepasang suami istri mengangkat dia menjadi anak mereka. Aku tidak tahu apa masalahnya, tetapi dia sudah memutuskan hubungan dengan mereka. Dia besar di Indonesia, sayangnya, aku tidak tahu apa dia juga lahir di sini. Katanya, orang tua yang dia pikir adalah orang tuanya, bukanlah orang tua kandungnya.


“Apa yang dia tunjukkan tadi hanya bagian dari sandiwaranya dengan Cole. Dia fasih berbahasa Indonesia dan sedang kuliah di universitas yang sama denganku dan Cole.” Kakak melirik ke arahku. “Aku tidak tahu mengapa Cole membawa dia bersamanya dan mengaku sebagai pacar. Tetapi tidak benar bahwa gadis itu besar di Amerika.”


“Oh, Tuhan ….” Tante Lindsey menutup mulut dengan kedua tangannya. Matanya berair dan setetes air mata jatuh membasahi pipinya. “Mu-mungkinkah dia adalah Clarissa?” Suaranya terdengar penuh harap. Harapan yang tidak pernah berhenti mereka impikan akan terwujud suatu hari nanti.

__ADS_1


“Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk saat ini. Aku yakin gadis itu tidak akan mau berkata jujur karena dia tetap mengakui bahwa dia adalah orang Amerika asli. Jadi, satu-satunya cara untuk mengetahui siapa dia yang sebenarnya adalah menunggu hasil tes keluar,” kata Tante Darla.


“Aku akan meminta pertolongan temanku untuk mencari informasi sebanyak mungkin mengenai Mila Foster. Begitu dia memberi kabar, aku akan meneruskan surel darinya kepada kalian semua,” kata Papa. “Bila benar bahwa dia adalah Clarissa, maka kita akan telusuri mulai dari orang tuanya untuk tahu apa yang terjadi pada hari nahas itu.”


Mereka memutuskan untuk pulang dan beristirahat. Kami mengantar mereka sampai pintu depan. Sekali lagi, mereka mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku. Ketika mobil mereka semua sudah keluar dan gerbang depan ditutup, kami memasuki rumah.


Keluargaku berjalan menaiki tangga, Pak Abdi pamit dan Papa mempersilakannya untuk beristirahat. Tetapi aku berhenti di meja di mana terdapat tumpukan kotak dan tas kertas berisi kado ulang tahun untukku. Meskipun tertindih kotak lain, mataku dengan cepat menemukan kado darinya.


Setelah mandi dan berganti pakaian, aku duduk di tepi tempat tidur dan mengambil kotak kado pemberian Colin. Aku menghela napas panjang, lalu membukanya. Ada sebuah kalung dengan rantai titanium. Liontinnya berbentuk oval terbuat dari batu kecubung. Batu kelahiranku. Dibandingkan warna ungu, aku lebih suka warna merah. Tetapi karena kalung ini adalah pemberiannya, warna ungu ternyata bagus juga.


Pintu kamarku diketuk, aku mempersilakan masuk. Mama muncul dari balik pintu dengan senyum di wajahnya. Dia menutup pintu, lalu berjalan mendekati tepi tempat tidur. Melihat mantel berbahan sutra yang dia kenakan, Mama pasti sudah mandi dan bersiap untuk tidur. Aku selalu iri melihat kemesraan Papa dan Mama. Karena itu aku ingin menikah muda dan menjalani pernikahan yang bahagia bersama Colin. Tetapi harapanku itu sudah hancur.


“Hadiah dari Colin?” tanya Mama melihat kalung yang aku pegang. Aku mengangguk pelan. Mama menyentuh tanganku. “Maafkan aku, sayang. Aku telah menjadi ibu yang jahat hari ini. Seharusnya aku tidak memusatkan perhatianku kepada gadis lain dan mengabaikan kamu.”


“Jangan meminta maaf, Ma. Setelah pembicaraan di ruang keluarga tadi, aku mengerti mengapa Papa, Mama, juga semua om dan tante fokus pada Mila. Aku tahu Tante Lindsey sangat berharap bisa menemukan cucunya yang hilang suatu hari nanti. Jadi, aku juga berharap semoga pencarian mereka kali ini akan berakhir baik.” Aku tersenyum.


Mama mengusap pipiku. “Apa yang terjadi antara kamu dengan Colin? Dia sudah membuat kamu menangis. Papa kamu tidak suka melihat ini dan aku harus menahannya sekuat tenaga untuk tidak memukul anak yang malang itu tadi.”


“Papa dan Mama tahu?” tanyaku tidak percaya.


“Tentu saja. Kamu dan Colin masuk ke ruangan, lalu dia keluar dengan wajah merah. Zach masuk kemudian dan Hadi menyusul dengan membawa tas yang berisi peralatan riasmu. Apa kalian berdua sudah bicara mengenai hubungan kalian?” tanya Mama berhati-hati.


“Iya. Aku sudah memutuskan hubungan kami. Aku tidak akan membiarkan dia terus memamerkan pacarnya tanpa memberi kepastian apa pun padaku,” kataku dengan tegas. “Andai suatu hari nanti dia berubah pikiran, aku tidak akan mau menerima dia kembali. Sekalipun dia berlutut di depanku.”

__ADS_1


__ADS_2