
*Hadi*
Sayup-sayup aku mendengar suara percakapan di dekatku. Aku membuka mata dan melihat langit-langit ruangan berwarna putih. Udara yang masuk penciumanku sangat segar, jadi aku menarik napas dalam-dalam sampai udara memenuhi paru-paruku.
“Kakak!?” Tiba-tiba saja wajah Dira mendominasi penglihatanku. “Oh, syukurlaahh!! Kakak akhirnya bangun juga!!” Dia memelukku dengan erat dan meletakkan kepalanya di dadaku.
“Dira! Hati-hati. Kakakmu sedang dalam masa pemulihan. Pelukan kamu bisa menyakiti dia!” pekik Mama panik. Aku tersenyum mendengarnya. Aku bahagia aku berada di tengah-tengah keluargaku.
“Kakak bodoh!” Dira mendadak memukul dadaku membuat aku mengaduh kesakitan.
“Dira! Hentikan!” Mama berdiri di sisi kananku, menghalangi adikku yang ingin memukul aku lagi.
“Dia tidur lama sekali sampai membuat aku khawatir. Bagaimana aku tidak marah, Ma?” ucap Dira membela diri. “Dasar kakak bodoh!”
“Dokter sengaja membuatnya koma supaya pemulihannya lebih cepat. Kakakmu bukan sengaja tidur lama dan tidak mau bangun,” kata Mama lagi.
“Apa yang kalian lakukan?” Terdengar suara Papa dari sisi kananku. Aku menoleh dan pintu kamar sedang terbuka. Dia masuk dan menutupnya kembali begitu mata kami bertemu. “Hadi? Kamu sudah bangun, Nak?”
Papa memeriksa keadaanku, lalu menekan tombol yang ada di dinding belakang kepalaku. Tidak lama kemudian, dokter dan suster masuk. Pria berjubah putih itu memeriksa kondisi fisikku. Dia memberi tahu bahwa aku baik-baik saja. Saat dia memeriksa bagian sisi kanan tubuhku, mataku membulat melihat kulitku berubah gelap kebiru-biruan.
Kejadian pada saat kecelakaan itu pun bermain di kepalaku. Aku sedang mengendarai mobil saat tiba-tiba saja sebuah mobil dari arah kanan melaju kencang dan menabrak sisi kanan mobil, tepat di mana aku duduk. Aku beruntung mobil itu dilengkapi dengan kantong udara di bagian roda setir dan kaca jendela samping. Kepalaku terlindung dari benturan keras.
Namun melihat kondisi tubuh bagian kananku, sepertinya mereka menggunakan sesuatu yang keras pada bagian depan mobil mereka. Karena aku seharusnya tidak terluka begini. Mobil buatan Jerman yang baru Papa beli itu adalah keluaran terbaru, pengganti mobilku yang dirusak beberapa waktu yang lalu. Aku seharusnya tidak terluka atau memar pada saat terjadi kecelakaan.
“Kami akan memberi obat pereda rasa sakit lagi dengan dosis yang lebih kecil. Keadaan vitalnya stabil dan dia pulih dengan cepat. Bila dia tetap stabil sampai besok pagi, maka dia sudah boleh pulang dan beristirahat di rumah.” Dokter itu memberi kabar gembira.
Papa dan Mama berterima kasih kepadanya. Dokter dan suster tersebut keluar dari kamar, lalu Dokter Andreas masuk dengan wajah bahagia. Dia adalah dokter keluarga kami yang sudah bekerja untuk kami sejak aku belum lahir.
“Selamat siang, Hadi. Wajah kamu masih pucat tetapi doktermu mengatakan kamu pulih dengan cepat.” Dia berjalan mendekati sisi ranjangku.
__ADS_1
“Selamat siang, Dokter. Iya, aku merasa lebih baik. Hanya sedikit nyeri pada tubuh bagian kananku.” Aku bahkan tidak berani menyentuhnya karena akan terasa sakit.
“Karena itu kami terpaksa membuatmu tidur selama tiga hari. Bila kamu sadar, kamu tidak akan bisa menahan sakitnya.” Dia menoleh ke arah baki yang ada di atas meja beroda, tidak jauh dari ranjang. “Kamu belum makan? Sebaiknya kamu makan dan minum sesuatu. Kamu pasti sudah lapar.”
“Ah, mengenai hal itu … apa Hadi boleh makan makanan yang kami bawa dari rumah, Dok?” tanya Mama sambil mengangkat sebuah tas yang aku yakin berisi kotak bekal makanan.
“Tentu saja boleh. Aku tahu Fahri berwawasan luas, jadi dia akan memasak makanan yang sehat untuk tuan mudanya.” Dia mengedipkan sebelah matanya ke arahku. “Baiklah. Aku hanya ingin melihat keadaannya. Aku akan berkeliling lagi menjenguk pasienku yang lain. Panggil aku bila kalian membutuhkan apa pun.”
Kami serentak mengucapkan terima kasih kepadanya. Papa yang mengantar Dokter Andreas keluar kamar, sedangkan Dira mendekatkan meja agar Mama bisa meletakkan makanan di atas meja itu. Baki yang berisi makanan dari rumah sakit dipindahkan ke atas meja.
Saat aku sedang makan, mereka bergantian menceritakan apa yang terjadi kepadaku. Mengenai memar di tubuh sisi kananku, hasil CT Scan, dan keputusan dokter untuk membuat aku koma. Sudah beberapa hari ini mereka tidak pulang ke rumah dan menyewa kamar di rumah sakit agar bisa bergantian menemani aku.
Mereka khawatir Finley akan mengirim orang untuk menyakiti aku, jadi mereka tidak membiarkan aku berada di kamar seorang diri. Papa bahkan tidak peduli dengan peraturan rumah sakit. Orang suruhan Finley bisa saja menyamar menjadi salah satu tenaga medis dan tidak akan ada yang bisa menghentikan dia karena mereka tidak mencurigai penampilannya itu.
Keluargaku terlalu banyak menonton film laga, tetapi aku mengerti mengapa mereka berpikir seperti itu. Kecelakaan itu adalah bukti bahwa ada orang yang ingin membunuh aku. Apa yang membuat mereka berpikir bahwa aku adalah ancaman, aku tidak tahu.
“Dia—” kata Papa menjawab pertanyaanku.
“Hadi!” Pintu kamarku terbuka dan seorang gadis berdiri di ambang pintu dengan wajah bersimbah air mata. Dia tertegun sesaat melihat aku sedang makan, lalu dia menyapukan pandangan ke arah Papa, Mama, dan Dira. “Oh. Ma-maafkan aku.”
Clarissa menutup pintu kamar kembali. Aku tidak mengerti apa yang sedang dia lakukan. Dia tiba-tiba datang, lalu pergi begitu saja? Tetapi melihat penampilannya tadi, sepertinya dia juga sedang dirawat di rumah sakit ini. Karena tidak mungkin pasien dari rumah sakit lain bisa keluar tanpa sepengetahuan suster tanpa berganti pakaian terlebih dahulu.
“Biar aku yang urus.” Papa berdiri, lalu dia berjalan mendekati pintu. Mama dan Dira bertukar pandang sambil menyembunyikan senyuman mereka dengan meletakkan tangan mereka di depan bibir. “Masuklah, Nak. Kamu ingin melihat keadaan Hadi, ‘kan?” ucap Papa.
“Ayo, masuk, Clarissa.” Mama menarik tangannya agar dia masuk ke kamar, lalu Papa menutup pintu kembali. “Apa kamu sudah makan siang? Dia mana kakek dan nenekmu?”
“Sudah, Tante. Ng, mereka ada di kamarku. Tadi kami ….” Dia melihat ke arah pintu, kemudian ke arah Mama. Dia didudukkan di kursi di sisi kananku, di mana tadi Mama duduk.
“Apa kamu baru saja berlari ke sini? Napas kamu tersengal-sengal,” tanya Mama khawatir. Clarissa tersenyum gugup. Entah apa yang membuat dia salah tingkah.
__ADS_1
“Aku yakin Claudia dan Lindsey menggoda dia mengenai keadaan Hadi sampai dia datang ke sini. Mereka mungkin memberi tahu dia bahwa Hadi dalam keadaan sekarat.” Terdengar bunyi pintu diketuk, Papa yang masih berdiri di dekat pintu membukanya. “Benar, ‘kan, apa kataku.”
Aunt Claudia dan Tante Lindsey masuk ke kamar dengan senyum usil, sedangkan Uncle Mason dan Om Edu hanya menggelengkan kepala mereka. Pemandangan ini sangat aneh. Bagaimana bisa ada Uncle Mason dan Aunt Claudia di sini?
“Oh. Kamu tidak perlu terkejut begitu. Grandpa dan Grandma tidak jadi pulang ke Amerika. Wyatt juga ada di sini.” Clarissa melihat ke arah pintu. Dan benar saja, Wyatt muncul bersama Charlotte. Pemuda itu berjalan dengan wajah bahagia, sebaliknya dengan Charlotte. Dia seperti ingin kabur dari tempat ini sejauh mungkin.
“Apa yang terjadi? Bagaimana mereka bisa berada di sini?” tanyaku bingung.
*******
Sementara itu di suatu tempat~
Finley duduk dengan gelisah di tempat duduknya dalam sebuah ruangan yang disediakan baginya untuk bicara dengan kuasa hukumnya. Dua orang petugas berdiri di belakangnya, dengan sikap siap siaga. Kakinya bergoyang di bawah meja dan jemarinya mengetuk-ngetuk meja. Sesekali dia melirik ke arah pintu dan berharap seseorang akan muncul di sana.
Dia menarik napas panjang dan menoleh ke arah jam dinding untuk kesekian kalinya. Orang yang dia harap-harapkan belum juga datang setelah setengah jam menunggu. Tidak lama kemudian, pintu terbuka dan seorang pria memakai setelan rapi memasuki ruangan.
“Selamat pagi, Pak Taylor,” sapa pengacara tersebut dengan sopan. “Selamat pagi, Pak Polisi.” Dia mengangguk tipis ke arah kedua petugas yang ada di belakang Finley.
“Tidak perlu berbasa-basi, aku tidak punya banyak waktu dan aku punya banyak hal yang perlu aku diskusikan denganmu,” ucap Finley geram. “Mengapa kamu datang lama sekali? Apa kamu memang pengacara yang paling handal di negeri ini?”
“Kasus Anda sangat berat, jadi sebaiknya Anda belajar untuk bersikap rendah hati dan sopan agar bisa memenangkan hati hakim. Sikap arogan ini tidak akan ada gunanya di persidangan nanti.” Pria itu meletakkan tasnya di atas meja, lalu duduk di kursi yang berhadapan dengan Finley. “Saya tidak terlambat karena saya menginginkannya, tetapi saya perlu mempelajari kasus Anda sebelum kita berdiskusi panjang lebar.”
“Aku tidak perlu mendiskusikan apa pun denganmu. Aku mau kamu menunjukkan kemampuanmu dengan mempelajari sendiri kasus ini dan cari cara untuk memperingan hukumanku. Bila kamu bisa melakukan keajaiban, buktikan bahwa aku tidak bersalah,” kata Finley dengan tajam.
Pria itu tertawa dengan keras. Dia menautkan jemari pada kedua tangannya di atas meja, lalu mendekatkan tubuhnya pada Finley. “Bahkan Tuhan sekalipun tidak akan sudi meloloskan kamu dari hukuman. Bagaimana bisa kamu mengharapkan aku melakukan hal yang mustahil?
“Gadis itu ada di rumah bersamamu dengan seorang pendeta yang hampir saja menikahkan kalian. Kamu beruntung dia sudah melewati usia menikah atau kamu akan dikenakan hukuman yang lebih berat karena memaksa anak di bawah umur untuk menikah,” kata pengacara itu dengan tenang.
“Aku tidak peduli, Itu urusanmu. Aku ingin bertemu denganmu hanya untuk mengatakan satu hal. Sampaikan kepada Sigit, saatnya untuk melakukan rencana berikutnya. Aku mau keluarga itu hancur atas apa yang sudah mereka lakukan kepadaku.” Finley menggeram menahan amarahnya.
__ADS_1