Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 67 - Deklarasi Cinta


__ADS_3

Aku yakin aku bicara dengan suara yang nyaris berbisik agar hanya Clarissa yang bisa mendengar pernyataanku itu. Tetapi suasana di sekitar kami mendadak hening sampai telingaku berdenging. Aku mengalihkan pandanganku dari Clarissa dan melihat ke sekelilingku. Semua mata memandang aku dengan rasa tidak percaya.


Oke. Situasi ini mulai terasa aneh. Aku tidak bermaksud menyatakan perasaanku yang sangat pribadi di sini, saat semua orang sedang berada di dekat kami. Tetapi aku tidak tahu kapan aku akan punya kesempatan lagi untuk mengatakannya. Sesuatu bisa saja terjadi saat kami berpisah nanti, jadi aku tidak  mau menunggu dan ingin dia tahu perasaanku sekarang.


“Apa kalian semua akan terus menatap aku dan Rissa seperti itu? Cara kalian menatap kami mulai terasa menakutkan. Apa kalian tidak pernah mendengar seseorang menyatakan cinta sebelumnya?” tanyaku mencoba bersikap santai meskipun jantungku sudah berdetak liar di dadaku.


“Kak, apa kamu ingat sesuatu?” tanya Dira yang segera duduk di sisi kiriku. “Kita akan pergi berlibur dan Kakak yang membayar semua akomodasi! Yeeaahh!!”


“Apa maksudmu?” tanyaku bingung.


“Kamu kalah taruhan, Hadi,” jawab Clarissa penuh arti. Taruhan? Ah, taruhan yang itu. Aku tertawa mengingatnya. Aku tidak peduli dengan kekalahanku. Bila gadis ini juga mencintai aku, maka aku sudah mendapatkan hadiah yang jauh lebih berharga.


“Jadi, Clarissa. Bagaimana denganmu? Apa kamu juga mencintai aku?” tanyaku penuh harap.


Senyum yang semula menghiasi wajahnya perlahan menghilang. Suasana kamar kembali hening hingga aku bisa mendengar denyut jantungku sendiri. Aku masih memegang tangannya dan dia sama sekali tidak menarik tangannya dariku.


“Aku sudah bilang, kita baru berkenalan selama beberapa minggu. Terlalu cepat untuk membahas cinta, Hadi.” Bukan hanya aku, semua orang yang ada di dalam kamar mendesah kecewa. “Tolong, jangan salah paham. Aku tidak tahu apa cinta itu pada lawan jenis. Aku bahkan tidak tahu apa yang aku rasakan padamu bisa disebut cinta, tetapi aku mau belajar mencintai kamu.”


Semua keluarga kami bersorak senang mendengar jawabannya. Iya, itu sudah cukup. Aku bisa menunggu sampai dia bisa mengucapkan kata itu nanti. Untuk saat ini, aku sudah puas mendengar dia mau belajar mencintai aku. Ada banyak orang yang bisa aku tanyakan mengenai tips dan trik agar perempuan jatuh cinta pada laki-laki.


Clarissa tersipu saat kedua neneknya mendekatkan posisi duduknya kepadaku. Mereka bertanya kepada kami, acara pertunangan seperti apa yang kami inginkan. Acaranya akan dilaksanakan di rumah Tante Lindsey karena aku sebagai pihak laki-laki yang datang melamarnya. Mereka tidak akan mengadakan acara tukar cincin ulang, hanya pengumuman saja agar semua orang tahu bahwa kami berdua sudah resmi bertunangan.

__ADS_1


Aku tidak mengerti mengenai detail apa pun, yang penting aku dan Clarissa bertunangan secara resmi di depan semua orang. Aku ingin semua orang tahu bahwa gadis ini adalah milkku seorang. Pria seperti Finley tidak akan bisa lagi mencoba merebut dia dariku.


“Aku pikir sudah saatnya juga bagi kita untuk mengumumkan bahwa Clarissa adalah cucu kandung kita, Pa. Orang-orang perlu tahu bahwa kita sudah menemukan cucu kita yang hilang.” Tante Lindsey menatap suaminya penuh harap.


“Tentu saja, sayang. Aku dan Mason juga berpikir untuk mencari hari baik mengumumkan bahwa Clarissa sudah kita temukan. Jadi, mengapa tidak sekalian saat dia bertunangan saja.” Om Edu tersenyum bahagia. Kami semua ikut senang mendengarnya.


Dokter memeriksa keadaanku pada keesokan harinya dan aku diizinkan untuk beristirahat di rumah. Aku begitu lega bisa pulang ke rumah dan berbaring di tempat tidurku sendiri. Sayangnya, aku tidak bisa bertemu dengan Clarissa sesering di rumah sakit. Dia juga pulang ke rumahnya dan harus beristirahat di rumahnya.


Namun apa gunanya teknologi bila tidak kami manfaatkan? Kami melakukan panggilan video setiap kali kami merasa kesepian. Dira sudah kembali masuk sekolah, jadi tidak ada yang menemani aku di rumah. Walaupun Mama bekerja dari rumah, dia tidak akan keluar dari ruang khususnya bila dia sudah mulai masuk dalam dunia tokoh yang sedang ditulisnya.


Begitu juga dengan Clarissa. Dia bahkan tidak punya siapa pun di rumahnya karena Charlotte sudah kembali ke sekolah dan kedua neneknya sibuk mempersiapkan acara pertunangan kami. Wyatt tidak jadi pulang ke Amerika dan melanjutkan rencananya untuk melanjutkan studi di Indonesia. Hal yang membuat Charlotte uring-uringan setiap kali berada di rumah.


Meskipun Dira sedang berada di sekolah, aku tidak mengizinkan dia datang ke rumah sedetik pun. Aku tidak mau adikku salah paham kepadaku dengan membiarkan orang yang telah menyakiti dia datang ke rumah ini. Aku sudah punya banyak masalah dan tidak mau menambahnya lagi.


Setiap kali aku mengakhiri panggilan telepon atau video kami, aku selalu mengucapkan kata cinta. Clarissa sering sekali tertegun sejenak sebelum memberi respons. Dia manis sekali setiap kali wajahnya memerah karena malu atau mendadak gugup dan salah tingkah.


Hampir satu minggu beristirahat di rumah, aku kembali ke kampus. Papa sudah mengurus mobil baru untukku dengan jenis yang sama dengan mobil terakhirku. Kali ini mereka membuktikan kepada Papa bahwa seluruh kantong udaranya berfungsi dengan baik. Mereka juga membayar ganti rugi atas tidak berfungsinya kantong udara pada jendela di samping tempat duduk Clarissa.


Papa tidak mengizinkan aku mengendarai mobilku sendiri ke kampus. Aku harus menunggu sampai keadaanku sembuh total untuk bisa menyetir lagi. Pak Sakti ditugaskan untuk menjadi sopir pribadi kami. Tidak seperti aku yang memarkirkan mobil di kampus, Pak Sakti pulang ke rumah setelah mengantar aku dan menjemput saat aku sudah selesai kuliah.


Saat bertemu dengan Clarissa, aku tidak suka melihat bekas luka bakar pada pelipisnya. Colin saja marah besar ketika mendengar ceritanya hingga mendapatkan luka itu, apalagi aku. Begitu dia tahu bahwa Finley berniat menikahi tunanganku, Colin bergegas pergi menuju toilet. Aku pikir dia hanya bercanda. Ternyata dia benar-benar memuntahkan isi perutnya.

__ADS_1


“Dasar bandot tua! Dia benar-benar tidak tahu malu. Apa dia sudah lupa dengan usianya?” ucap Colin dengan suara tertahan ketika dia kembali bergabung bersama kami. Dia meneguk air dari botol minumannya, lalu menghembuskan napas panjang. “Aku benar-benar mual, sebaiknya kita jangan bahas dia lagi. Ganti topik.”


Maka Clarissa menyebutkan tentang rencana keluarga kami untuk mengumumkan pertunangan kami secara resmi. Clarissa mengundangnya secara pribadi, karena aku tidak boleh melakukan itu. “Bila kamu datang nanti, berjanjilah kamu akan menjaga jarak dari Dira. Dia adalah calon adik iparku, jadi jika kamu menyakiti dia, kamu akan berhadapan langsung denganku.”


“Aku berjanji. Terima kasih sudah mengundang aku menghadiri acara bahagia kalian.” Colin memeluk tubuhku dengan erat.


“Mengapa kamu memeluk aku? Bukan aku yang mengundang kamu,” tanyaku heran.


“Apa itu artinya aku boleh memeluk Clarissa?” tanya Colin yang segera menutup mulutnya saat aku mengacungkan tinjuku. Clarissa tertawa melihat tingkah kami.


Kami belajar bersama di perpustakaan setelah mengikuti semua mata kuliah. Karena masalah pada proposal kami berbeda, maka kami tidak bisa mendiskusikan banyak hal. Hanya aku dan Colin yang bisa melakukannya. Clarissa harus berpikir dan mencari solusinya sendiri setiap kali dia menemukan masalah pada penelitiannya.


Beberapa menit sebelum jam pulang pelajaran tambahan adik-adikku, aku mendapat telepon dari Pak Sakti bahwa dia sudah berada di tempat parkir. Aku dan Colin mengantar Clarissa lebih dahulu ke mobilnya yang sudah menjemputnya. Dia tersipu saat aku mencium pipinya dan mengucapkan cinta. Aku sangat berharap dia akan mengatakan hal yang sama, tetapi sepertinya dia masih butuh waktu. Colin menyikut lenganku ketika aku hanya berdiri saja menatap mobilnya pergi.


“Dia hidup tanpa cinta selama belasan tahun, beri dia waktu,” kata temanku itu sok bijak. Aku hanya melirik ke arahnya, lalu berjalan menuju tempat parkir jurusan kami.


Hari pertunangan kami pun tiba. Aku bangun pagi dengan perasaan yang sangat bahagia. Hal yang aku lakukan pertama kali adalah menyapa dia. Dilihat dari arah kamera, dia pasti baru bangun sehingga tidak mengizinkan aku untuk melihat wajah paginya.


Setelah berbincang beberapa saat, aku mengakhiri panggilan video tersebut untuk bersiap joging. Aku yakin sekali bahwa dia akan melanjutkan tidurnya dan tidak memulai aktivitas paginya sampai matahari sudah tinggi. Clarissa mirip sekali dengan Mama yang sulit bangun pagi.


“Kak!” seru Dira yang tiba-tiba saja membuka pintu kamarku tanpa mengetuk lebih dahulu. “Ada yang gawat! Ini benar-benar kabar buruk, Kak!”

__ADS_1


__ADS_2