Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 55 - Mencuri Dengar


__ADS_3

Berada sedekat ini dengan Clarissa tidak membuat kepalaku berteriak keras agar aku menjauh dan segera menjaga jarak. Hal yang biasanya terjadi dengan gadis lain. Aku justru ingin menyentuh pipinya lebih lama, tidak mau pergi dari sisinya, lalu aku melakukan sebuah kesalahan.


Dengan jarak sedekat itu, aku melihat ke arah bibirnya. Dia membuka mulutnya ingin mengatakan sesuatu, tetapi dia mengurung niatnya tersebut. Apa yang akan dia lakukan jika aku menciumnya sekarang? Apa dia akan menampar aku atau membalas ciumanku?


Jantungku berdetak sangat kencang sampai aku takut dia akan mendengarnya. Darah seolah-olah berdesir dari kepala ke sekujur tubuhku ketika dia memejamkan mata dan mengusap pipinya pada tanganku. Sensasi yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya.


Tiba-tiba terdengar bunyi ketukan pada pintu, membuyarkan apa pun yang ada di antara aku dan Clarissa. Kami serentak saling menjauh dan melakukan apa saja untuk menutupi kegugupan yang kami rasakan. Dia merapikan rambut dan pakaiannya, sedangkan aku berdehem dan melihat ke sekeliling kami, ke mana saja asal bukan ke arah dia.


“Sepertinya ada seseorang di luar kamar,” ucapnya pelan. Dia berdiri, tetapi aku menahannya.


“Biar aku saja yang periksa, sekalian memanggil pelayan untuk membersihkan tumpahan teh ini.” Aku berdiri dan berjalan mendekati pintu.


Saat aku membukanya, pintu itu terbuka begitu cepat seolah-olah ada yang mendorongnya dari luar. Suara pekikan terkejut menyambut aku dan aku refleks memegang seseorang yang tersandung ke arahku. Tante Lindsey menegakkan tubuhnya dan merapikan pakaiannya, sedangkan Charlotte yang terduduk di lantai segera berdiri. Aku memeluk Aunt Claudia yang menatap aku sambil meringis memamerkan gigi rapinya.


“Nenek? Grandma? Kamu juga Charlotte?” tanya Clarissa yang sudah berdiri di sisiku. “Apa yang kalian lakukan di depan pintu kamarku?”


Mereka bertiga sama-sama meringis dan saling bertukar pandang. Dari wajah mereka, aku tahu mereka merasa malu karena ketahuan. Aku tertawa kecil menyadari apa yang sedang mereka lakukan di sini.


“Jangan bilang kalian pikir kami melakukan hal yang tidak-tidak di kamar.” Aku menatap mereka satu per satu. Karena mereka tidak segera menjawab, aku tahu bahwa kecurigaanku itu benar.


“Nenek! Mengapa kalian melakukan ini? Aku dan Hadi hanya mendiskusikan sesuatu,” protes Clarissa. “Maafkan aku, Hadi. Aku tidak bermaksud membuat kamu merasa tidak nyaman.”


“Aku baik-baik saja. Jangan khawatirkan aku. Ini bukan pertama kalinya mereka penasaran dengan apa yang aku lakukan di balik pintu.” Aku tertawa geli. Wajah mereka bertiga semakin merah. “Kalian bicaralah, aku akan panggil pelayan.”


Ketika aku sudah cukup jauh dari mereka, aku mendengar Clarissa menyatakan protesnya atas tingkah ketiga anggota keluarganya itu. Aku menuruni tangga dan berjalan ke bagian belakang rumah. Para pelayan sedang duduk santai sambil menikmati kudapan sore mereka. Salah satu dari mereka melihat kedatanganku dan segera berdiri.


“Ada yang bisa kami bantu, Tuan?” tanyanya dengan sopan.


“Kami tidak sengaja menumpahkan teh di kamar Clarissa …,” kataku melaporkan.

__ADS_1


“Kami akan segera membersihkannya, Tuan.” Wanita muda itu mengambil sebuah baki, handuk kecil, dan seorang wanita lain mengambil sebuah baskom lalu mengisinya dengan air.


Aku berterima kasih dan meninggalkan ruangan tersebut. Para pelayan itu berjalan lebih cepat dari aku menuju lantai atas. Aku tersenyum membayangkan Clarissa masih beradu mulut dengan mereka bertiga. Pasti Tante Lindsey dan Aunt Claudia berpikir aku dan cucu mereka sedang bermesraan layaknya sepasang kekasih. Padahal kami hanya mendiskusikan tentang kado untuk Charlotte dan Wyatt.


Karena aku tidak melihat Wyatt bersama mereka, aku memutuskan untuk bergabung bersamanya di ruang keluarga. Clarissa dan keluarganya juga pasti akan menyusul turun. Lagi pula urusanku dengan Clarissa sudah selesai. Pak Abdi akan menerima pesanannya yang dikirim ke alamat rumahku.


Ruang keluarga itu kosong saat aku membuka pintu dan melihat ke dalam. Ke mana Wyatt? Apa mungkin dia sedang berada di kamarnya? Ketika aku akan meninggalkan ruangan itu, sayup-sayup aku mendengar suara seseorang sedang marah.


Aku menutup pintu dan berjalan ke arah datangnya suara. Teras yang berhubungan dengan ruang keluarga terlihat kosong juga, tetapi saat aku semakin mendekat suara itu terdengar semakin jelas. Aku mendekati jendela dan sedikit menyingkapkan tirainya, Wyatt berdiri di sudut teras dengan ponselnya berada di telinganya.


“Tidak. Kamu yang dengarkan aku. Grandpa Mason dan Grandma Claudia adalah orang yang baik. Mereka bahkan memperlakukan aku lebih baik dari orang tuaku sendiri. Kamu berbohong padaku dan aku sudah cukup mendengar semua omong kosongmu,” ucap Wyatt dengan suara tertahan.


“Aku tidak peduli dengan cerita masa lalumu atau kejahatan yang sudah Aunt Abby lakukan. Aku yakin kamu juga berbohong mengenai hal itu. Keluarga ini adalah keluarga yang baik, tidak seperti yang kamu ceritakan kepadaku. Sebaiknya kamu memeriksakan diri ke psikiater, karena kamulah penjahat yang sebenarnya.


“Orang baik mana yang menculik balita lalu membuangnya jauh dari keluarganya? Orang waras mana yang masih berusaha untuk memisahkan gadis semuda itu dari keluarganya lagi? Jangan bohong, Finn, aku tahu kamu yang menyuruh orang untuk menghadang Clarissa dan Hadi datang ke rumah keluarganya. Apa katamu? Aku tidak peduli. Aku tidak takut pada ancamanmu.


“Silakan katakan apa saja kepada Charlotte, aku akan mengaku lebih dahulu. Aku tidak bekerja untukmu, kamu membohongi aku sehingga aku membenci keluarga ini. Tetapi aku tidak akan melakukan yang kamu katakan. Aku menghormati Charlotte dan tidak akan merusak dirinya demi dendam pribadimu. Aku sudah bilang, kita tidak punya hubungan apa pun lagi. Jadi, berhenti menghubungi aku. Ini yang terakhir, Finn. Selamat tinggal.”


Berengsek! Apa kesalahan keluarga ini sampai ada orang yang begitu membenci mereka? Uncle Mason adalah pria yang baik, begitu juga dengan Aunt Claudia. Orang yang tidak mengenal mereka sekalipun tahu bahwa mereka tidak akan bisa berbuat jahat. Mereka memang memperlakukan musuh atau orang yang jahat kepada mereka dengan kejam, tetapi siapa yang tidak bersikap begitu?


Ya, Tuhan. Aku sudah melihat bagaimana Dira mencoba bersikap tegar dengan selalu ceria di depan kami sejak dia putus dari Colin. Tetapi setiap malam aku bisa mendengar isak tangisnya dari balik pintu kamarnya. Apa yang akan terjadi pada gadis seceria Charlotte jika dia tahu bahwa pemuda yang dia cintai ternyata bekerja sama dengan orang yang telah menculik kakaknya?


“Oh.” Aku sudah duduk di salah satu sofa saat Wyatt kembali ke ruang keluarga. Dia menutup jendela yang sekaligus berfungsi sebagai pintu menuju teras samping. “H-hai, Hadi. Kamu sendirian? Di mana semua orang?” Dia memasang senyum di wajahnya, tetapi aku tahu dia merasa gugup. Dia pasti bertanya-tanya sudah berapa lama aku duduk di sini dan apa aku mendengar percakapannya tadi atau tidak.


Aku tidak membiarkan dia penasaran terlalu lama. “Apa yang pria itu inginkan darimu sehingga kamu mendekati Charlotte? Dendam pribadi apa yang dia punya terhadap keluarga ini sampai dia berbuat serendah menculik anak berusia dua tahun?”


*******


Sementara itu di lantai atas~

__ADS_1


“Grandma! Ini pasti ide Grandma, ‘kan? Mau aku taruh ke mana mukaku ini karena ulah kalian tadi?” Clarissa menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


“Memangnya apa yang aku lakukan? Aku hanya ingin tahu apa kecurigaanku benar. Hanya itu. Aku tidak keberatan dengan apa pun yang kamu lakukan bersama Hadi di kamarmu. Lagi pula aku tidak keberatan punya cicit dalam waktu dekat.” Claudia tersenyum geli.


“Grandma!” pekik Claudia dan Charlotte bersamaan. Pelayan yang sedang membereskan meja tertawa geli mendengar percakapan itu.


“Sudah, sudah. Hentikan percakapan mengenai cicit ini. Aku merasa aku jauh lebih tua dari usiaku karena ulahmu, Claudia.” Lindsey mendekati Clarissa lalu memeluk pinggangnya. “Sebaiknya kita tidak meninggalkan Hadi terlalu lama sendirian di bawah. Ayo, kita mengobrol di sana saja.”


“Hadi tidak sendirian, Nek. Ada Wyatt yang menemani dia.” Charlotte tersenyum bahagia. “Aku dan Clarissa sangat beruntung. Kami mendapatkan pemuda baik yang akan menjadi suami kami! Aku akan mempersilakan kakakku untuk menikah lebih dahulu. Kami masih perlu menyelesaikan kuliah kami sebelum memasuki kehidupan rumah tangga, jadi aku mengalah.”


“Ralat. Aku belum pernah menyatakan bahwa aku bersedia menikah dengan Hadi. Pertunangan kami belum sepenuhnya resmi sampai pada hari Grandpa dan Grandma datang nanti,” ucap Clarissa.


“Oh, ayolah, Clarissa. Saat kita kencan ganda, kamu terlihat sangat nyaman bergandengan tangan dengannya, duduk sambil mengobrol begitu dekat, dan hari ini kamu bahkan tidak berpikir dua kali untuk berdua saja dengannya di kamarmu. Kalian berdua jelas sudah bersikap lebih dari sekadar teman.” Charlotte menatapnya penuh arti.


“Bukan berarti aku bersedia menikah dengannya,” bantah Clarissa keras kepala.


Seorang pelayan yang kebetulan lewat membantu membukakan pintu ruang keluarga. Mereka berterima kasih kepadanya saat memasuki ruangan. Charlotte segera duduk di sisi Wyatt, sedangkan Claudia harus sedikit mendorong Clarissa agar duduk di samping Hadi.


“Ada apa dengan kalian berdua?” tanya Charlotte yang melihat Wyatt dan Hadi secara bergantian. “Wajah kalian tegang sekali. Apakah ada masalah? Atau kalian baru bertengkar?”


*******


Author's Note~


Waah .... Bagaimana menurut teman-teman tentang Wyatt? Kira-kira dia orang baik atau jahat? Apa yang akan Hadi lakukan, ya? Membongkar rahasianya atau diam saja? Lalu bagaimana reaksi Charlotte dan keluarganya saat tahu kenyataannya nanti? Hm, berat kalau harus membuang tokoh seganteng dia. #DilemaPenulis


Aku tunggu komentar dari teman-teman. ^_~*


Salam sayang,

__ADS_1


Meina H.


__ADS_2