Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 87 - Penyelamatan


__ADS_3

Pagar rumah itu sangat tinggi, jadi aku tidak bisa memanjatnya tanpa menarik perhatian orang yang lewat atau mereka yang berjaga di dalam rumah. Belum lagi Wendy memakai gaun yang akan mempersulit dia memanjat pagar tersebut.


Kami bersembunyi di balik tembok yang memisahkan pagar rumah itu dengan sebelahnya. Wyatt dan Charlotte lewat dengan sepeda motorku, lalu pemuda itu berhenti tepat di depan rumah. Aku memejamkan mata melihat apa yang telah dia lakukan pada motor kesayanganku demi melancarkan rencana kami.


“Turun, Charlotte. Ban sepeda motornya bocor.” Wyatt turun dari sepeda motor tersebut, lalu menolong mantannya untuk turun juga.


“Coba periksa apa ada ban serepnya.” Charlotte melihat ke setiap sudut sepeda motorku.


Bukan hanya Wyatt, aku dan Hadi juga mengangakan mulut kami mendengar kalimat itu. “Ban serep? Ini bukan mobil. Mana ada ban serepnya. Kita harus berjalan kaki mencari tukang tambal ban.”


“Apa katamu? Jalan kaki? Kamu menyuruh aku jalan kaki dengan gaun cantikku ini? Tidak mau. Kamu saja yang cari tukang itu, lalu jemput aku di sini.”


“Kamu yang salah, mengapa hanya mau enaknya saja? Apa kamu tidak tahu, kalau ban belakang bocor, itu artinya kesalahan penumpang. Kamu kebanyakan makan tadi di acara, berat badan kamu pasti bertambah drastis.”


“Eh, kalau ngomong itu dipikir dahulu! Enak saja main tuduh begitu. Sepeda motormu ini yang ngga berguna!” Charlotte menendang sepeda motorku hingga aku meringis ikut merasa kesakitan. “Aw! Aduh, aduh! Sepeda motor sial!”


“Rasakan! Sepeda motor bagus begini malah kamu hina. Lihat, ‘kan, dia marah padamu.” Wyatt tertawa terbahak-bahak.


Charlotte memukul Wyatt dan mereka bertengkar begitu keras sehingga menarik perhatian orang yang melintas. Mobil yang lewat membunyikan klakson karena jalan mereka terhalang. Wyatt menepikan sepeda motorku, lalu meneruskan pertengkaran mereka. Tidak ada yang mencoba untuk melerai mereka.


Lalu yang kami tunggu-tunggu pun terjadi. Terdengar bunyi gembok pagar rumah itu dibuka, lalu pagar itu didorong cukup lebar sampai seseorang bisa melewati celahnya. Aku segera mengenali orang yang keluar tersebut.


“Hei, apa kalian bisa berhenti ribut di depan rumah orang lain!?” seru Jordan kesal. “Lo? Wyatt? Charlotte? Apa yang kalian lakukan di sini?”


“Jordan?” ucap Wyatt dan Charlotte serentak. “Ini rumah kamu?” tanya Charlotte sambil melihat rumah di hadapannya. “Maaf, kami sedang mencari Dira yang hilang entah ke mana. Lalu ban sepeda motor si bodoh ini malah bocor.”


“Hei, tunggu dulu. Kamu juga mendadak hilang dari acara tadi. Apa Dira bersama kamu?” tanya Wyatt sambil melihat ke arah rumah itu. “Kami tidak bisa menghubungi Dira karena tasnya ada pada kami. Dia tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya.


Jordan segera mendekati mereka. “Apa yang bisa aku bantu? Apa kalian membutuhkan pompa?”

__ADS_1


Wyatt melirik ke arah kami dan memberi sinyal agar kami segera masuk ke pekarangan rumah lewat celah pagar yang terbuka. “Bannya bocor karena Charlotte terlalu berat. Apa menurutmu ban ini cukup dipompa saja?”


Mereka kembali bertengkar, maka kami memanfaatkan kerasnya suara mereka dengan melangkah cepat ke pekarangan rumah itu. Pada saat yang bersamaan, terdengar bunyi sepeda motor dan mobil yang mendekati rumah. Maka kami tidak menunda rencana kami lagi dengan bergegas masuk ke rumah. Tidak ada siapa pun di ruang depan.


“Kita harus berpencar untuk mencari Dira,” bisik Hadi. “Karena dia dalam keadaan tidak sadar, aku yakin dia berada dalam salah satu kamar. Aku dan Wendy akan memeriksa lantai atas. Kamu periksa lantai bawah. Minta orang-orang Om Irwan untuk menyusul kami.”


“Baik. Hati-hati.” Setelah Hadi mengucapkan kalimat yang sama, kami berpisah. Aku menuju bagian belakang rumah, sedangkan Hadi dan Wendy bergegas menaiki tangga.


Seorang pria muncul dari sisi kiri ruangan. Langkahnya terhenti saat kami bertemu pandang. Vivaldo. Aku segera memasang wajah serius. Dia melihat ke arah belakangku, lalu wajahnya memucat. Tanpa mengatakan apa pun, dia berlari menuju bagian belakang rumah. Aku langsung mengejarnya.


Keluar dari pintu belakang, tidak ada jalan lain selain jalan setapak menuju bagian depan rumah. Dia berhasil melewati para pria bertubuh besar yang masuk ke rumah, tetapi saat dia keluar gerbang, Wyatt sudah siap untuk meringkusnya. Melihat mereka juga sudah menahan Jordan, aku kembali masuk ke rumah menuju lantai dua.


Aku mendengar tawa seorang wanita yang sangat menakutkan. Aku mengikuti arah datangnya suara dengan berbelok ke kanan dan melihat dua pria sedang memegang Hadi. Dia terlihat sangat marah dan berusaha untuk menyakiti wanita yang sedang tertawa tersebut. Dua orang pria lain memegang kedua lengannya. Aku tidak melihat Wendy.


“Tidak, Cole. Berhenti di sana. Kamu tidak boleh masuk ke kamar ini.” Hadi menatap aku dengan mata merah. Apa yang terjadi? Mengapa wanita ini tertawa sangat bahagia dan Hadi terlihat berang? Apakah dia telah melakukan hal yang buruk pada Dira?


Bunyi berikutnya yang terdengar adalah sirene dari mobil polisi. Ada beberapa sirene yang berbunyi secara bersamaan. Dua pria yang memegang Nora segera menyeretnya menuju tangga. Hadi yang masih terlihat marah tidak dilepaskan sama sekali.


“Tidak. Dia tidak baik-baik saja. Semua ini salahmu, Cole! Aku tidak membenci kamu karena telah menyakiti adikku. Tetapi kali ini, aku tidak bisa memaafkan kamu! Aku percaya padamu! Aku percaya kamu bisa menjaga adikku! Mengapa kamu memutuskan dia!? Mengapa??”


Ya, Tuhan. Hal buruk apa yang telah terjadi pada Dira sehingga Hadi semarah ini padaku? Nora dan Dira berada di dalam kamar. Apa yang dia lakukan pada gadis itu? Atau bukan Nora yang melakukan hal buruk? Apakah Vivaldo atau Jordan? A-apakah … tidak. Apakah mereka memerkosanya?


Melihat Hadi tidak bisa aku ajak bicara, aku bergegas turun dan berpapasan dengan dua orang polisi yang menaiki tangga. Dugaanku benar. Itu adalah sirene mobil polisi. Aku mempercepat langkahku menuju pekarangan depan rumah. Charlotte sedang menangis dalam pelukan Wyatt, sedangkan tidak jauh dari mereka, Uncle Hendra sedang menghajar Vivaldo.


“Masalah ini harusnya di antara kamu dan aku. Sakiti aku, hina aku, bunuh saja aku, bila itu bisa membuat kamu dan Nora puas.” Uncle Hendra memegang kerah pakaian Vivaldo dengan kedua tangannya. Wajahnya basah dengan air mata. “Tetapi mengapa melibatkan putriku? Apa salahnya pada kalian berdua? Apa kamu tidak berpikir, apa yang akan kamu rasakan bila hal yang sama terjadi pada putrimu?”


“Ti-tidak, Hendra. Ja-jangan sentuh putriku.”


“Tidak? Jangan? Jadi, kamu bisa menyakiti putriku, tetapi aku tidak boleh menyentuh putrimu? Dicky sudah bertobat dan kembali ke jalan yang benar. Kamu mau sampai kapan berbuat jahat begini?”

__ADS_1


“Papa?” Seorang wanita yang sepertinya berusia akhir dua puluhan, memasuki pekarangan. Dia bingung melihat keadaan di sekitarnya.


“Giana?” Vivaldo melihat ke arah Uncle Hendra dan wanita itu secara bergantian. Pria itu segera melepaskan diri dari cengkeraman Uncle, lalu berlari mendekati wanita itu. Dia berdiri di depannya seolah-olah melindunginya dari orang jahat.


“Pa? Apa yang terjadi? Mengapa muka Papa babak belur begini?” Wanita bernama Giana itu mengulurkan tangannya, namun Vivaldo menghindarinya. “Pa, apa Papa melakukan hal jahat lagi? Mengapa Papa ada di sini? Dan mengapa ada polisi? Pa? Jawab, Pa.”


“Tidak ada yang terjadi, Nak. Kamu jangan khawatir.”


“Bahkan pada putrimu sendiri pun kamu malu mengakui dosamu. Apa kamu tidak sadar bahwa kamu lebih banyak menghabiskan waktu di dalam penjara daripada bersama mereka? Mengapa kamu tidak meniru Dicky dan jalani hidupmu dengan baik?” ucap Uncle Hendra lirih. “Setelah apa yang kamu lakukan hari ini, putriku tidak akan sama lagi. Semoga kali ini kamu tidak akan keluar hidup-hidup dari penjara.”


“Tidak! Tidak, Om. Jangan bicara begitu. Maafkan papa saya, Om. Saya dan adik-adik sudah lama hidup terpisah dari Papa. Jangan sakiti dia, Om. Biar dia menjalani hukumannya, tetapi jangan sakiti dia, Om.” Giana berlutut, tetapi Uncle Hendra tidak menggubrisnya.


Dia membalikkan badan dan berjalan memasuki rumah. Aku berada di antara dua pilihan, mengikuti dia atau menunggu sampai mereka membawa Dira turun. Ketika aku memutuskan untuk masuk ke rumah, Wyatt meletakkan tangannya di depan dadaku. Aku menoleh dan dia menggeleng pelan.


“Ini urusan keluarga mereka. Kita sebaiknya tidak ikut campur,” kata Wyatt pelan.


Aku melihat Charlotte yang menangis tersedu-sedu dalam pelukannya. “Apa yang terjadi? Mengapa Uncle dan Charlotte menangis? Apa yang mereka lakukan pada Dira?”


*******


Beberapa menit sebelumnya~


Hadi dan Wendy bergegas menaiki tangga. Di lantai dua ada koridor menuju kanan dan kiri. Wendy memutuskan untuk memeriksa koridor sebelah kiri, sedangkan Hadi ke kanan. Dia membuka satu per satu pintu yang ada di koridor tersebut mencari adiknya.


Semua kamar itu kosong sampai dia membuka sebuah pintu dan melihat seorang wanita berdiri membelakanginya. Dia menoleh saat pintu itu terbuka. Nora segera menjauh dari tepi tempat tidur dan memegang ponselnya erat-erat.


“Apa yang kamu lakukan—” Hadi berjalan masuk dan napasnya tersekat melihat tubuh adiknya tidak tertutup sehelai benang pun di atas ranjang tersebut. Dia bergegas menutupinya dengan selimut.


Nora menggunakan kesempatan itu untuk kabur, tetapi Hadi berhasil menangkap tangannya. Wanita itu memberontak sekuat tenaga. “Wendy! Cepat ke sini! Wendy!” panggil Hadi.

__ADS_1


Dia melihat wanita itu berusaha untuk melindungi ponselnya, maka Hadi segera mengambil benda itu dari tangannya. Wendy yang datang segera membantu Hadi dengan meraih ponsel yang menjadi rebutan tersebut. Kurang hati-hati, ponsel itu jatuh ke lantai dengan layar menghadap ke atas.


Hadi dan Wendy menatap layar tersebut. Walaupun layarnya tidak menampilkan gambar apa pun, mereka segera mengenalinya dari simbol berbentuk hati, amplop, dan pengeras suara pada sisi kanan layar. Ponsel itu sedang menyajikan siaran langsung. Layar tidak menampilkan gambar karena kameranya tertutup karpet.


__ADS_2