Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 94 - Terpaksa Ikut


__ADS_3

*Colin*


“Tidak.” Untuk kesekian kalinya aku menolak ajakan Hadi untuk berlibur ke Bali bersamanya. “Dira sudah mengalami banyak masalah, aku tidak mau menambahnya lagi.”


“Dia membawa banyak teman, masa aku hanya pergi bertiga dengan Wyatt dan Adi? Aku yang membayar perjalanan ini seharusnya aku yang membawa banyak teman. Dan kamu tahu bahwa sahabatku hanya kamu,” bujuk Hadi lagi.


“Jawabanku tetap tidak, Hadi.”


“Bukankah kamu berencana untuk kembali bersamanya lagi? Aku memberi sebuah jalan yang lebar untukmu agar bisa lebih lama bersamanya. Kamu yakin tidak mau ikut?” tanya Hadi belum menyerah. “Baiklah. Jangan salahkan aku kalau di sana nanti dia bertemu bule yang lebih ganteng darimu dan jatuh cinta. Dira sedang rapuh, jadi aku tahu siapa pun yang perhatian padanya akan mendapatkan hatinya. Sayang sekali, orang itu bukan sahabatku.”


Hadi benar-benar berengsek. Aku tidak bisa berkata tidak setiap kali dia membujuk aku melakukan apa yang tidak aku inginkan. Perjalanan ini adalah bencana, aku sudah tahu itu. Karena suasana hati Dira akan buruk selama kami berlibur. Tetapi membayangkan ada laki-laki asing lain yang mendekati dia selama berada di Bali, aku terpaksa ikut serta. Dira hanya milikku.


“Apa Hadi yakin ini adalah ide yang baik? Mengapa Hendra dan Zahara mengizinkan mereka pergi?” tanya Dad bingung. “Dira pasti masih sedih. Bagaimana kalau ada yang mengejek dia di sana?”


“Dira akan baik-baik saja, Dad. Dia sudah terbiasa menyamar saat berada di tempat umum. Aku yakin dia akan memakai kacamata dan topi untuk menutupi identitasnya. Jadi, tidak akan ada orang yang mengenali dia,” kata Lily menimpali.


“Lily benar. Lagi pula ini adalah apa yang kita tunggu-tunggu selama ini. Colin bisa dekat lagi dengan Dira selama liburan nanti.” Mama mengedipkan sebelah matanya kepadaku. Aku mengerang pelan. “Jangan sia-siakan kesempatan emas ini, Colin. Hadi mengajakmu berarti dia mengizinkan kamu untuk mendekati adiknya lagi.”


“Aku tidak mengizinkan putraku mendekati seorang gadis untuk menyakiti dia lagi.” Dad menoleh ke arahku dan menatap aku dengan serius. “Jangan dekati dia lagi kalau kamu tidak yakin kamu bisa menjaganya lebih baik dari sebelumnya.”


Aku tidak mengiyakan atau memberi tanggapan apa pun atas peringatan Dad tersebut. Jangankan Dad, aku sendiri juga tidak yakin dengan kemampuanku menjaganya. Aku sudah gagal satu kali, aku pasti akan gagal lagi. Hubungan kami yang berusia belasan tahun bisa hancur begitu saja, bagaimana aku bisa menjaga hubungan kami yang baru nanti?


“Sampai kamu akan memasang wajah itu? Mana Colin yang aku kenal sangat percaya diri itu pergi?” Lily menggeleng tidak percaya. “Kamu masih muda, wajar saja melakukan banyak kesalahan. Kalian bukan satu-satunya orang yang berpacaran, lalu memutuskan hubungan. Maju, Colin. Tentukan langkahmu selanjutnya. Kamu mau Dira kembali padamu atau tidak?”


“Yep. Kamu sudah berusaha untuk mendapatkan maaf dari keluarganya. Zahara bahkan melibatkan kamu dalam pengerjaan buku barunya. Setelah kamu mendapat kepercayaan dari Hadi lagi, kamu akan melepaskan kesempatan ini begitu saja?” tanya Mama setengah mengejek.


Mama dan Lily mudah saja mengatakan semua itu. Karena bukan mereka yang berhadapan dengan Dira, melainkan aku. Ketakutanku terbukti ketika Dira menatap tajam ke arahku di bandara. Dia berbisik pada Hadi untuk menyatakan protesnya. Aku tidak perlu memiliki pendengaran super untuk tahu apa yang sedang dia bicarakan.


Suasana hatinya buruk saat kami menunggu penerbangan, juga selama berada di kabin pesawat. Dia menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya dan sama sekali tidak tersenyum. Bukan ini yang aku inginkan terjadi padanya. Aku mau melihat dia bahagia, tertawa, dan menikmati setiap hal yang dia kerjakan, dimulai dari keberangkatan.

__ADS_1


Dia membutuhkan liburan ini. Setelah peristiwa buruk yang menimpanya, dia perlu berada di tempat yang bisa membuat dia melupakan semua masalahnya sejenak. Aku adalah salah satu dari masalah yang turut mematahkan hatinya.


“Berhenti melihat ke arah adikku.” Hadi menyikut lenganku. “Dia tidak akan hilang di dalam pesawat. Dan sikapmu itu akan membuat dia tidak nyaman.”


“Apa bedanya aku dengan kamu? Clarissa juga tidak akan hilang dari pesawat,” kataku tidak mau kalah. Dia pikir aku tidak memerhatikan bahwa dia sesekali melirik ke arah mantannya.


“Kita bertiga benar-benar pecundang, ya. Kita tidak bisa mempertahankan tiga gadis yang sangat berarti dalam hidup kita.” Wyatt tertawa kecil memikirkan kebodohannya.


“Kita bertiga? Hanya kalian berdua yang pecundang di sini. Aku tidak meninggalkan dia, selingkuh, atau berkhianat di belakangnya. Clarissa sendiri yang ingin mengakhiri hubungan kami.” Hadi membela diri dan kami tidak bisa membantah itu, karena dia benar.


“Kamu memang tidak melakukan kesalahan seperti yang kami lakukan. Tetapi kalau kamu serius mencintai dia, mengapa kamu tidak berjuang?” kata Wyatt tidak mau kalah. “Clarissa takut merusak reputasimu dan keluargamu. Mengapa kamu tidak yakinkan dia bahwa yang dia khawatirkan itu tidak akan terjadi? Mengapa kamu diam saja saat dia mengakhiri hubungan kalian?


“Lihat aku. Walaupun Charlotte masih menolak kehadiranku, aku bertahan tinggal di rumah mereka. Tidak peduli berapa lama waktu yang dia butuhkan untuk memaafkan aku, aku masih di sini untuk dia. Aku tidak lari, Hadi.”


“Aku tidak lari, Wyatt. Tetapi harga diri yang masih aku miliki ini, tidak mengizinkan aku memohon padanya untuk kembali padaku. Kamu tahu mengapa? Karena aku tidak bersalah. Bila dia semudah ini melepaskan aku, bagaimana jika nanti masalah yang lebih besar menerpa hubungan kami? Atau jika kami sudah menikah? Papa tidak hanya punya teman, dia juga punya banyak musuh di luar sana.”


“Salahmu sendiri mencoba mendebatnya.” Aku menggeleng pelan. “Aku memilih diam karena aku tahu dia akan berargumentasi dengan baik.”


“Apa kamu tahu mengapa Dira tidak tertarik kembali padamu?” tanya Wyatt kepadaku.


“Jadi, setelah kalah dari Hadi, kamu berusaha untuk mendebatku?”


“Karena kamu menganggap dia masih anak kecil.” Wyatt mengangkat kedua alisnya.


“Itu tidak benar. Aku tidak pernah—” kataku membela diri.


“Kamu resmi menjadi sahabatku, Wyatt,” Hadi memberikan tinjunya pada Wyatt untuk melakukan salam kepalan tangan. Kini aku yang mendengus kesal.


Suasana hati Dira menjadi lebih baik saat kami berada di dalam mobil menuju tempat penginapan Uncle Brady. Aku mendengar banyak cerita mengenai dia dan istrinya, tetapi aku belum pernah bertemu dengan mereka. Sejak mereka menikah, mereka tinggal di pulau ini dan membuka usaha.

__ADS_1


Ketika mereka menyambut kedatangan kami, aku segera tahu bahwa wanita yang bersikap sangat ramah itu adalah Aunt Dafhina. Dia sangat mirip dengan Aunt Darla, mamanya. Bukan hanya fisiknya, kebaikan hatinya juga mirip.


Setelah makan siang bersama di gazebo yang ada di pinggir kolam renang, kami diantar oleh seorang karyawan pria ke kamar kami. Dua pintu pertama di lantai tiga adalah kamar untuk para gadis, sedangkan kamar kami harus berbelok di sebelah kiri. Dua kamar pertama adalah kamar kami.


Tentu saja Hadi satu kamar dengan adiknya, maka aku dan Wyatt mendapatkan kamar yang sama. Kamar itu terdiri dari dua tempat tidur satu kasur. Wyatt segera melesat untuk mengambil ranjang yang dekat dengan jendela. Aku menggeleng pelan melihat dia menjatuhkan dirinya ke kasur itu.


Untuk menghemat penggunaan listrik, aku membuka pintu menuju balkon. Kami berada di tempat yang dikelilingi pohon dan tanaman, jadi aku yakin udaranya tidak panas. Dan dugaanku benar. Pemandangan di bawah balkon sangat hijau.


Aku menoleh ke arah kiri ketika merasakan ada gerakan dari arah sana. Dan aku bertemu pandang dengan Dira. Aku tersenyum kepadanya. Bukannya membalas senyumku, dia malah cemberut dan kembali masuk ke kamarnya. Tetapi pintunya dibiarkan tetap terbuka.


“Wah, Colin. Perjuanganmu masih panjang.” Wyatt melingkarkan tangannya di bahuku. Aku mendesah keras mendengar ejekannya. “Tetapi kamu beruntung. Dari jendela kamar ini, kamu bisa mengawasi dia secara diam-diam. Dia tidak akan kabur lagi seperti tadi.”


“Apa kamu pikir aku ini seorang pengintip?” Aku menepis tangannya dari bahuku dan berjalan kembali ke kamar. “Ada waktu untuk berisitirahat sebelum kita pergi. Jadi, jangan ganggu tidurku.”


Pada pukul tiga sore, aku dan Wyatt menuju ruang makan untuk menikmati kudapan. Ada banyak pilihan makanan ringan yang disajikan. Kami dipersilakan untuk mengambilnya sendiri. Hadi dan Adi datang kemudian saat kami sudah duduk dan menikmati kudapan serta secangkir kopi.


“Hai!” Terdengar suara yang sangat ramah di sisi kananku. Aku menoleh dan melihat dua orang gadis berdiri di dekat meja kami. “Apa kami boleh duduk bersama kalian?”


“Maaf, cantik. Kedua kursi ini sudah ada orangnya,” jawab Wyatt dengan bahasa Indonesia yang masih terpengaruh logat Amerikanya.


“Oh. Wow! Kamu bisa bahasa Indonesia? Itu keren sekali!” ucap gadis yang kedua. Kalimat itu sangat aneh. Namun menyadari bahwa aku dan Wyatt adalah orang asing, aku akhirnya mengerti mengapa mereka menyapa dengan bahasa Inggris. “Ah, namaku Irna. Dan ini temanku, Ajeng.”


“Kami akan menginap di hotel ini sampai hari Minggu. Semoga saja lain kali kita bisa duduk bersama.” Gadis yang pertama tadi menambahkan. “Sampai nanti!”


“Sampai nanti,” balas Wyatt dengan ramah. Aku menendang kakinya di bawah meja. “Aw!”


“Jaga sikapmu, Wyatt. Jangan sampai ada gadis yang berpikir bahwa kita adalah laki-laki lajang,” kataku dengan serius.


Wyatt tertegun sejenak. Dia menatap aku tanpa berkedip atau mengatakan apa pun. Lalu tiba-tiba saja dia tertawa terbahak-bahak. “Colin, apa kamu sedang mabuk kopi? Buka matamu baik-baik. Kamu dan aku adalah laki-laki lajang!” Dia kembali tertawa dengan keras.

__ADS_1


__ADS_2