Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 49 - Pancingan


__ADS_3

“Jadi, acara pertunanganku dan Rissa yang tertutup ini untuk memancing reaksi Finley?” tanyaku. Papa mengangguk. “Reaksi apa yang Papa maksudkan?”


“Menculik dia, menjauhkan dia dari kita, atau perbuatan jahat apa saja yang bisa kita gunakan untuk menjebloskan dia ke penjara.”


“Tetapi itu berbahaya, Pa. Lihat apa yang terjadi ketika dia berhasil menculik Rissa saat dia masih kecil. Dia memisahkan kita dengannya selama belasan tahun.”


“Dia tidak akan bisa mengulangi hal yang sama, Hadi. Aku janji padamu, Clarissa akan kita dapatkan kembali bila dia berhasil menyekapnya. Fokus saja pada studimu, juga hubunganmu dengan gadis itu. Ibumu bahagia melihat kalian bersama, jadi jangan sampai gadis itu jatuh ke tangan pria lain.”


Aku mengerang pelan mendengarnya. “Berhenti menyebut tentang pria lain, Pa. Tidak akan ada laki-laki lain yang berusaha untuk mendekati Rissa. Kalau pun ada yang berani macam-macam, Rissa bisa melindungi dirinya sendiri.” Aku mengatakannya dengan nada bangga.


“Itu adalah hal yang mengejutkan dari laporan Irwan. Dia sehebat itu?” tanya Papa tidak percaya.


“Dia lebih hebat dari itu. Papa boleh mengajaknya duel kalau Papa ingin menguji kemampuannya,” kataku menantangnya. Papa tertawa kecil.


Kami berpisah saat tiba di ujung tangga dan menuju kamar kami masing-masing. Aku melihat ke arah kamar yang selama dua hari terakhir menjadi kamar Clarissa. Mama pasti sudah meminta pelayan kami untuk mengepak barang-barang Clarissa dan membawanya ke rumah Tante Lindsey.


Aku menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, lalu mengganti baju di ruang pakaian. Saat aku duduk di tepi tempat tidur, aku melihat ke arah foto Clarissa kecil yang ada di atas nakas. Aku tidak tahu mengapa aku merasa berkewajiban untuk menunggu sampai kami mendapat kabar mengenai keberadaannya. Supaya aku tidak melupakan dia, fotonya selalu aku letakkan di sini.


Ponselku yang ada di atas nakas bergetar, aku meletakkan foto Clarissa dan mengambil benda tersebut. Ada sebuah pesan masuk dari Dira. Aku membukanya dan muncul foto demi fotoku dan Clarissa saat acara di rumah Tante Lindsey tadi. Adikku benar ketika mengatakan ekspresi wajahku aneh. Tetapi ada beberapa foto yang hasilnya bagus.


Selamat memimpikan tunanganmu yang cantik, Kak. Begitu pesan Dira setelah semua foto yang dia kirim terunduh automatis di ponselku.


Kamu baik-baik saja?


Bila maksud Kakak mengenai Colin, aku baik. Aku tulus bahagia melihat Kakak bertemu lagi dengan Clarissa setelah bertahun-tahun terpisah.


Seharusnya kalian yang bertunangan bulan ini.


Kakak adalah kakakku. Sudah seharusnya Kakak yang lebih dahulu bertunangan dan menikah. Aku bahagia untuk kalian berdua!


Colin bodoh itu tidak akan punya kesempatan lagi untuk menyakiti adikku. Aku yakin ada pemuda lain yang lebih baik untuk Dira. Aku meletakkan ponselku kembali ke atas nakas, lalu menatap foto Clarissa kecil. Aku tersenyum melihat wajah bahagianya pada foto itu. Terima kasih sudah pulang untukku, Rissa.

__ADS_1


Pada Sabtu pagi itu, aku bertanding bola basket dengan Colin dan teman-teman kami. Seperti biasa, kami bertaruh makan siang. Walaupun taruhannya sepele, tidak satu pun dari kami yang mau kalah. Aku dan Colin kembali berada pada satu tim. Dia adalah rekan yang sangat sempurna setiap kali kami bertanding olahraga yang satu ini.


Skor menunjukkan kami menang telak, maka tim lawan yang akan membayar tagihan makan siang kami. Setelah membersihkan diri dan bersiap untuk pergi, sebuah mobil berhenti di dekat sepeda motor milik Colin. Aku tidak mengendarai mobilku karena sahabatku menjemput aku dari rumah.


“Hadi! Ayo, masuk!” ucap Charlotte dengan riang. Wyatt yang duduk di belakang setir tersenyum kepadaku. “Kita akan pergi makan siang bersama.”


“Hai, Charlotte!” sapa Colin. Dia melihat ke arah Wyatt. “Apa pacarmu bisa menyetir dengan posisi kemudi yang berbeda?”


“Dia sudah menyesuaikan diri selama beberapa hari kami berada di sini. Oh, iya. Undangan makan ini hanya untuk Hadi, jadi kamu sebaiknya tidak mengikuti kami.”


“Aku lebih baik makan bersama teman-temanmu daripada mendengar kamu menasihati aku terus mengenai aku dan sahabat baikmu.”


“Bagus kalau begitu. Karena Dira juga ikut bersama kami.” Charlotte menjulurkan lidahnya kepada Colin. Sahabatku itu segera melihat ke bagian tengah mobil, tetapi kacanya terlalu gelap untuk bisa melihat ke bagian dalam mobil. “Hadi, kamu menunggu apa lagi? Kami semua sudah lapar.”


“Aku pergi, Cole. Kamu bisa ambil porsi makananku. Sampai jumpa hari Senin.” Aku menepuk punggungnya, lalu membuka pintu tengah mobil. Clarissa menyambut aku dengan senyumannya.


“Mila?” tanya Colin dengan bingung. Dia bergantian memandang Clarissa dan Charlotte, lalu ke arahku dengan tatapan penuh tanya.


“Aku akan ceritakan padamu nanti.” Aku masuk ke mobil dan tertawa kecil melihat sahabatku masih berdiri bengong saat kami sudah menjauh darinya. “Ada apa mendadak mengajak aku pergi bersama kalian? Semalam kalian tidak mengatakan apa pun mengenai acara hari ini.”


“Jadi, siapa yang menang?” tanya Wyatt mengalihkan topik pembicaraan.


Sebentar saja kami sudah sampai di tujuan. Dengan kondisi lalu lintas yang padat pada akhir pekan, Charlotte memilih untuk jalan-jalan ke mal terdekat. Aku tidak terkejut ketika mereka mengingatkan aku untuk menggandeng tangan Clarissa. Gadis itu hanya tersenyum sambil mengangkat bahunya melihat tingkah kedua adik kami.


Dira dan Charlotte berjalan paling depan dan sibuk melihat ke kanan kiri memerhatikan barang yang dipamerkan di etalase. Wyatt dan Adi mengikuti mereka sambil membicarakan entah apa. Aku dan Clarissa berjalan paling belakang, berada cukup jauh dari dua pemuda di depan kami.


“Bagaimana keadaan di rumah? Kamu menyukai keluargamu?” tanyaku kepada Clarissa, mencoba untuk membuka pembicaraan.


“Aku tidak percaya bahwa mereka adalah orang yang kaya raya, Hadi. Mengapa kamu tidak bilang? Aku sampai tidak bisa berkata-kata melihat rumah mereka yang sangat besar. Ketika kita tiba di sana, aku bingung mengapa mereka tidak menggunakan lantai dasar sebagai bagian dari rumah. Teras mereka berada langsung di lantai dua sehingga kita harus menaiki tangga. Ternyata lantai dasarnya khusus untuk garasi koleksi mobil mewah Kakek. Apa kamu percaya itu?” ucapnya terkejut.


“Kamu tidak akan percaya dengan apa yang sudah mereka siapkan di kamarku. Mereka tahu warna biru adalah warna kesukaanku. Apa kamu yang memberi tahu mereka? Kamar itu indah sekali. Aku seperti berada di kamar seorang putri kerajaan. Tempat tidurnya besar dan punya atap. Sekeliling tempat tidur itu bisa ditutup dengan tirai tipis supaya nyamuk tidak mengganggu tidurku.

__ADS_1


“Sama seperti kamar di rumahmu, kamarku juga punya kamar mandi tersendiri. Ada bak mandi untuk berendam, pancuran, wastafel, seluruh dindingnya terbuat dari marmer yang sepertinya mahal. Dan kamu tahu apa lagi yang ada di kamar? Ruang pakaian yang besar. Mereka mengisinya dengan berbagai pakaian yang bagus. Ada sepatu, tas, topi, dan banyak lagi pernak-pernik lainnya. Mereka bahkan memberi aku banyak perhiasan mahal yang disimpan di dalam lemari besi.


“Aku tidak pernah punya begitu banyak baju, sepatu, tas, perhiasan, Hadi. Pagi tadi aku sampai bingung mau pakai baju yang mana karena ada banyak pilihan. Dan kamu tahu apa lagi yang mereka berikan kepadaku? Uang saku. Aku tidak pernah dapat uang saku dari orang tuaku. Mereka memberi aku buku tabungan dengan nominal yang besar sekali.” Dia tiba-tiba terisak.


“A-aku tidak tahu bahwa punya keluarga rasanya akan sebahagia ini. Mereka sangat baik kepadaku. Mereka juga perhatian. Kami sarapan bersama, membicarakan aktivitas kami sebelum memulainya, dan aku suka setiap kali mereka mencium dan memeluk aku. Keluarga angkatku sendiri tidak pernah memberi aku perhatian sebanyak itu.


“Ini bukan mimpi, ‘kan, Hadi? Ini semua nyata, ‘kan? Mereka tidak akan berubah sikap padaku dan membuang aku seperti keluarga Foster, ‘kan? Atau mereka tidak akan menghilang lagi dariku, ‘kan? Mereka akan menjadi keluargaku untuk seterusnya, ‘kan?” tanyanya penuh harap.


Kami melewati gang menuju toilet, jadi aku membawanya ke samping untuk menepi sejenak. Aku memeluk tubuhnya dan membiarkan dia meluapkan perasaannya lewat air matanya. Aku tidak tahu apa yang sedang dia rasakan. Tetapi aku tahu dia tidak pernah merasa sebahagia ini sehingga dia kesulitan mengendalikan emosinya.


“Ini bukan mimpi, Rissa.” Aku mengusap-usap punggungnya untuk membantunya menenangkan diri. “Dengarkan aku baik-baik. Keluarga Om Edu dan Uncle Mason tidak akan memperlakukan kamu sama seperti keluarga Foster. Mereka tidak berhenti mencari kamu, apa kamu pikir mereka akan membuang kamu begitu saja setelah kamu menemukan mereka kembali? Tidak akan.”


“Semoga saja kamu benar. Karena aku tidak akan kuat menghadapi penolakan lagi. Aku sangat menyayangi Bapak dan Ibu Foster juga Reese, tetapi mereka membuang aku begitu saja. Aku tidak mau mengalami itu lagi.”


“Aku mengenal mereka seumur hidupku, percayalah. Mereka bukan keluarga Foster. Lihat saja sikap Charlotte dan Reese yang jauh berbeda. Charlotte adalah gadis yang dididik dengan baik, sedangkan Reese hanya anak manja yang selalu mendapatkan apa yang dia mau.”


Dia tertawa kecil. “Kamu tidak salah mengenai hal yang satu itu. Reese selalu mendapatkan semua yang dia inginkan. Selalu.” Dia tetap menundukkan kepalanya saat menjauhkan dirinya dariku. Dia segera mencari sesuatu di tasnya, lalu mengeluarkan selembar tisu untuk menyeka wajahnya.


“Nah, begitu. Kamu gadis yang cantik saat tertawa.”


“Dan aku juga cantik saat menangis,” katanya melanjutkan kalimatku. Aku mendengus pelan.


Setelah dia terlihat lebih baik, kami kembali mengikuti arah di mana terakhir kali saudara kami berada. Mereka pasti menuju salah satu tempat makan yang ada di koridor ini, jadi kami tinggal mencari mereka sambil melewati restoran demi restoran.


“Ah, maaf,” ucap seorang pria yang berjalan terlalu dekat dengan Clarissa. Padahal aku sudah menariknya agar berjalan di dekatku, pria muda itu tetap saja sengaja menabraknya.


“Kamu sengaja melakukannya,” ucapku geram. Pria itu tidak memedulikan aku dan terus saja berjalan menjauhi kami. “Hei!”


“Sudah, Hadi. Aku tidak apa-apa. Kita tidak perlu terpancing amarah.” Dia menahan tanganku saat aku berniat mengejar laki-laki itu.


Aku menoleh ke arahnya dan melihat tubuhnya. “Kamu tidak apa-apa? Dia tidak menyakiti kamu?”

__ADS_1


Clarissa menggeleng pelan. “Aku tidak apa-apa. Oh.” Dia membulatkan mata melihat tangan kirinya.


Aku memerhatikan apa yang sedang dilihatnya. “Ada apa, Rissa? Dia melukai kamu?”


__ADS_2