
Aku benar-benar tidak mengerti. Apa yang Hadi maksudkan dengan kekurangan dalam hubungan aku dan Dira? Kami sudah belasan tahun bersama, sedangkan dia hanya beberapa minggu bersama Clarissa. Bagaimana bisa dia tahu ada yang kurang pada hubungan kami?
Meskipun aku dan Dira punya banyak perbedaan, kami nyaman berada di dekat satu sama lain. Dia tidak pernah mengeluhkan hubungan kami, aku juga tidak. Semua orang yang ada di dekat kami, bahkan mereka yang baru mengenal kami selalu berkata bahwa kami berdua cocok. Lalu apa yang kurang dalam hubungan kami?
“Sepertinya rasa nyaman berteman sejak kecil membuat kamu tidak menyadari hal itu.” Aunt Zahara menatap aku dengan saksama. “Kamu tidak tahu apa yang Hadi maksudkan?”
Aunt Zahara juga menilai ada yang kurang dalam hubungan kami? Bagaimana bisa mereka baru mengatakannya sekarang? Mengapa sebelumnya mereka tidak pernah memberi tahu aku? “Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Mengapa kalian baru membahasnya sekarang?”
“Karena sebelumnya itu tidak menjadi masalah. Kamu menjaga hubungan kalian dengan baik, kamu melindungi adikku tanpa cela, dan dia bahagia bersamamu. Segalanya berubah saat kamu menyakiti dia. Aku sadar bahwa kekurangan itu harus diperbaiki atau kamu akan terus mengulangi kesalahan yang sama. Dan Dira juga akan terus mengalah.” Hadi semakin membuat aku bingung.
“Kekurangan apa?” tanyaku semakin tidak paham.
“Itu adalah tugasmu untuk mencari tahu,” kata Hadi tidak mau tahu. “Ngomong-ngomong, kamu membawa buket bunga untuk Mama, bagaimana denganku? Apa kamu tidak membawa sesuatu untukku?” Dia melihat ke arah tas kertas yang aku bawa.
Aku mendekatkan tas itu kepadanya. “Ini untuk kamu, Adi, dan Uncle.”
Hadi mengerutkan kening dan menatap curiga ke arah tas tersebut sebelum dia mengulurkan tangan dan melihat isi di dalamnya. Dia mengeluarkan sebuah kotak makanan dan senyumnya mengembang. Bukan hanya dia, aku juga mencium aroma yang berasal dari kotak tersebut.
“Kroisan isi keju dan sosis buatan Nenek Hagia.” Wajahnya yang semula menjengkelkan berubah ceria melihat makanan tersebut.
“Kamu benar-benar tahu bagaimana mengubah pendirian kami, ya, Colin,” goda Aunt Zahara. Aku tertawa kecil mendengarnya. “Suamiku pasti akan cemburu mengetahui kamu memberi aku buket mawar merah. Tetapi jika dia melihat kroisan ini, bunga ini akan terlupakan.”
Uncle Hendra dan Hadi mempunyai sifat yang mirip. Mereka sangat sayang, perhatian, dan over protektif pada orang yang dekat dengan mereka. Namun mereka bersikap dingin, bicara apa adanya, dan menjaga jarak dengan orang asing di luar lingkar keluarga dan sahabat mereka.
“Lo? Ada bagian untuk Papa juga?” tanya Hadi setengah protes.
“Memangnya kamu pikir aku membawa kroisan sebanyak itu hanya untukmu seorang?” Aku balik bertanya dengan nada mengejek. “Aku juga membutuhkan restu dari Uncle Hendra dan Adi.”
Nenek memasak dua kotak kroisan untuk Hadi dan keluarganya, jadi semua orang pasti mendapat bagian. Kroisan buatan Nenek awalnya adalah makanan kesukaan Dira. Sejak dia membawa kroisan itu sebagai oleh-oleh untuk keluarganya, mereka juga menyukainya. Nenek sangat senang karena penggemar masakannya bertambah.
__ADS_1
Kami berbicara dengan santai sambil menikmati kudapan yang disediakan Ibu Yuyun. Aku dan Hadi bergantian menceritakan hal yang lucu yang kami alami baru-baru ini kepada Aunt Zahara. Dia tertawa setiap kali kami tiba pada bagian yang menggelitik.
Aku bergelut dengan diriku sendiri ketika kejadian di kampus bermain di kepalaku. Di satu sisi, aku ingin memberi tahu Hadi apa yang menimpa mantannya. Tetapi di sisi lain, aku tidak mau merusak suasana dengan membahas orang yang dihindari oleh sahabatku. Jadi, aku memutuskan untuk menceritakan peristiwa itu pada saat yang tepat.
Pintu ruangan dibuka saat kami tertawa bersama mendengar lelucon yang baru aku sampaikan. Aku tahu yang masuk bukan Uncle Hendra karena belum saatnya untuk pulang kerja. Kami serentak menoleh ke arah pintu dan melihat gadis yang aku rindukan berdiri di sana dengan wajah heran.
“Hai, Dira. Ayo, masuk. Duduk di sini,” ajak Aunt Zahara sambil menunjuk tempat kosong di sisinya.
Dira menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya sambil memandang mama dan kakaknya secara bergantian. “Apa ini, Ma, Kak? Mengapa kalian membiarkan laki-laki ini masuk rumah kita dan mengobrol dengan kalian? Apa kalian mendadak lupa apa yang sudah dia lakukan padaku?”
“Dia hanya datang untuk mengantar kroisan buatan neneknya. Ada bagianmu juga.” Aunt Zahara menunjuk ke arah kotak makanan yang belum dibuka.
“Mengapa dia sering sekali mengantar kroisan buatan Nenek Hagia ke sini? Lalu mengapa memberi bunga segala? Untuk siapa buket itu?” tanya Dira melihat buket yang ada di atas meja di depan Aunt Zahara. “ Aku tidak mau menerima apa pun pemberian laki-laki ini.”
“Jangan besar kepala. Bunga itu bukan untukmu, tetapi Mama.” Hadi menggigit kroisan di tangannya, bermaksud menggoda adiknya.
“Kamu mau bagianmu atau tidak? Aku masih lapar.” Hadi melirik ke arah kotak makanan yang sudah dibukanya. Masih ada empat potong kroisan di dalamnya.
“Untuk kalian saja. Aku tidak sudi menerima makanan atau benda lainnya dari laki-laki ini.” Dira membalikkan badannya dan keluar dari ruangan.
Aku dan Aunt Zahara saling bertukar pandang, lalu tertawa kecil. Sedangkan Hadi sibuk menikmati kroisan ketiganya. Masih hari pertama, wajar saja Dira belum bisa menerima kehadiranku. Aku yakin setelah beberapa kali datang ke rumah ini, hatinya akan mulai terbuka lagi untukku.
Kami sedang membahas hal ringan saat pintu ruangan terbuka lagi. Adi menatap kami dengan mata yang masih mengantuk. Sama seperti Lily, dia pasti sedang libur dari sekolah dan menggunakan hari santainya dengan belajar. Dia dan adikku sama-sama murid SLTP kelas tiga. Minggu depan mereka akan menghadapi ujian akhir sebelum melanjutkan ke SMU.
“Kroisan buatan Nenek Hagia?” Mata Adi membelalak melihat isi dalam kotak di atas meja. Aku mengiyakannya. Dia segera mengambil kotak tersebut saat Hadi akan mengambil kroisan keempat. “Kakak pasti sudah makan banyak. Ini bagianku.” Hadi hanya tertawa kecil.
“Ambil saja. Masih ada bagian Dira yang dia berikan untukku.” Hadi menepuk kotak makanan kedua yang ada di atas meja.
“Tiga kroisan sudah cukup untukku.” Adi duduk di sisiku, lalu mengambil satu kroisan dari kotak. “Colin, apa kamu sudah menyelesaikan event game minggu ini?” Aunt Zahara dan Hadi serentak mengerang pelan mendengar pertanyaan itu. Hanya aku dan Adi yang suka membahas tentang permainan yang kami tekuni itu. Bagi orang lain, topik itu sangat membosankan.
__ADS_1
Aku pamit pulang saat hari sudah gelap. Uncle Hendra akan segera tiba, itu artinya Mama juga akan sampai di apartemen. Aunt Zahara mengundang aku untuk makan malam bersama mereka, namun aku terpaksa menolak. Dira tidak akan suka melihat kehadiranku dan aku tidak mau memperburuk hubungan kami.
Orang tuaku sudah di rumah saat aku tiba. Mama mempersilakan aku untuk membersihkan diri sebelum kami makan malam bersama. Seperti biasa, yang mendominasi pembicaraan di meja makan adalah Mama dan Lily. Aku dan Dad hanya mendengarkan saja.
“Lily,” sapaku sambil mengetuk pintu kamarnya yang terbuka. “Kamu ada les di sekolah besok?”
Dia mengangkat kepalanya dari buku yang sedang dibacanya. “Iya. Aku pulang jam lima sore. Ada apa?” tanyanya sambil menelengkan kepalanya.
“Hanya memastikan. Aku pikir pelajaran tambahan tidak diadakan lagi menjelang ujian.”
“Les tetap diadakan sampai hari Jumat. Aku sebenarnya sudah muak belajar, tetapi aku juga tidak mau gagal dalam ujian.” Dia mendesah pelan.
“Kamu tidak akan gagal. Aku yakin nilaimu bahkan lebih tinggi dariku,” kataku memberi semangat. Dia tersenyum tipis.
Pada keesokan harinya, aku sengaja datang lebih pagi dari biasanya. Hadi belum diizinkan menyetir mobilnya sendiri, jadi aku tidak heran melihat dia datang diantar Pak Sakti. Aku mendekati pintu sopir dan meminta pria itu untuk melakukan sesuatu untukku. Dia menoleh ke arah Hadi meminta izinnya. Walau dia terlihat enggan, Hadi mengangguk setuju.
“Terima kasih, sobat!” Aku melingkarkan tanganku di bahunya saat kami berjalan memasuki kampus kami. Dia menatap aku dengan serius. “Aku berjanji akan bersikap baik.”
“Bagus. Jangan buat aku menyesal telah memberi jawaban iya,” katanya. Sekilas aku tergoda lagi untuk memberi tahu dia mengenai kejadian kemarin. Tetapi aku kembali mengurung niatku tersebut. Aku tidak mau merusak suasana hatinya yang sedang baik.
Berbeda dengan Hadi dan adik-adiknya yang sekolah di sekolah terbaik yang terdekat dari rumah mereka, aku belajar di sekolah di mana Dad menjadi kepala sekolahnya. Aku menatap gedung sekolah yang tinggi itu dengan gerbang yang tidak kalah tingginya. Para siswa berseragam serupa keluar sambil mengobrol dengan teman-teman di sisinya.
Tidak sulit bagiku untuk mengenali sosok yang aku tunggu di tengah kerumunan tersebut. Tingginya di atas rata-rata, jadi aku bisa segera melihatnya di antara orang yang berpakaian serupa. Ah, aku lupa. Dia tidak sendirian. Ada Wyatt dan Charlotte juga yang berjalan bersamanya.
“Hai, Colin!” sapa Wyatt dengan ramah. “Apa kamu datang untuk menjemput Dira?”
“Aku punya tumpangan sendiri, terima kasih,” tolak Dira dengan halus. Dia melihat ke sekelilingnya, mencari mobil kakaknya. “Sepertinya Pak Sakti terlambat datang.” Dia merogoh tasnya.
“Pak Sakti tidak akan datang sekalipun kamu meneleponnya.” Aku menepuk jok sepeda motorku. “Aku yang akan mengantar kamu pulang.”
__ADS_1