
Uncle Hendra dan Aunt Zahara duduk di depan kami dengan ekspresi yang berbeda. Uncle dengan wajah seriusnya yang membuat aku tidak berani mengangkat kepala untuk melihat ke arahnya. Berbeda dengan suaminya, Aunt berusaha sebaik mungkin untuk menutupi rasa bahagianya. Namun gagal karena matanya berbinar-binar memandang aku dan Dira.
Hadi tersenyum penuh arti dari tempat duduknya di sisi kiri kami. Adi terlihat santai saja dengan mata tetap terfokus pada layar tabletnya. Aku tidak tahu untuk apa mereka berdua perlu berada di ruangan ini juga. Bukankah aku hanya perlu bicara dengan orang tua mereka?
“Jadi, kamu memutuskan untuk kembali lagi padanya?” tanya Uncle pada Dira.
Tanganku yang ada dalam genggamannya dia pegang erat. “Iya, Pa.” Dia mengangkat tangan kanan di mana cincin yang aku berikan padanya berada. “Dan aku menerima lamarannya juga!”
“Mengapa kamu menerima lamarannya sebelum mempertimbangkannya dengan matang? Apa kamu yakin dia tidak akan mengulang kesalahan yang sama?” tanya Uncle menantang putrinya.
“Karena aku percaya padanya, Pa. Aku tidak akan kembali padanya bila dia tidak bisa aku percayai. Lagi pula dia sudah berjanji kami akan lebih baik lagi dalam berkomunikasi, dalam segala hal,” ucap Dira berusaha untuk meyakinkan papanya.
“Janji yang dia ingkari sendiri.” Uncle Hendra menatapku dengan dingin. Aku menelan ludah dengan berat. “Dia bisa saja mengingkari janjinya lagi.”
“A-aku tidak akan mengingkari janjiku lagi, Uncle. Aku berjanji akan menjaga Dira dengan baik. Aku tidak akan bersikap sok pahlawan lagi. Setiap hal yang aku dengar di luar sana akan aku klarifikasi dahulu dengannya. Aku berjanji aku tidak akan mengambil keputusan sepihak lagi,” kataku panjang lebar berusaha untuk meyakinkannya.
“Sudahlah, sayang.” Aunt Zahara memotong sebelum Uncle Hendra bicara lagi. “Kita sama-sama tahu kebohongan apa yang diucapkan dua orang jahat itu sehingga bisa meyakinkan Colin untuk melakukan apa yang mereka inginkan. Berhenti menakuti anak yang malang ini.”
“Aku tidak menakuti dia,” kata Uncle Hendra membela diri. “Aku hanya mau kepastian bahwa dia tidak akan menyakiti putri kita lagi. Apalagi dengan selingkuh, walaupun itu hanya sandiwara.”
Aunt Zahara menyentuh pipi suaminya, memutar wajahnya agar mereka saling menatap, lalu mencium bibirnya. Aku sudah biasa melihat Dad dan Mama melakukan itu, tetapi aku tidak nyaman bila melihat pasangan lain yang melakukannya. Jadi, aku memalingkan wajahku.
“Apa kita bisa bicara baik-baik sekarang?” tanya Aunt saat mereka mengakhiri ciuman mereka. “Masih ada acara yang perlu kita hadiri dan kita harus bersiap pergi.”
Uncle Hendra mendesah kecewa. “Setelah kamu membuat aku ingin membawamu ke kamar, kamu mengingatkan tentang acara yang harus kita hadiri??”
“Bukan aku yang punya perusahaan besar dan punya banyak rekan bisnis,” kata Aunt Zahara berkelit.
“Baiklah.” Uncle menatapku lagi. “Beri tahu orang tuamu untuk datang besok, makan siang di sini bersama kami. Aku juga akan mengundang orang tua kami, juga Zach dan keluarganya untuk datang. Aku harap kalian tidak keberatan kita tidak mengadakan perayaan khusus atas pertunangan kalian.”
“Itu saja sudah cukup, Pa.” Dira segera berdiri dan mendekati papanya. “Terima kasih!” Tanpa merasa malu atau segan, dia duduk di pangkuan papanya dan memeluknya.
__ADS_1
Aku menghela napas lega. Satu masalahku sudah selesai. Selanjutnya, kami punya masalah besar yang ada di depan kami. Persidangan dua orang jahat yang sudah memisahkan kami dan membuat Dira harus hidup dalam trauma, yang mungkin akan butuh waktu lama untuk pulih sepenuhnya.
Dad dan Mama ikut bahagia dengan kabar yang aku bawa pada mereka pada malam itu. Mama memeluk aku dengan erat dan mengingatkan setengah mengancam agar aku menjaga Dira lebih baik dari yang aku lakukan sebelumnya. Tentu saja aku menyanggupinya dengan senang hati.
Makan siang kedua keluarga besar berjalan dengan baik pada keesokan harinya. Mama mengundang Kakek dan Nenek untuk ikut bersama kami sehingga suasana semakin ramai. Nenek juga membuat kroisan dan berbagai kue untuk kami nikmati bersama.
“Aku akan ke toilet sebentar.” Dira melepaskan tanganku, lalu berdiri dari tempat duduknya.
Aku melihat ke sekelilingku. Semua orang terlihat bahagia dan saling berbincang dengan senyum yang tidak lepas dari wajah mereka. Aku beruntung karena aku kembali bersama orang-orang yang sudah bersamaku sejak aku masih kecil. Kebodohan yang sama tidak akan aku lakukan lagi. Karena aku tidak mau kehilangan dukungan orang-orang yang ada di ruangan ini.
“Jadi, kalian akan tetap menikah pada awal tahun depan,” ucap Uncle Zach yang duduk di tempat di mana Dira tadi berada.
“Iya, Uncle,” jawabku riang. Melihat wajahnya tetap dingin, aku menelan ludah dengan berat. Pria ini sangat menyayangi keponakan perempuannya, jadi aku harus berhati-hati saat bicara.
“Ini adalah kesempatan terakhirmu. Aku harap kamu mengingatnya baik-baik setiap kali kamu akan menyakiti dia lagi. Kali ini aku membiarkan kamu lolos. Lain kali, aku akan menyelidiki setiap hal yang kamu lakukan di masa lalu sampai aku menemukan hal yang bisa aku gunakan untuk menjebloskan kamu ke dalam penjara.” Dia menatapku tanpa ekspresi. “Apa kamu mengerti?”
“Me-mengerti, Uncle,” jawabku gugup. Para pria di sekitar Dira memang sangat menakutkan. Bukan hanya papa dan omnya, kedua saudaranya juga. Walaupun Adi terlihat santai dan masih bersikap ramah padaku, aku tahu bahwa bila aku melakukan kesalahan sedikit saja terhadap kakaknya, dia akan membuat perhitungan denganku.
“Bagus. Dan aku harap kamu menolong dia untuk tidak gentar saat menghadapi persidangan nanti.” Ekspresi wajahnya melembut. “Kamu kembali di saat yang tepat. Dira sedang membutuhkan banyak cinta untuk bisa melewati masa sulitnya ini.”
Kami pamit pulang setelah menikmati camilan sore bersama. Kakek dan Nenek berada di dalam mobil bersama keluargaku, sedangkan aku mengendarai sepeda motorku sendiri. Karena mobil kami hanya cukup untuk dimuati maksimal lima orang.
Dira nyaris tidak mau melepaskan aku pergi. Dia tidak peduli dengan godaan dan suitan dari keluarga kami melihat sikapnya tersebut. Setelah aku berjanji akan datang menemuinya di rumah setelah urusan di kampus usai, barulah dia membiarkan aku pulang.
Karena ujian akhir semester sudah berakhir, kami tidak mempelajari hal baru di kampus. Beberapa dosen membahas soal ujian, sedangkan yang lain mengulang bab yang belum kami pahami dengan baik seperti yang tertera pada jawaban di lembar ujian kami.
“Aku yakin Hadi mendapatkan nilai tertinggi lagi, tidak seperti kita yang harus belajar ekstra demi mendapatkan nilai minimal saja.” Valeria yang duduk di depanku menoleh saat dosen meninggalkan ruang kuliah. Aku hanya tersenyum. “Apa kamu yakin akan lulus pada semua mata kuliah yang kamu ambil di semester ini, Colin?”
“Tentu saja. Jawabanku cocok dan tidak jauh berbeda dengan apa yang dosen bahas sejak hari Senin yang lalu,” kataku santai.
“Bagaimana denganmu, Hadi?” Dia melihat ke arah sahabatku.
__ADS_1
“Aku tidak suka menebak-nebak. Minggu depan kita akan segera tahu jawabannya setelah dosen memasang nilai akumulatif kita.” Hadi mengangkat kedua bahunya.
“Kalian beruntung sudah bisa bernapas lega. Aku harus bersiap karena aku baru akan seminar pada hari Selasa minggu depan.” Valeria mendesah pelan.
“Kamu pasti bisa melakukannya, Valeria.” Aku tersenyum, lalu menoleh ke arah Hadi. “Kita pergi sekarang?” Dia menganggukkan kepalanya.
“Kalian mau ke mana? Apa aku boleh ikut?” tanya Valeria penuh harap.
“Aku akan pergi ke rumah Hadi, jadi aku tidak bisa memutuskannya.” Aku menoleh ke arah Hadi. Dia hanya berjalan menuju pintu, tidak memberi respons. Valeria cemberut melihatnya. “Maafkan aku. Sepertinya jawabannya tidak. Sampai besok.”
Gadis yang malang. Aku tidak tahu apa yang membuat dia tidak menyerah mendekati Hadi. Padahal gadis lain belajar dengan cepat dan hanya mengamati dia dari jauh. Mereka memberi dia hadiah pada hari ulang tahunnya, memberi dia dukungan pada saat dia sedang mengikuti kompetisi, tetapi hanya itu. Mereka berharap Hadi akan berubah pikiran lewat hadiah mereka, dan tidak berusaha untuk bicara atau menggodanya.
Menyadari jalan yang kami tempuh, aku menoleh ke arah Hadi dengan bingung. “Mengapa kita tidak ke tempat parkir?” tanyaku padanya.
“Clarissa akan memberi kesaksian besok. Aku hanya ingin memberi dia dukungan,” jawabnya.
“Kamu bisa menelepon atau datang ke rumahnya. Mengapa kamu harus menemuinya di kampus?” tanyaku masih bingung.
“Karena aku hanya akan memberi dia dukungan, bukan mengajak dia untuk kembali padaku.” Aku tertawa mendengar pernyataannya itu. Dia mengejek aku yang datang ke rumahnya untuk bicara dengan adiknya.
“Ketika kalian kembali bersama nanti, aku akan menertawakan kamu sepuasku.”
“Itu tidak akan terjadi, Cole.” Dia tersenyum penuh arti. “Clarissa sudah tidak punya tempat lagi di hatiku atau hidupku. Kami benar-benar sudah berakhir.”
“Kata orang yang sedang berjalan menemui orang yang sudah tidak punya tempat lagi di hatinya untuk memberi dukungan,” ejekku.
“Aku mau kamu ikut denganku ke kantor Papa pada hari Selasa depan,” katanya yang mengganti topik pembicaraan kami dengan tiba-tiba.
“Untuk apa? Aku lebih baik menemui Dira di rumah kalian.”
“Kamu belum tahu mau bekerja di mana saat tamat nanti, ‘kan? Aku mau kamu bekerja bersamaku sebagai asistenku. Jadi, kamu bisa memulai melihat apa yang Tante Gista lakukan selama berada di sisi Papa. Tetapi tugas kamu akan lebih banyak dari seorang sekretaris.” Dia berhenti dan menoleh ke arahku. “Itu pun kalau kamu bersedia menjadi asistenku.”
__ADS_1
“Aku tidak mengerti. Mengapa kamu mendadak menawarkan hal ini? Aku tidak punya pengalaman kerja dan menjadi seorang asisten apa yang kamu maksudkan? Mengapa kamu malah meminta aku belajar dari Mama?” tanyaku.
“Karena saat aku menggantikan Papa nanti, aku mau kamu sudah berpengalaman di bidangmu. Mengapa kamu masih bertanya asisten apa? Tentu saja asisten dirut.”