Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 36 - Salah Sendiri


__ADS_3

*Hadi*


Aku sedang memeriksa konsep proposal yang sudah selesai aku ketik di laptopku saat mendengar suara ribut dari luar ruangan. Siapa yang membuat Gold dan Black menggonggong begitu keras? Papa dan Mama baru saja menghadiri sebuah pesta bersama Adi, sedangkan Dira berada di kamar melakukan panggilan video dengan Charlotte. Dia juga kakek dan neneknya sudah berada di dalam pesawat. Mereka akan mendarat di bandara esok siang.


Tidak bisa konsentrasi melanjutkan tugasku, maka aku keluar dari ruang kerja Papa. Gonggongan itu datang dari arah depan rumah. Aku mengerutkan kening melihat Pak Abdi sedang berdiri di sana dengan kedua anjing kami sedang bergelut di teras. Melihat dari gerakan kakinya, ada seseorang yang sedang mereka kerjai.


“Cole?” tanyaku begitu mengenali suara tawanya. “Gold, Black, mundur.” Mereka segera menurut, lalu berdiri di sisiku. Kedua ekor mereka bergoyang menunjukkan mereka sedang bahagia. “Bisa beri tahu aku apa yang terjadi di sini?”


“Adikmu sudah gila.” Colin berusaha untuk duduk. Aku mengulurkan tanganku untuk membantunya berdiri. Dia segera mengibas-ngibaskan pakaian dan celananya begitu dia berhasil berdiri. “Berani sekali dia menyuruh kedua anjing ini menyerang aku.”


“Mereka tidak menyerang kamu, hanya mengerjai kamu. Salahmu sendiri. Mengapa kamu datang baru beberapa hari setelah kalian putus? Kamu tahu dia tidak akan menyukai ini.” Aku menggeleng melihat tingkah konyol sahabatku.


“Aku terpaksa datang, oke? Nenek menitipkan kroisan kesukaannya.” Dia melihat ke arah kotak yang dipegang oleh Pak Abdi.


“Sosis dan keju?” tanyaku penuh harap. Colin mengangguk mengiyakan. “Wah! Terima kasih! Nenek Hagia adalah orang yang terbaik!” Aku segera mengambil kotak itu dari kepala pelayan kami.


“Fahri bisa tersinggung mendengar Anda mengatakan itu, Tuan,” ucap Pak Abdi mengingatkan.


“Karena itu, jangan sampai Pak Fahri tahu.” Aku tertawa geli.


“Hadi, kamu, Adi, dan orang tuamu hanya dapat satu potong. Selebihnya untuk Dira, jadi jangan kamu habiskan sendiri,” kata Colin saat aku berjalan menuju ruang keluarga. Aku melambaikan tangan tanpa menoleh ke arahnya, karena mulutku sudah penuh dengan kroisan.


Pada Senin pagi itu suasana rumah cukup gaduh karena Mama sibuk sendiri menyiapkan makanan untuk disantap bersama di rumah Tante Lindsey. Setiap kali Aunt Claudia berkunjung, mereka akan bertemu di rumah Tante Lindsey untuk makan siang atau kudapan bersama. Tante Qiana dan Darla juga membawa makanan mereka sendiri.


Mama memberi bagian kami dalam kotak bekal. Biasanya aku tidak mau membawa makanan dari rumah, tetapi kali ini aku tidak menolak. Pak Fahri membuat roti isi tuna dan alpukat. Makanan kesukaan Aunt Claudia yang juga aku sukai. Tante Darla pasti membawa rujak khasnya yang enak. Aku meminta Mama untuk membawa pulang satu porsi untukku.


Setelah mengantar adik-adik ke sekolah mereka masing-masing, aku menuju kampusku. Tidak mau kejadian yang sama terulang, aku melihat ke sekelilingku dengan waspada. Aku tidak mau bertemu dengan gadis yang suka membuat ulah itu.


Colin setuju untuk membantu aku dengan menunggu di tempat janji kami, lalu menuju ruang kuliah bersama. Kami duduk bersebelahan sehingga Valeria tidak bisa duduk di sisiku dan mengganggu aku sepanjang kuliah sedang berlangsung.


Dia masih menyapa dan mencoba untuk mengajak aku bicara, tetapi aku mengabaikannya. Gadis lain segera menangkap sinyalku dengan cepat dan menjauh dariku, tidak dengan perempuan yang satu ini. Dia masih saja mencari cara untuk bisa meluluhkan hatiku.


Aku menemui dosen pembimbing dan menyerahkan proposal awal yang sudah selesai aku kerjakan. Dia meminta aku menemui dia lagi besok, karena dia baru bisa mempelajari proposalku itu nanti. Aku tidak keberatan. Proposalku itu cukup tebal, jadi dia akan butuh waktu untuk membacanya.

__ADS_1


“Gila kamu. Aku bahkan belum selesai merumuskan latar belakang masalah dari penelitianku. Kamu malah sudah menyelesaikan proposal utuh dalam waktu beberapa hari saja?” Colin bersiul.


“Kamu memberi usulan judul sebelum mengerjakan bahanmu sama sekali? Itu namanya membuang waktu. Lebih baik kamu sudah tahu akan meneliti apa, baru ajukan judul.” Aku menggeleng heran.


“Itu cara yang merugikan. Bagaimana kalau judulku ditolak? Berarti aku harus mulai dari awal lagi dan membuang semua bahan yang sudah aku kerjakan. Tidak, terima kasih.”


“Kalau judul pertamamu ditolak, cari judul lain dengan masalah yang sama. Aku pikir setelah kamu bermain game yang membutuhkan keenceran otak, maka kamu akan menjadi sedikit lebih cerdas. Ternyata tidak,” ejekku.


“Ya, sudah. Karena kamu sedang senggang, bantu aku mengerjakan proposalku.” Colin melingkarkan tangannya di pundakku dan menarikku ke arah perpustakaan.


“Tidak.” Aku menahan kakiku dan melepaskan pegangan tangannya pada bahuku. “Aku lebih baik ke kantor Papa setelah mengantar adik-adik ke tempat les tambahan mereka.”


“Hadi,” panggil seseorang dari arah depan kami. Aku menoleh dan melihat Mila berdiri tidak jauh dari kami. “Ng, apa kita bisa bicara sebentar?”


Colin meletakkan kedua tangannya di pinggulnya saat menatap aku dengan kedua alis terangkat tinggi. “Tentu saja dia bisa. Dia selalu bisa memberikan waktu dan tenaganya untukmu, tetapi tidak untukku. Aku sudah bukan sahabatnya lagi.”


“Ada apa, Mila?” tanyaku mengabaikan pernyataan Colin tersebut.


“Aku harus menjemput adikku.” Aku melirik jam tanganku. Colin mendengus keras, sekali lagi, aku hanya mengabaikan dia. “Setelah mengantar mereka ke tempat les, kita bisa bicara. Bagaimana?”


“Baik,” jawab Mila dengan cepat. Dia menoleh ke arah Colin. “Kalau kamu mau ikut, ayo. Bila kamu dan Hadi bersahabat, sudah saatnya juga bagi kamu untuk tahu siapa aku.”


“Tidak. Aku dan Dira sudah putus hubungan, jadi sebaiknya aku menjaga jarak juga dengan Hadi.” Colin berjalan mundur.


“Kamu bisa menyusul kami di tempat kami bicara. Jadi, kamu tidak akan bertemu dengan Dira.” Kali ini Mila memutar bola matanya. “Ya, sudah. Terserah kamu saja.”


“Memangnya kamu siapa? Anak seorang konglomerat dari benua Amerika yang menghilang saat masih kecil dan mereka berhasil menemukan kamu?” ejek Colin. “Oh, itu mirip seperti cerita cinta pertama Hadi yang tidak bisa dia lupakan.”


“Kamu dan Dira memang cocok. Kalau sedang marah, kalian menggigit.” Aku memberi sinyal dengan tanganku agar Mila mengikuti aku menuju tempat parkir. “Karena kamu sendiri yang tidak mau ikut, jangan salahkan aku bila aku merahasiakan banyak hal darimu.”


“Aku juga punya sebuah rahasia besar,” kata Colin tidak mau kalah.


“Aku tidak mau tahu.” Aku melambaikan tanganku padanya tanpa melihat ke arahnya.

__ADS_1


“Sebuah rahasia yang ada hubungannya dengan Dira,” seru Colin yang berhasil membuat langkahku terhenti. Aku membalikkan badan dan melihatnya dengan jengkel. “Percayalah, kamu pasti mau tahu rahasia yang satu ini.”


*******


Sementara itu di sebuah agensi~


Reese merapatkan bibirnya dan tidak mengucapkan sepatah kata pun setelah Sam membentaknya. Pria itu duduk dengan tangan berada di kepalanya, lalu mengusap wajahnya. Dia menarik napas panjang, berusaha untuk meredakan napasnya yang memburu.


“Aku punya syarat jika kamu ingin semua video itu diturunkan. Dan ini adalah kecerobohan terakhir yang bisa aku toleransi. Tidak boleh ada lagi kegilaan di luar sana yang melibatkan kamu dan sikap arogansimu.” Sam menoleh ke arah Reese. “Aku bisa bangkrut bila aku terus mengeluarkan uang sebanyak itu untuk menyelamatkan reputasi agensi ini karena ulahmu.”


“Apa syarat yang kamu pikirkan?” tanya Reese dengan waswas.


“Kamu cuti untuk beberapa bulan. Sudah saatnya kamu melanjutkan studimu yang sempat tertunda. Jangan katakan apa pun, aku belum selesai bicara.” Sam menatap tajam pada Reese yang membuka mulut untuk menyatakan protesnya. “Buktikan padaku bahwa kamu bisa masuk kuliah, lalu kita akan bicarakan lagi langkah selanjutnya.”


“Dira sedang cuti, mengapa aku harus cuti juga? Ini adalah kesempatan emasku!” pekik Reese.


“Kesempatan yang telah kamu sia-siakan, jadi jangan salahkan siapa pun. Tidak ada orang yang mendorong kamu untuk marah ke sana kemari hingga video kamu viral. Sebelum kamu kehilangan semua penggemar dan kontrak mahalmu, perbaiki dirimu. Lebih baik kamu menghilang untuk beberapa waktu sehingga orang-orang melupakan kamu sejenak.


“Lalu kembalilah dengan dirimu yang lebih baik. Gunakan masa cutimu untuk mempersiapkan diri memasuki universitas. Semakin bergengsi kampus yang kamu masuki, semakin baik respons orang-orang atas kembalinya kamu ke dunia model nanti.” Sam menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Cilla akan membantu kamu menemukan tutor yang terbaik. Semoga beruntung.”


“Aku tidak percaya aku harus kuliah di puncak karierku. Kamu sudah merusak semua rencanaku!” jerit Reese histeris.


“Bila kamu tidak suka dengan rencana itu, kamu bisa keluar dari agensi ini sekarang dan bayar denda yang tertera pada kontrak. Karena mematuhi aku demi kebaikan kariermu adalah poin mutlak pada kontrakmu, Reese. Silakan pilih sendiri.”


*******


Author’s Note~


Yeay, hari Senin! Kalau ada karcis merah menganggur, beri vote untuk karyaku ini, ya. Terima kasih banyak atas dukungan teman-teman. Jangan lupa juga untuk sentuh jempol atau memberi like setiap kali membaca habis satu bab.


Salam sayang,


Meina H.

__ADS_1


__ADS_2