
Apa yang baru saja mereka bahas pada rapat pagi ini? Apakah ada masalah di toko lain yang tidak aku ketahui sebagai dampak dari kehadiran model selama akhir pekan? Ah, tidak mungkin. Bila ada masalah, teman-teman pasti sudah menceritakannya. Mereka hanya diam saja karena kelelahan, tetapi tidak ada yang terlihat sedih atau kecewa.
“Ada apa? Mengapa wajah kamu terlihat khawatir begitu?” tanya Hadi setelah kami duduk. Aku hanya menggelengkan kepalaku. “Penjualan meningkat pesat selama akhir pekan yang lalu. Biaya pengeluaran kita tertutupi dengan keuntungan dalam dua hari itu saja. Jadi, sebagai ucapan terima kasih, Papa akan mentransfer bonus untukmu bersamaan dengan hari gajian nanti.”
“Benarkah??” tanyaku tidak percaya. Dia mengangguk. “Jadi, semua toko yang melaksanakan acara yang sama mengalami penjualan yang pesat? Itu kabar yang sangat baik. Aku akan pikirkan rencana apa lagi yang bisa kita lakukan untuk menaikkan penjualan.”
“Mengapa kamu terlihat sangat senang?” tanyanya bingung. “Kamu kuliah di jurusan akuntansi, ini bukanlah bidangmu. Kamu serius akan fokus membantu bagian ini selama tiga bulan ke depan?”
“Aku ditempatkan di bidang ini, maka aku tidak mungkin hanya diam saja dan fokus pada masalah keuangan, ‘kan? Kakek bilang, aku harus belajar banyak dari Om Hendra supaya bisa aku kerjakan saat menjadi dirut di perusahaan Kakek nanti.”
“Bukan karena mereka ingin kamu bisa dekat lagi denganku?” tanyanya menantangku.
Aku tertawa. “Itu efek samping yang mereka harapkan. Syukurnya, mereka berhasil.”
“Mereka tidak berhasil,” ucapnya tidak setuju. Akhirnya, kesempatan untuk membahas hal itu datang juga. Dia sendiri yang memancing aku untuk membicarakannya.
“Apa kamu pikir aku tidak akan mengetahuinya dari Tegar?” tanyaku memberi petunjuk. Wajahnya yang dingin itu berubah memucat. “Kamu mengatakan kepadanya bahwa aku adalah pacarmu. Apa yang dia katakan sampai kamu harus berbohong? Atau memang benar kamu mau aku jadi pacarmu lagi?” Aku senang melihat dia mendadak tidak bisa berkata-kata.
“Kita sedang ada di tempat kerja. Tidak baik membahas persoalan pribadi. Aku meminta kamu ke sini untuk mendiskusikan rencana selanjutnya.” Hadi membuka kunci layar komputernya. “Aku tidak menonton film seperti yang kamu sarankan, tetapi aku membaca beberapa ide pemasaran yang menurutku sangat kreatif.”
Aku menurut dengan mendengarkan rencana apa yang sudah dia siapkan. Ada beberapa ide yang sangat bagus. Dia bahkan sudah menyiapkan segala detail yang diperlukan untuk melaksanakan acara tersebut. Dia jauh lebih sistematis daripada aku.
Menurut hasil rapat, para direktur menunggu rencana baru yang akan kami lakukan untuk mereka bahas pada rapat minggu berikutnya. Mengadakan acara khusus setiap akhir pekan juga mereka tidak keberatan selama hasilnya sebaik yang terjadi pada akhir pekan lalu. Tetapi Om Hendra tidak setuju. Dia lebih suka memberi kejutan kepada pengunjung daripada mereka tahu akan ada yang istimewa setiap akhir pekan di tokonya.
__ADS_1
“Kita akan bicarakan ini besok setelah jam makan siang. Aku harus ke kampus untuk menemui dosen. Bab dua skripsiku sudah selesai dan siap untuk diperiksa,” katanya mengejutkan aku. Kapan dia sempat mengerjakan skripsinya itu? Aku bahkan belum memulai bab keduaku sama sekali.
“Hebat sekali kamu bisa mencuri waktu untuk mengerjakan skripsimu,” ucapku jujur.
“Aku menggunakan malam hariku untuk mengerjakannya sedikit demi sedikit. Kalau tidak begitu, tiga bulan ini akan terbuang sia-sia. Aku tidak mau membayar uang kuliah untuk semester depan, jadi aku harus sidang skripsi paling lama bulan Desember ini.”
Dia membuka laci mejanya dan mengeluarkan beberapa lembar kertas. “Kamu bilang, kamu tertarik untuk kuliah di Inggris juga. Ini salah satu kampus yang membuka beasiswa untuk mahasiswa baru yang tertarik mengambil gelar master. Kamu bisa mempelajari syaratnya dan mempersiapkan diri.” Dia memberikan kertas itu kepadaku.
Ada informasi lengkap mengenai universitas, jurusan, dosen, fasilitas kampus, juga jumlah beasiswa yang akan diterima bila lulus. Bukankah Hadi mengatakan dia tidak mau aku kuliah di tempat yang sama dengannya? Mengapa dia memberikan semua informasi sedetail ini kepadaku?
“Jangan lihat aku seperti itu. Kampus ini kampus yang bagus. Bila kamu serius akan menggantikan posisi Om Edu, maka ini kampus yang terbaik sebagai tempatmu belajar. Siapa tahu kamu bisa seperti Papa dengan menjalin kerja sama dengan perusahaan asing,” katanya memberi dukungan.
Jantungku berdebar senang mendengarnya. “Terima kasih, Hadi. Aku senang sekali.”
“Aku tidak mau mendengar ucapan terima kasih. Tunjukkan kamu bisa lulus dan mendapat beasiswa itu, maka itu sudah cukup.” Dia tersenyum sinis. “itu pun kalau kamu bisa memenuhi semua syarat yang mereka daftarkan di sana.”
“Aku akan makan di kantin.” Dia mengunci kembali layar komputernya.
“Aku makan di ruangan saja.” Aku berdiri, tetapi menghentikan langkah begitu teringat dengan hal yang penting. “Oh, iya. Mengenai status kita, apakah sekarang kita resmi berpacaran?”
Hadi melihat ke sekitar kami dengan wajah khawatir. “Apa kamu harus membahas itu di sini? Pergi ke ruanganmu dan makanlah.”
“Jadi, kita bukan pacar. Apa itu artinya aku boleh dekat dengan laki-laki mana pun?” tanyaku lagi, tidak mau menunda untuk menyelesaikan hal ini.
__ADS_1
Bibirnya merapat. “Jangan coba-coba. Kamu hanya boleh dekat dengan laki-laki yang aku setujui.”
Aku tertawa mendengarnya. “Apa kamu pikir aku Dira? Kakek dan Nenek saja tidak melarang aku dekat dengan laki-laki. Mengapa kamu yang bukan siapa-siapa merasa berhak untuk melarang aku?”
“Dengar,” katanya setengah berbisik sambil berdiri mendekat. “Tegar hanya tertarik dengan harta dan statusmu. Aku berusaha untuk melindungi kamu. Tidak ada maksud lain.”
“Ada keluargaku yang akan melindungi aku. Mengapa kamu merasa berkewajiban untuk melakukan hal yang sama?” tanyaku lagi. Dia merapatkan bibirnya dan tidak menjawab. “Hadi, sampai kapan kamu menyangkali perasaan kamu sendiri?”
“Clarissa, Hadi, apa semuanya baik-baik saja?” Orang yang Hadi maksudkan berdiri di dekat kami. Dia menatap kami berdua secara bergantian. “Sudah jam makan siang, ayo, kita ke kantin.”
Tanpa peringatan, Hadi melingkarkan tangannya di bahuku. Dia sedikit menarik tubuhku mendekat kepadanya. “Aku akan memesan makanan dan makan bersama pacarku di ruangan. Kamu makanlah bersama mereka.” Mata Tegar membulat melihat keberanian sikap Hadi tersebut. Wajar saja. Ini pertama kalinya dia terang-terangan merangkul aku di depan teman-teman satu divisi kami.
Aku tersenyum bahagia karena bisa mendengar langsung dia mengatakannya. Bukan dari mulut Tegar atau orang lain. Pria itu pamit dan berjalan bersama karyawan lain menuju pintu. Aku takut merusak suasana, jadi aku hanya diam saja saat Hadi melepaskan rangkulannya. Dia mengetik sesuatu lewat ponselnya, kemudian mengajak aku menuju ruang kerjaku dan teman-teman.
“Apakah yang tadi juga termasuk caramu untuk melindungi aku?” tanyaku setelah membuka kotak makanku. Dia hanya cemberut. “Kita sepakat tidak akan melakukan ini lagi, Hadi. Luca adalah orang terakhir yang kita bohongi. Maafkan aku, tetapi aku tidak mau bersandiwara lagi.”
“Jadi, kamu lebih suka dekat dengan laki-laki mana saja yang kamu mau?” ucapnya tidak suka.
“Kamu juga bebas dekat dengan perempuan mana pun yang kamu suka,” kataku tidak mau kalah.
“Itu tidak akan pernah terjadi. Aku tidak pernah mau dekat dengan perempuan mana pun.” Dia mendesah keras. “Baiklah. Kamu mau kita kembali bersama? Oke. Tetapi ada syaratnya.”
Aku menatapnya tidak percaya. Jantungku yang sudah berdebar senang, berdetak semakin cepat. Aku tidak salah dengar, ‘kan? “Kamu serius? Aku tidak mau menjalin hubungan dengan kamu kalau kamu merasa terpaksa,” kataku keberatan.
__ADS_1
“Sebaiknya kamu segera mengatakan iya atau tidak, sebelum aku berubah pikiran,” ancamnya. Dasar laki-laki berharga diri tinggi. Apa salahnya mengatakan jujur saja bahwa dia masih cinta?
“Baiklah. Tetapi aku juga punya syarat,” kataku tidak mau kalah.